
Seminggu telah berlalu, Hana tengah bersiap-siap untuk mengunjungi rumah mertuanya di desa karena Bu lula yang memintanya untuk tinggal bersamanya
"Jika kau sudah sampai disana, hubungi aku ya Hana" ucap Mia membantu Hana memasukan barangnya kedalam bus
"Iyah Mia, aku titip restoran padamu yah, tolong jaga restoran kita baik-baik"
"Iyah Hana, kau tenangkan hatimu dan bersenang-senanglah disana, jangan pikirkan restoran disini karena aku dan teman-teman yang akan mengurusnya untukmu"
"Terimakasih Mia, kau memang sahabat terbaikku"
"Sama-sama Hana, sekarang masuk dan duduklah dengan nyaman, busnya akan segera berangkat"
"Iyah Mia, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam Hana" balas Mia melambaikan tangannya pada Hana yang telah menaiki bus
"Semoga kau selalu bahagia dimanapun kau berada Hana, ingatlah setelah badai yang menerjang, pasti ada pelangi yang akan mewarnai hidup kita. Suatu saat nanti, dengan izin Allah kau pasti akan menemukan bahagiamu kembali" batin Mia melihat bus yang semakin menjauh
*********
Hana terus tersenyum melihat sawah dan lembah-lembah yang mereka lewati sepanjang jalan
"Bunda jadi nggak sabar melihatmu di dunia ini sayang, pasti anak bunda jauh lebih indah dari pemandangan yang bunda lihat tadi" batin Hana mengusap lembut perutnya yang semakin membesar
Hana ikut bernyanyi bersama penumpang bus lainnya yang sangat ramah dan menyenangkan. Sepanjang perjalanan, Hana terus tersenyum melihat canda dan tawa para penumpang yang selalu berhasil menghibur hatinya
"Putriku" ucap Bu Lula memeluk Hana yang menjatuhkan air matanya. Hana membalas pelukan mertuanya sambil terus menangis teringat akan suaminya yang entah berada dimana
"Ikhlaskan kepergian Vian sayang, tetaplah kuat demi anak kalian. Seorang istri prajurit harus tegar menerima bentuk apapun yang dialami suami kita. Jika kau terus menangis dan bersedih, ingatlah anakmu ini. Dia adalah hadiah dari Vian agar kau tidak kesepian saat ditinggal olehnya. Jika kau lemah, maka katakan pada ibu sesuatu yang menganggu hatimu, ibu akan selalu ada dan siap mendengarkan semua keluhanmu sayang" ucap Bu Lula berusaha menenangkan Hana
"Terimakasih yah Bu, ibu seperti ibunya Hana yang selalu memberikan ketenangan"
"Sama-sama putriku, ingatlah hanya wanita kuat dan hebat yang mampu mencintai seorang Abdi negara, dan kau adalah salah satunya"
Bu lula segera mengajak Hana untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, bu lula selalu menceritakan hal-hal yang dapat menghibur istri dari anaknya yang telah gugur di medan perang
"Semoga kau tenang disana yah nak, ibu berjanji akan selalu menjaga istri dan anakmu" batin Bu lula melihat senyuman diwajah Hana
__ADS_1
**********
3 bulan telah berlalu, dan usia kandungan Hana sekarang sudah memasuki usia 9 bulan. Selama tinggal bersama kedua mertuanya, Hana selalu ceria dan tertawa melihat kekonyolan kedua mertuanya yang selalu berhasil menghiburnya. Jika hana kembali teringat akan suaminya, maka Hana akan keluar untuk mengagumi indahnya pemandangan alam yang memukau di desa. Seprti saat ini, Hana tengah membantu ibu-ibu untuk memetik daun teh ditemai oleh Bu lula
"Wah Bu lula, menantumu sangatlah cantik"
"Iyah Bu, Vian pasti beruntung memiliki istri secantik dia"
"Iyah benar Bu, saya juga bersyukur anak saya bisa memiliki wanita sebaik dan setegar Hana. Meskipun Vian telah gugur di medan pernah, tapi istrinya selalu setia dan mencintai putraku"
"Bagus tuh Bu, semoga anak yang dikandungnya bisa membantunya untuk tetap kuat dan mengembalikan senyumannya seperti saat bersama Vian"
"Aamiin, kalau begitu saya pamit dulu yah ibu-ibu, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam Bu Lula" bu lula mengangguk dan segera menghampiri Hana untuk kembali ke rumah mereka.
"Bu, Desa ini punya banyak sekali pemandangan yang mengagumkan" seru Hana berbinar
"Iyah dong sayang, karena itu desa ini sering didatangi wisatawan dalam negeri dan juga manca negara nak" jawab bu lula
"benar bu, ibu-ibu tadi bilang kalo di desa ini juga ada taman bunga mawar yah bu"
"wah, sepertinya indah bu. Hana pengen kesana" ucap Hana memelas pada bu lula
"Hahaha Iyah sayang, nanti kita kesana yah, tapi setelah kau melahirkan cucu ibu. takutnya kau akan kelelahan setelah tiba disana dan ibu takut terjadi sesuatu padamu" balas Bu lula mengelus kepala Hana
"Heheh Iyah bu" jawab Hana tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju rumah.
