
Ella yang melihat raut wajah anaknya berubah pun bertanya padanya.
"Kenapa Bang?" Tanya Ella sambil berjalan mendekati anak sulungnya itu. Revan pun menatap sang Mama dan menunjukkan video penculikan Asha.
Dalam video tersebut, terlihat seseorang yang melempar kaca besar di kamar Revan dan Asha dengan sebuah batu. Diihatnya satu orang, yang begitu kaca tersebut pecah langsung berlari ke dalam. Dan satu lagi mengintai keadaan di luar.
Ella dapat mengetahui bahwa Asha berlari menuju kamarnya karena dia juga mendengar pecahan kaca tersebut. Asha yang baru saja membuka pintu kamarnya pun tiba-tiba pingsan karena seseorang memukul leher bagian belakang nya.
Setelah tahu bahwa Asha pingsan, orang yang tadi memukul Asha pun memanggil satu orang temannya yang di luar. Mereka bergabung mengangkat tubuh asing sedangkan menuju mobil dengan merek Outlander Sport berwarna merah itu.
Ella terkejut karena pelakunya memang Silla. Ella menanyakan apa langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Revan. Revan mengatakan bahwa dirinya akan melacak mobil dengan plat nomor tersebut serta nomor ponsel dari Silla atau anaknya.
Ada yang mengetahui rencana sang kakak pun membuka ponselnya dan minta nomor telepon Bella. Tak sampai 5 menit, teman Alden sudah mengirim nomor Bella untuknya. Alden pun kemudian memberikan nomor tersebut kepada sang kakak untuk dilacak keberadaannya.
"Bang, itu nomor anaknya Bu Silla. Abang lacak aja nomornya, karena baru-baru ini dia online." Ucap Alden yang membuat Revan menolehkan kepalanya dan mengangguk. Revan membuka ponselnya dan segera mengirimkan nomor dari anak Silla.
Revan mencari kontak dan menelepon bawahan nya yang masih berada di kantor. Dia meminta kepada teman nya untuk melacak nomor dari Bella dan segera mengirimkan nya kepada Revan.
__ADS_1
"Abang, Abang sebaiknya lapor ke kantor polisi aja. Kasus ini juga berbahaya loh, Bang. Kan kalau ada polisi yang ngurus jadi lebih aman." Ucap Ella sambil mengelus punggung milik anaknya. Revan yang mendengar perkataan dari sang Mama pun tersenyum.
"Revan kan juga polisi, Ma. Abang punya rencana sendiri buat nangkep Silla dan anaknya. Saat Abang dah tau lokasinya, Abang akan bawa tim Abang buat bantuin. Mama tenang aja, Asha pasti akan ketemu." Ucap Revan menenagkan sang Mama.
Revan masih sibuk dengan telepon genggam nya karena dia juga memantau pergerakan yang ada di kantor untuk pencarian Silla. Akhirnya Revan pun memutuskan agar pencarian Silla dijadikan menjadi satu dengan pencarian Asha.
Tak lama setelah itu, Revan mendapatkan kiriman lokasi dari bawahannya dan Revan langsung berdiri dari duduknya.
"Ma! Revan pamit pergi dulu ya. Revan akan bawa tim Abang ke lokasi yang dikirim oleh bawahan Abang. Mama tolong tunggu sebentar ya." Ucap Revan sambil berjalan mendekati sang Mama yang sedang duduk di brankar milik Sara.
Ella pun hanya mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk di salami oleh Revan. Tak lupa, Revan pun mencium dahi Mama nya. Setelah itu, Revan membalikkan badannya menuju pintu keluar. Namun suara dari Sara menghentikan langkahnya.
"Nggak bisa Sar, itu berbahaya. Kamu juga baru sembuh loh, kaki kamu juga belum kering luka jahitnya. Kamu tunggu di sini aja ya? Abang akan berusaha untuk membawa Teh Asha pulang dengan selamat." Ucap Revan sambil meyakinkan Sara. Namun Sara tetaplah Sara, yang tidak bisa dibantah dan selalu keras kepala.
