
"Abang mau kemana?" Tanya Hana yang melihat Vian telah rapi dengan seragam dan ransel di punggungnya
"Abang mau ke hutan kota dan wisata desa-desa setempat sayang, untuk mengawal mahasiswa" ucap Vian mengelus kepala Hana
"Berapa lama abang disana?" Tanya Hana bersandar di dada bidang suaminya
"Hanya seminggu sayang"
"Abang jaga diri baik-baik disana yah, dan yang penting abang jangan nakal. Awas saja kalau abang tergoda dengan wanita mahasiswa itu"
"Hahha pasti dong sayang, masa abang tergoda dengan wanita diluar sana sedangkan istri abang sudah cukup untuk membuat abang tergoda" balas Vian mengecup pipi Hana
"Jangan nakal yah sayang, jangan nyusahin bunda. Jagain bunda baik-baik yah, setelah ayah pulang nanti, kita jalan-jalan lagi dan ayah janji akan beliin boneka kesukaan Viara, ayah cari uang dulu yah" seru Vian sambil mengecup putri kesayangannya.
"Ayah dadah dadah" ucap Viara melambaikan tangannya pada Vian yang telah melangkah keluar rumah. Vian tersenyum dan membalas lambaian tangan putri kecilnya
"Tunggu abang pulang yah sayang"
_______________
Kini para prajurit telah berkumpul untuk mengawal para mahasiswa di hutan kota dan wisata desa-desa setempat yang menjadi area kegiatan para mahasiswa.
Vian terus tersenyum memandangi indahnya pemandangan yang mereka lewati sambil terbayang akan wajah anak dan istrinya
"Baru juga jalan, udah rindu aja" ucap Gama menepuk bahu Vian
"Yah mau gimana lagi, aku belum puas menghabiskan waktuku bersama mereka"
"mending abang nongkrong aja sama mahasiswa wanita dibelakang sana. sajak tadi mereka terus memperhatikan abang loh"
"biarin, aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka"
"Hahah.sekarang udah sampe bang, daripada bengong disini mending kita membantu para mahasiswa disana"
"Ayo" balas Vian segera turun dari truk diikuti teman-temannya.
Selama membantu para mahasiwa memasang tenda, ada berbagai pasangan mata yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda. Mereka juga mencari kesempatan untuk dekat dengan salah satu dari pelatih mereka ketika mencari kayu bakar bersama
"Pelatih Vian, kayu bakarnya sudah terkumpul, sebaiknya kita letakkan dimana? Cuaca sepertinya akan turun hujan jika kita letakkan disini" Tanya salah satu mahasiswa
"Letakkan kayu bakarnya di samping tenda kalian dan tutupi dengan sesuatu agar tidak terkena hujan" perintah Vian
"Baiklah, terimakasih pelatih" ucap mahasiswa itu dan segera memerintahkan teman-temannya sesuai arahan pelatih mereka tadi.
"Pelatih Gama, bisakah pelatih membantu saya?" Tanya mahasiswa dengan suara lembutnya
"Baiklah ayo" ucap Gama dan mulai membantu gadis itu untuk mendirikan tenda
"Kemarilah" ajak Gama pada gadis itu yang berdiri sambil terus memperhatikannya
"Begini caranya" ucap Gama mengajarkan gadis itu untuk mendirikan tenda
"Sepertinya dia gadis yang pemalu" batin Gama melirik sekilas gadis disampingnya
"Pelatih, apa ini sudah cukup sempurna?" tanya gadis itu
__ADS_1
"Tepat sekali, sekarang kita pasangan tendanya yah" ucap Gama kembali mengajarkan gadis itu
"Alhamdulillah, terimakasih pelatih" ucap gadis itu senang
"Sama-sama. Jika kamu kesulitan atau membutuhkan sesuatu, segera melapor padaku atau pelatih yang lainnya yah"
"Siap pelatih". Gama tersenyum manis pada gadis itu dan segera berlalu untuk mengecek pekerjaan anak didiknya.
Terdapat beberapa mahasiswa wanita yang asyik menghibah tentang wanita yang dibantu Gama tadi sehingga mereka tidak menyadari adanya Gama di belakang mereka
"Kau lihat gadis yang dibantu pelatih Gama tadi?"
"Ohh maksudmu Safa, ada apa dengannya?"
"Aku melihatnya berusaha menggoda pelatih Gama dengan memintanya untuk membangun tendanya" Ucap Maharani memprovokasi
"Tapi Safa adalah gadis pendiam dan juga pemalu, mana mungkin dia melakukan hal seperti itu"
"Tapi mungkin yang dikatakan maharani ada benarnya. Kalau begitu ini tidak bisa dibenarkan"
"Iyah, kita harus melakukan sesuatu pada gadis itu agar dia tidak berani lagi untuk mendekati pelatih Gama" seru Maharani mantap
"Ekhhmm" Gama berdehem mengagetkan mahasiswa wanita itu sehingga mereka ketakutan dan gelagapan
"Ehh pelatih Gama, ma....mau ke tenda juga?" tanya Maharani gugup
"Daripada mengosipkan orang yang tidak benar, lebih baik segera lakukan pekerjaan kalian" Tegas Gama.
