
"Kok Hana nggak kelihatan sejak beberapa hari belakang ini, apa dia sedang ada masalah ya" Cemas Vian
"Kenapa hayo.. Apa kau merindukannya" goda Dika
"Apaan sih, kan aku cuman nanya"
"Haha yaudah, daripada duduk tanpa melihat dan mendengar kabar Hana, mending kita ke restorannya yuk,mungkin dia ada disana.ini masih pagi dan tak ada pekerjaan penting di markas"
"Baiklah" Vian dan Dika melapor ke kantor sebelum pergi keluar dan melajukan motornya masing-masing menuju restoran Hana
"Mia, apakah Hana kau melihat Hana beberapa hari yang lalu?" Tanya Vian setelah duduk di kursi restoran
"Tidak Vian, sudah berapa hari Hana nggak bekerja,kami juga sudah menghubungi teleponnya tapi selalu saja tidak aktif"
Vian terdiam dan mulaii memikirkan Hana
"Apa sesuatu terjadi padamu Hana?" Batin Vian bertanya-tanya. Tak berselang lama pintu restoran terbuka menampilkan Hana yang berjalan kedalam sambil terus menunduk
"Itu Hana, sebentar ya aku akan menemuinya" Ucap Mia dan langsung menghampiri Hana, sedangkan Vian dan Dika mengamati keduanya dari kejauhan
"Hana, kau kemana belakang ini. Kok jarang banget ke restoran"
"Maafkan aku Mia, Teman-teman, aku sedang tidak enak badan" Ucap Hana berbohong. Mia yang menatap mata Hana seolah saat ini hana telah mengalami sesuatu yang menekan batinnya
"Kau tidak bisa berbohong padaku Hana, karena kau bukan wanita yang pandai berbohong. Ceritakan apa masalahmu padaku, aku akan siap mendengarkan keluh kesahmu Hana" Hana meneteskan Air mata dan langsung berhambur memeluk Mia
"Ada apa dengannya? Kenapa dia menangis" Gumam Vian masih melihat keduanya
Hana mengontrol nafasnya dan mulai menceritakan semuanya pada Mia sahabatnya. Mia yang mendengar ucapan pelan Hana mengepalkan tangannya dan siap membunuh siapapun yang berani melukai sahabatnya
"Lelaki macam apa itu, tega sekali dia menyia-nyiakan orang yang tulus mencintainya" Geram Mia sementara Haha hanya bisa menunduk menyembunyikan air matanya
Tak berselang lama, pintu restoran terbuka menampakkan Dafa dan Asti yang masuk dan duduk di salah satu kursi restoran. Vian yang melihat keberadaan mereka berdua dalam restoran itu akan beranjak pergi tapi niatnya diurungkan karena melihat Hana yang masih menangis sesengguk nya
"Siapa yang tega melukaimu Hana?" Batin Vian iba melihat Hana yang menghapus air matanya
__ADS_1
Mia yang melihat kedatangan manusia tak berperasaan itu mengepalkan tangannya menuju ke meja mereka namun Hana menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya
"Tidak Hana, apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan"
"Tidak apa Mia, mungkin kak Dafa bukanlah takdir dan pria yang baik untukku, aku hanya sedih harus mengikhlaskan perasaan ini. Mungkin butuh banyak waktu, tapi aku akan berusaha mengikhlaskannya. Percayalah padaku Mia"
Mia yang menatap permohonan dimata sembab Hana menghela nafas kasar dan memeluk sahabatnya
"Aku percaya padamu Hana, aku akan selalu bersamamu jika kau membutuhkan teman untuk bercerita"
Sementara di meja Dafa dan Asti, Dafa terlihat merjongkok di depan Asti sambil memegang kotak kecil yang mendapat tatapan dari semua pengunjung restoran
"Asti, apa kau siap untuk hidup bersamaku, menemaniku disetiap langkahku, Will You Marry Me"
"Ayo Terima, ayo ayo" Para pengunjung mulai heboh dan mengucapkan kata tersebut kepada Asti. Asti yang tersanjung tersenyum dan membiarkan Dafa memasangkan cincin di jari manisnya
"Aku Terima" Ucap Asti langsung mendapat seruan bahagia dari para pengunjung. Sedangkan Hana kembali menjatuhkan air mata melihat adegan di hadapannya. Begitu juga Vian, dia berusaha menahan gejolak dalam dadanya agar tak menyakiti siapapun
Hana yang merasa tenaganya semakin berkurang, menyandarkan tubuhnya pada Mia yang mengelus punggungnya.
