SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 94


__ADS_3

Malam harinya, setelah melaksanakan sholat isya' Sara berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya. Entahlah, dia baru tahu bahwa dia tak membawa piyama tidur. Untung saja dia membawa salah satu daster ternyamannya.


Sementara Akasa, dia masih diam tak berkutik dari laptopnya. Entahlah apa yang sedang dia kerjakan, sampai dirinya tak sadar bahwa Sara telah berdiri disebelahnya dengan penampilan yang berbeda.


"Mas mau kopi atau teh? Sara buatin ya?" Ucap Sara lembut sambil menyentuh pundak Akasa. Akasa tak menyahuti perkataan Sara, dia hanya menganggukkan kepalanya. Sara mengelus kepala sang suami perlahan yang membuat Akasa menyenderkan kepalanya ke perut Sara.


Dia menenggelamkan kepalanya diperut Sara dan membawa kedua lengan kekarnya untuk memeluk pinggang Sara. Sara hanya tersenyum melihat tingkah sang suami. Tangannya terangkat untuk menyugar rambut cokelat kehitaman milik Akasa.


Dapat Sara rasakan bahwa sang suami menghirup nafasnya dalam-dalam.


"Kenapa, Mas? Capek banget ya?" Ucarnya sambil memijat bahu milik Akasa perlahan. Akasa hanya menganggukkan kepalanya dan mendongak menatap sang istri. Dan benar saja, Akasa terkejut melihat wajah cantik milik istrinya tersebut.


"Ternyata kamu gini toh, kalau pakai pakaian yang sedikit terbuka. Beda banget loh." Ucap Akasa sambil membawa Sara untuk duduk dipangkuannya setelah meminggirkan laptopnya. Sara hanya terkekeh kecil sambil membawa tangannya menuju pelipis sang suami.


"Sara pijitin ya? Mau badannya sekalian nggak? Kalau iya, berbaring aja di kasur." Ucap Sara sambil memberi pijatan kecil di kepala sang suami. Tanpa aba-aba, Akasa mencium pipi kiri milik Sara.


Sara hanya tersenyum perlahan sambil terus memijat kepala sang suami.


"Ra," Panggil Akasa dengan nada manjanya sambil menyenderkan kepalanya di kepala Sara. Karena kesusahan, akhirnya Sara melepaskan pijitannya dan mengelus punggung suaminya perlahan.


"Hmm..." Jawab Sara dengan dehemannya. Dengan perlahan Akasa pun meletakkan dagunya di bahu milik Sara.


"Emm, kalau aku minta hak aku sekarang boleh nggak?" Ucapnya lirih sambil menjatuhkan kepalanya agar menempel dengan leher Sara. Sara terkekeh geli didalam hatinya.


"Kalau Sara nggak ngebolehin gimana?" Tanya Sara sambil mengelus punggung kekar sang suami. Sara tertawa tanpa suara ketika mendengar helaan nafas berat dari suaminya.


"Yaudah nggak papa. Aku nunggu kamu bolehin aja." Ucap Akasa lesu sambil memeluk tubuh mungil Sara. Bibir Sara terangkat sedikit mendengar jawaban suaminya.


"Terus, kalau Sara bolehin gimana?" Tanya Sara sekali lagi yang membuat Akasa menolehkan kepalanya sehingga hidung mancungnya menyentuh leher putih milik Sara.


"Kan kamu bilang belum boleh, tadi. Yaudah lah, jangan bahas ini lagi." Ucap Akasa sedikit merajuk seperti anak kecil.

__ADS_1


"Ih kok ngambek gitu suami aku. Kamu udah 32 tahun loh Mas. Pasti kamu udah pernah ngelakuin seperti layaknya laki-laki lain kan? Meskipun aku nggak percaya seratus persen." Ucapan Sara baru saja ini membuat Akasa menarik kepalanya dari bahu Sara.


"Kata siapa? Orang aku aja nggak pernah punya pacar. Jangan negatif thingking sama suami sendiri ih, nggak baik." Tungkas Akasa yang membuat Sara terbelalak.


"Eh yang bener? Orang suamiku ganteng gini, masa nggak punya pacar? Berarti nggak pernah pegangan tangan atau ciuman gitu?" Tanya Sara lagi yang membuat Akasa tersenyum. Akasa memajukan kepalanya dan...


Cupp...


Akasa mencium singkat bibir ranum milik Sara. Sontak Sara pun membelalakkan matanya tak percaya dengan perbuatan sang suami.


"First kiss for me. And second kiss for you. Right?" Bisiknya ditelinga Sara yang membuat nafas Sara tercekat. Akasa yang tahu reaksi terkejut dari istrinya pun tersenyum tipis.


"Awalnya aku kecewa sama kamu." Ucap Akasa lirih yang membuat Sara mengalihkan pandangannya menuju sang suami. Seketika dada Sara bergemuruh hebat dan lolos lah cairan bening dari pelupuk matanya.


