
Asha yang baru pulang pun berlari memasuki rumah. Dia kaget karena ketiga adiknya sudah menangis sambil duduk dilantai. Sementara Sara yang masih memegang ibunya.
"Sudah kubilang bukan, jangan sebut nama sial*n itu di rumah ayahku! Berhenti kubilang! Berhenti!" Ucap Sara sambil menggoyangkan kedua bahu Amora.
Amora pun tidak berhenti berbicara, namun semakin berteriak memanggil nama laki-laki tersebut.
"Mas Bram, jangan tinggalin aku. Aku janji bakal ninggalin Malik dan pergi sama kamu. Mas Bram, Mas Bram!" Teriak Amora histeris.
Sara yang sudah geram pun berdiri dan bergegas menuju kamar mandi. Asha yang melihat hal itu pun mendekati ibunya dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Asha mengambil kain yang berada di kursi ruang tamu dan menutupi badan ibunya dengan kain tersebut. Asha mendekap ibunya yang terus memanggil nama lelaki simpanan nya. Asha menitikkan air matanya tak percaya dengan apa yang terjadi pada ibunya.
Asha berpikir bahwa mungkin ibunya diperkosa dan ditinggalkan begitu saja dalam keadaan mabuk berat. Namun, dia salah. Memang Asha belum mengetahui kebenarannya sehingga merasa iba dengan sang ibu.
Sara yang melihat kakaknya mendekap sang ibu pun bertambah marah.
"Teh, lepas in wanita gila itu. Awas teh, kita harus sadarin dia. Biar dia lihat gimana aslinya dia." Ucap Sara menarik kakaknya berdiri.
Sara pun mengangkat ember yang tadi dia ambil dari kamar mandi. Lalu dia siramkan air tersebut kepada Amora. Asha, Khansa , Aurora, dan Reza yang melihat hal itu pun menutup mulutnya tak percaya.
"Sara! Apa yang kau lakukan!" Bentak Asha kepada Sara. Sara yang dibentak pun bengong dengan sikap kakaknya. Seumur hidupnya baru sekali ini Asha membentaknya.
"Tidak seharusnya teteh bentak Sara gini. Teteh nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sara berusaha menutupi semua yang terjadi sama ibu dari Teh Asha, karena Sara takut teteh khawatir. Tetapi kalau teteh dah nggak percaya sama Sara, baiklah Sara bakal tunjukin." Ucap Sara dengan tangis yang tertahan.
Amora yang sudah sedikit sadar pun hanya melihat perdebatan antara kedua anaknya.
Sara menatap ibunya dengan tatapan penuh kebencian. Sara berjalan mendekat kearah Amora dan membuka kain yang diberikan Asha tadi dengan paksa. Sampai Amora pun sedikit berpindah dari tempatnya karena badannya sedikit tertarik kain.
"Teteh lihat? Apa yang ada di leher dan bahu ibu? Jika teteh menganggap bahwa ibu diperkosa, maka teteh salah besar. Dan apa teteh perhatikan pakaian dari wanita itu? Yang kita sebut sebagai ibu kita?" Ucap Sara mendekati kakaknya sambil tangan kirinya yang menunjuk ke arah Amora.
Asha masih memandang Sara dengan tatapan tak mengerti. Namun dia melihat penampilan ibunya yang seperti wanita malam pun sedikit merasa risih. Pakaian yang hanya menutupi bagian dada serta seperempat kaki ibunya.
"Jika teteh masih belum mengerti, baiklah akan Sara jelaskan." Ucap Sara berjalan kearah ibunya.
"Di mana kalian melakukan hal menjijikkan itu Nyonya Amora? Di hotel mana lagi? Atau masih di hotel tempo hari?" Ucap Sara sambil berjongkok di hadapan ibunya.
Amora pun mendongak menghadap anaknya dengan tatapan tajam, lalu ia menampar Sara sedikit keras. Semua yang ada di ruang tamu pun berteriak memanggil nama Sara.
