SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 98


__ADS_3

Sejak kepergian Amora di lobby tadi, entah mengapa hati Sara terus gelisah. Dia selalu memikrkan bagaimana nasib Ibunya. Bukan apa-apa, wajah pucat dari Amora lah penyebab kegelisahannya.


Akasa yang melihat wajah gelisah dari sang istri pun mendekati nya. Dia memeluk tubuh sang istri yang sudah terbalut piyama tidur berwarna putih tersebut.


"Kamu kenapa, hmm? Dari tadi aku lihatin, kamu selalu saja menghela nafas? Kenapa? Coba cerita sama aku." Ucap Akasa lembut sambil mengelus surai Sara.


Sara hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap sang suami.


"Nggak ada apa-apa. Yaudah kita tidur aja, ya? Udah malem soalnya." Tutur Sara lembut untuk mengalihkan perhatian sang suami.


Dan ya, rencananya berhasil. Kini mereka berdua telah berpelukan hangat diatas ranjang. Namun lagi lagi dan lagi, wajah sayu sang Ibu membuat Sara mengatakan semuanya kepada sang suami.


"Mas, kalau Ibu pergi ninggalin aku gimana? Aku banyak salah sama, Ibu." Tutur Sara yang membuat Akasa mengernyit heran.


"Kamu ngomong apa, Ra? Jangan ngomong yang aneh-aneh. Berdo'a saja supaya Ibu panjang umur." Ucap Akasa mencoba menenangkan istrinya. Dia mengeratkan pelukannya kepada Sara.


"Tapi Sara takut." Cicit Sara sambil meneggelamkan kepalanya di rengkuhan hangat Akasa. Akasa pun ikut merasakan apa yang Sara rasakan. Dia menghujani puncak kepala Sara dengan kecupannya.


Baru saja Sara sedikit merasakan ketenangan, ponsel Sara pun berdering. Dengan tangannya, Akasa pun mengambil ponsel sang istri dan menjawab teleponnya.


"Selamat malam, dengan Nona Sara Arraselli?" Ujar seorang laki-laki diseberang sana yang membuat Akasa mengernyit heran. Dia menatap layar ponselnya dan bingung karena Sara tak menyimpan nomor tersebut.


"Iya benar, saya suaminya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Akasa tak suka. Bukan berniat untuk negatif thinking, tapi mana ada seorang laki-laki yang menelepon malam-malam tanpa urusan yang jelas.


"Kami dengan pihak rumah sakit, ingin memberi kabar kepada Anda bahwa sekarang Nyonya Amora sedang dalam masa sekarat. Bisakah kalian datang kemari? Karena sedari tadi dia hanya memanggil nama Sara." Ujar laki-laki diseberang sana yang ternyata seorang perawat laki-laki.


Sontak Akasa pun bangun dari tidurnya. Ya, mau tidak mau Sara pun bangun dari tidurnya dan langsung membuka matanya.


"Baiklah saya akan kesana, segera. Terimakasih atas infonya." Ucap Akasa mengakhiri panggilannya. Sara pun mengucek matanya beberapa kali sambil menatap wajah tampan sang suami.


"Kenapa, Mas? Itu yang telepon di Hp Sara siapa?" Tanya Sara sambil menutup mulutnya karena menguap. Dengan susah payah, Akasa menjelaskan kepada Sara tentang keadaan Amora.


"Ibu sedang dirumah sakit, Ra. Kata perawat yang jaga Ibu, Ibu panggil nama kamu. Mungkin ini waktunya Ibu untuk berpulang." Terang Akasa dengan suara yang mengecil diakhir kalimatnya.


Seketika badan Sara pun menegang mendengar kalimat terakhir yang suaminya katakan. Air mata Sara seketika menetes tanpa permintaannya. Dia masih mencerna apa yang dikatakan oleh sang suami. Setelah tersadar, Sara pun menangis tersedu-sedu.


"Sara mau Ibu! Bawa Sara ketemu Ibu, Mas!" Ucap Sara terbata-bata sambil berdiri dari duduknya. Akasa pun hanya menganggukkan kepalanya sambil mengambil jilbab milik Sara lalu memakaikannya.

__ADS_1


Mereka berdua pun berjalan keluar dari kamar mereka. Dengan segera Akasa pun memberi kabar pada semua orang tentang kabar tersebut.


