SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 69


__ADS_3

"Abang ih, jangan gitu. Banyak orang juga." Ucap Asha tanpa menggerakkan bibirnya karena malu. Semua orang yang berada di ruangan tersebut pun hanya senyum-senyum tak jelas.


"Ma, kita nanti dirumah aja ya." Ucap Rendi sambil memeluk erat pinggang milik Ella. Ella hanya meninju pelan tangan sang suami yang masih melingkar di pinggangnya.


"Sa, kamu nggak pingin kan? Gawat kalo Lo pingin. Gue nggak bisa nyiumnya. Besok aja kalo udah sah, ya?" Ucap Alden sambil menoleh ke sebelah kirinya, tempat Khansa berdiri. Khansa hanya memelototkan matanya dan menggelengkan kepalanya cepat atas perkataan dari Alden.


"Lo mau lagi, Ra? Sini kalo mau lagi! Gue penuhin tu muka Lo pake jigong Gue." Ucap Nathan sambil berjalan mendekati Aurora. Belum sampai dia ke Aurora, Aurora sudah menyiapkan kepalan tangannya seolah-olah memberi isyarat agar Nathan tak mendekat.


"Ayo maju selangkah lagi, Gue tonjok aset Lo!" Ucap Aurora garang sambil memelototkan matanya. Nathan yang mendengar perkataan dari Aurora pun sontak berhenti dan menutupi area sensitifnya.


"Kalo Lo mau sekarang, Gue jabanin Fik. Mau?" Ucap seseorang kepada Fika yang membuat semua orang menatap mereka berdua. Fika hanya mencubit perut dari tunangannya.


"Jangan macem-macem ya, Mas!" Ucap Fika kepada sang tunangan yang membuat Revan terkejut bukan main. Sontak Revan pun mengeratkan pelukannya kepada Asha dan menggelengkan kepalanya.


"Jangan deket-deket sama wanita jahat itu, sayang! Kamu jangan mau kalau dihasut sama dia. Dia bukan siapa-siapa aku lagi. Kamu percaya sama aku kan, Sha?" Tanya Revan dengan nada takutnya.


"Hei Pak, siapa yang kau sebut dengan wanita jahat itu? Apakah tunanganku? Mengapa kau begitu jahat padaku?" Ucap tunangan Fika yang membuat Revan tambah terkejut.


"Zevan? Apa yang baru saja kau katakan? Tunangan?" Tanya Revan antusias sambil menatap bawahan sekaligus temannya itu. Zevan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Bang. Fika itu tunangannya Kak Zevan. Kita dulu teman waktu kuliah. Malah bisa disebut dengan sahabat. Iya kan, Fik?" Ucap Asha sambil menolehkan kepalanya kepada Fika. Fika hanya tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jadi kita semua kemarin ngeprank Abang. Mulai dari Fika yang bisa masuk ke rumah, ngeblokir nomor Abang, habisin bahan bakar mobil kantor Abang, kempesin ban motor sama mobil Abang, sampai Asha pura-pura amnesia. Gimana Bang, mantep nggak akting kita semua?" Ucap Asha menjelaskan semuanya.


"Astagfirullah, ternyata semua ini prank? Pantes, Abang bingung kok bisa Fika masuk ke rumah. Terus Bahan bakar mobil kantor habis, sampai-sampai ban mobil sama motor rumah kempes. Apalagi sampai semua orang blok nomor Abang. Terus Sara juga bohongan, koma nya?" Tanya Revan sambil menatap Sara.


"Jika itu bisa dibuat prank, mungkin kita semua akan bahagia. Tapi kali ini Sara benar-benar koma. Abang tau? Ulang tahun Abang dan Sara bareng loh. Makanya Mama bawain dua kue. Yuk semua tiup lilin dulu." Ucap Ella sambil mengelus kepala Sara.


Semua orang pun berjalan mendekati ranjang Sara dan Asha mengambil alih kuenya dari tangan Ethan. Lalu dihadapkan nya ke sang suami dan Sara yang masih terbaring. Revan pun menengadahkan tangannya dan berdoa di dalam hatinya.


Setelah selesai memanjatkan doanya, Revan pun mematikan lilin tersebut dengan menggerakkan tangannya mengganti kipas. Bukan ditiup. Khansa pun mengangkat tangan Sara, berinisiatif mewakili Sara yang tak bisa memadamkan kipas.


Ella pun mengangkat tangannya, mewakili Sara untuk berdo'a.


"Ya Allah, berikanlah kesehatan kepada Sara. Segera bangunkan lah Sara dari koma nya. Ampunilah segala dosa-dosa yang dia lakukan sebelum ini. Segera angkatlah penyakitnya Ya Allah. Aamiin." Ucap Ella sambil mengaminkan apa yang dia do'a kan. Semua orang pun mengaminkan apa yang Ella katakan.


