
Revan masih berjalan kesana-kemari tak tenang. Revan mengambil ponselnya dan menghubungi Mama nya. Setelah panggilan tersambung, Revan terkejut karena yang mengangkatnya adalah sang Papa.
"Assalamu'alaikum Bang. Ada apa?" Ucap Rendi bertanya kepada sang anak. Ya memang Rendi sudah pulang ke rumah setelah tahu apa yang terjadi kepada anak-anak nya.
"Asha sudah ditemukan Pa, dan sekarang sedang berada di UGD. Bisakah Papa dan semuanya ke sini?" Ucap Revan yang membuat Rendi sedikit bahagia karena menantunya sudah ditemukan.
"Baiklah, sebentar lagi kami akan sampai. Sampai bertemu di rumah sakit, Bang." Ucap Rendi lalu mematikan penggilannya. Revan pun masih duduk di bangku depan UGD dengan perasaan yang cemas. Tak henti-hentinya dia berdo'a dalam hati agar istrinya tak mengalami hal apapun.
Tak lama setelah itu Revan mengernyit bingung ketika melihat Zevan berjalan di samping brankar yang didorong oleh para perawat. Revan pun berdiri dari duduknya dan kaget ketika melihat sang adik berbaring miring menatapnya.
Revan pun menghentikan laju brankar tersebut dan mendekati sang adik.
"Apa yang terjadi padamu, Sara? Bisa kau jelaskan, Zev?" Tanya Revan sambil menatap Sara dan Zevan. Zevan pun menganggukkan kepalanya. Revan kembali menatap para perawat serta Sara yang kesadarannya sudah menipis.
"Bawa dia dan rawat dengan baik. Berikan juga jahitan di telapak kakinya. Mengerti?" Tanya Revan pada salah satu perawat yang berada di sampingnya. Sang perawat pun menganggukkan kepalanya dan meneruskan untuk membawa Sara ke ruang UGD.
Revan pun membawa Zevan untuk duduk di bangku tadi. Akhirnya Zevan pun menceritakan semuanya kepada Revan. Di tengah-tengah ceritanya, keluarga Revan pun sudah berdatangan. Jadi mau tak mau, Zevan menceritakan ulang kejadian tadi dibantu oleh Revan.
"Jadi benar jika Silla sudah tiada?" Tanya Ella memastikan. Zevan hanya menganggukkan kepalanya namun dirinya juga mengatakan untuk menunggu laporan dari kantor pusat.
"Lalu bagaimana dengan Kak Bella? Apakah dia juga ditangkap?" Tanya Khansa menegluarkan uneg-uneg yang membuat nya khawatir sedari tadi.
"Dia juga ditangkap. Karena usianya mungkin sudah 17 tahun dan dia melakukan percobaan pembunuhan. Jadi mau tak mau dia juga harus dipenjara." Ucap Zevan menjelaskan kepada Khansa. Khansa yang mendengar perkataan dari Zevan pun berulang-ulang mengucapkan syukur di dalam hatinya.
"Apakah Nak Zevan terluka?" Tanya Ella yang sukses membuat Zevan mengingat lukanya.
"Eh ini tante, hanya luka sedikit di bagian perut." Ucap Zevan sambil tersenyum yang membuat Ella terkejut. Ella pun segera mengajak Zevan ke ruang pemeriksaan untuk mengobati lukanya.
__ADS_1
Setelah 30 menit berlalu, kedua dokter di ruangan yang bersampingan itu pun keluar. Sontak semua keluarga pun berdiri dari duduknya dan mendekati dokter tersebut.
Dokter yang keluar dari ruangan Asha mengatakan bahwa Asha sudah baik-baik saja. Beruntungnya karena Asha tidak menelan racun tersebut dan hanya menelannya sedikit. Semua keluarga yang mendengar hal tersebut pun mengucapkan syukur yang mendalam.
Sedangkan berbanding terbalik dengan Sara, dokter yang menangani Sara mengatakan bahwa Sara kekurangan darah. Sedangkan stok darah dengan golongan langka di rumah sakit itu telah habis, dan terakhir di pakai oleh Sara tadi pagi. Semua orang terkejut akan hal itu.
