
Revan berjalan keluar dari rumah sakit sambil menggandeng tangan Asha. Mereka berdua berjalan menuju parkiran dan memasuki mobil milii Revan. Revan melajukan mobilnya ke kantor pilisi untuk mengantarkan suratnya.
Sesampainya mereka di kantor polisi, Revan berjalan menuju kantor miliknya sebelum ke kantor pimpinannya. Saat berjalan menuju kantornya, Revan bertemu dengan Zevan. Ya, polisi yang sempat tertarik dengan Asha.
"Mbak Asha, Pak Revan. Ada perlu apa kok ke kantor? Bukannya Pak Revan sedang tidak ada jadwal?" Tanyanya kepada Revan dan Asha yang hendak memutar knop pintu. Revan yang mendengar suara Zevan pun menghentikan kegiatannya dan menoleh kebelakang menatap bawahan sekaligus sahabatnya itu.
"Oh ini Van, kita mau nganterin surat persetujuan orang tua kita. Biar bisa cepet sidang kantornya." Ucap Revan sambil membawa Asha mendekat padanya. Zevan pun terkejut karena perkataan dari Revan benar adanya.
"Jadi beneran kalian mau nikah? Aku kira kalian hanya bercanda waktu itu." Ucap Zevan sambil menatap Aaha sendu, ya Revan mengerti arti dari tatapan tersebut. Mereka berdua pun pamit mengundurkan diri.
Asha dan Revan pun menyiapkan segela kebutuhannya serta beberapa dokumen yang akan mereka antarkan. Mereka berdua pun mengantarkan dokumen tersebut ke kantor atasan Revan.
Selesai mengantarnya, mereka berdua pun berencana untuk pulang. Saat ditengah perjalanan, Revan menghentikan mobilnya karena Hp nya berdering. Mata Revan berbinar kala melihat nama yang terpampang di layar Hp nya.
Asha yang melihat raut wajah Revan yang langsung berubah pun menyerit heran. Siapa yang meneleponnya? Mengapa raut wajahnya terlihat sangat berbeda. Pikir Asha.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh sayangku. Ada kabar apa?" Jawab Revan setelah mendengar ucapan salam dari seberang sana. Jantung Asha pun seketika berdetak dengan cepat ketika mendengar Revan memanggil sang penelepon dengan kata 'sayang'.
"Benarkah? Apakah Abang bisa langsung jemput kamu dibandara?" Tanya Revan lagi tanpa tahu bahwa Asha sedang melepas seat bealt nya dengan perlahan.
"Baiklah sayang, tunggu Abang dibandara ya. Mungkin 30 menit lagi, Abang sampai disana." Ucap Revan yang membuat mata Asha memanas. Dan benar, tak lama setelah itu air matanya benar-benar meleleh.
"Oke, tunggu bentar ya sayangnya Abang. Assalamu'alaikum." Ucap Revan mengakhiri panggilan tersebut. Asha pun mencoba membuka pintu mobil Revan dengan air mata yang tetap mengalir. Revan yang melihat Asha handak membuka pintu mobil yang memang sengaja dia kunci pun terkejut.
"Asha mau ngapain? Kenapa kok mau turun?" Ucap Revan bingung sambil mencoba membalikkan tubuh Asha. Revan terkejut karena Asha sudah menangis. Revan pun melepas seatbeltnya dan mencoba mendekati Asha. Revan memeluk Asha erat sambil mengelus rambut cokelat milik Asha.
"Asha kenapa? Bilang sama Abang. Kenapa Asha mau keluar, hmm?" Ucap Revan sambil menumpu dagunya di puncak kepala Asha. Asha hanya menggelengkan kepalanya didalam pelukan Revan. Revan yang belum mendapat jawaban dari Asha pun masih mencoba mencari tahu.
__ADS_1
"Asha, Abang tanya sekali lagi. Asha kenapa?" Tanya Revan sambil melepaskan pelukannya dan menatap Asha yang masih menunduk. Asha pun menghapus air matanya dan menjawab pertanyaan Revan dengan masih menunduk.
"Abang mau jemput pacar Abang kan? Yaudah sana. Asha mau pulang aja." Ucap Asha disertai tangisnya sambil membawa badannya memojok ke pintu mobil dan memeluk seatbelt.
Revan yang mendengar perkataan Asha pun kaget dan mencoba menahan tawanya.
"Mana ada? Orang Abang nggak punya pacar. Abang cuma punya calon bhayangkari yang cantik banget. Itu bukan pacar Abang, Sha." Ucap Revan sambil mencoba membalikkan tubuh Asha. Asha tetap kukuh dengan pendiriannya dan enggan menatap Revan.
