Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 30. Ditinggal bertugas


__ADS_3

Hana yang terbangun pukul 2 dini hari, bergegas mengambil air wudhu dan melakukan shalat tahajud demi keterangan hatinya yang akan ditinggal bertugas oleh Vian


"Ya Allah yang Tuhanku, lindungilah suamiku di manapun dia berada, jagalah dia agar tetap aman Ya Allah, hati ini sangat takut kehilangannya. Permudahkan semua urusannya saat bertugas nanti. Dan janganlah engkau pisahkan hamba selamanya dengannya Ya Allah. Sungguh,hamba sangat mencintainya. Hanya suami hamba semangat hamba untuk tetap hidup dan melangkah maju kedepan. Kabulkan doa Hamba Ya Allah, sesungguhnya hanya pada-Mu tempat kami memohon dan meminta pertolongan" Ucap Hana mengaminkan do'anya dan bersujud cukup lama dengan air mata yang selalu mengalir mewakili kekhawatiran hatinya saat ini. Vian yang terbangun mendengar doa yang dipanjatkan Hana kepada penciptaNya menyunggingkan senyumnya mendengar doa tulus dari sang istri


"Terimakasih sayang" batin Vian tersenyum


Setelah selesai melakukan shalat tahajud, Hana mengambil ransel besar yang dibawa Vian dan menyiapkan seragam loreng milik suaminya. Sungguh berat rasanya harus berpisah, tapi Hana menguatkan dirinya.


Saat tengah membersihkan ruang tamu, Hana tersenyum kearah suaminya namun telihat dari balik senyumnya terdapat rasa sedih yang harus berpisah dengan suaminya, apalagi mata hana telah berkaca-kaca


Vian yang dapat melihat arti dibalik senyuman istrinya merentangkan kedua tangannya agar Hana segera memeluknya. Bulir bening jatuh dari mata hana yang berlari dan langsung memeluk Vian erat, seolah tak ingin melepas kepergiannya


"Abang... Hiks... Hiks.. "


"Adek kuat yah, kita pasti bisa melewati semua ini. Sudah ya,jangan nangis lagi, abang jadi nggak tega ninggalin kamu"


"Abang harus pulang ya, abang harus sehat seperti ini baik berangkat maupun kembali nanti"


"Iyah sayang, abang janji akan pulang hanya untukmu"


Semua pasukan yang yang akan dikirim untuk menjaga wilayah perbatasan sudah berkumpul di pelabuhan untuk mengikuti upacara keberangkatan


"Sebagai pasukan pemelihara perdamaian dan keamanan negara, TNI membawa misi negara. Berbagai penugasan prajurit TNI dalam misi perdamaian dunia dan keamanan negara selalu menuai keberhasilan. Oleh karena itu, Batalyon ini berkesempatan untuk melaksanakan tugas ini dan kembali dengan selamat. Ingat! Ada keluarganya yang selalu menanti kepulangan kalian" Ucap Komandan Batalyon.


Letda Raka berjalan mendekati Hana dan mengucapkan sesuatu


"Bu Danton, tolong jaga istriku selama aku bertugas ya. Dia adalah wanita pendiam dan juga pemalu. Aku senang jika dia mulai terbuka dan membicarakan tentangmu"

__ADS_1


"Baik Bang, in syaa Allah saya akan berusaha untuk menemani bu sisil"


"Alhamdulillah, terimakasih Bu Danton" Ucap letda Raka dan diangguki Hana


Kini, Vian sudah menaiki kapal yang akan mengantarkannya untuk melaksanakan tugas. Hana melambaikan tangannya dengan air mata yang menggenang di mata dan pipinya, namun Hana menguatkan hatinya untuk tersenyum menyemangati Vian dari kejauhan


"Aku akan selalu setia menantimu, prajuritku".


Hana membalikkan tubuhnya dan mendapati jika Sisil tengah menatap kapal yang hampir tak terlihat lagi dengan mata yang tak hentinya mengalirkan air. Hana berjalan mendekatinya dan mencoba menguatkannya


" Bu sisil sabar ya. Menang terasa sangat berat ditinggal pergi suami yang bertugas, tapi kita harus tetap kuat dan terus mendoakan mereka agar mereka selamat dan baik-baik saja disana "


"Terimakasih Bu hana. Terimakasih sudah menjadi temanku, orang-orang tak mau berteman denganku karena aku orang yang pendiam dan pemalu. Hanya Bu hana dan Bu danyon yang selalu memahami kondisi ku" Ucap Sisil mengusap air matanya


"Sama-sama Bu sisil, dan jika kau menganggapku temanmu, maka panggilah aku dengan namaku, jangan panggil ibu. Sepertinya itu terlalu formal"


"Baiklah Hana"


Setibanya di wilayah perbatasan, Vian segera beristirahat di barak bersama teman-teman yang lainnya


"Kita harus istirahat dan tidur yang cukup setelah perjalanan jauh tadi. Besok kita adalah berpatroli dibagian timur, sedangkan beberapa anggota lainnya dikerahkan untuk menjaga pos-pos perbatasan bagian barat dan selatan" Ucap Kapten


"Siap laksanakan" Ucap para perwira dan langsung masuk ke barak yang telah disediakan. Vian yang tak enak badan langsung tertidur pulas menimbulkan rasa penasaran teman-temannya


"Dia udah tidur aja, berbeda seperti biasanya" tanya Gama


"Mungkin dia kelelahan saat perjalanan tadi"

__ADS_1


"Lebih baik kita beristirahat, karena kita harus menempuh medan yang cukup sulit dalam patroli besok"


Para prajurit setuju dan mulai mengikuti Vian yang telah memasuki alam mimpi.


Keesokan paginya, Vian dan beberapa anggota lainnya telah rapi dengan senapan laras panjang ditangan mereka. Vian tak sempat mengubungi Hana karena tertidur semalam dan pagi ini harus segera berpatroli


"Kok cemberut, ada apa?" tanya Dika yang berjalan disamping Vian


"Aku belum menghubungi istriku sejak tiba disini kemarin. Aku khawatir dia mencemaskan keadaanku disini"


"Ohh rupanya itu yang menganggumu sejak tadi, pantas aku panggil nggak dengar" Ucap Gama


"Ya maklum, ini hal pertama untuknya"


"Aku juga belum menghubungi Mia sejak kemarin"


"Kalau aku tak ada yang merindukanku" Ucap Gama sedih


"Hhahaha, karena itu carilah wanita yang akan merindukanmu juga"


"Bagaimana kalau gadis di warung kopi yang kita lewati tadi? Dia kelihatan manis"


"Cantik sih, tapi bagaimana jika dia sudah bersuami"


"Ahh kalian ini, bukannya mendukung malah menjatuhkan" kesal Gama


"Hahaha Yaudah yuk, kita lanjut jalan lagi" Ajak Dika sebelum mendengar omelan Gama

__ADS_1


Dari atas bukit, Vian dan anggota tim nya melihat jika ada sebuah mobil yang akan memasuki perbatasan tapi masih diinterogasi oleh penjaga sekitar. Merasa curiga dengan pemilik mobil tersebut, Vian kemudian membagi dua timnya. Tim Dika tetap berpatroli disekitar bukit, sedangkan tim vian menuju ke perbatasan dimana ada suatu yang tidak beres


Bersambung....


__ADS_2