Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 35. Hanya Namamu Yang Ada di Hatiku


__ADS_3

Vian dan Dika segera berlari keluar dan menembak satu persatu anggota kelompok penyelundup Bersenjata hingga satu persatu dari mereka tumbang


Dooor


Dooor


Boooooom


Suara baku tembak dan bom berjauhan dimana semua pasukan telah berhasil merebut wilayah kekuasaan musuh


"Anaconda, Cobra, kalian selamat" Ucap Gama senang


"Tentu saja, kita akan selalu bersama membela negara ini. Sekarang perintahkan pasukan Piton untuk masuk kedalam markas dan melindungi beberapa perwira dan pelaku yang menyerahkan diri"


"Siap laksanakan"


"Bergerak kearah kanan, dan tetaplah waspada dengan setiap serangan para perwira tersebut" perintah Revan melihat wilayah mereka sebagian telah dikuasai para perwira


"Baik" Para anak buah Revan menyebar dan menembak ke segala arah, namun mereka terlambat menyadari jika dikaki mereka telah terpasang bom rakitan yang dibuat Vian barusan


"Kena kalian"


Boooooom


Boooooom


Suara ledakan bom satu persatu telah meledak, sebagian musuh tertembak dan mundur sehingga anak buah yang melindungi markas mereka tumbang satu persatu.


Para perwira maju dan menghadang Revan yang mencoba melarikan diri


"Menyerahlah, dengan menyerah negara akan mengurangi hukuman kamu"


"Tidak akan. Kalian hanyalah prajurit biasa dan sampai kapanpun kalian tidak akan bisa menghentikan kami"


"Berhentilah membual, karena semua anak buah kalian telah gugur"


"Tidak akan. Kami sangatlah kuat, dan kami akan tetap menciptakan kekacauan di negeri ini"


"Kalian sungguh keterlaluan!!!"


Gama segera mengarahkan senjatanya dan menarik pelatuknya


Dooor


Ini untuk negara yang ingin kau hancurkan


Dooor


Ini untuk teman kami yang kalian siksa tanpa ampun


Dooor, tembakan terakhir tepat mengenai dada Revan


"Inilah hukuman untukmu yang berani mengancam keamanan negara kami"


Revan akhirnya tumbang, tergeletak dengan darah yang mengalir di kepalanya dan matanya yang melotot


"Arada sudah aman Lettu" Ucap Raka yang telah berhasil mengamankan Arada menggunakan helikopter. Vian melihat keatas helikopter dan tersenyum melihat Arada yang mengacungkan jempol padanya


"Segera ledakkan markas mereka" perintah kapten


Boooooom


Boooooom


Boooooom


Suara ledakan semakin terdengar hingga sarang musuh satu persatu hancur


Boooooom


Ledakan terakhir menandakan jika semua benteng pertahanan musuh telah dimusnahkan, Vian dan pasukannya segera meninggalkan lokasi yang telah dihancurkan.

__ADS_1


Sesampainya di markas, Vian dan beberapa pasukan yang terkena tembakan segera mendapat penanganan di puskesad Markas


"Wah kalian hebat ya, bisa bertahan di daerah seprti itu" Ucap dokter Rangga


"Alhamdulillah dokter, kami selamat semua"


"Ngomong-ngomong berapa lama kalian disekap disana?


"Sekitar 10 hari tanpa diberi makan sedikitpun"


"Pantas saja tubuh kalian kekurangan gizi. Minumlah obat ini"


"Apa ini dokter?" Tanya Dika


"Itu vitamin dan penambah energi untuk tubuh kalian"


Vian dan perwira lainnya mengangguk dan mulai meneguk obat yang diberikan oleh dokter


"Apa kau sudah menghubungi Hana?" Tanya Dika yang duduk disamping Vian


"Belum Dika, nanti besok pagi saja aku menghubunginya. Pasti sekarang dia sudah tidur"


"Yaudah aku pamit masuk ya, aku sudah lelah dan mengantuk"


"Yaudah kita bareng aja" Ucap Vian dan ikut masuk ke barak.


Vian mengambil ponselnya di dalam ranselnya dan saat menyalakan ponselnya, terdapat beberapa panggil tak terjawab dari sang istri. Saat membuka kontak pesan istrinya, terdapat beberapa pesan Hana yang sejak 10 hari yang lalu tak terbalaskan. Vian membaca satu persatu pesan dari hari pertama sampai hari ke lima membuat hatinya bahagia dan ingin segera pulang bertemu sang istri.