"Nggak mau! Intinya kalau Sara bilang mau ikut, ya ikut. Sara nggak peduli sama kaki Sara. Sara khawatir sama Teh Asha. Bolehkan Bang?" Ucap Sara sambil menampilkan wajah memelasnya. Revan menatap sang Mama untuk membatu dirinya mencegah Sara ikut.
"Sara, kalau kamu ikut nanti Abang kerepotan. Yang harusnya Abang kejar Silla, malah harus jagain kamu. Kamu disini aja ya sama Mama. Ada Khansa, Aurora, Alden, dan Nathan juga. Kita do'a in biar Bang Revan yang cari Teh Asha ya?" Ucap Ella sambil mengelus puncak kepala milik Sara yang tertutup jilbab itu.
__ADS_1
"Mama, Sara dah bilang. Sara mau ikut Bang Revan dan Bang Revan harus kasih ijin buat Sara ikut. Sara nggak bakal nyusahin Abang kok, Sara bisa jalan sendiri." Jawab Sara masih kekeuh ingin ikut Revan pergi.
"Sara, kamu jangan keras kepala dong. Mama ngelarang kamu juga demi kesehatan kamu. Jangan ikut Abang ya nanti kaki kamu sak-" Ucapa Ella terhenti karena Sara sudah berdiri dari duduknya dan menapakkan kaki nya ke lantai.
"Sara bisa berdiri, dan Sara bisa jalan. Mama nggak perlu khawatir. Ayo Bang, kita berangkat sekarang." Ucap Sara sambil melangkahkan kakinya mendekati Revan. Sara dapat merasakan bahwa kaki sebelah kanannya meneteskan sesuatu yang Sara yakin, itu adalah darah.
Semua orang dibuat terkejut oleh kelakuan Sara. Ella bertambah kaget katika melihat lantai yang telah diinjak oleh Sara meninggalkan noda darah miliknya.
"Sara! Apa yang kamu lakukan, Nak?! Lihatlah lantai itu ternoda oleh darah mu!" Ucap Ella sambil berteriak dan berjalan mendekati Sara. Belum sempat Ella menyentuh badan Sara, Sara sudah memberikan isyarat kepada nya agar tak mendekat.
"Abang izinin Sara ikut, atau Sara pergi sendiri dan cari sendiri?" Tanya Sara sambil menatap Revan. Revan yang tak ingin Sara pergi sendiri pun terpaksa menyetujuinya. Revan mengambilkan kursi roda yang berada di dekat puntu masuk dan meminta agar Sara duduk di kursi roda tersebut.
Dengan terpaksa, Sara duduk di kursi roda tersebut dengan perban kaki yang telah di penuhi oleh darah nya. Ella meminta agar Revan menjaga Sara dengan hati-hati. Revan pun membawa Sara ke luar rumah sakit dan diikuti oleh semua keluarga nya.
"Mama ajak pulang semua adik-adik, dan Revan akan pergi bersama Sara. Jangan lupa minta Pak Jajang buat ngurusin rumah ya, Ma? Abang pamit dulu semuanya. Assalamu'alaikum." Ucap Revan sambil membalikkan tubuhnya dan mendorong kursi roda Sara ke mobil polisi yang sudah terparkir di depan lobby.
Zevan, teman satu tim dengan Revan pun membuka pintu belakang mobil tersebut untuk Sara. Dengan perlahan Sara mengangkat tubuhnya dan duduk ke kursi penumpang yang berada di belakang Revan dan Zevan. Revan meminta kepada semua tim nya untuk mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Tak lupa dirinya juga meminta kepada seluruh tim nya untuk mematikan sirine mibil tugas nya. Sara melepaskan sandal rumah sakit tersebut dan melihat bagaimana kondisi kaki nya saat ini.
Sara terkejut karena sandal tipis milik rumah sakit tersebut telah memiliki corak baru. Ada noda darah yang membuat motif di sandal berwarna putih tersebut. Revan pun mengarahkan Zevan yang sedang fokus menyetir sesuai dengan Maps.