SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 36


__ADS_3

BAB 36


Para teman-teman Revan pun berlalu untuk duduk. Asha menjauhkan sedikit tubuhnya dari Revan. Tak mengucapkan sepatah kata pun, Asha pergi meninggalkan Revan dan berjalan mendekati Aurora.


Tak lama kemudian, datang seorang ustadz yang memang tinggal satu kompleks dengan Asha. Ella memang sengaja mengundang ustadz tersebut untuk memimpin pengajian.


Ella meminta agar pengajian segera dimulai karena matahari sudah merangkak naik, meninggalkan fajar. Saat semua sudah siap memulai pengajian, Asha mengajak Aurora untuk duduk sedikit menjauh dari semua orang.


Saat semua orang sedang membaca Yasin, entah mengapa hati Asha terasa sangat tenang. Yang tadinya dia memikirkan tentang Revan dan perusahaan miliknya dan adik-adiknya, setelah mendengar orang-orang tersebut membaca Yasin membuat hatinya damai.


Asha masih menyimak apa yang dibaca oleh orang-orang tersebut hingga tak sadar bahwa sedari tadi ada seorang wanita yang menatapnya tak berkedip. Wanita itu pun berjalan mendekati Asha.


"Kok mboten ndherek liyane, Nduk?" Tanya sang nenek yang masih tetap terlihat muda diusianya yang sudah lebih dari setengah abad. Asha yang merasa ada orang yang mengajaknya berbicara, Asha pun menolehkan kepalanya menghadap ke wanita tersebut.


"Maaf Bu, Asha tidak bisa bahasa jawa." Ucap Asha sambil menatap lembut sang ibu. Sang ibu yang tahu tentang Asha barusan pun tertawa kecil.


"Owalah, maksud ibu. Kenapa kok nggak ikut yang lainnya membaca Yasin?" Tanya sang ibu sambil duduk didepan Asha. Asha yang baru tahu artinya pun tertawa.


"Oh itu Bu. Asha non muslim. Jadi bagaimana Asha akan membaca seperti mereka? Jika Asha saja tidak satu keyakinan dengan mereka." Ucap Asha lembut dengan disertai senyuman yang manis di bibir nya.


Wanita tersebut yang tahu bahwa Asha non muslim pun hanya menganggukan kepalanya dan kembali lagi ke tempat duduknya seperti di awal.


Selesai melaksanakan pengajian, semua orang pun pulang. Lalu Asha berjalan medekati Ella dan Rendi yang sedang bercengkrama. Revan, Alden, Khansa, Sara dan Aurora masih berada di depan untuk menyalami tamu-tamu mereka yang akan pulang.


"Paman, Bibi. Terima kasih ya atas acara ini. Apakah acara ini bisa membantu Ayah dan Reza berproses di sana?" ucap Salsha sambil bertanya kepada Ella dan Rendi.


"Iya, Sha. Karena di agama kami, mereka yang telah meninggal lebih baik jika kita bantu mereka dengan do'a. Yaitu dengan mengadakan pengajian atau mungkin mendo'akan setelah selesai sholat." Ucap Rendi menjawab pertanyaan dari Asha.

__ADS_1


"Lantas apa yang tadi Bibi, Paman, dan yang lainnya baca itu. Asha penasaran." ucapan Asha bertanya lagi kepada Ella dan Rendi. Ella dan Rendi yang di tanya seperti itupun hanya saling melempar pandangan dan tersenyum.


"Yang kami baca tadi adalah surat Yasin, Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Di dalam agama islam, surat-surat tersebut biasa dibacakan untuk orang-orang yang sudah meninggal. Seperti yang Asha ketahui tadi." Jelas Ella dengan hati-hati agar dia tak menyinggung perasaan Asha tentang agama yang dipeluk oleh nya.


"Jadi jika Asha ingin mengirim doa untuk Ayah dan Reza, Asha membaca surat tersebut? Apakah Asha boleh?" Tanya Asha lagi dengan begitu polosnya yang membuat Ella dan Rendi terkaget.


"Asha, agama Asha tidak mengajarkan tentang bacaan-bacaan tersebut. Bacaan tersebut hanya diajarkan di agama Paman dan Bibi saja. Asha dan Aurora memiliki cara tersendiri untuk mengirimkan do'a kepada Ayah dan Reza." Ucap Rendi dengan hati-hati karena ia benar-benar takut Asha memiliki pemikiran ya salah.


