
Sesampainya disekolah Sara, Revan serta Asha pun ikut turun dan menjelaskan tentang keadaan Sara. Para guru yang tahu kondisi dari Sara pun terkejut dan bingung, bagaimana cara Sara mengerjakan soal. Meskipun memakai komputer, tapi apakah Sara bisa? Pikir guru Sara.
Revan yang pernah memiliki teman ketika SMA, dan memiliki kasus yang sam dengan Sara pun berargumen.
"Jika dulu teman saya bisa mengerjakan karena ada salah satu guru dari luar sekolah yang menjadi asistennya. Maka tidak akan terjadi kecurangan atau apapun itu." Ucap Revan yang langsung disetujui oleh kepala sekolah di SMA Sara.
Setelah selesai mengurus tentang masalah Sara, Revan dan Asha pun bergegas pergi ke rumah sakit untuk menemui menemui Amora untuk meminta tanda tangan dan restu.
Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka pun berjalan ke ruang rawat milik Amora tempat terakhir kali mereka sebelum pulang. Setelah mengucapkan salam, Revan dan Asha pun memasuki ruangan tersebut dan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Amora dan Bram.
Revan dan Asha melihat Amora yang duduk berada di pangkuan Bram dengan membelakangi pintu masuk. Bagi Asha itu adalah posisi duduk yang sangat intim, dimana Amora yang duduk menghadap Bram dengan tangan yang dililitkan ke leher milik Bram. Serta tangan Bram yang yang sedang asyik bermain di dalam baju Amora bagian belakang.
Seketika mata Asha melotot ketika mendengar suara decapan dari orang yang bibirnya saling berpangutan. Revan yang melihat hal itu pun sontak menutup mata milik Asha.
Revan pun dan memeluknya. Revan menempatkan telinga kiri Asha di dadanya dan menutup telinga Asha yang lain dengan telapak tangannya yang satunya.
"Bisakah kalian hentikan kegiatan panas kalian itu? Apa kalian tidak bisa berpikir, bahwa kalian berada di tempat umum?" Dengan Revan yang tetap mendekap Asha.
Amora dan Bram pun terkejut setengah mati karena mendengar suara dari Revan. Sesegera mungkin Amora mencoba turun dari pangkuan Bram. Namun Bram mencengkeram kuat pinggul milik Amora. Amora pun hanya bisa pasrah dan mencoba membebarkan baju bagian depannya yang sudah terbuka kancingnya.
Amora pun bertanya mengapa mereka berdua bisa masuk ke ruangan tanpa permisi terlebih dahulu. Revan yang mendengar pertanyaan konyol dari Amora pun tertawa sinis.
"Kau bilang kami tak sopan? Kami sudah mengetuknya berulang kali dan mengucapkan salam, tapi karena kalian sedang pemanasan mungkin kalian tak mendengarnya." Jawab Revan santai sambil melepaskan pelukannya dari Asha.
__ADS_1
Asha bergidik ngeri ketika melihat posisi duduk Amora yang seperti anak koala. Kedua kakinya yang melingkar indah di pinggul Bram serta tangannya yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Tak ayal Bram pun juga melakukan hal yang sama, kakinya yang lurus kedepan serta tangan yang masih bermain-main didalam kaus Amora.
Tak ingin berlama-lama, Asha pun mengutarakan maksudnya ke rumah sakit. Amora yang mendengar pun tersenyum miris dan menatap Bram. Bram yang tahu maksud dari Amora pun menganggukkan kepalanya.
"Jika kau ingin menikahi Asha, aku memiliki satu syarat. Jika kau bisa memenuhinya, maka aku akan memberi tanda tanganku serta restu ku kepada kalian. Tak lupa aku juga akan datang bersama Mas Bram." Ucap Amora sambil memeluk Bram.
Revan pun menyerit heran setelah mendengar perkataan dari Amora. Revan hanya bertanya apakah itu syaratnya.
"Berikan aku uang 100 juta, itu sebagai mahar untuk kau menikahi Asha. Bagaimana? Apakah kau mampu?" Ucap Amora sambil menegakkan badannya. Asha pun terkejut dan langsung menatap Revan. Revan pun juga sedang menatapnya. Asha menggelengkan kepalanya.