"Orang tadi bilang sayang-sayangan juga. Yaudah sana kalau mau jemput sayangnya. Asha mau pulang aja." Jawabnya dengan sesenggukan dengan badannya yang masih mepet di pintu.
Revan yang sudah ingin tertawa pun melepaskan tawanya. Asha pun bingung mengapa Revan tertawa. Revan menjalankan mobilnya menuju bandara untuk menjemput seseorang yang tadi meneleponnya.
Dalam perjalanan menuju bandara pun Asha hanya menatap keluar melalui kaca mobil Revan. Revan masih geli dengan apa yang Asha pikirkan.
Setelah 30 menit perjalanan, tibalah mereka di Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Revan mengajak Asha untuk turun dan menjemput orang tersebut. Asha awalnya tak mau menerima ajakan dari Revan, tapi Revan langsung mengangkat tubuh mungil dari Asha.
Sesampainya mereka didepan orang tersebut, Revan menurunkan Asha tepat didepan seseorang itu. Asha menyerit bingung karena ternyata pacar Revan adalah seorang laki-laki.
"Loh kok laki-laki Bang? Bukannya cewek ya?" Tanya Asha sambil menatap orang tersebut dan calon suaminya.
"Nggak ada perempuan lain, Sha. Perempuan yang ada dihidup Abang itu cuma Mama, Asha, Sara, Khansa, dan Aurora. Nggak ada yang lain. Kenalin Sha, namanya Nathan. Dia adik paling bungsunya Abang." Jawab Revan sambil mengenalkan Asha kepada adiknya.
"Wah, Abang masih punya adik? Kok Asha belum pernah liat ya. Asha boleh peluk Nathan nya nggak?" Tanya Asha langsung sumringah, lupa akan tangisannya tadi.
"Boleh dong. Masa sama calon adik ipar sendiri nggak boleh. Nathan memang sekolah diluar negeri Sha." Jawab Revan menyetujui permintaan dari Asha untuk memeluk Nathan.
Dengan sekali langkah, Asha langsung memeluk anak yang tingginya hampir sama dengannya. Nathan yang dipeluk mendadak pun badannya menegang dan hanya bengong. Asha yang tahu kekagetan dari Nathan pun melepas pelukannya.
__ADS_1
Asha menatap Revan, memberi isyarat agar Revan mengenalkannya. Revan pun tersenyum dan berjalan mendekati orang-orang yang sangat dia sayangi.
"Nathan, kenalin ini namanya Teh Asha. Dia yang bakal jadi calon kakak ipar kamu. Gimana? Cantik kan?" Tanya Revan sambil mengacak rambut Asha. Mata Nathan seketika membesar dan langsung tersenyum lebar.
"Hah?! Ini yang namanya Teh Asha? Ya Allah cantik banget. Akhirnya Nathan bakal punya saudara perempuan. Aaaa...Nathan seneng banget Bang." Ucap Nathan yang lansung memeluk Asha. Asha pun tersenyum senang karena Nathan menerimanya.
Mereka pun kembali kerumah untuk memberi kejutan kepada keluarga mereka. Revan menggeleng pelan ketika mendengar celotehan Nathan dan Asha dibangku penumpang. Revan sangat tahu bagaimana inginnya Nathan memiliki saudara perempuan.
Ella memang menginginkan anak perempuan, tapi setiap melahirkan dia selelu mendapat anak laki-laki. Revan sangat senang karena Nathan sangat menerima Asha.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mobil milik Revan pun telah sampai di rumah. Nathan berjalan memasuki rumah dengan lengan yang masih menggandeng Asha.
Saat membuka pintu, betapa terkejutnya semua orang ketika melihat Nathan yang tiba-tiba sudah berada di Indonesia. Ella sampai menangis karena sangat merindukan anak bungsunya itu. Tak luput Alden pun juga merasa senang karena adiknya sudah bisa pulang ke Indonesia.
Nathan yang sudah mengetahui Sara dan Khansa pun bertambah senang karena memiliki teman perempuan yang akan menemaninya setiap hari. Nathan bingung karena sang Papa belum terlihat. Ella mengatakan bahwa sang Papa berada di taman belakang.
Nathan pun melangkahkan kakinya menuju taman belakang. Nathan melihat Papanya yang sedang duduk santai bersama seirang gadis kecil. Nathan yang gemas pun berjalan mendekati gadis tersebut dan langsung mencubit kedua pipi chubby milik Aurora.
Aurora pun terkaget karena melihat seseorang yang tak dikenal olehnya tiba-tiba mencubit pipinya.
Bwaa...ini visualnya si Nathan yaa. Maaf telat masukinnya🙏.
Visual Nathan (@william.franklyn.miller)⤵️
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
__ADS_1
Iyi Gecerler! all❤.