"Anak kurang ajar! Mengapa kau berbicara sembarangan seperti itu hah?! Apakah kau tak diajarkan sopan santun oleh ayahmu hah?!" Ujar Amora sambil berdiri.
Sara yang ditampar pun menahan air matanya, dan ikut berdiri. Sara memejamkan matanya sejenak sambil mengatur napasnya.
"Sudah ku katakan bukan? Bahwa jangan pernah membawa bawa nama ayah saya dalam hal didikan? Dia mengajarkan Saya banyak hal, termasuk jika kelak Saya sudah menikah dan memiliki anak." Ucap Sara sambil mendekati Amora dengan tatapan tajam.
Entah mengapa, Amora merasa terintimidasi dengan tatapan Sara.
"Dan entah mengapa, saya jadi ragu. Apakah dahulu kakek mengajari Anda tentang hal tersebut atau tidak. Oh, atau mungkin sudah tetapi tidak diserap sampai ke otak olehmu. Secara kan... yah kau sudah tahu lah. Bagaimana otak mau pandai jika perilakunya seperti sampah!" Ucap Sara sarkasme kepada ibunya.
__ADS_1
Asha yang melihat hal itu pun hendak maju menuju ibunya. Namun tertahan karena tangan Sara yang memberi isyarat agar dirinya tak maju.
"Saya tahu, kita sedang dalam kesulitan dalam hal finansial. Tetapi tidakkah Anda melihat bagaimana kerja keras ayah saya agar kita tetap bisa makan?! Lalu bagaimana dengan Anda?" Ucap Sara semakin berapi api.
"Disaat Ayah Saya berjuang memajukan keluarga kita lagi, mengapa Anda tak pernah merawatnya sedikit pun hah?! Anda malah selalu pergi pagi pulang pagi tanpa kejelasan. Saya tahu apa yang Anda kerjakan diluaran sana. Berapa mereka membayarmu hah?! Atau kau melakukannya secara sukarela?" Ucap Sara sambil mencengkeram tangan ibunya.
Amora pun kaget dengan pernyataan Sara. Tanpa pikir panjang, Amora mengibaskan tangan Sara, yang berada pada lengan tangannya. Sara kaget karena ibunya menghentakkan tangannya keras.
"Mereka memberiku banyak uang. Memang mengapa hah?! Apa pedulimu? Jika bukan karena harta Malik, aku tak mau melahirkan kalian semua. Aku melakukan ini karena uang ayahmu sudah habis. Sementara aku butuh perawatan untuk badanku yang sudah rusak karena mengandung kalian." Ungkap Amora dengan tegas.
Asha yang mendengar hal itu pun luruh ke lantai. Badannya terasa sangan lemas. Khansa yang melihat itu pun berlari menuju kakaknya dan meninggalkan Aurora dan Reza yang juga menangis.
"Tidak mungkin Sa, mengapa ibu tega melakukan hal itu kepada ayah." Ucap Asha sesenggukan dipelukan Khansa. Khansa hanya bisa mengelus rambut kakaknya tanpa berkomentar, dia sendiri pun masih sangat syok.
"Aku menikah dengan ayah kalian pun dengan sangat terpaksa. Kesucianku terenggut saat aku masih duduk dibangku kelas 10. Namun setelah beberapa tahun terpukul, aku memilih untuk menikahi ayah kalian karena hartanya yang melimpah. tetapi sekarang? Apa yang bisa kudapat darinya?" Ucap Amora dengan menatap kelima anaknya.
"Harta ayah habis juga karena kau yang menghabiskannya! Apakah otak kau tak bisa untuk berpikir walau sedikit saja. Setidaknya kita masih bisa berusaha bersama untuk kembali seperti dahulu. Tetapi kau malah mengkhianati ayah." Ucap Sara dengan nada lemas.