Badan Hana semakin berat merasakan pandangan matanya yang semakin kabur.
"Maafkan aku ayah" gumam pelan Hana. Karena tenaganya yang kian menipis Hana perlahan menutup mata dan tak sadarkan diri
"Ya Tuhan HANA" Teriak Mia khawatir. Vian yang melihat kepanikan Mia berlari kearahnya. Vian mengambil alih tubuh hana dan langsung mengendongya sambil berlari keluar restoran
"Cepat Siapkan Mobil" Dika mengangguk dan mulai menyiapkan mobil yang baru saja dibelinya kemarin
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Mia terus berusaha membangunkan Hana yang sangat lemas dengan wajah yang telah pucat pasi. Vian yang duduk disamping kursi kemudi mencoba untuk tetap tenang, sesekali melirik ke belakang mengecek kondisi Hana melalui kaca depan.
Setelah tiba di rumah sakit, Vian kembali mengendong tubuh Hana dan secepatnya menuju ke dalam IGD. Mia terus saja mondar-mandir didepan pintu, sementara Vian duduk di kursi depan ruangan sambil menutup wajahnya
"Ya Allah, tolong sembuhkan dia. Dia bukanlah milikku, tapi ada perasaan takut saat melihatnya seperti itu" Batin Vian khawatir
"Bagaimana keadaan teman saya dokter?" Tanya Mia setelah dokter selesai memeriksa Hana
__ADS_1
"Kondisinya sangat lemah. stress dan kurangnya nutrisi menyebabkan tubuhnya melemah. apakah teman anda mengalami hal-hal yang membuatnya terpukul dan tertekan beberapa hari belakangan?"
Mia mengangguk tanda membenarkan ucapan dokter
"Saya sudah meresepkan Vitamin dan obat-obat lainnya, nanti kalian tebus di apotik dan tetap jaga teman anda"
"Baiklah dokter" Dokter tersenyum lalu meninggalkan ruang rawat Hana
"Vian bisakah kau temani Hana disini, aku dan bang Dika ke apotik sebentar untuk menebus obat Hana" Pinta Mia
"Baiklah" balas Vian.
Setelah Dika dan Mia keluar ruangan, Vian terus menatap wajah pucat Hana dengan tatapan sendu
"Dokter bilang kau tertekan beberapa hari belakang. sebenarnya apa yang terjadi padamu dek?" Ucap Vian berdiri disamping brankar Hana.
Hana mulai menggerakkan jarinya, lalu tubuhnya bergetar hebat membuat Vian panik dan mengenggam erat tangan Hana
"AYAH..... " Teriak Hana yang terbangun dan langsung memeluk Vian disampingnya
"Ayah maafkan aku ayah hiks...hiks.. " Tangis Hana pecah dibahu Vian. Vian yang merasa tubuh Hana bergetar mengelus lembut kepala Hana yang tertutup hijab berusaha untuk menenangkannya
"Adek tenang yah"
"Adek gagal kakak" Ujar Hana pilu. Mia yang baru saja datang langsung mendekati Hana dan memeluknya
"Sudah, tenang ya. Yang penting kau sudah berusaha mewujudkan permintaan terakhir ayahmu. Tenangkan dirimu, aku dan teman- teman ada dsini dan selalu bersamamu" Ucap Mia menenangkan Hana. Hana yang mulai tenang melepaskan pelukannya dari Mia
"Kakak, Mia tolong jangan katakan ini pada ibuku ya"
"Tentu Hana, kita akan memberitahu ibumu di waktu yang tepat nanti" Ucap Mia dan diangguki Hana. setelah menemui dokter, Hana langsung diizinkan pulang karena Hana menolak dirawat di rumah sakit. Sepanjang perjalanan pulang, Vian terus mengamati Hana yang terus saja menatap kosong kedepan
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu dek?"
Bersambung.....
__ADS_1