
"Maaf Pak, saya tidak mengetahui bahwa ada orang lain di ruangan ini. Saya sudah mengetuk beberapa kali namun tidak ada sahutan dari dalam, jadi saya membuka pintunya tanpa izin. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Asha sambil menundukkan pandangannya.
Sang polisi pun mengangguk tanda bahwa dia mengerti. Dia juga merasa bahwa mungkin tadi dia terlalu asyik memarahi kedua adiknya, sehingga tidak mendengar ketukan pintu.
"Tidak apa-apa nona, silakan Anda masuk. Dan untuk kalian berdua tetap berada di ruang ini sampai abang selesai urusannya." Ucap sang polisi tersebut kepada Asha dan juga kepada kedua adiknya yang tak lain itu adalah Alden dan kakaknya.
Asha pun mengangguk dan berjalan mendekati meja polisi tersebut. Sedangkan dua pria tadi duduk di sofa dekat dengan pintu masuk. Asha duduk di depan polisi tersebut dan polisi tadi bertanya kepadanya.
"Maaf ada yang bisa saya bantu? Dengan nona siapa dan mencari siapa?" Tanya sang polisi dengan name tag 'Revan PL'
"Perkenalkan, nama saya Asha. Asha Arraselli, di sini saya memenuhi panggilan dari kantor polisi untuk menjemput kedua adik saya. Yaitu Sara Arraselli dan Khansa Arraselli. Apakah benar mereka berada di sini?" Tanya Asha sopan.
Revan pun membuka daftar bukunya dan mencari nama yang disebutkan oleh Asha. Dia pun mengangguk ketika melihat nama Sara dan Khansa di buku tersebut.
Alden dan kakaknya yang berada di belakang pun kaget. Karena perempuan itu adalah kakak dari Sara dan Khansa. Pantas saja dari tadi mereka berpikir, sepertinya mereka pernah melihat wanita tersebut. Dan ternyata itu adalah kakak Sara, karena mukanya sangat mirip dengan Sara dan Khansa.
"Benar, adik Anda sudah menunggu Anda di ruang tunggu. Tetapi sebelumnya Bolehkah saya bertanya?" Tanya Revan kepada Asha. Asha pun mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Revan.
"Kami membawa serta Sara dan Khansa menuju kantor polisi karena tadi kita menemukan mereka di lingkungan balap liar. Apakah mereka berdua sering mengikuti balap liar?" Tanya Revan. Asha menggelengkan kepalanya tak percaya atas pernyataan dari Revan.
"Tidak Pak, itu tidak mungkin. Karena tadi dia meminta izin kepada saya, dia ada acara di sekolahnya dan dia harus pulang terlambat karena dia harus mampir ke supermarket untuk belanja kebutuhan dapur." Tutur Asha sambil merogoh tasnya untuk mencari handphone nya.
Asha membuka percakapan antara dirinya dengan Sara, yang Sara kirimkan saat dia berada di supermarket. Dalam pesan tersebut, Sara mengatakan bahwa dia akan pulang terlambat lagi karena dia mencari bahan masak. Yang akan digunakan untuk memasak masakan spesial untuk ayahnya.
Revan membaca percakapan tersebut dan benar, Revan tidak menemukan sedikit pun percakapan yang mencurigakan antara Asha dan Sara. Revan mengembalikan hp tersebut kepada Asha, dan mengajaknya menuju ruang tunggu kedua adiknya.
Asha berjalan di belakang Revan dan mulai keluar ruangan. Sesaat Asha tertegun karena melihat banyak sekali anak laki-laki yang ada di kantor polisi tersebut. Namun, bukannya berhenti Revan malah berjalan menuju ujung koridor yang Asha pikir terdapat sebuah ruangan di sana.
Dan benar saja, Asha terkejut karena melihat kedua adiknya di sana dengan dahi Sara yang sudah tertutup oleh kain kasa. Sontak Asha berjalan cepat menuju ke arah Sara dan meneliti badan Sara yang lainnya secara menyeluruh. Asha memutar dan membolak balikkan badan Sara.
"Ya Tuhan, mengapa dahimu terluka Sara? Apa yang terjadi?" Ucap Asha khawatir sambil menyentuh bagian yang tertutup oleh kain kasa. Sara pun sedikit meringis karena kakaknya menekan lukanya.
