Satu Nama Dihati Sang Prajurit

Satu Nama Dihati Sang Prajurit
BAB 29. Tugas


__ADS_3

Sudah sebulan Hana menikah dengan Vian dan ikut aktif membantu ibu-ibu persit ketika ada pertemuan anggota, rapat pengurus,kunjungan kerja, dan kegiatan lain yang mencerminkan kita sebagai anggota persit


"Wah bu danton, masakannya enak" Ucap Bu Danki


"Ijin bu, terimakasih"


"Tolong buat beberapa menu masakan lagi. Bu Tari dan Bu sila akan membantumu menyiapkan semua kebutuhannya"


"Siap Bu" Hana mengangguk dan mulai memasak ditemani beberapa anggota persit yang ditugaskan membantunya. Selama berperan dalam membantu pekerjaan sebagai seorang istri prajurit, Hana selalu mendapatkan sambutan hangat dari teman-temannya yang juga sangat ramah kepada Hana. Hana sering menghabiskan waktu dengan memasak dan bercanda dengan anggota persit lainnya, sehingga Hana mudah mendapatkan teman dan dihormati oleh teman-temannya. Kecuali Asti, dia sangat membenci Hana, apalagi saat Hana yang menyiapkan konsumsi untuk berbagai acara dan memimpin senam ibu-ibu persit, maka Asti akan mencari cara untuk menghina dan menjatuhkan Hana.


"Alhamdulillah selesai juga"


"Iya bu danton, dan masakan buatan kita sangat enak sehingga kita mendapat pujian dari ketua persit" Ucap bu Sila berbinar


"Syukurlah, kalau begitu saya pamit ya bu, saya harus menyiapkan keperluan di rumah"


"Baik bu" Hana tersenyum dan bergegas keluar menuju rumah dinasnya


Saat tengah berjalan menuju rumah dinasnya, Hana melihat salah satu temannya yang juga istri seorang prajurit tengah duduk dengan raut wajah sedih di teras rumah dinasnya. Hana tersenyum dan berjalan mendekatinya


"Assalamu'alaikum Bu sisil" sapa Hana


"Ehh Bu Danton, silakan duduk"

__ADS_1


"Terimakasih Bu. Ngomong-ngomong kok Bu sisil nggak telihat setelah rapat pengurus selsai"


"Anu Bu... "ucap Bu sisil menahan kalimatnya


" Ada apa Bu? Apa yang disampaikan Bu danyon saat rapat pengurus tadi. Maaf saya tidak sempat mengikuti rapat karena saya harus membantu menyiapkan beberapa konsumsi bersama ibu-ibu yang lainnya "


"Nggak apa-apa Bu, sebenarnya" Bu sisil mengontrol nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya


"Tadi Bu danyon memberitahu jika Batalyon diberi tugas oleh pemerintah agar mengirim beberapa pasukannya untuk menjaga beberapa wilayah perbatasan" Ucap lemah sisil


"Menjaga wilayah perbatasan? Kira-kira berapa lama Bu?"


"Sepertinya sembilan bulan Bu"


"Apa Lettu Vian juga ditugaskan Bu"


"Kita sebagai istri prajurit, harus tetap kuat dan menanti kepulangan suami kita"


"Baik Bu, ijin Bu saya harus mempersiapkan semuanya untuk kepergian suami saya besok"


"Baiklah Bu Danton, silahkan" Hana mengangguk dan segera berlari ke rumahnya. Setelah memasuki rumahnya hana langsung mengunci pintu dan jatuh terduduk dengan air mata yang mengalir deras di pipinya


"Ada apa dek?" tanya Vian yang datang dari arah dapur. Hana mengangkat kepalanya dan berlari menghambur memeluk Vian

__ADS_1


"Jadi Abang ditugaskan untuk menjaga wilayah perbatasan?"


"Iyah benar sayang. Abang ditugaskan kesana bersama bang Gama dan Bang Dika, sedangkan bang Tama dan Bang Sandi ditugaskan menjaga wilayah perbatasan di bagian barat Indonesia"


"Bukannya ditempat abang berjaga sering terjadi kerusuhan dan penyerangan"


"Benar dek, abang ditugaskan kesana sebagai pasukan yang menjaga keamanan negara. Sudah menjadi tugas dan kewajiban abang untuk mengemban amanah tugas itu. Adek do'ain abang ya, supaya abang bisa kembali berkumpul bersama adek dengan selamat"


"Abang harus kembali dengan selamat. Adek akan selalu setia menunggu abang untuk pulang kesini. Jika abang sempat, kabarin adek ya bang" lirih Hana menghapus air matanya


"Iyah dek, sudah ya, jangan nangis lagi. Abang pergi cuman 9 bulan aja kok, selalu doakan abang pulang dan adek tetaplah setia menunggu abang pulang. Ini memang berat bagi Adek, tapi ini syaa Allah kita bisa melewati semuanya sayang" Ucap Vian lembut menghapus air mata istrinya


"Maafkan adek ya bang, adek jadi patahin semangat abang untuk berjuang demi tanah air kita"


"Nggak apa-apa kok sayang, abang paham kok, lagipula pernikahan kita baru berlangsung sebulan, pasti rasanya berat jika harus berpisah. Tapi adek harus tetap mengingat pesan Bu Dara bahwa istri seorang prajurit harus tetap setia menanti kepulangan suaminya. Dan jika abang kembali kesini hanya tinggal nama, adek harus iklas ya" ucap Vian memeluk erat istrinya


Disisa waktunya bersama Vian, Hana terus saja menempel pada Vian dan ingin memuaskan diri bersama suaminya. Mereka jalan-jalan bersama mengelilingi kota, dan makan malam romantis di atas puncak.


Hana menaiki ranjang dan ikut tidur disamping suaminya


"Abang, tetap peluk adek seperti ini ya. Setelah ini Adek akan sangat merindukan pelukan ini" Vian tersenyum dan memeluk istrinya erat. Setelah istrinya tertidur lelap, Vian mengecup bibirnya singkat dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh mereka


"Abang yakin, kamu pasti kuat melewati semua ini dek. Tetap doakan abang untuk kembali kesini dengan selamat. Walaupun adek jauh dari jangkauan abang, tapi adek akan selalu ada dihati abang. Tetap tersenyum selama abang tidak ada disini, karena senyumanmu adalah kekuatan abang selamanya" ucap Vian mengelus lembut kepala istrinya yang telah memasuki alam mimpi. Karena lelah yang kian menyerangnya, Vian ikut terlelap dengan tubuhnya yang masih memeluk erat Hana

__ADS_1


"Aku mencintaimu sayang"


Bersambung......


__ADS_2