SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 95


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sholat subuhnya berdua, Akasa pun mengangkat tubuh Sara lalu meletakkannya di bibir ranjang. Dia mulai membereskan sajadah dan perlengkapan sholat miliknya dan sang istri.


Hati Sara tersentuh karena tak segan-segan Akasa melepas mukenanya dan melipatnya dengan rapi.


"Udah Mas, nanti Sara aja yang beresin. Sekarang Mas istirahat aja ya? Atau Mas mau makan sesuatu? Biar Sara pesankan." Ujar Sara sambil memperingatkan Akasa agar duduk di sebelahnya.


"Kenapa kalau aku yang bersihin, hm? Nggak ada salahnya kan? Lagian istri kecilku ini sedang sakit." Goda Akasa sambil menoel dagu Sara.


"Apaan sih, Mas. Jangan gitu ih." Ucap Sara sambil merebahkan tubuhnya. Akasa pun ikut berbaring disebelah sang istri, lalu memiringkan badannya agar menatap sang istri.


"Mau lagi boleh?" Tanya Akasa yang langsung membuat Sara terkaget. Sara menggelengkan kepalanya bingung menatap sang suami.


"Astagfirullah Mas, masih bisa dihitung beberapa jam yang lalu loh. Emang nggak ada capek-capeknya Mas Mahen, nih." Ujar Sara sambil menghembuskan nafasnya lirih.


"Ya ya ya? Boleh ya? Boleh kan sayang? Cepet bilang boleh, gitu." Mohon Akasa sambil tersenyum penuh arti menatap Sara.


"Ya kalo suami udah minta plus maksa gitu, istrinya bisa apa?" Desis Sara pasrah karena tak ingin menolak suaminya. Bukan apa-apa kakak kakak semua, dosa.


"Ya cuma bisa nurutin lah." Imbuh Akasa yang langsung disusul dengan badan kekarnya yang menindih tubuh Sara. Dan ya, akhirnya seorang Mahen Akasa Idris melakukan hal yang sama seperti semalam.


************


Sementara Bella yang masih tertidur didekapan sang suami pun seketika terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia berjalan cepat menuju kamar mandi dan memuntahkan semua yang ada didalam perutnya, meskipun perutnya kosong tak terisi oleh apapun.


Ethan yang mendengar suara Bella pun segera beranjak dari atas kasur dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia mengurut tengkuk milik Bella sambil mengelus punggung istrinya itu.


"Ya Allah, kenapa lemes banget." Lirih Bella sambil mencengkeram pinggiran washtafel. Dengan segera Ethan pun menggendong tubuh ringkih milik Bella dan membawanya kembali ke ranjang.


"Kamu istirahat aja ya? Jangan banyak bergerak. Nanti, siang sedikit kita pergi ke rumah sakit buat periksa keadaan kamu." Usul Ethan sambil mengelus rambut Bella. Bella hanya menganggukkan kepalanya dengan kantung mata yang terlukis jelas dibawah matanya.


"Mau makan atau tidur lagi?" Tanya Ethan sambil menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Bella hanya meringkukkan badannya sambil menggeleng lemah. Bella menarik tubuhnya agar mendekat lepada Ethan dan kembali tertidur.

__ADS_1


"Mau tidur aja. Nggak selera makan." Ujarnya lirih sebelum benar-benar tertidur. Ethan hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk erat tubuh Bella.


**********


Sementara Khansa yang selesai mandi sebelum sholat subuh pun mengeryit heran saat melihat sang kakak belum keluar dari kamarnya. Khansa masih menatap pintu kamar Sara yang masih tertutup rapat. Padahal dia ingin bercerita tentang banyak hal kepada kakaknya yang hampir lima tahun menetap di kota pendidikan itu.


"Jangan ditungguin keluarnya, namanya juga pengantin baru." Ujar seseorang disebelahnya yang membuat Khansa menolehkan kepalanya.


"Kak Alden?" Cicit Khansa yang langsung membuat Alden mengembangkan senyumnya.


"Apa, Sayang?" Jawab Alden sambil sedikit menundukkan badannya agar wajah mereka berdua sejajar. Khansa yang terkejut pun membesarkan bola matanya sambil memundurkan kepalanya.


"Jangan gitu. Untung nggak kemajuan, kalo iya gimana?" Ujar Khansa sambil menyebikkan bibirnya kedepan yang membuat Alden gemas.


"Eh, cewek siapa ini? Kenapa cantik banget sih, Sa?" Ujar Alden gemas sambil mencium pipi Khansa. Khansa tak luluh dengan perlakuan Alden, dia bertambah mencak-mencak karena Alden menciumnya pipinya.


"Jangan dicium terus Khansanya! Jantung Khansa nggak aman! Gimana nanti kalo Khansa udah baper, terus di ghosting sama Kak Alden? Nggak bisa bayanginnya Khansa." Protes Khansa sambil mengeluarkan uneg-unegnya.


