
"Alhamdulillah kakiku sudah bisa berjalan kembali" gumam Hana senang menatap kakinya yang kembali berfungsi seperti semula. Hana tersenyum dan beranjak mendekati Vian yang terduduk diatas ranjang sambil meluruskan kakinya. Hana menaruh kaki Vian diatas pahanya dan mulai memijatnya lembut
"Adek, siapakah polisi wanita yang memeluk adek tadi?"
"Ohh wanita itu sahabat adek waktu kecil bang. Adek sering bermain dan latihan bela diri bersamanya di desa dulu"
"Lalu"
"Kami terpisah sejak SMP karena ayah dan ibu adek pindah ke kota ini dan membangun restoran di sini. Sejak saat itu adek udah nggak ketemu dia lagi. Terakhir kali adek bertemu dengannya sewaktu mendaftar di Akademi Kepolisian dulu"
"Adek tes polisi?" tanya Vian menganga
"Iyah bang, adek bersama Vivian dulu bersama-sama mendaftar akademi Kepolisian, tapi saat itu adek mengalami kecelakaan sehingga adek gagal dalam tes itu. Vivian juga sempat gagal saat pertama kali mendaftar, tapi adek berusaha menyakinkan Vivian untuk terus mengejar cita-cita yang kami impikan sejak kecil. Biarlah impian adek untuk menjadi polisi wanita gagal, asalkan teman seperjuangan adek berhasil meraih cita-citanya" Ucap Hana tersenyum manis pada Vian
"begitu yah dek, jadi adek pandai bela diri supaya bisa masuk Akpol ya?"
"Iyah bang, tapi inilah garis tangan adek. Tapi bakat adek nggak sia-sia, setidaknya adek bisa melindungi keluarga dan Orang-orang yang adek sayangi dengan kemampuan adek. Walaupun adek gagal menjadi seorang perwira polisi, setidaknya adek bangga memiliki suami seorang prajurit TNI yang mengagumkan ini" ucap Hana merangkul leher Suaminya
"Abang bangga sama adek" ucap Vian langsung mengecup bibir Hana yang sudah menjadi candunya
"Sekarang adek yang nanya sama abang, siapa wanita yang berani memeluk abang waktu abang pulang bertugas kemarin?" Tanya Hana menatap tajam mata suaminya
"Adek dengarin penjelasan abang ya, sebenarnya wanita itu adalah putri kepala desa yang tak terlalu jauh dari wilayah perbatasan. Dia sering berkunjung ke markas dan sesekali mengantarkan abang makan malam. Tapi abang nggak makan makanannya sayang, abang selalu berusaha menjauhinya tapi dia kadang dekat dengan abang. Abang nggak punya perasaan apapun padanya, karena istri abang jauh lebih mengoda darinya"
"Benar begitu bang?" tanya Hana menatap mata Vian mencari kebenaran yang sebenarnya, namun Hana hanya melihat kejujuran dimata suaminya
"Iya sayang, abang jujur kok. Jangan marah sama abang lagi ya, jujur abang nggak sanggup hidup tanpa adek" ucap Vian membawa kepala istrinya agar bersandar didada bidangnya
"Iyah bang. Abang harus tetap setia sama adek yah, jangan pernah marah atau berpaling dari adek lagi. Adek juga nggak bisa hidup tanpa abang"
"Siap sayang. Bolekah malam ini abang meminta hak abang dari adek?" tanya Vian lembut
"Tapi adek takut bang"
"Nggak perlu takut sayang, kan abang ada disini. Abang janji akan melakukannya pelan-pelan kok" Hana menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan permintaan suaminya. Vian yang seolah mendapatkan lampu hijau dari istrinya tersenyum dan mulai mengeluarkan hasrat yang selama ini terpendam. Vian melucuti semua yang ada di bawah sana dan mulai melakukan aksinya secara perlahan. rasa takut yang menguasai Hana kian menghilang dengan perlakuan lembut Vian dan Hana akhirnya mulai membalas permainan suaminya
**********
Keesokan paginya, Hana terbangun dan tersenyum mendapati bercak merah di spreinya
__ADS_1
"Aku telah memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri" batin Hana menatap wajah Vian yang masih tertidur lelap dengan wajah yang kelelahan. Hana memakai piyamanya dan segera memperbaiki selimut yang belum sepenuhnya menutupi tubuh polos suaminya
"Kau pasti lelah setelah melakukannya semalam. Istirahat yang tenang yah sayang" ucap Hana mengecup kening Vian dan segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka
Hana yang tengah memasak terkejut melihat sepasang tangan kekar yang melingkar di pinganggnya
"Abang udah bangun"
"Iyah sayang. Terimakasih untuk semalam ya" ucap Vian menenggelamkan kepalanya di bahu Hana
"Sama-sama suamiku, lagipula itu kan sudah menjadi tugasku untuk melayanimu selamanya"
"Ayah tunggu kalian disini yah" ucap Vian berjongkok dan mengecup lembut perut Hana
"Iyah ayah" ucap Hana menirukan suara anak kecil yang mendapat tawa dari keduanya.
