
"Wah istrimu hebat bang. Ternyata dibalik lembutnya sifatnya terdapat singa kelaparan yang bersembunyi"
"Benar bang, apalagi saat Bu Hana yang berteriak marah sambil menodongkan senapan" ucap Raka berbinar
"Aku juga bingung, istriku ternyata memiliki sisi tersembunyi yang cukup unik. Aku bangga padanya setelah semua yang dilakukannya hari ini" Jawab Vian tersenyum mengingat Hana
"Waspadalah setelah ini bang" Ucap Gama menakuti Vian
"Apa maksudmu?"
"Mulai saat ini sampai nanti, jangan pernah membuat istrimu marah atau cemburu"
"Benar bang, apalagi saat Bu Hana menodongkan senapan tepat di kening para preman itu, aku jadi ketakutan sendiri" Ucap Tama
"kau lihatkan banv saat istrimu menedang keras bagian kejantanan seorang lelaki, aku jadi was-was melihat istrimu" ujar Gama merinding ketakutan
"Jika kau berani macam-macam dibelakangnya, maka anaconda akan kalah dan tidak akan selamat dari elang"
"Tapi aku juga senang dengan tindakan istriku hari ini. Aku bangga padanya" Seru Vian
"Benar sekali bang, istrimu layak dijadikan panutan bagi kita dan juga istri kita"
"Tepat sekali"
"kalau begitu aku pamit ya, udah malam nih, pasti istriku telah menungguku pulang"
"yaudah bang, tapi jangan lupa ingatlah pesan kami"
"baiklah akan ku ingat" ucap Vian setuju dan berjalan menuju rumah dinasnya. Sepanjang perjalanan Vian terus saja memikirkan ucapan teman-temannya tadi
"Apa aku harus mengikuti ucapan teman-temanku? Tapi Hana kan istriku, tidak mungkin dia akan melukai suaminya" Batin Vian tersenyum sambil memegang ganggang pintu
"Ceklek...." Vian tersentak kaget dan langsung angkat tangan saat melihat Hana menodongkan pistol padanya
__ADS_1
"Adek, jangan bunuh abang" pinta Vian cemas
"Hahhaha nggak mungkin adek membunuh suami adek yang tercinta ini" Ucap Hana menaruh pistol dimeja dan melompat kedalam pelukan Vian
"Jangan sembarang memegang pistol sayang, nanti kau bisa melukai dirimu dan orang lain" Ucap Vian menenggelamkan kepalanya dibahu Hana
"Itu hanya pistol mainan kok bang, bahkan tak ada peluru satupun disitu" Ujar Hana mengecup bibir Vian sekilas
"Ayo abang mandi, adek udah siapin airnya di dalam"
"Mandiin ya?" Goda Vian tersenyum mengejek. Hana yang merasa wajahnya terasa panas langsung meninju bahu Vian
"Abang ini, kan sudah besar bisa mandi sendiri kan"
"Tapi abang jadi anak kecil saat bersamamu sayang" Ucap Vian merangkul pinggang Hana
"Tapi bang..... "
"Ayolah sayang, abang mohon" Pinta Vian dengan mata memelas. Hana yang tak tahan dengan tatapan itu pun mengontrol nafasnya
Hana yang baru saja selesai menyiapkan air mandi Vian tertegun menatap tubuh Vian yang kini hanya memakai boxer saja.