"Abang kita bicara dulu diluar ya?" Ucap Asha berbisik kepada Revan. Revan pun menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari kamar rawat Amora.
"Abang nggak usah ya. 100 juta itu nggak sedikit Bang. Asha nggak mau nyusahin Abang. Kita batalin aja ya Bang?" Ucap Asha khawatir sambil menggiggit jari kukunya. Revan yang mendengar perkataan dari Asha pun menggelengkan kepalanya antusias sambil memeluk Asha.
Cupp
"Bagi Abang itu tidak seberapa, Sha. Abang tidak menganggap bahwa dengan uang 100 juta itu, berarti Asha milik Abang. Jika seperti itu mindset Asha, maka Asha menilai bahwa Abang membeli Asha. Abang akan kasih uangnya ke Ibu kamu." Ucap Revan sambil menatap dalam mata Asha.
"Jangan Bang, 100 juta itu bisa buat beli rumah atau beli keperluan lain setelah menikah. Atau kita mau patungan aja? Abang 50 juta, Asha 50 juta? Biar adil Bang." Ucap Asha sambil mendongak dan menatap Revan.
"Nggak, Sha. Rumah Abang udah ada uangnya. Kalau set dalamnya juga udah Abang pilih kemarin, mobil dan yang lain pun sudah. Abang masih punya sisa uang yang banyak. Kalau kita patungan, nanti Abang nggak ngerasa kalau Asha itu milik Abang. Abang mau dapetin Asha dengan jerih payah Abang sendiri." Ucap Revan sambil tersenyum lebar.
Asha yang mendengar ucapan so sweet dari Revan pun menggelitiki perut milik Revan. Revan yang merasa geli pun tertawa terbahak-bahak dengan tangan yang masih memeluk Asha. Kegiatan Asha terhenti karena Revan lebih memajukkan posisi badan mereka. Revan tersenyum bahagia kala menatap wajah Asha.
__ADS_1
"So sweet nya...Bang Revannya Asha ini." Ucap Asha sambil menjijitkan kakinya. Hingga akhirnya...
Cupp
Asha mencium dagu bagian bawah milik Revan lalu setelah itu, diikuti dengan cengiran manisnya. Revan yang baru pertama kali dicium oleh Asha pun terkejut dan langsung menundukkan pandangannya.
"Eh, ini gadisku udah berani cium-cium ya. Maunya sih jangan dicium didagu. Maunya disini." Ucap Revan sambil menunjuk bibirnya. Asha yang mendengar jawaban dari Revan pun menonjok perut calon suaminya itu.
"Dasar polisi mesum!" Ucap Asha sambil berjalan masuk ke ruang rawat milik ibunya, meninggalkan Revan yang sedang menahan tawanya. Lalu Revan pun berjalan masuk mengikuti Asha sambil mengambil Hp nay yang berada di saku celana jeans nya.
"Bisa kau tuliskan nomor rekeningmu?" Ucap Revan sambil menyodorkan Hp nya ke arah Amora. Amora pun seketika terkejut akan tindakan Revan. Ku kira dia akan meminta keringanan atau malah membatalkan pernikahannya. Tapi ternyata tidak. Dia bukan laki-laki sembarangan. Batin Amora sambil mengulurkan tangannya untuk meraih Hp milik Revan.
Setelah selesai menuliskan nomor rekeningnya, Amira pun mengembalikkan Hp tersebut ke Revan. Segera Revan menekan nominal yang akan dia transfer ke Amora.
"Sudah terkirim. Sejumlah Rp.100.000.000 kepada Amora Arraselli dari Revan Putra Laran." Ucap Revan tegas sambil memperlihatkan struk transfer online nya. Amora yang melihatnya pun menganga dan dengan susah payah menelan salivanya.
"Segera tanda tangani ini, lalu kami akan segera pergi. Kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian." Ucap Revan sambil mengulurkan sebuah map yang berisi tentang surat persetujuan orang tua. Dengan gemetaran Amora mulai mwmbubuhkan tanda tangannya dan menyerahkan kembali map tersebut kepada Revan.
Selesainya, Revan menggendeng tangan milik Asha lembut dan membawanya keluar dari ruang rawat milik Amora.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.
__ADS_1