"Kan Sara udah bilang. Kalau Mas Mahen terpaksa menikahi Sara atau kecewa karena hal ini, lakuin apa yang mau Mas lakuin. Sara nggak pernah minta Mas Mahen buat nikahin Sara, kan?" Lirih Sara sambil berusaha turun dari pangkuan Akasa.


Namun benar saja, Akasa semakin mengeratkan pelukannya kepada Sara. Sara pun menangis sesenggukan di dekapan Akasa.


"Sekarang tidur aja ya? Besok kita balik ke rumah kita." Ucap Akasa sambil menggendong Sara ala bridal style. Sara hanya menggelengkan kepalanya dengan menatap sang suami.


"Mau bergadang aja. Tadi ada yang bilang kalau minta sesuatu sama Sara. Kasian kalo nggak diturutin." Ujar Sara yang membuat Akasa mengernyit heran. Sara terkekeh geli melihat kepolosan suaminya.


"Tadi katanya mau minta hak Mas, sekarang," Ucap Sara pelan dengan rona pipi yang mulai menjalar di pipinya. Sara memberanikan diri mendongakkan kepala menatap mata sang suami.


"Kalaupun Mas minta malam ini, Insyaallah Sara si-siap Mas." Lanjut Sara dengan gugupnya. Dengan cepat, Akasa menatap sang istri yang berada di gendongannya.


"Beneran?" Tanya Akasa dengan mata yang berbinar. Sara hanya menganggukkan kepalanya sambil mengelus rahang tegas suaminya. Dengan segera, Akasa pun membawa istri kecilnya itu ke ranjang dan mematikan lampu utama di kamar tersebut.


Selanjutnya...


Tiiitttttt......... Sensor🙈

__ADS_1


Keesokan harinya, Akasa yang terbangun lebih awal dari Sara pun mencoba membangunkan istrinya itu dengan menepuk pipi Sara.


"Ra," Panggilnya dengan suara serak sambil mengelus rambut milik Sara. Sara masih belum bergeming. Dia mendekatkan badannya dan mencium singkat bibir Sara yang sedikit terbuka, hanya sedikit.


"Sayang. Bangun ya? Udah mau subuh ini." Ucapnya sambil mengelus pipi sang istri. Akasa yang telah memakai pakaiannya sejak semalam pun berjalan kesisi ranjang milik sang istri.


Dia menjongkokkan dirinya di sebelah sang istri dan mencium pipi sang istri.


"Sayangku, ayo bangun. Ini hampir subuh." Ucapnya sambil menciumi wajah milik Sara. Sara pun mengerjapkan matanya beberapa kali dan mulai menatap wajah tampan sang suami.


"Capek banget, ya? Maaf ya, Ra." Ucap Akasa yang membuat Sara tersenyum tipis.


"Jam berapa?" Ucap Sara serak bahkan hampir tak terdengar suaranya. Akasa pun menunjukkan jam diponselnya yang terpampang jelas foto pernikahan keduanya.


"Udah mau subuh. Kamu nggak papa keramas jam segini?" Ucap Akasa smabil meletakkan ponselnya diatas nakas lalu mulai menutup tubuh polos milik Sara.


"Nggak papa. Bantuin bangun ya, Mas. Sara mau mandi." Bisik Sara yang langsung diangguki oleh Akasa. Akasa yang hendak mengangkat tubuh polos dari Sara pun langsung dicegah olehnya.


"Jangan dibuka selimutnya. Bawa aja selimutnya sampai ke kamar mandi." Mohon Sara yang lagi-lagi hanya diangguki oleh Akasa.


"Nanti kalau udah selesai bilang aku ya? Maaf juga karena buat kamu jadi seperti ini." Ucap Akasa setelah berhasil mendudukkan Sara tepi bathtub. Sara hanya tersenyum dan mengangguk. Selesainya, Akasa pun segera keluar dari kamar mandi dan berjalan keluar kamar sambil membawa baju gantinya.


Hampir 45 menit Sara di kamar mandi. Akasa yang sudah panik pun segera membuka pintu kamar mandi dan terkejut karena Sara yang sedang berjalan perlahan sambil berpegangan pada dinding kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan, Sayang? Jangan berjalan terlebih dahulu. Aku tidak ingin kau bertambah sakit." Larang Akasa yang membuat Sara menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja Akasa menggendong tubuh Sara dan menyebabkan handuk yang melilit tubuhnya sedikit tersingkap.


"Sayang! Ah, bagaimana ini!" Teriak Akasa frustasi yang membuat Sara segera membenarkan handuknya. Setelahnya Sara pun memukul dada Akasa gemas.


"Sholat dulu! Jangan buat Sara dingin-dingin jam segini buat mandi sia-sia ya, Mas. Tahan dikit kenapa to? Nggak habis pikir, Sara. Masa kurang." Cicit Sara diakhir kalimatnya dengan suara tercekatnya.


"Ya kurang lah, Ra. Orang 32 tahun ngga-" Ucapan Akasa terpotong karena Sara membungkam mutut Akasa dengan tangan mungilnya.

__ADS_1


__ADS_2