Senyum dan langkah Hana terhenti saat melihat dua pasangan yang berjalan didekatnya. Kedua pasangan itu sangatlah bahagia dengan anak kecil yang berjalan ditengah mereka
"ayah, ayo kita main di ayunan itu" tunjuk anak kecil itu pada ayunan dibawah pohon
"Ayo sayang" ucap pasangan itu bersamaan
"Yeahh, terimakasih ayah, bunda. Adek sayang kalian" seru anak itu mengecup pipi kedua orangtuanya dan mengenggam tangan mereka menuju ayunan tersebut.
ibu anak itu ikut naik ke ayunan dengan memangku putri kecilnya, sedangkan ayahnya yang mendorong ayunan.
__ADS_1
Tawa anak itu semakin menggema apalagi anak itu selalu meminta ayahnya untuk mendorong ayunan lebih keras lagi. Hana meneteskan air mata melihat tawa dan kebahagiaan keluarga kecil itu.
Hana segera mengelus perutnya karena janinnya yang kembali menendangnya
"Sungguh hatiku ikut senang melihat kebahagiaan keluarga itu, tapi hatiku juga merasakan sakit yang hebat membayangkan apakah anakku nanti bisa merasakan tawa bahagia seperti anak itu. Aku sanggup hidup jauh dari orang yang kucintai, tapi bagaimana dengan anakku, apakah dia sanggup hidup tanpa ayahnya nanti" Batin Hana terus menjatuhkan air matanya membayangkan bagaimana perasaan anaknya nanti saat tidak adanya sosok dan kasih sayang seorang ayah disisinya
Bu lula yang mengerti penderitaan yang dirasakan menantunya ikut menjatuhkan air matanya dan memeluk Hana erat. Bu lula berusaha menenangkan Hana dengan memberikan motivasi agar menantunya bisa melanjutkan hidup lagi dengan hati yang ikhlas menerima takdir.
Setelah merasa Hana telah tenang, Bu lula segera membantu Hana untuk berjalan pulang ke rumah
*************
"Nak, sekarang kau istirahat saja yah, biar ibu yang memasak di dapur"
"Apa ibu nggak keberatan?"
"Nggak lah sayang, ibu sama sekali tidak keberatan. Sekarang usia kandunganmu sudah memasuki semester akhir, jadi lebih baik jika kau lebih banyak istrahat yah"
"Baiklah ibu" balas Hana tersenyum. Bu lula mengangguk dan segera menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan
Hana yang duduk di ruang tamu meraih sebuah album foto yang tergeletak di laci meja dan mulai membukanya
"Abang.. " lirih Hana mengusap foto Vian yang memakai seragam SMA. Hana kembali membuka lembaran selanjutnya dan tersenyum melihat wajah Vian yang sangat manis ketika tersenyum
"Ternyata abang sangat tampan yah saat masih remaja. Adek jadi pengen meluk abang" batin Hana dan mulai memejamkan matanya mengingat kenangan manis yang dilewatinya saat mereka masih bersama dulu
"Sayang ayo makan dulu" ucap Bu lula yang duduk disamping Hana
"Trimakasih ibu" balas Hana dan langsung menyantap bubur kacang ijo yang disiapkan Bu lula
"Enak Bu" ucap Hana kembali menyantap makanan yang begitu nikmat menyentuh lidahnya
"Ini makanan kesukaan Vian sayang, mungkin anakmu juga ingin merasakan makanan kesukaan ayahnya" Hana mengangguk mendengar penuturan Bu Lula.
Setelah Hana menyantap habis makanannya, Hana segera menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang dan kembali melihat album foto milik suaminya. Bu lula membiarkan Hana istirahat di kamar karena melihat wajah Hana yang sering kelelahan saat bekerja
Hana tersenyum menatap foto pernikahan mereka yang terdapat di album tersebut
__ADS_1
"Entahlah, hati ini merasa seolah kau masih ada di dunia ini. Apa ini firasat ataukah hanya perasaanku saja. Jika kau memang masih ada di dunia ini, segera temui aku. Aku sangat merindukanmu sayang. Hati yang ingin bertemu denganmu ini terasa sangat sakit. Kenyataan berkata jika kau telah pergi meninggalkanku sendiri disini. Tapi hatiku berkata kau masih ada dan tersembunyi di suatu tempat. Jika kau masih hidup, semoga Allah selalu melindungimu dimanapun kau berada. Jika memang kau telah tiada, semoga kau tenang yah dialam sana"
Bersambung....