Asha, Khansa, dan Aurora pun tak kalah terkejutnya. Mereka pergi menuju rumah sakit dengan tiga mobil. Tak lupa si kecil pun juga ikut bersama mereka semua.


Tak henti-hentinya Khansa memeluk erat sang kakak yang duduk disebelahnya. Khansa tahu betul bagaimana perasaan Sara.


Sesampainya mereka semua di rumah sakit, dengan cepat Sara pun berjalan menuju ruangan yang diarahkan oleh sang resepsionis. Tibalah dia didepan ruangan berkaca kecil yang memperlihatkan keadaan sang Ibu.


Dengan badan yang bergetar, Sara berjalan mendekati sang Ibu. Dipeluknya tubuh sang Ibu yang sudah menegang. Amora menitikkan air matanya tatkala Sara memeluknya.


"Maafin Sara, Bu. Sara punya banyak salah sama Ibu. Sara nggak layak untuk mendapat maaf dari Ibu. Perilaku Sara sudah sangat salah ke Ibu." Ujar Sara sesenggukan sambil meneggelamkan wajahnya di dada sang Ibu.


Hati Amora seakan tersayat mendengar permintaan maaf dari bibir mungil putrinya. Semua ini bukanlah salah Sara.


"Ibu sudah maafkan kamu, Nak. Kamu sama sekali tidak bersalah. Karena ini SEMUA, SALAH IBU. Maafkan kesalahan Ibu ya, Ra? Ibu sayang sama kalian semua. Setiap malam Ibu selalu sempatkan untuk merenungi semua kesalahan Ibu kepada kalian semua." Ucap Amora tanpa menggerakkan bibirnya.


"Setiap Ibu menyakiti kalian semua, rasa sakit ketika Ibu melahirkan kalian semua pasti akan langsung Ibu rasakan. Kau tahu rasanya bukan? Ketika Ibu melahirkan kalian, rasanya tulang rusuk Ibu dipatahkan secara bersamaan. Tapi setelah mendengar suara tangis kalian, Ibu juga akan menangis." Ujar Amora dengan tangisnya.


"Ibu tak pantas untuk mendapatkan maaf dari kalian smeua. Tapi yakinlah, bahwa Ibu sangat mencintai kalian. Tidak pernah ada rasa benci yang terlintas dibenak Ibu. Ikhlaskan kepergian Ibu ya, Nak?" Tutur Amora dengan suara yang sudah terbata-bata.


"Enggak, Bu. Ibu harus sembuh. Kenzo belum tahu siapa neneknya. Jangan biarin Kenzo nggak tahu siapa Nenek dan Kakeknya Bu. Ibu harus sembuh." Pinta Sara dengan nada seraknya.


"Bisa tuntun Ibu untuk baca Syahadat, Ra?" Lirih Amora yang membuat Sara mendongakkan kepalanya.


"Ibu mau mualaf? Ibu mau masuk islam?" Tanya Sara memastikan. Amora hanya menganggukkan kepalanya dengan pandangan yang mulai memburam.


"Setidaknya Ibu ingin menyaksikan dua pria yang sangat Ibu cintai di dunia ini bahagia disana. Ibu ingin sekali menemui Ayah dan Reza." Bisik Amora yang membuat Sara kembali menangis.


"Ibu pasti akan bertemu mereka. Sampaikan salam dari Sara untuk Ayah dan Reza ya, Bu. Sara rindu mereka. Sampaikan pada Reza, katakan padanya jika sekarang dia telah memiliki dua kakak ipar dan satu ponakan. Bilang juga kepada Ayah. Maafkan putrimu yang kurang ajar ini. Karena bukan dirinyalah yang menjabat tangan menantunya." Ucap Sara sambil sesenggukan.


Amora tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya.


Sara pun mulai mengelus surai sang Ibu lalu mulai membimbing untuk membaca syahadat.


Dan ya, benar saja. Setelah melantunkam dua malimat syahadat, Amora menghembuskan nafas terakirnya. Sara pun menjatuhkan badannya di lantai lalu menangis, tangisannya mengiringi kepergian Amora menuju keabadian.


