Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 58. Jangan Berani Bermain-main Denganku


__ADS_3

Dari arah kejauhan, Vian melihat seorang wanita yang mendorong kursi roda di jalanan yang sepi. Vian yang menyadari wanita itu adalah istrinya tersenyum dan berjalan mendekatinya sambil menengeng kantung belanjaannya.


Vian yang melihat ada beberapa berandalan yang mengikuti istrinya seketika naik pitam dan langsung berlari mendekati mereka


"Sepertinya dia sangat mudah dilenyapkan bos" ucap salah satu berandalan kepada bos mereka


"Benar, wanita lemah itu cukup didorong dari kursi rodanya" ucap berandalan itu dan mulai melangkah cepat diikuti beberapa anggotanya.


Hana tak mendengar langkah kaki para berandalan itu karena suara musik terdengar cukup keras dari salah satu rumah yang dia lewati


"Ya ampun, musiknya keras sekali. Aku jadi tidak mendengar apapun" gumam Hana kembali menggerakkan kursi rodanya kedepan


Disaat salah satu berandalan akan menyentuh kursi rodanya Hana, Vian reflek menarik tangan berandalan itu dan menendangnya cukup keras


"Jangan berani kalian menyentuh istriku" Ancam Vian


"Ohh rupanya kau suami wanita lemah itu. Baiklah, teman-teman serang orang ini" perintah ketua berandalan itu.


Para berandalan maju dan mulai mengerang Vian. Vian dengan mudah menangis dan membogem mentah satu-persatu berandalan itu sehingga mereka babak belur. Hana tak mendengar keributan dibelakangnya karena suara musik yang masih cukup keras.


Vian yang berhasil mengajar 4 berandalan yang terus menyerangnya tak menyadari ada seorang lagi yang berjalan mendekatinya sambil memegang pipa paralon. Berandalan itu menghuyungkan pipa paralon itu dan mengantam keras punggung Vian. Vian yang merasa sakit di punggungnya ambruk dan terjatuh ketahan


"Hahaha, ternyata tenaganya cukup lemah" ucap ketua preman itu dan kembali menjalankan aksinya. Vian kembali menahan sakit di bagian bawahnya karena ketua berandalan itu menginjaknya cukup keras


"Ahh sial, berani sekali berandalan ini menginjak benda pusakaku" batin Vian meringis sambil menahan rasa sakit yang hebat. Vian menggulingkan badannya kesamping sebelum berandalan itu kembali menginjaknya dan dengan sekuat menahan pipa paralon yang kembali dipukulkan padanya


Bruk...


Tendangan yang cukup keras berhasil dilakukan oleh ketua berandalan itu hingga hidung Vian mengeluarkan darah


"Jangan sok kuat, kau cuma seorang, sedangkan kami berjumlah 5 orang, mana mungkin pria lemah sepertimu mampu mengalahkan kami hahaha.. " ucap ketua preman itu mengangkat kakinya untuk kembali menginjak Vian


Hana yang mendengar ada sedikit keributan dibelakangnya terkejut mendapati 4 orang berandalan yang tergeletak di tanah. Dia juga menyadari jika seseorang berusaha menginjak seorang pria yang tergeletak di tanah sambil menahan sakit


"Astaghfirullah, Abang... " Ucap Hana panik saat menyadari lelaki itu akan menyerang suaminya. Hana berdiri dari kursi rodanya dan berlari ke arah ketua berandalan itu. Hana meloncat dan menendang kepala ketua berandalan itu sehingga dia terhuyung kesamping


"Berani sekali kau melukai suamiku" geram Hana menatap tajam kearah ketua berandalan itu sambil mengepalkan tangannya


Vian yang melihat istrinya telah berdiri sempurna tak jauh darinya berusaha tersenyum sambil menahan rasa sakit ditubuhnya


"Tentu saja aku berani. Kau hanya wanita lemah, tidak mungkin kau bisa mengalahkanku" geram Ketua berandalan berusaha bangkit dan kembali melayangkan bogem mentah kewajah Hana. Hana tersenyum licik dan menggeser kepalanya kesamping sehingga bogem mentah itu tidak berhasil mengenai wajahnya. Hana meraih tangan itu dan memutarnya kebelakang


"Siapa yang kau bilang wanita lemah haa" ucap Hana menendang punggung ketua berandalan itu hingga dia jatuh tersungkur dan menabrak trotoar.


Melihat ketua mereka yang terbaring lemas, para berandalan berusaha bangkit dan kembali menyerang Hana. Hana dengan lihai menghindari dua orang yang menghadangnya sehingga bogem mentah mereka kembali tak berhasil mengenai Hana.


Bugh..

__ADS_1


Bugh..


Bugh...


"Adek awas... " teriak Vian melihat masih ada seorang pemuda yang akan menghantam Hana dengan pipa paralon. Hana tersenyum dan menundukkan badannya sepeti gerakan kayang sehingga pipa itu melayang diatas tubuhnya.


Hana mengambil alih pipa itu dan kembali menghantam semua berandalan yang siap menyerangnya


Ketua berandalan berusaha bangkit dan langsung menindih tubuh Vian yang masih terbaring lemas di jalanan. Berandalan itu mengeluarkan pisau yang siap ditancapkan di perut Vian


"Hei kau, jika kau masih mau melihat suamimu hidup, meyerahlah dan serahkan dirimu padaku" ucap ketua berandalan itu. Hana melepaskan pipa paralon ditangannya dan menatap tajam kearah berandalan itu


"Jika kau berani menyentuh suamiku sedikitpun, akan ku lenyapkan kau" geram Hana mengacungkan pipa paralonnya


"Hahaha... nyawa suamimu sekarang ada di tanganku. Jadi serahkan dirimu padaku jika kau masih ingin melihat suamimu hidup. Sungguh aku sangat menyukai wanita tangguh sepertimu"


"Jangan dek, jangan lakuin itu. Sampai abang mati sekalipun, abang nggak akan biarin seseorang berani menyentuhmu" pinta Vian yang masih terbaring.