"Jadi, apakah Asha bisa masuk islam? Agar Asha bisa membaca bacaan-bacaan tersebut dan bisa mengirimkan do'a-do'a yang banyak untuk Ayah dan Reza." Ucap Asha lagi yang membuat Ella dan Rendi benar-benar terkejut. Badan mereka berdua menegang dan menatap satu sama lain.


"Asha, jangan mempermainkan agama hanya untuk masalah sepele. Karena agama itu adalah pegangan kita sampai kita meninggal. Ikuti apa kata hati Asha dan jangan terpengaruh dengan apapun yang membuat Asha goyanh akan agama Asha." Ucap Rendi bijak dengan menatap mata Asha.


"Asha tidak terpengaruh akan hal apapun Paman. Karena memang ketika tadi kalian semua membaca surat tersebut, Asha merasakan kedamaian dan ketentraman di hati Asha yang belum pernah Asha dapatkan." Ucap Asha meyakinkan kepada Rendi dan Ella.


Ella dan Rendi masih menahan agar Asha tidak berubah pikirannya. Sementara Asha, dia masih bertahan dengan apa yang dipikirkan. Bahwa dia mendapatkan ketenangan dengan bacaan-bacaan yang dibacakan oleh semua orang.


Setelah perdebatan yang panjang antara mereka. Rendi memutuskan agar Asha memikirkan lagi keputusannya secara matang selama satu malam. Mereka meminta Asha untuk meyakinkan hatinya.


Apakah dia akan memasuki Islam karena Lillahi Ta'ala atau tetap berada pada agamanya. Asha menyetujui nya dia berdo'a dalam hati agar di mendapatkan petunjuk untuk keesokan harinya.


Setelah menyetujui nya, Asha pun duduk dan berkumpul lagi bersama dengan adik adiknya di ruang televisi. Mereka semua bercanda dan tertawa bersama-sama. Revan yang melihat Asha sedang santai pun datang mendekatinya.


"Asha, Bang Revan mau ngo-" Ucapan Revan terpotong karena tiba-tiba Asha berdiri dari duduknya.


"Bentar ya, Teh Asha ada urusan sebentar sama Paman Rendi. Kalian lanjut aja, nanti Teh Asha gabung lagi." Ucap Asha sambil menatap semua orang kecuali Revan. Asha pun berjalan melewati Revan dengan menundukkan pandangannya.


Asha memang sengaja menghindari Revan, entah mengapa hatinya merasa sakit ketika ingatannya kembali ke kemarin malam. Revan yang sudah mengetahui bahwa Asha berbohong pun mengikutinya.

__ADS_1


Bukannya berjalan menuju ruang tamu, tempat dimana Rendi dan Ella berada. Asha malah menlangkahkan kakinya menuju taman belakang.


Asha pun berhenti tepat di samping pohon mangga yang belum berbuah. Asha yang sudah menahan tangisnya sedari tadi pun mulai mengeluarkan air matanya. Revan yang sedari tadi mengikuti Asha pun bingung karena mendengar suara tangisan.


Revan menyentuh pundak Asha dan memanggilnya.


"Asha..." Ucap Revan yang membuat Asha terkejut setengah mati. Asha pun membelalakkan matanya dan berbalik sebentar. Netra Asha yang menatap dalam mata Revan pun mengeluarkan air matanya lagi.


Sesegera mungkin Asha pergi dari tempat itu. Asha pun membalikkan badannya hendak pergi, baru beberapa langkah tiba-tiba Revan menarik tangannya dan...


Grepp...


Tubuh Asha berada dalam dekapan Revan. Asha sudah berusaha untuk memberontak, tapi apalah daya Asha yang merupakan perempuan lemah lembut sehingga tak sebanding dengan kekuatan Revan.


"Asha, dengerin Bang Revan dulu. Asha kemarin salah tangkap. Bang Revan ngga ada niatan untuk menyakiti hati Asha. Percaya sama Abang ya, Sha." Ucap Revan sambil berusaha menahan garakan Asha.


Sedangkan Asha, dia hanya menutup telinganya dengan kedua tangannya. Enggan mendengar sepatah kata pun dari Revan.


"Lepasin Asha." Ucap Asha setelah dia sedikit tenang dan menganggap ucapan Revan sebagai angin lalu.


"Lepasin Asha sekarang!" Ucap Asha dengan nada sang sedikit tinggi. Hingga akhirnya


"Bang Revan nggak denger Asha?! Kalau Asha bilang lepas, ya lepas!" Bentak Asha setelah berhasil keluar dari pelukan Revan.


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.

__ADS_1


__ADS_2