"Astagfirullah teh, jangan di tekan atuh. Itu kasihan Mbak Sara nya. Masa lagi sakit malah ditekan sama Teh Asha." Ucapkan Khansa khawatir karena kakaknya menekan luka dari Sara.
"Eh, Iya maaf Teteh lupa Sar." Ucap Asha kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Revan yang melihat hal itu pun menahan senyumnya karena melihat tingkah dari Asha.
"Ya udah sekarang kita pulang, karena waktu hampir malam. Pak Revan, kami pulang terlebih dahulu dan terima kasih karena telah menjaga adik saya. Kami pamit Pak, mari." Pamit Asha mewakili kedua adiknya. mereka bertiga pun keluar.
__ADS_1
Mereka pun melewati gerombolan para laki-laki dan Asha merasa sangat kagum dengan kedua adiknya yang berjalan di depannya.
Kedua adiknya melangkahkan kaki dengan menundukkan pandangannya serta berjalan dengan sangat cepat. Asha tahu bahwa itu adalah bentuk dari cara melindungi diri mereka.
Saat melewati ruangan dari Revan, mereka pun terhenti karena ucapan dari Revan.
"Ini kalian mau pulang naik apa? Kuncinya kan masih saya bawa, atau motornya mau ditinggal di kantor saja?" ucap Revan geli karena melihat mereka dengan pedenya keluar tanpa mengambil kunci motornya.
Sara pun berbalik dan menepuk jidatnya perlahan.
"Astagfirullah efek senang mau pulang ini." Ucap nya namun dia meringis kesakitan setelah menepuk jidatnya, dia juga lupa bahwa dia baru saja jatuh dan dahinya terantuk pinggiran selokan.
Asha dan Khansa yang melihat itu pun tertawa geli melihat tingkah laku Sara. Sara pun mengikuti Revan yang berjalan menuju ke ruangannya. Sara menunggu di ambang pintu karena dia melihat Alden dan juga kakaknya masih di sana.
Alden yang melihat Sara datang pun menoleh kearah Sara dan memasang muka menyebalkan. Sara yang melihat itu pun mempunyai ide bagus untuk membuat mood Alden tambah turun.
"Gue pulang duluan, pulang, pulang. Syukurin." ucap Sara tanpa suara hanya menggunakan gerak bibirnya saja. Alden yang melihat itu pun memelototkan matanya dan mengangkat kedua tangannya ke pinggangnya. Lalu dia berkata.
"Apa Lo? Beraninya di situ, masuk sini." Ucap Alden menggunakan suara sehingga Revan, sang kakak, Asha, dan Khansa pun menoleh ke arahnya. Mereka semua bingung karena Alden tiba-tiba berbicara.
"Enggak bang, itu si Sara ngejek. Pulang duluan aja bangga." Ucap Alden yang membuat Revan bingung. Mengapa mereka bisa kenal? pikir Revan
"Loh kok kalian sudah kenal? Apa kalian sudah kenalan tadi? Atau Kalian ada hubungan?" tanya Revan berhenti dari jalannya dan menggantungkan kunci motor Sara di jari telunjuknya.
"Enggak Pak, dih amit-amit jabang bayi Pak. Alden itu kayak 'rival' Sara kalau di sekolah. Dia tuh nakalnya nggak ketulungan Pak. Dia itu biasa banget ganggu anak-anak lain. Terus dia juga Playboy kelas kakap, dan mungkin kalau bapak tahu kisahnya dia sama Khansa. Mungkin Bapak nggak mau ngakuin dia sebagai adik lagi." Ucap Sara terlalu polos
"Wah Sar, jangan ngadi-ngadi Lo. Emang kayaknya Lo nggak bisa dibiarin. Mulut lo tuh harus dikasih filter dulu, biar kalau ngomong disaring dulu. Gue jitak juga Lo Sar." Ucap Alden berapi-api dan dia berdiri dari duduknya.
Sara yang melihat hal itu pun melotot lalu berlari kearah Asha dan berlindung di balik tubuh Asha.
"Teh bantuin Sara, Teh. Emang biasa tuh si Alden kayak gitu orangnya. Apa Lo? Kalau berani lawan teteh gue. Maju teh." ucap Sara sambil mendorong tubuh Asha ke depan. Asha pun kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Sara.
Revan yang melihat itu pun semakin geram dengan sifat kekanak-kanakan dari Sara dan Alden. Revan pun berjalan maju dan mendekati Alden, lalu dia menjewer telinga dari Alden.
