
"Abang... " sapa Hana pada suaminya yang tengah sarapan di dapur.
"Abang boleh nggak ambilin surat tanah di rumah ibu. Adek nggak bisa ambilin soalnya adek ada pertemuan bulanan dengan para pemimpin untuk evaluasi hasil kerja selama tiga bulan belakangan" ucap Hana yang telah rapi dengan seragam persit lengkap
"Baiklah sayang, apa perlu abang antar kesana"
"Nggak usah bang, adek pergi bareng sisil kok. Ini kunci rumah ibu, Hati-hati saat dijalan nanti ya sayangku" Ucap Hana mengecup pipi Vian lembut
"Wah, istri abang udah pandai menggoda ya"
"Kan abang yang ngajarin hahaha" Tawa Hana menggema di penjuru dapur sedangkan Vian hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat istrinya
"Yaudah sayang, adek pamit dulu ya Assalamu'alaikum" Ucap Hana menyalami tangan suaminya
"Walaikumsalam dek" Hana mengangguk dan berjalan keluar rumah.
Vian yang telah selesai sarapan menjalankan motornya untuk menuju ke rumah mertuanya. Saat tiba di rumah Hana, Vian membuka pintu kamar Hana dan mulai mencari surat tanah yang dimaksud Hana
"adek simpan dimana yah surat itu" gumam Vian terus menggeleda seisi rumah kecuali kamar kedua orang tua Hana
"Akhirnya ketemu juga" Ucap Vian bangga setelah berjam-jam mencari dan mengeledah rumah Hana. Karena merasa gerah, Vian berjalan memasuki kamar mandi di kamar Hana untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket
"Wah, rumah istriku walau terlihat sangat sederhana, tapi Hana memiliki bathub yang cukup besar ya, bahkan panjangnya cukup untuk dua orang" gumam Vian mengagumi kamar mandi Hana, terdapat handuk yang tergantung di dinding, shampo dan sabun mandi yang tertata rapi di tempatnya.
Vian mulai menyalakan keran air dan melucuti semua pakaiannya. Setelah air bathub penuh dan tubuhnya yang telah polos tanpa sehelai benang pun, Vian segera memasuki bathub dan mulai menikmati air yang menyegarkan tubuhnya. Vian tak menyadari ada seorang wanita yang mengintipnya dari balik pintu kamar mandi. Vian yang berendam membelakangi pintu dan suara air keran yang menyala tak melihat wanita itu yang berjalan mengendap-endap kearahnya.
Wanita itu tersenyum licik dan saat merasa pria di depannya lengah, wanita itu langsung membekap mulut Vian dengan kain yang diberi obat bius
"Uhghhhggg" Vian meronta melepaskan tangan wanita itu, namun karena dosis obat yang terdapat dikain itu terlalu banyak, kesadaran Vian melemah hingga Vian tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bagus, rencanaku berhasil" gumam wanita itu melihat Vian yang telah pingsan tak sadarkan diri, wanita itu juga tertegun melihat tubuh polos pria yang tak berdaya di dalam bathub. Setelah mengamati tubuh pria itu cukup lama, wanita itu memasukkan pil di dalam mulut Vian. Wanita itu juga memasukkan kepala Vian kedalam air membiarkannya tenggelam didalam bathub yang cukup besar.
"Rasakan pembalasanku Hana, jika aku kehilangan suamiku karena ulahmu, maka kau juga akan kehilangan suamimu selamanya karena tindakanku" Ucap Wanita itu tersenyum smirk. Dia memotret Vian yang berbaring didalam bathub yang penuh air dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Setelah itu wanita itu beranjak pergi membiarkan Vian berbaring didalam bathub dengan keran air yang masih menyala
Setelah pertemuan dengan pimpinan mereka, Hana tengah mengobrol dengan beberapa ibu-ibu di dekatnya
"Bu Asti nggak hadir di rapat tadi ya?" tanya Bu Danki
"Ijin Bu, benar Bu. Sejak pertemuan tadi berlangsung Bu Asti sama sekali tidak terlihat" Ucap Bu Lena
"Semalam kami mendengar jika Lettu Dafa dan Bu Asti bertengkar hebat di rumahnya"
"Mungkin itulah alasan Bu Asti tidak hadir di pertemuan tadi" jawab sisil
"Benar Bu sisil, lagipula Bu Asti pasti sangat malu dengan tindakan liciknya yang berhasil dibongkar oleh Bu Hana" Ucap Bu Lena
"Sudah ibu-ibu, kita tidak boleh berkata dan berpikir yang tidak tidak tentang Bu Asti" Bela Hana
"Baik Bu" Ucap ibu-ibu serentak
"Bu Hana, ada apa?" tanya Bu Danki khawatir setelah melihat wajah Hana yang seperti orang cemas
"Tidak apa-apa bu" Ucap Hana mencoba tersenyum
"Ada apa ini, mengapa aku setakut ini. Apa terjadi sesuatu pada bang Vian" Batin Hana menahan gejolak dan rasa takut dihatinya
"Kau yakin tidak apa-apa Hana? Keningmu berkeringat loh" Ucap sisil cemas
"Aku baik-baik saja kok, ayo kita pulang" Ucap Hana mencoba tersenyum dan menarik tangan sisil untuk segera pulang.
__ADS_1
"Semoga Abang baik-baik aja"
********
Hana yang telah sampai di rumahnya, melihat jika motor vian belum juga terparkir di depan rumah
"Abang belum pulang, tapi ini sudah jam 3 sore" gumam Hana melirik jam ditangannya. Hana yang sejak tadi merasa cemas dan terus memikirkan suaminya merogoh ponselnya mencoba mengubungi Vian
"Tiiiit.... " jeda yang cukup panjang, tapi Vian tak kunjung menjawab ponselnya. Hana kembali menghubungi suaminya namun hasilnya tetap sama
"Aduh abang kemana sih, jangan buat adek cemas" batin Hana mondar-mandir di depan pintu. Hana mencoba menghubungi Dika untuk menanyakan keberadaan Vian
"Halo Hana, assalamu'alaikum" Jawab Dika
"Walaikumsalam, apa kakak bersama bang vian saat ini?"
"Tidak Hana, kakak lagi sama Mia di restoran"
"Begitu ya kak, terimakasih infonya kak"
"Sama-sama Hana, jika kau butuh atau memerlukan sesuatu, hubungi kakak ya"
"Baiklah kak, assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam Hana" Ucap Dika dan Hana langsung memutuskan sambungan
"Abang dimana ya, apa abang masih di rumah ibu?" batin Hana memutar-mutar ponselnya
"Sebaiknya aku mengecek rumah ibu, siapa tau bang Vian ada disana" ucap Hana menutup pintu dan langsung melajukan motornya menuju rumah ibunya. Selama perjalanan Hana terus memikirkan keadaan suaminya yang tak kunjung menjawab panggilannya
__ADS_1
"Semoga suamiku baik-baik saja. Lindungilah dia Ya Tuhanku"
Bersambung....