"Mau kemana Kak?" Tanya Khansa setelah berjalan menyamakan langkahnya seperti Alden. Alden hanya menengokkan kepalanya sambil sedikit menunduk untuk menatap wanita tercintanya.


"Kita jalan-jalan berdua. Kangen sama kamu, Sa. Kemarin mau pergi sama kamu, kamunya dimonopoli sama Mama. Ganggu aja itu si mak lampir tua." Ceplos Alden tiba-tiba yang membuat Khansa memukul bibir Alden perlahan.


"Jangan jelek-jelekin Mama aku!" Desis Khansa sambil menatap tajam Alden. Saat ingin kembali memarahi Alden, mereka berdua menoleh ke kamar Asha dan Revan yang terbuka.


Khansa terkejut melihat Kenzo yang keluar sendiri dengan wajah merahnya karena kesusahan menggapai knop pintu sambil menangis.


"Loh, Sayang. Kenapa nangis?" Ujar Khansa khawatir sambil berjalan cepat mendekati Kenzo. Kenzo yang mendengar suara Tantenya pun segera mendongak dan menangis kembali.


"Mama nggak mau antelin Abang, Te. Abang mau tidul sama Te Lola, tapi Mama bilang kalau Te Lola belum bangun. Abang mau Te Lola." Lirih Kenzo setelah berada di gendongan Khansa. Akhirnya tangis bocah laki-laki tersebut pecah di gendongan Khansa.


Khansa hanya mengelus punggung Kenzo yang bergetar karena menangis sambil menimang Kenzo.

__ADS_1


"Abang tau kalau Te Lola capek, tapi Abang ndak tau kenapa Abang mau bobo sama Te Lola. Mama sama Papa cuma bangun telus bilang bial Abang bobo lagi. Ya Abang pelgi aja, antelin yuk Te? Te Anca mah antelin Abang ndak?" Tanya Kenzo sesenggukkan sambil menangkup kedua pipi Khansa dengan tangan kecilnya.


"Oke. Yuk kita ke Te Lola! Te Lola udah nungguin Kenzo." Ujar Khansa sambil membawa Kenzo kembali ke kamarnya. Sementara Alden, dia terpesona dengan sikap keibuan dari Khansa.


Hampir 10 menit Alden masih membayangkan ketika Khansa menjadi istrinya, sampai tiba-tiba tangan mungil milik Khansa menepuk pundaknya.


"Hayo mikirin apa? Dah yuk, kita ke rooftop aja. Kata Nathan rooftop hotel ini bagus." Ujar Khansa sambil berjalan mendahului Alden menuju lift diujung koridor.


Dengan cepat alden berlari mendekati khansa dan mulai memasuki lift. Tak sampai 5 menit, akhirnya mereka berdua telah tiba dipuncak hotel ini. Dengan cepat Khansa berlari menuju besi pembatas rooftop tersebut.


Bukan karena kampungan atau sejenisnya, Khansa excited karena dapat melihat sunrise dari tempatnya. Alden tersenyum senang menatap Khansa yang kegirangan.


Tak henti-hentinya Khansa mengucap puji dan syukur karena dia dapat menyaksikan Kuasa Sang Ilahi dan masih diberi umur sampai detik ini. Senyumnya seketika hilang karena sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.


Dia tahu, tangan berotot tersebut milik Alden. Dia menolehkan kepalanya dan melihat wajah tampan Alden yang sedang terpejam. Alden menghirup aroma tubuh Khansa yang selama ini dia rindukan.


"Kamu kenapa?" Ucapan Khansa barusan membuat jantung Alden berdegup dengan kencang. Kamu? Ujar Alden dalam hati lalu membuka matanya dan menatap wajah Khansa dari samping.


"Aku suka sama sifat keibuan kamu. Ada kan perempuan yang ingin terlihat seperti keibuan, tapi nggak pantes? Tapi kamu beda, Sa. Suka bayangin kamu, kalau suatu saat nanti kamu gendong baby kita. Pasti lucu deh. Iya kan, Sa?" Ucap Alden sambil memiringkan kepalanya agar dapat menatap Khansa.


Khansa hanya tersenyum lalu mengelus punggung tangan milik Alden.


"InsyaAllah kalau jodoh. Jangan terlalu mikirin soal itu, nanti kalau nggak jodoh gimana?" Ucapan Khansa tersebut membuat Alden membelalakkan matanya.


"Kalaupun kita berdua nggak berjodoh, aku akan tetap memaksa supaya aku jadi jodoh kamu. Kamu mau kan jadi jodoh aku dan ibu dari anak-anakku?" Tanya Alden sambil mengurung badan Alden dengan dua lengannya.


"Hmm, Khansa mau." Ujar Khansa yang membuat Alden membalikkan badan mungil Khansa.


"Kalau gitu," Ucap Alden menggantung sambil menekuk satu lututnya dan mengeluarkan kotak cincin berwarna hitam, lalu dia membukanya.


"Will you be mine?"

__ADS_1


__ADS_2