"Aku berselingkuh dengan Mas Bram karena dia memberiku banyak uang. Aku lelah harus hidup sederhana dan mengurus kalian semua." Bentak Amora
"Aku sudah muak dengan hal ini, jika dahulu aku tak mengandung anak sialan itu. Mungkin aku sudah bisa hidup mewah bersama Mas Bram. Tetapi karena kau, emas Bram menikah dengan wanita lain!" Ucap Amora emosi sambil berjalan mendekati Reza.
Asha yang melihat bahwa ibunya akan mencekik adiknya pun bergegas menarik ibunya lalu menamparnya.
"Sudah cukup atas perbuatanmu selama ini. Tidak lagi dengan menyakiti adik adikku. Kau akan sangat menyesal di kemudian hari karena telah melakukannya. Kembali lah ke jalan yang benar Bu. Kembali lah bersama kami, keluargamu." Ucap Asha sambil menangis.
"Maafin teteh Sar, teteh udah kasar sama kamu. Teteh tidak pantes menjadi seorang kakak. Teteh salah Sar." Ucap Asha menyesal. Sara pun hanya menggelengkan kepalanya.
Tak Berapa lama Amora pun kembali lengkap dengan koper dan tas-tas nya. Asha dan adik-adiknya yang melihat hal itu pun hanya diam tanpa berkomentar, hanya menetap Amora dengan tatapan datar.
"Aku akan meninggalkan kalian semua serta ayah kalian yang sudah miskin itu. Kau akan merasakan bagaimana susahnya hidup tanpaku. Dan aku, aku akan hidup mewah bersama Mas Bram. Dan jangan sampai kalian datang ke rumahku kelak untuk meminta sumbangan." Ucap Amora kepada semua anaknya.
"Kau bilang sumbangan? Sumbangan apa yang kau maksud? Apakah uang? Maaf, kami tidak butuh uang darimu selagi ayah kami masih kuat bekerja. Dan untukmu jangan datang ke rumah lagi hanya karena kau menyesal." Ucap Asha tegas kepada Amora.
Amora pun berjalan menuju pintu utama dengan menyeret kopernya. Asha pun mengajak semua adiknya duduk kursi ruang makan, karena ruang tamu sudah banjir oleh air penyadaran Amora.
Namun entah mengapa bukannya mengikuti kakak kakaknya, Reza malah mengikuti ibunya menuju pintu rumah. Reza mendengar percakapan antara Ibunya dan seseorang.
Dan Reza terkejut karena yang diajak ngomong oleh ibunya adalah ayahnya sendiri. Reza pun bingung pasalnya sang ayah belum mengabarkan bahwa dia akan pulang malam ini.
Reza pikir bahwa Ayahnya masih memiliki pekerjaan di perusahaan, tetapi sekarang dia telah sampai rumah.
"Udah ya Mas Malik, aku dah capek dengan segala kesederhanaan kita selama ini. Aku mau kita cerai Mas. Suratnya akan aku kirim besok. Dan untuk anak-anak, kamu aja yang urus. Aku tidak mau terbebani sama mereka." Ucap Amora dan melenggang pergi.
Tak lama setelah itu, Malik merasakan nyeri pada dada bagian kirinya. Malik pun jatuh telentang tak sadarkan diri. Reza yang melihat itu pun berteriak memanggil ayahnya.
"Ayah!" Ucap Reza keras sehingga memberhentikan Amora. Amora yang melihat hal itu pun berinisiatif untuk kembali dan menolong suaminya. Namun datang sebuah mobil dengan merek BMW di depan pagar rumahnya.
__ADS_1
Reza yang melihat Amora berhenti pun memanggilnya agar membantu sang ayah. Namun, Amora malah masuk ke dalam mobil tersebut dan meninggalkan rumah.
Asha dan ketiga adiknya yang mendengar teriakan Reza pun berlari menuju teras, karena mendengar Reza memanggil ayahnya.
Asha yang melihat ayahnya sudah tergeletak pun berlari menuju ayahnya dan memangku kepala ayahnya. Tak lupa dia juga menyuruh Sara untuk menghubungi ambulans agar datang ke rumahnya.
