
Sara menampar pipi dari Pak Bram. Dada nya sudah naik turun karena menahan amarahnya ketika Bram menyebut ayahnya sebagai bajinga*.
"Beraninya kau menyebut Ayahku sebagai bajinga* hah?! Apa kau dan kekasihmu itu sama-sama tak memiliki kaca? Jangan sebut orang lain dengan seenak jidatmu tanpa berkaca pada diri sendiri. Apakah kau mau jika kau dipanggil bajinga*? Aish, kau lupa lagi Sara...dia memang bajinga* Sar!" Ucap Sara dengan tegasnya.
Bram yang marah dengan perkataan Sara pun mengangkat tangannya dan hendak menampar Sara. Namun belum sempat menampar Sara, Sara sudah berkata.
"Mengapa? Apakah kau merasa tersinggung hah?! Dan apakah kau juga ingin menamparku? Tampar saja aku! Karena hanya lelaki pengecut yang akan menampar wanita. Kau dan kekasihmu itu sama saja, sama-sama suka melakukan kekerasan!" Ucap Sara dengan mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Bram.
"Memang benar bukan? Bahwa kau adalah seorang bajinga*? Karena kau mengambil seorang wanita dari keluarganya dan dari anaknya. Apakah kau tak bisa berpikir? Bahwa seorang istri itu dibutuhkan oleh suaminya, dan seorang ibu itu dibutuhkan oleh anaknya?" Ucap Sara dengan penegasan disetiap katanya.
"Tapi sudahlah, biarkan saja. Bukankah seorang bajinga* memang lebih cocok dengan seorang jalan*! Bukan begitu Nyonya Amora?!" Ucap Sara akhirnya sambil menatap sang ibu yang masih menangis palsu.
"Kekasihku bukanlah seorang jalan*, tapi dia adalah seorang wanita yang sempurna. Aku bersyukur karena telah membawanya keluar dari keluarga miskin itu! Aku tak tega melihatnya hidup kesusahan dan terus dijadikan sebagai budak!" Ucap Bram dengan PD nya tanpa tahu fakta yang sebenarnya.
"Kau bilang budak? Aku yakin pasti wanita gila itu yang mengatakan bahwa dia dijadikan budak di rumahnya! Bukan begitu? Tapi jika kau ingin tahu sebenarnya, dia tak sedikitpun menyentuh pekerjaan rumah semenjak Ayahku bangkrut dan kau harus tahu itu!" Jelas Sara memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama setelah itu, terdengar bel apartemen Amora berbunyi. Sara pun tinggal membalikkan badannya dan membuka pintunya. Sara menyerit heran ketika melihat seorang wanita berseragam dan membawa sebuah buket bunga dengan bunga mawar merah.
"Permisi, apakah benar ini ruangannya Nyonya Amora? Dengan alamat, Apartemen Zero nomor 101. Apakah benar Anda memesan bunga? Ucap wanita tersebut kepada Sara.
"Bener Mbak. Kasih saja bunga itu kepada wanita di depanmu, dan uangnya akan segera aku transfer. Jadi segera pergi dari Apartemen ini." Bukan Sara yang menjawab, melainkan Amora yang menjawabnya dengan bersembunyi di balik tubuh Bram.
__ADS_1
Dan benar saja, sang wanita berseragam itu memberikan buket bunga mawar merah tersebut kepada Sara. Dengan muka datarnya, Sara menerima buket itu. Lalu, tak berapa lama si wanita berseragam tersebut pergi meninggalkan apartemen Amora.
Setelah kepergian kurir paket tersebut, Amora pun keluar dari persembunyiannya.
"Terimalah bunga itu, Kau anggap saja sebagai ucapan suka cita dari kami berdua. Apakah perlu juga aku ambilkan bingkisan? Sebentar akan aku ambilkan didalam." Ucap Amora sambil berbalik badan menuju kedalam. Namun belum sampat Amora melangkah, Sara sudah berbicara.
"Terimakasih atas suka cita nya, Nyonya Amora dan Tuan Bram. Tapi untuk bunga ini, aku rasa aku tak terlalu membutuhkannya. Lebih baik bunga ini untuk mu saja! Lebih tepatnya untuk kalian berdua. Bunga ini pemberian dariku untuk awal mula kehancuran kalian berdua!" Ucap Sara sambil membanting buket bunganya dan menginjaknya.