Maharani dan teman-temannya tak berani menjawab pelatihnya sehingga mereka kembali ke tenda masing-masing sebelum mendapatkan amukan dari pelatih mereka
***************
"Ayo sayang, kita jemput nenek di halte bus" ucap Hana mengunci pintu rumahnya sambil mengendong Viara. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kini Hana telah sampai di halte bus untuk menjemput mertuanya yang berkunjung ke kota mereka
"Nah itu busnya sayang, ayo kita temui nenek disana" ucap Hana dan berjalan mendekati Bus yang baru saja terparkir.
Bu lula yang melihat menantunya segera berjalan mendekatinya
"Ohh putriku, aku merindukanmu dan juga cucuku ini" ucap Bu lula sambil memeluk Hana
"Iyah bu, Hana juga kangen sama ibu. Sekarang kita pulang yah bu, pasti ibu lelah setelah perjalanan jauh kesini"
"Oke sayang" ucap Bu lula mengambil alih Viara dari gendongan ibunya. Hana tersenyum dan mulai membantu mengangkat barang-barang yang dibawa ibu mertuanya.
"Dimana Vian sayang?" Tanya Bu lula setelah sampai di Asrama Hana
"Abang lagi satgas Bu, baru juga 2 hari abang pergi" ucap Hana menyuguhkan teh manis pada ibu mertuanya
"Sayang, di koper berwarna putih itu berisi oleh-oleh dari desa dan juga mainan untuk putrimu"
"Wah, ibu juga beliin mainan untuk Viara?" Tanya Hana berbinar mengeluarkan mainan yang dibawa ibu mertuanya
"Iyah dong, ibu juga pengen main bareng cucu kesayangan ibu ini. Benarkan sayang" Balas Bu lula mengecup kedua pipi tembem Viara.
"Bilang apa sama nenek sayang?" Tanya Hana pada putrinya. Viara menggoyang goyangkan tubuhnya sambil tertawa bahagia. Bu lula yang gemas pada cucunya mulai menggelitik perut Viara sehingga mendapat tawa dari ketiganya
__ADS_1
"Cucuku memang manis, sekarang kita main bareng yah"
"Tapi ibu baru sampai, pasti ibu kecapean. Istirahatlah bu"
"Haha nggak apa-apa Hana, lelah ibu hilang setelah melihat cucu kesayangan ibu ini" seru Bu lula kembali bermain-main bersama Viara
"Setidaknya Viara tidak kesepian lagi untuk beberapa hari kedepan karena ada neneknya disini" batin Hana tersenyum senang melihat tawa ibu dan juga putrinya
***********
Hari ini kegiatan para mahasiswa ditunda karena hujan deras yang menguyur mereka sejak semalam. Vian dan teman-temannya kini tengah bercengkrama di tenda mereka sambil menyeruput kopi panas dan roti yang mereka sediakan sejak awal.
"Aargghh nikmatnya" ucap Dika menyeruput kopi panasnya
"Benar bang, di cuaca dingin seperti ini enaknya meminum secangkir kopi panas bersama roti ini" ucap Raka mengangkat gelasnya dan melakukan tos gelas bersama teman-temannya
"Bagaimana kondisi para mahasiswa? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Vian
"Iyah bang, mereka semua sehat dan sejak semalam mereka ada di tenda masing-masing"
"Lalu agenda selanjutnya bagaimana?"
"Agenda hari ini di tunda karena hujan masih sangat deras. Dan untuk agenda besok adalah menyusuri permandian air terjun yang tidak jauh dari desa ini"
"Hmm baiklah".
Para prajurit terperanjat kaget saat mendengar teriakan dari luar
"Sepertinya tenda mereka ada yang roboh".
Terlihat tenda Safa dan teman-temannya roboh karena tidak kuat menahan derasnya hujan dan tanah yang semakin lembek.
Teman-temannya Safa segera berlari memasuki tenda dari tim lain. Safa juga melakukan hal yang sama, namun kehadirannya di tolak karena setiap tenda yang dia masukin telah penuh apalagi baju yang dikenakan Safaa telah basah kuyup. Akhirnya Safa terududuk disamping tenda teman-temannya dan membiarkan tubuhnya diguyur hujan
"Aku kesana dulu yah" ucap Gama segera keluar tenda dan berlari mendekati Safa.
Vian dan teman-temannya saling pandang dan tersenyum melihat teman mereka yang begitu khawatir akan gadis sederhana yang menjadi anak didik mereka
Gama memajukan payungnya untuk menahan air hujan yang terus menimpa gadis di depan kakinya
"Kamu tidak apa-apa?"
"Siap saya tidak apa-apa pelatih" balas Safa tersenyum pada Gama. Gama tahu jika Safa tidak baik-baik saja karena tubuhnya yang mengigil kedinginan dan bibirnya yang berubah warna. Gama tersenyum pada Safa dan memakaikan gadis itu jas hujan loreng miliknya.
"Terimakasih pelatih"
"Sama-sama, sekarang ambillah baju gantimu. Nanti kamu akan berganti pakaian di tenda kami yang satunya"
"Baiklah pelatih" Safa segera mengambil baju gantinya dan berjalan disamping Gama karena Gama yang merangkulnya.
Maharani yang sejak awal ingin mendekati pelatih Gama merasa geram pada Safa.
Maharani keluar dari tendanya dan membiarkan tubuhnya diguyur hujan demi mendapatkan perhatian pelatih yang berhasil mencuri hatinya. Namun Gama tetap merangkul Safa dan membiarkan Maharani kehujanan sendirian
"Aargghh, semua ini karena Safa. Lihat saja nanti, aku akan membalasmu Safa" geram maharani menatap tajam kearah Safa
__ADS_1
Bersambung......