Revan membawa suapan pertamanya kepada Ella, namun Ella mencegahnya.


"Suapan pertama di ulang tahun Abang yang kali ini buat Asha aja. Dengan ini, Mama serahin semua yang dulu Mama selalu urus ke Abang kepada Asha. Ayo, suapin istrinya." Ucap Ella dengan tersenyum. Asha yang mendengar perkataan dari Ella pun tersenyum manis.


"Enggak, Ma. Mama yang lahirin pria terbaik ini ke dunia. Asha nggak mau menjadi yang pertama sebelum Mama. Mama juga Ibu Asha kan? Ayo Bang, suapi Mama." Ucap Asha sambil membawa tangan sang suami mendekat ke Ella.


Dengan penuh haru, Ella menerima suapan pertama dari sang anak dan mengelus pipi sang anak. Setelah itu, Revan menyuapkan roti kepada sang Papa, lalu kepada Asha. Revan juga meminta agar semua orang memotong kue nya sendiri.

__ADS_1


Setelah selesai saling menyuapkan roti, Semua orang pun duduk lesehan dibawah sambil berbincang santai.


"Jadi kalian berdua sudah bertunangan? Ah rasanya sangat tenang mendengar kabar tersebut. Jadi laki-laki yang akan dijodohkan oleh Ayahmu dulu?" Tanya Revan sambil menatap Zevan dan Fika bergantian.


"Bukan, orang yang Ayah jodohkan bukan Mas Zevan. Malah lebih parah lagi, aku dijodohkan dengan juragan tanah. Tapi Aku kabur dari rumah dan bertemu dengan polisi menyebalkan waktu itu. Dia membawaku kembali kerumah dan tak disangka-sangka. Tiba-tiba dia melamarku dihadapan Ayah dan Ibu. Awalnya aku marah, tapi lama-lama cinta." Cerita Fika dengan antusias sambil menggenggam tangan Zevan.


Semua orang pun masih menyimak dengan apa yang diceritakan oleh Fika.


"Kemarin, saat aku akan menjenguk Mas Zevan untuk pergi memilih undangan pun bingung karena Mas Zevan tak ada dirumah. Akhirnya aku bertanya kepada salah satu teman polisi Mas Zevan yang tinggal bersebelahan di kos. Polisi tersebut mengatakan bahwa Mas Zevan sedang ada kasus dan saat itu sedang berada di rumah sakit." Ucap Fika sambil menjeda ucapannya.


"Aku pun pergi ke rumah sakit buat cari Mas Zevan, takut terjadi apa-apa. Namun kita bertemu di lobby rumah sakit. Mas Zevan kalau dia baru saja menangani kasus tentang penculikan. Dan yang lebih bersyukur karena waktu itu aku tanya siapa korbannya. Aku yang tahu kalau korbannya Asha pun langsung berlari masuk. Tapi waktu itu kita lihat kalau Revan mau keluar, ya kan Mas?" Ucap Fika sambil menoleh ke Zevan. Zevan hanya menganggukkan kepalanyan


"Lalu kita masuk ke dalam ruang rawat Asha dan kita diajak buat bantuin rencana Asha buat kasih surprise ke Revan. Kata Asha dia dah bujuk dokter yang menanganinya buat bantuin prank ini. Awalnya nolak keras buat ngelakuin hal terabsurd kemarin malem. Tapi mau nggak mau, karena semua orang maksa buat bantuin. Sekali lagi maaf ya, Van. Itu benar-benar murni cuma prank. Nggak ada hubungannya sama kita dulu. Oke, Van?" Ucap Fika menjelaskan semuanya.


Akhirnya Revan yang mendengar penjelasan Fika pun tersenyum lega. Saat sedang asyik berbincang, tiba-tiba Ethan berdiri dari duduknya.


"Ma, Ethan pamit dulu ya? Ada urusan mendadak." Ucap Ethan sambil menghadap sang Mama.


"Yaudah, hati-hati dijalan. Jangan lupa pamit sama Sara ya? Kan kasian kalau nggak di pamitin. Dah sana." Ucap Ella sambil memakan kue yang diambilkan oleh Khansa.


Ethan pun mengangguk dan berjalan medekati Sara. Dirinya membungkukkan kepalanya dan mendekatkan mulutnya ke telinga Sara.

__ADS_1


"Cepet bangun ya, Sar. Maafin Gue atas kesalahan Gue dulu. Gue bener-bener nyesel atas kejadian itu. Gue pamit dulu ya, Sar? Assalamu'alaikum." Ucap Ethan lalu menegakkan kembali badannya.


__ADS_2