"Nyonya Amora Arraselli meninggal pukul 23.00 dengan vonis penyakit HIV-AIDS." Ucap seorang dokter yang membuat Sara membelalakkan matanya.

__ADS_1


***************


Keesokan harinya setelah pemakaman Amora, semua orang kembali kerumah Ella dan Rendi. Semua orang telah duduk berjejer di depan Tv. Mereka masih memikirkan tentang Amora yang ternyata meninggal karena penyakit AIDS.


Kecuali Bella dan Ethan. Ethan memang beberapa kali repot mengurusi Bella yang sedang aktif-aktifnya untuk muntah.


Entahlah, Bella merasa bahwa dirinya sangat ingin memeluk Mama mertuanya. Setibanya mereka dipintu masuk, Bella hanya mendapatkan tatapan tajam dari semua orang.


Tak dapat mereka pungkiri, Bella juga merupakan salah satu penyebab semua ini terjadi.


"Ma, Bella mau minta peluk Mama boleh? Mungkin ini bawaan bayi Ethan." Ucap Ethan lirih sambil menatap sang Mama. Ella hanya tersenyum miring sambil menatap remeh kepada Bella.


"Aku saja tidak yakin, apakah itu cucuku atau bukan. Biarkan saja wanita jahat itu, tak perlu kau pusingkan. Paling itu hanya sebuah alibinya untyk menarik perhatian kita semua. Buat apa Mama repot-repot untuk memeluk wanita kotor seperti dia. Bayi yang berada di kandungannya bukanlah cucuku." Ucap Ella sinis yang membuat Ethan hendak memarahi sang Mama.


Jika saja Sara tak mengangkat tangannya, pasti saat ini Ethan sedang mengulagi perbuatannya seperti beberapa tahun silam.


Sara sedikit berdehem yang membuat semua orang menatapnya. Gadis yang duduk disebelah Akasa itu pun mulai berdiri dari duduknya. Dengan santainya dia berjalan mendekati Kezo yang sedang bermain dengan empengnya.


"Zo, ikut Te Ala yuk?" Ucap Sara setelah dia berjongkok didepan Kenzo. Bocah gempal itu pun hanya menganggukkan kepalanya menyerahkan tangan kirinya kepada Sara untuk digandeng.


"Kita mau kemana, Te?" Tanya Kenzo polos yang membuat Sara tersenyum manis.


"Kita akan pergi ke panti asuhan." Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Sara pun sontak membuat semua orang terkejut. Semua orang bertanya dengan nada terkejutnya kepada Sara.


"Mau kau apakan Kenzo, Sar? Dia masih memiliki keluarga." Ucap Ella yang khawatir bahwa apa yang Sara katakan adalah benar.


"Bukankah bayi yang dikandung Bella bukan cucu Mama? Berarti Kenzo pun bukan cucu Mama. Bukan begitu?" Ujar Sara dengan nada rendah yang membuat smeua orang terkejut.


"Jangan pernah bedakan cucu-cucu Mama. Karena apa? Karena dalam diri mereka mengalir darah anak kandung Mama. Entah dari mana mereka dikandung, tapi mereka adalah cucu Mama. Mama nggak berhak untuk membedakan mereka. Mama paham?" Jelas Sara yang membuat Ella menyadari kesalahannya.


Dan ya, semua itu tidaklah benar-benar akan terjadi. Sara hanya ingin menciptakan keluarga yabg harmonis.


Lihatlah, sekarang Bella benar-benar diterima dikeluarga ini. Terlihat dari semua orang yang mulai mengelus perut rata milik Bella.


Sara pun hanya tersenyum manis sambil berjalan kembali menuju sang suami. Akasa menyambut kedatangan sang istri dengan senyum yang merekah. Tak kalah senangnya, entahlah dirinya merasa sangat bangga karena memiliki istri sebaik dan sesempurna Sara.


"Kenapa kamu baik banget?" Tanya Akasa setelah Sara duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Karena kita tidak akan rugi jika melakukan kebaikan. Entahlah, kapan pastinya balasan itu akan datang ke kita. Tapi yakinlah suatu saat nanti kita akan tersenyum lalu mengucap. Oh ternyata ini hasil dari kebaikan kita dahulu?" Jawab Sara sambil tersenyum manis.


...TAMAT...


__ADS_2