Tok.. Tok.. Tok..
Mendengar ketukan pintu, Vian beranjak kedepan dan langsung membuka pintunya
"Selamat pagi lettu"
"Ehh sertu Denis, ada apa?"
"Ohh baiklah, saya pakai seragam dulu"
Setelah sertu Denis pergi, Vian segera masuk dan mulai memakai seragamnya
"Adek, abang pamit ya, komandan meminta beberapa perwira untuk menghadap"
"Begitu yah, Hati-hati ya bang" ucap Hana menyalami tangan suaminya
"Abang pergi dulu sayang, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam bang"
**********
"Terdapat beberapa kelompok separatis yang mulai mengerang negara kita di bagian timur. Batalyon kita diminta untuk mengirimkan sebagian prajuritnya untuk memberantas aksi kelompok separatis tersebut. Oleh karena itu, saya percaya kan pada kalian untuk mengemban tugas ini. Karena keadaan yang semakin genting, besok kalian akan diterjunkan di lokasi. Mengerti!!!"
__ADS_1
"Siap laksanakan" jawab seluruh anggota serentak
Setelah keluar dari ruangan batalyon
"Ada tugas lagi nih" lesu Tama
"Benar bang, kita terus siap jika negara telah memanggil kita"
"Sangat sulit untuk berpisah dengan istriku, apalagi istriku tengah hamil muda sekarang" ucap Iwan
Bagi para bujangan, mendapat tugas adalah sesuatu yang menyenangkan, tapi jika sudah berkeluarga, terasa berat jika harus berpisah dan menahan rindu dari orang-orang yang tercinta.
"Sayang, besok abang berangkat dinas. Kamu baik-baik disini yah" pesan Vian
"Berapa lama bang" tanya Hana yang berusaha menahan air matanya
"Jika tugasnya selesai, abang langsung pulang dek"
"Ya sudah, sekarang abang mandi ya, udah adek siapin airnya didalam"
Vian menepuk pipi istrinya lembut dan berjalan memasuki kamar mandi. Setelah Vian hilang dari balik pintu, Hana menjatuhkan air matanya dan menutup mulutnya agar suara isak tangisnya tidak terdengar
"Bukan adek nggak bolehin abang pergi bertugas, tapi permintaan abang kali ini sangat berat dihati adek"
Keesokan paginya Hana yang tengah kebersihan ruang tamu tersenyum manis pada suaminya yang telah rapi dengan ransel dan seragam lorengnya
Vian yang mengerti arti dibalik senyuman istrinya merentangkan kedua tangannya agar istrinya segera memeluknya. Hana menghambur memeluk Vian erat sambil terus menagis seolah tak ingin melepaskan Vian
"Jangan nangis sayang, abang jadi nggak tega ngelihat kamu seperti ini" ucap Vian mengelus punggung Hana mencoba untuk menenangkannya
"Bisa nggak kalau abang nggak pergi, kali ini saja bang. Adek takut abang pergi ninggalin adek sendiri disini hiks.. hiks.. " tangis ketakutan Hana semakin menjadi
"Jika abang bisa memilih, maka abang jelas akan memilih untuk tidak pergi bertugas. Tapi mau bagaimana lagi sayang, ini adalah perintah yang harus abang laksanakan" ucap Vian mengerti dengan apa yang dirasakan istrinya sekarang
"Lindungi dia ya Allah, jangan pisahkan dia dariku hiks.. hiks.. " gumam Hana yang masih bisa didengar Vian
"Doakan abang selalu baik-baik saja ya sayang, karena doa dari istri yang sholehah pasti didengar Allah" ucap Vian lembut. Hana mengangguk dan mulai mengantar suaminya ke batalyon.
Hana kembali menagis dan melambaikan tangannya ketika melihat Vian berjalan kearah truk tanpa menoleh kearahnya
__ADS_1
"Baik-baik disini ya sayang, nantikan aku untuk segera pulang ke pelukanmu. Maafkan dan ikhlaskanlah aku jika aku tak kunjung pulang untuk selamanya" batin Vian teriris melihat Hana yang melambaikan tangan padanya
Bersambung.....