Saat membaca isi diary Hana yang berhasil disadapnya, Vian terharu dan ikut sedih karena sejak dia hilang, Hana terus menulis kata kata yang mencurahkan isi hatinya yang begitu merindukan Vian. Vian mereka bersalah karena sejak dia tiba disini, dia sama sekali belum mengabari Hana. Vian berpikir pasti Hana telah mengetahui kabar jika dia dinyatakan hilang dari Bu Danyon. Terbayang bagaimana hancur dan sedihnya sang istri ketika menerima kabar itu dari Bu danyon bukan dari suaminya sendiri


"Aku disini juga sangat merindukan sayang"


*************


Isi Diary Hana :


Meski ku tahu waktu tak akan kembali lagi


Kini sampai sekarang hanyalah dirimu


Aku hanya memikirkanmu


Dengan tidak memikirkan semua yang belum tentu jelas


Meski kucoba melewati malam tanpa bisa tertidur


Hati yang ingin bertemu denganmu terasa sangat sakit


Ohh suamiku sekarang aku sangat merindukanmu


Berulang kali kita tertawa dan tersenyum bersama


Bercanda dengan hal-hal yang penuh makna


Dimanakah dirimu?


Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?


Sekarang aku tahu jika rindu tak selamanya harus tersampaikan


Selamat tinggal disaat itu


Aku menangis untukmu


Dibalik air mata, aku memanggil namamu


Dalam hati ini, aku selalu merasakan hal yang sama yaitu khawatir dan gemetar


Sekali lagi aku menangis untukmu


Jika kau kembali, aku akan tetap disini untukmu

__ADS_1


Lebih dari siapapun, aku akan memberimu semua cintaku


Meskipun kita harus terpisah


Sangat sulit untuk mengucapkan selamat tinggal


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Vian meneteskan air mata membaca ungkapan istrinya yang seperti mengisyaratkan sesuatu yang sedang melanda hatinya. Vian yang ingin segera bertemu sang istri, melihat jam di dinding tertera pukul 2.30 dini hari.


Vian menekan nomor Hana dan memulai sambungan Video


Hana yang telah selesai melakukan shalat tahajud, mendengar dering ponselnya dan saat membaca nama yang tertera di ponselnya, senyum yang hilang dari wajahnya kini kembali terbit menampakkan kebahagiaan hatinya


"Abang...... Hiks.. Hiks.... " Ucap Hana melihat wajahnya Vian di ponselnya


"Adek..... "


"Abang kemana selama ini? Abang baik-baik saja kan?"


"Iyah sayang, abang baik-baik aja kok" Jawab Vian tersenyum


"Kenapa abang nggak hubungi adek saat tiba disana hiks.. hiks.." lirih Hana menangis sesenggukan


"Saat itu abang langsung bertugas sayang. Abang juga tidak bisa menghubungimu selama abang disekap"


"Siapa yang berani sekap abang, biar adek yang akan mencincang nya karena berani menyakiti suami adek" geram Hana memegang pulpen disamping nakasnya


"Hahaha, istri abang kejam juga ya"


"Ihh abang, adek serius tau" ucap Hana cemberut


"Jangan kusut gitu dong mukanya, Orang-orang yang menyekap abang sudah ditahan kok. Tenang ya sayang"


"Abang Adek rindu... ... "Lirih Hana


"Abang juga rindu padamu dek. Tetap kuat ya selama abang tinggal"


"Iyah abang, yang penting abang udah ditemukan dan kembali bertugas dengan selamat"


"Iyah sayang, terimakasih sudah setia mendoakan abang disini ya"


"Sama-sama suamiku,selama abang jauh, biarlah doa adek yang menjaga abang disana. Adek pengen ngomong sesuatu sama abang"


"Terimakasih sayangku, ngomong-ngomong apa yang ingin kau sampaikan sayang?" goda Vian yang melihat wajah istrinya telah merona merah


"Kangen tidur dipeluk sama abang" Ucap Hana menyembunyikan wajahnya


"Itu aja"


"Semuanya yang ada di diri abang, adek merindukannya"


"Termasuk..... " Goda Vian melirik sekilas ke bawahnya


"Apaan sih bang" Ucap Hana tersipu karena mengerti arah pembicaraan suaminya


"Hahaha tunggu abang pulang ya dek, maka abang akan menerkammu"


"Siap bang" Balas Hana


"Yaudah adek lanjutkan tidurnya ya. Abang temani dari sini"


Hana mengangguk dan naik keatas ranjang. Setelah memastikan Hana tertidur lelap, Vian mengamati jika istrinya tengah memeluk erat bantal guling yang dilapisi oleh bajunya


"Untuk sekarang hanya baju itu yang menemani adek disana. Sampai suatu saat nanti saat hari itu telah tiba, maka abang yang akan menemani dan memeluk adek sepanjang malam" Ucap Vian tersenyum dan mematikan ponselnya.


Karena lelah yang menyerangnya, Vian membaringkan tubuhnya dan tertidur agar bertemu istrinya walau hanya dalam mimpi


"Hanya namamu yang ada di hatiku Hana"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2