Setelah itu, Sara pun keluar dari apartemen Amora. Dengan sakit hatinya, Sara mulai meninggalkan gedung apartemen tersebut. Sara mengambil ponselnya dan hendak memesan ojek online, tapi dia melihat pesan dari kakaknya.
Sara pun membuka pesan dari kakaknya. Asha mengatakan bahwa mereka semua sudah berada di TPU yang sama seperti TPU Ayahnya. Mereka semua menunggu kedatangan Sara untuk segera menutup liang lahat milik Reza.
Dan yang lebih terkejutnya lagi, ternyata pesan itu sudah masuk ke ponsel nya sejak 10 menit tadi. Sara yang panik pun segera berlari melewati jalan yang ramai akan kendaraan. Dia berjalan cepat dengan pinggiran trotoar sebagai pijakannya.
"Cepet naik!" Perintah Ethan kepada Sara. Namun bukannya naik, Sara malah diam saja tak bergerak.
"Kak Ethan ngapain sampai sini?" Tanya Sara dengan nada bingungnya.
"Udah, cepetan naik! Lo udah telat 10 menit kan buat ke pemakaman Reza? Semua orang dah nunggu Lo." Ucap Ethan dengan suara sedikit keras, karena suara kendaraan yang ramai.
Sara yang baru ingat pun, langsung menerima permintaan Ethan. Sara menaikkan gamisnya sampai sebatas lutut dan mencoba untuk naik. Namun Sara kesusahan karena tak ada tumpuan untuk tangan Sara. Ethan yang gemas dengan kebodohan Sara pun bersuara.
__ADS_1
"Siniin tas Lo! Gue pegang ujungnya, terus Lo pegang juga ujungnya buat Lo tarik." Ucap Ethan.
Sara pun melakukan hal yang dikatakan oleh Ethan. Dilepaskan olehnya tas selempangnya dan diberikan sebelah ujungnya kepada Ethan. Dan alhasil, Sara pun bisa duduk diatas motor Ethan. Dan kebetulan juga, Sara sefang memakai dalaman yang panjang. Jadi walaupun gamisnya naik sampai lutut, tapi kakinya tak terlihat.
"Lo pegangan jaket Gue ya. Gue lepas resletingnya, dan lo pegangan bagian bawah jaket Gue yang longgar sampai belakang." Ucap Ethan sambil membuka jaketnya. Sara pun hanya mengikuti perintah dari Ethan.
Setelah semua siap, Ethan pun melajukan motornya kearah TPU. Mata Sara melotot karena Ethan membawa motornya dengan kecepatan tinggi.
"Kak Ethan, bisa pelanin dikit nggak sih? Gimana nanti kalo kita malah nyusul Reza? Niatnya mau datang ke pemakaman Reza, malah jadi temennya Reza. Pelanin dikit napa!" Ucap Sara dengan suara nya yang keras karena suaranya ikut terbang dengan angin yang melewati mereka.
"Lo dodol atau gimana sih?! Kalo kita pelan, bisa-bisa sampai TPU udah bubar semua. Gue juga nggak mungkin kali bawa motornya sampai ngebahayain kita berdua." Timpal Ethan dengan suara yang sama kerasnya karena dia memakai masker.
Sara yang mnedengar jawaban Ethan pun hanya menggelengkan kepalanya. Dan ternyata benar, tiba-tiba Ethan mengerem motornya secara mendadak sehingga Sara memeluk tubuh Ethan. Seketika mata Sara pun melotot dan dengan segera, Sara memundurkan duduknya.
"Udah dibilangin kan, disuruh pelan juga. Terus kalo gini gimana ihhh, Kak Ethan mah." Ucap Sara dengan suara ingin menangisnya.
"Lo bisa lihat kan Sar? Orang tiba-tiba ganti jadi lampu merah juga. Lagipula pas Lo meluk Gue juga masih ada kain nya kan? Nggak skin to skin juga." Ucap Ethan dengan membenarkan maskernya.
Mereka berdua tidak sadar bahwa disebelah mereka ada seseorang yang menatap tajam kearah mereka. Sara yang sedang membenarkan posisi duduknya pun menoleh kearah orang tersebut dan Sara terkejut.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
__ADS_1
Iyi Gecerler! all❤.