Saat Vian akan membuka boxernya
"Berhenti" Ucap Hana menghentikan tangan Vian
"Ada apa sayang?" Ucap Vian menahan tawa melihat wajah istrinya yang telah merona merah
"Adek malu" Ucap pelan Hana langsung menutup wajahnya. Vian berjalan mendekati Hana dan merangkul pinganggnya
"Kok malu sih? Kan abang suami adek. Semua yang ada di tubuh abang jika adek melihatnya, itu nggak apa-apa sayang, kan kita pasangan halal" Ucap Vian lembut. Hana menganggukan kepalanya dan mulai menarik tangan Vian sebelum vian kembali membuat Boxernya. Hana mulai menyiramkan air pada tubuh Vian, tak lupa hana menggosok punggung Vian dan memijat lembut kepala Vian yang tertutup busa shampo
"Ahh nikmatnya" Gumam Vian nyaman dengan sentuhan yang menenangkan pikirannya
__ADS_1
"Abang lanjutkan mandinya ya, adek keluar sebentar untuk menyiapkan pakaian abang"
"Baik sayang" Hana tersenyum lalu keluar untuk menyiapkan pakaian suaminya
*************
Sementara di rumah Dafa
"PLAK" tamparan keras mendarat dipipi Asti
"Kali ini kau sudah keterlaluan Asti" Teriak Dafa marah
"Maafkan aku bang, maafkan aku hiks.. hiks" Ucap Asti berlutut memeluk kaki Dafa. Dafa yang telah di penuhi amarah menendang kasar tubuh Asti hingga Asti terhempas dan melepaskan pegangannya dikaki Dafa
"Kau tahu perbuatanmu hari ini? Kau berani mencelakai seluruh perwira akibat perbuatanmu yang ingin mempermalukan Bu Danyon. Kau bahkan berusaha melenyapkan Hana dengan orang-orang suruhanmu. Dimana hati nuranimu Asti" kesal Dafa
"Hiks.. Aku membenci mereka semua, aku siap melakukan apapun demi membalas dendam ku pada mereka. Bahkan aku suka jika tanganku bersimbah darah mereka"
"PLAK" Tamparan keras kembali menyentuh pipi mulus Asti sehingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar
"Kau monster Asti, aku menyesal karena menikah denganmu. Aku menyesal telah termakan cintamu. Aku sungguh menyesali pernah mempercayai dan mencintai wanita sepertimu" geram Dafa menutup wajahnya
"Jangan berkata seperti itu bang, aku tulus mencintaimu. Hanya kau saja yang aku cintai bang" Lirih Asti beranjak memeluk Dafa namun Dafa kembali menghempaskan tubuh Asti hingga dia terhuyung kebelakang
"Lepaskan tanganmu dan menjauhlah dariku. Karenamu aku telah menolak menerima perjodohan dengan wanita sebaik Hana. Hana bahkan jauh lebih dan tulus dalam mencintaiku. Tapi karena tipuan dan kebohonganmu, aku telah menyia-nyiakan wanita sebaik Hana. Aku juga telah menyakiti, sangat menyakiti ibuku" Ucap Dafa menahan air matanya
"Maafkan aku bang hiks.. hiks.. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya" pinta Asti berlutut dikaki Dafa sambil terisak
"Tidak Asti, kau bukanlah Asti yang kukenal dulu. Jika aku memberimu kesempatan memperbaiki semuanya karena hatimu sangatlah pendendam. Aku yakin setelah ini kau pasti akan menyakiti ibuku karena sering memarahimu. Kau juga akan semakin dendam dengan Hana karena ulahnya yang telah membongkar semua kebusukanmu. Mulai saat ini AKU TALAK KAU ASTI DAN MULAI SEKARANG KAU BUKAN LAGI ISTRIKU" Kata-kata kehancuran lolos dari mulut Dafa. Bagaikan disambar petir, Asti kembali terisak dan berusaha mengejar langkah Dafa yang berlari keluar
"Bang maafkan aku, jangan ucapan kata itu bang, ABANG....... " Teriak Asti memanggil Dafa, namun Dafa tak mendengarkan ucapannya. Dafa melajukan motornya meninggalkan Asti sendirian
"Abang dengarkan aku dulu, maafkan aku hiks.. hiks.. " Lirih Asti terduduk didepan rumah. Para ibu-ibu yang melihat itu mulai berbisik-bisik yang tidak- tidak entang Asti. Asti segera berlari ke kamarnya dan mulai berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya
__ADS_1
"Maafkan aku abang"
Bersambung.....