Vian ingin sekali melawan para berandalan yang menindih tubuhnya tapi tenaganya tidak sebanding dengan para berandalan itu. Hana tersenyum manis kearah Vian dan berjalan mendekati para berandalan yang menindih tubuh suaminya


"Aku terima tawaranmu, sekarang menghindarlah dari tubuh suamiku" ucap Hana mantap


"Mendekatlah padaku, maka akan melepaskan suamimu" ucap Ketua berandalan itu. Hana berjalan kearahnya dan dengan pipa paralon yang tidak jauh di kakinya, Hana kembali menghantam para berandalan itu satu persatu


"Jangan pernah bermain-main denganku" Teriak Hana dan kembali menghajar para berandalan yang menindih tubuh suaminya


Bugh..


Bugh..


Para preman jatuh tersungkur dengan wajah penuh darah


"Masih berani kalian bermain-main denganku hmm?" geram Hana menganggap pipa dan siap memukul kembali pada tubuh para preman


"Tidak.. Tidak.. Maafkan kami nona" ucap ketua berandalan itu


"Bagus lah, ternyata pikiran kalian jernih setelah dipukuli seperti ini" ucap Hana melempar pipa paralon yang dipegangnya.


Tak berselang lama terdengar sirine mobil polisi yang langsung menangkap para berandalan itu.


"Masukan mereka kedalam sel, biar ku beri mereka semua pelajaran" ucap Mika seorang perwira polisi


"Dan kau nona, terimakasih.... " ucap Mika tertahan karena mengenali wanita yang telah berhasil melumpuhkan para berandalan meresahkan itu


"Hana.." ucap Mika dan langsung memeluk Hana


"Ya ampun Hana, kau kemana saja selama ini. Aku merindukanmu tahu" ucap Mika memeluk sahabat semasa kecilnya

__ADS_1


"Yah, aku tinggal di kota ini karena ayah ibuku yang membangun rumah disini"


"Wah kau semakin cantik saja"


"Terimakasih Mika, selamat ya atas keberhasilanmu"


"Kau juga Hana, terimakasih banyak. Jika bukan karena dorongan dan motivasi yang kau berikan padaku dulu, mungkin sekarang aku bukanlah seorang perwira seperti yang kau lihat sekarang" ucap Mika menepuk bahu Hana


"Sekali lagi selamat ya"


"Iyah Hana, apa kau yang menghajar para berandalan ini. Ternyata kau masih hebat seperti dulu yah"


"Hehe" cengir Hana


"Hahaha, kalau begitu aku pamit ya, aku akan mengantar para berandalan ini menuju tempat yang pantas bagi mereka"


"Baiklah" ucap Hana melambaikan tangannya pada mobil polisi yang semakin menjauh darinya. Hana membalikan badannya dan berjalan mendekati Vian yang terduduk di aspal sambil menahan sakit di tubuhnya


"Abang, sakit pasti yah"


"Iyah dek, sakit sekali" ucap Vian mencoba mengoda istrinya. Hana yang tidak tega melihat wajah kesakitan suaminya langsung mengelus lembut area bekas injakan keras ketua berandalan tadi. Vian yang merasa geli dengan sentuhan istrinya tersenyum penuh kemenangan melihat Hana yang masih terus mengelus dengan lembut sehingga nyeri di tubuhnya perlahan-lahan mengurang


"Masih sakit bang? " tanya Hana cemas menatap mata Vian


"Masih agak sakit sayang" Hana mengangguk dan kembali mengelus berusaha meredakan rasa sakit yang masih dirasakan suaminya


"Ya ampun" batin Hana tersadar dan langsung menarik tangannya dari tubuh Vian


"Apa yang kulakukan, kenapa kau baru tersadar sekarang Hana" gerutu Hana menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.


Vian menahan tawa melihat wajah istrinya yang telah merona seperti udang rebus


"Terimakasih dek, sakitnya udah reda" goda Vian menahan tawa.


"Sama-sama sayangku" ucap Hana menatap mata Vian dan membantunya berdiri


"Yah nggak apa-apa kali, kan aku istrinya abang. Ngapain malu sih Hana" batin Hana


"Kita pulang yah bang, nanti adek obati lukanya dirumah saja"


"Ayo sayang" ucap Vian merangkul bahu istrinya sambil tersenyum penuh kemenangan


"Syukurlah kau tidak marah lagi padaku, aku menyayangimu sayang" batin Vian menatap Hana yang tersenyum manis padanya


Marwa yang melihat kemesraan kedua pasangan itu berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah


"Ternyata kalian berdua saling mencintai. Aku salah karena mencintaimu bang, tapi syukurlah jika kau bahagia dengan wanita yang kau cintai. Aku hanya bisa mendoakanmu dari jauh. Biarlah aku memilikimu walau dalam anganku saja. Aku sangat iri dengan Hana, dia adalah wanita beruntung yang berhasil memiliki lelaki sebaik dirimu" batin Marwa tersenyum kecut dan berjalan meninggalkan Asti yang kesal karena rencananya kembali gagal

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2