Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 17. Tegar


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Hana yang tengah sibuk mencatat pemasukan dan pengeluaran di restorannya mengambil kartu undangan yang diserahkan Mia


"Undangan siapa ini Mia?" Tanya Hana


"Bacalah Hana" Hana perlahan membuka surat itu dan terperanjat kaget setelah membaca Kartu undangan ditangannya. Tangannya gemetar hebat dan air mata kembali luluh dimatanya


"Apa yang harus kulakukan, aku telah gagal menuruti permintaan terakhir ayahku hiks..hiks" lirih Hana


Dalam undangan tersebut tertulis jika Dafa dan Asti akan segera menikah 2 hari lagi


"Apa undangannya sudah tersebar Mia?"


"Benar Hana, bahkan Vian yang memberikan undangan itu padaku"


"Aku harus segera pulang" Ucap Hana merapikan mejanya


"Tapi ada apa Hana?"


"Aku tidak ingin undangan ini sampai ditangan ibuku, penyakit jantungnya bisa kumat nanti" Ujar Hana khawatir


"Baiklah Hana, aku yang akan menjaga restoran, segeralah pulang"


"Terimakasih Mia" Hana langsung beranjak pulang sebelum sesuatu yang buruk terjadi.


Saat berhenti di depan rumahnya, hana melihat ibunya tengah memegang undangan yang sama dengan yang diterima Hana pagi ini


"Ini undangan siapa ya" Bu Tiya yang akan membuka undangan tersebut kaget karena Hana yang langsung menarik undangan tersebut dari tangan ibunya


"Biar Hana yang baca ya bu"


"Baiklah nak"

__ADS_1


"Disini tertulis jika rumah orang yang akan menikah ada di ujung kota bu, sangatlah jauh dari sini"


"Benar begitu nak?"


"Tentu saja ibuku, mana mungkin aku berbohong pada ibuku" sangkal Hana


" hmm Baiklah nak, kebetulan kamu sudah pulang, bantu ibu buat roti yuk"


"Ayo ibu" seru Hana mengikuti langkah ibunya


"Maafkan Hana yang berbohong pada ibu, maafkan Hana yang gagal memenuhi permintaan terakhir ayah" Batin Hana berusaha tegar dihadapan ibunya


********


2 hari telah berlalu, dan hari ini tepat hari pernikahan Dafa dan juga Asti. Mia tersenyum dan berjalan mendekati Hana yang duduk di bangku halaman belakang restoran


"Hana, mengapa kau ada disini?apa kau tidak akan menghadiri pernikahan mantan calon suamimu"


"Bukan begitu maksudku Han,tapi kau cobalah untuk datang ke resepsi pernikahan mereka, buktikan jika kau bisa tanpa Dafa dihidupmu. Buktikan jika kau masih punya harga diri sebagai seorang wanita. Buktikan jika suatu saat nanti kau bisa bahagia meskipun tanpa Dafa disisimu" Ucap Mia menggenggam tangan Hana, Hana berpikir jika ucapan Mia ada benarnya. Hana menghela nafas dan menatap mata Mia


"Aku akan pergi ke acara pedang pora mereka, tapi tidak dengan akad nikah mereka"


"Tidak apa-apa Hana,setidaknya kau hadir di acara mereka. Acara pedang pora akan dilakukan sore ini, dan aku akan menemanimu disana"


"Terimakasih Mia" Ucap Hana memeluk sahabatnya


"Kuatkan Hatiku Ya Allah"


Hana menguatkan hatinya untuk melangkah memasuki Gedung resepsi. Saat Hana bergabung dengan para tamu, terlihat jika mempelai pria dan wanita siap memulai kegiatan pedang pora. Komandan regu kemudian melaporkan kepada pasangan pengantin jika pasukan pedang pora siap untuk memulai prosesi. Selama prosesi pedang pora berlangsung, Hana terus saja menatap kedua pengantin yang tengah berbahagia dengan linangan air mata. Hana menangis bukan karena dia telah kehilangan orang yang sangat dicintainya, tapi hana sedih kerena gagal memenuhi permintaan terakhir ayahnya


"maafkan aku ayah, Anakmu ini gagal memenuhi permintaan terakhirmu hiks.. Hiks.. " lirih Hana berlinang. Mia yang mendengar dan mengerti dengan perasaan hancur sahabatnya ini, ikut bersedih dan memeluk erat sahabatnya mencoba menguatkannya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Vian, dia tersenyum kecut melihat senyuman bahagia kedua mempelai yang telah selesai melewati gerbang pora.


Setelah prosesi pedang pora selesai, mereka melakukan foto bersama dengan para perwira, namun Vian menolak untuk ikut berfoto bersama


"Bang, ayo kita kesana" ajak Tama


"Tidak Tama, kalian saja yang berfoto bersama, aku sedang tidak bersemangat"


"Baiklah Bang" jawab Tama dan berjalan mendekati kedua mempelai untuk berfoto bersama


Vian mengalihkan pandangannya agar tidak melihat prosesi foto bersama yang sedang berlangsung, namun pandangan Vian tertuju pada Hana yang terus berlinang menatap 2 pengantin yang tengah tersenyum bahagia.


"Hana, mengapa kau menangis, siapa yang berani menganggumu" Batin Vian iba melihat Hana yang terus menangis


Karena tak kuat menahan air matanya, Hana berlari keluar gedung dan menerobos hujan deras yang menghiasi sore hari ini


"Hana tunggu... " Teriak Mia yang akan mengejar Hana namun tangannya dicegah oleh seseorang


"Jangan mengejarnya, sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri" Ucap Dika


"Tapi sayang, aku tak bisa membiarkannya tenggelam dalam kesedihan. Aku takut terjadi sesuatu padanya" Ujar Mia khawatir


"Terkadang sendirian lebih baik untuk menenangkan hati yang bermasalah" Ujar Dika


"Sebenarnya apa yang terjadi Mia, mengapa Hana menangis melihat 2 pengantin yang sedang berbahagia disana?" Tanya Vian bingung


Mia menghela nafas sebelum menceritakannya kepada Vian dan Dika tentang hal yang sebenarnya terjadi


"Sebenarnya...... "


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2