Sementara menunggu ambulans yang belum datang, Asha mencoba menepuk pipi dari ayahnya. Berharap agar Ayahnya bisa sadar.
Asha dan yang lainnya pun menangis karena khawatir akan keadaan ayah mereka. Tak lama setelah itu, datanglah sebuah ambulans ke rumah mereka.
Para petugas pun mengeluarkan tandu dan mengangkat Pak Malik. Sara meminta agar Asha, Aurora, dan Khansa ke rumah sakit terlebih dahulu. Sementara Sara akan mengunci pintu rumah dan mengendarai sepeda motor bersama Reza.
Setelah membersihkan ruang tamu dan mengunci pintu, Sara pun bergegas menuju Rumah Sakit Bersama Reza.
Dalam hati Sara terus berdoa dan berdzikir kepada Allah agar ayahnya baik-baik saja. Akhirnya setelah perjalanan yang terasa sangat lama bagi Sara, tibalah mereka di rumah sakit.
Sara berlari menuju resepsionis dan menanyakan ruangan ayahnya. Sang resepsionis pun mengatakan bahwa ayahnya sedang berada di UGD. Sara pun berlari sambil menggandeng Reza.
Diujung koridor pun sudah ada Asha yang sedang menangis sambil menutup mukanya dengan telapak tangannya. Sara berjalan mendekati kedua adiknya dan memeluk mereka erat, sedangkan Reza dia memeluk Asha.
Sekitar 15 menit berlalu, sang dokter pun keluar dengan wajah sedih.
"Detak jantung pasien melemah, dan untuk adik yang bernama Asha dipanggil ke dalam oleh sang ayah." Ucap sang dokter lalu kembali masuk.
Sara pun menatap kakaknya dan mengangguk meyakinkan Asha. Asha pun berdiri dari duduknya dan menghapus air matanya.
Asha memasuki ruangan dengan sinar lampu yang temaram dengan badan yang bergetar. Pasalnya dia melihat badan sang ayah banyak terpasang selang. Asha mendekati sang ayah dan menyentuh tangan kanannya.
"Ayah." Panggil Asha lirih sambil meneteskan air matanya. Sang ayah yang merasa ada orang disampingnya pun membuka matanya.
"Asha, anak ayah yang paling kuat. Ayah yakin Asha bisa melewati semua ini. Jaga adik-adik kamu baik-baik ya. Jangan pernah lupakan mereka satu detik pun. Ayah sayang kalian semua. Kalian adalah cinta pertama ayah setelah nenek kalian. Ayah titip adik-adik sama kamu ya, Sha." Ucap sang ayah lirih.
Asha hanya bisa mengangguk sambil mencium tangan ayahnya.
"Ayah punya satu pesan dan permintaan terakhir buat Asha. Jika Asha butuh sesuatu atau uang, kamu cari kertas yang ada di tas kerja ayah. Di sana kamu bisa mendapat bantuan. Dan permintaan terakhir ayah, Jika nanti ayah meninggal tolong jangan biarkan adik adikmu menangisi jenazah ayah. Asha mau kan peluk ayah?" Ucap Malik dengan terbata.
Asha pun mengangguk dan memeluk ayahnya erat. Asha tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun di hadapan ayahnya. Dia hanya bisa menangis tanpa suara. Asha mendengar samar-samar suara ayahnya yang berada di telinga sebelah kirinya.
"Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Allahu Akbar." Ucap sang ayah dibarengi dengan pelukannya yang mulai mengendur. Dan disaat yang bersamaan alat pendeteksi jantung pun menunjukkan garis lurus.
"Pasien atas nama Malik Arrasello meninggal pukul 22.10 WIB." Ucap sang dokter yang membuat Asha melepaskan pelukannya.
Asha pun menangis sejadi jadinya di sana. Para suster pun mengangkat Asha agar mereka bisa lebih cepat mengurus jenazah Malik.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.
__ADS_1