"Nggak boleh berani sama perempuan. Siapa yang ngajarin coba? Nggak sopan Den." Ucap Revan menengahi perdebatan antara adiknya dan juga Sara.
Sara yang masih berlindung di balik tubuh Asha pun semakin menyembunyikan dirinya. Karena dari tadi kakak nomor dua dari Alden melihatnya dan meneliti penampilannya.
__ADS_1
Sara pun bergegas menyelesaikan masalah terakhirnya dan segera pergi dari kantor polisi tersebut. Karena Sara merasa tidak enak dengan pandangan dari kakak Alden. Setelah pamit dengan Revan mereka pun berjalan keluar kantor polisi. Sampai di parkiran, Sara pun berbalik menghadap kakaknya.
"Maaf ya teh tadi ngerepotin teteh. Terus Aurora sama Reza gimana Teh? Di rumah sendirian? Apa Ayah udah pulang?" tanya Sara kepada kakaknya. Asha pun tersenyum dan mengelus kepala adiknya.
"Iya tadi Aurora sama Reza teteh tinggal sebentar, karena kalian juga penting. Dan untuk ayah, ayah belum pulang. Mungkin karena masih ada urusan di perusahaan atau pesawatnya sedang delay. Kita tunggu aja di rumah." tutur Asha kepada kedua adiknya
Khansa yang tidak melihat kakaknya membawa kendaraan pribadi pun bertanya pada kakaknya.
"Terus Teteh pulangnya mau gimana? Mau pesen taksi atau mau dijemput sama Mbak Sara lagi?" tanya Khansa kepada kakaknya.
Asha pun mengatakan bahwa dia akan pulang menggunakan taksi online jadi kedua adiknya bisa pulang terlebih dahulu. Dan akhirnya Sara dan Khansa pun pulang terlebih dahulu.
Asha pun mengambil ponselnya dan memesan taksi online untuk menjemputnya di kantor polisi. Sementara dia menunggu, Asha berjalan menuju bangku yang berada di depan kantor polisi. Karena Asha pikir jika dia menunggu di sana maka dia akan aman.
Sementara Sara yang baru saja memarkirkan sepeda motornya di garasi pun berjalan menuju pintu utama. Dan betapa terkejutnya Sara ketika dia melihat seseorang yang mencekik leher Reza dengan tangan kirinya serta tangan kanannya yang baru saja menampar pipi Aurora.
Sara yang melihat hal itu pun mendadak langsung marah. Nafasnya yang sudah sangat memburu serta dadanya yang sudah naik turun karena menahan amarah pun bergegas masuk dengan berlari.
Sara membalikkan tubuh orang tersebut dan menampar pipi kiri dari orang tersebut dengan sangat keras. Sampai-sampai orang tersebut pun tubuhnya berputar 90 derajat dan terdengar suara tamparan yang menggema di ruang tamunya.
"Beraninya Anda menampar pipi Adik saya serta mencekik leher adik kesayangan saya?! Tidak kau tahu bahwa mereka sangat berharga bagiku? Jika kau berani menamparnya, berarti kau mencari masalah denganku." Ucap Sara berapi-api sambil mencekal lengan kiri dari orang tersebut.
Sara pun mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mendial nomor kakaknya. Meminta agar sang kakak segera pulang.
Asha yang sudah berada di dalam taksi pun menyerit heran ketika adiknya meneleponnya. Tidak biasanya Sara menelepon dirinya bahkan Sara pun tahu bahwa Asha akan segera sampai di rumah. Lalu mengapa dia meneleponnya?
Diangkatlah panggilan dari adiknya dan tak lama setelah itu terdengar suara Sara menyampaikan sesuatu. Asha yang mendengar hal itu pun menutup mulutnya tak percaya sambil menggelengkan kepala. Dia menangis tanpa Suara sambil memejamkan matanya.
Sang sopir pun kebingungan karena melihat Asha yang menangis ketika mengangkat telepon. Sang sopir pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Asha.
"Maaf Non, kenapa nangis? Ada masalah?" tanya sang sopir taksi tersebut sopan. Asha pun hanya menggelengkan kepala dan meminta agar sang sopir segera mengantarnya sampai rumah.
Sang sopir pun hanya menuruti perintah dari Asha dengan segera mengantarnya pulang
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.
__ADS_1