Khansa pun mencoba mendekati sang Mama dan mengatakan agar menghubungi Amora.
"Mama coba hubungi Ibu ya. Karena golongan darah mereka berdua sama. Bisa kan Ma? Ini demi keselamatan Mbak Sara." Ucap Khansa sambil berharap kepada sang Mama. Dengan terpaksa, Ella pun menghubungi Amora. Setelah panggilan terhubung, dengan tak sopannya Amora langsung marah-marah.
"Siapa ini?! Mengapa kau memggangguku?!" Ucap Amora dengan emosi. Ella pun mengatakan bahwa dirinya memiliki kepentinagn dengannya.
"Cepat katakan apa yang kau inginkan hah?!" Ujar Amora diseberang sana yang membuat Ella tersulut emosi.
"Mengapa nada bicaramu tidak sopan hah?! Jika bukan karena anakku yang sedang membutuhkan mu, maka aku tak sudi menghubungimu! Bisakah kau memberikan darahmu pada Sara? Dia membutuhkan banyak darah dengan golongan O rhesus negatif, dan itu cocok denganmu. Datanglah cepat ke rumah sakit kota!" Ucap Ella dengan nada yang sedikit sinis. Ella bertambah emosi ketika mendengar jawaban Amora.
"Ibu macam apa kau?! Anakmu sedang berjuang melawan kematian dan kau tak khawatir sedikitpun? Benar-benar wanita gila!" Ucap Ella yang langsung memutuskan panggilannya. Ella segera mengatakan kepada sang suami untuk mencarikan pendonor darah.
Dengan segera Rendi menghubungi asistennya dan meminta untuk mencarikan orang bergolongan darah O negatif. Setelah mendengar kesanggupan dari asistennya, Rendi pun mematikan teleponnya.
"Asisten ku akan kemari sekitar 15 menit lagi." Ucap Rendi kepada dokter yang menangani Sara. Sang dokter pun menganggukkan kepalanya dan masuk kembali ke dalam ruangan. Sementara itu, Asha dibawa keruang rawat bersama dengan para suster dan dokternya.
Mereka semua pun berjalan mengikuti kemana para perawat membawa Asha pergi, kecuali Rendi dan Zevan. Mereka berdua masih menunggu kabar dari sang pendonor darah dan asisten Rendi.
Tak lama setelah itu, datang seorang wanita dewasa serta asisten Rendi. Asisten Rendi pun mengatakan bahwa wanita tersebut lah yang akan mendonorkan darahnya kepada Sara. Seorang perawat pun meminta agar sang wanita mengikutinya masuk ke ruang ganti dan pengecekan golongan darah.
Lalu sang perawat dan sang pendonor pun berjalan masuk keruang UGD untuk membantu Sara.
__ADS_1
Sementara di ruang rawat milik Asha, semua orang telah berdiri di samping brankar milik Asha. Dokter yang menangani Asha pun masih setia memantau perkembangan dari Asha.
Tak lama setelah itu, jari tangan milik Asha bergerak. Orang pertama yang melihat hal itu adalah Nathan dan Aurora.
"Tangan Mbak Sara gerak!"
"Ma, jari tangan Mbak Asha gerak!" Ucap Nathan dan Aurora berbarengan. Sontak mereka berdua pun saling menatap dan memelototkan mata mereka masing-masing.
Revan yang melihat sang istri mulai mengerjapkan matanya pun mendekatkan dirinya di samping kanan milik Asha. Perlahan-lahan, Asha mulai menyesuaikan pasokan cahaya yang masuk ke matanya.
Mata Asha menangkap banyak orang yang berada diruangannya. Asha menatap satu per satu orang tersebut dengan bingung dan berhenti di Khansa.
"Khansa, Teh Asha mau minum." Ucap Asha lirih yang langsung dianggukki oleh Khansa. Karena kebetulan dirinya berdiri di samping kiri brankar milik kakaknya itu. Khansa pun menyertakan sedotan untuk minum kakaknya.
Setelah puas minum, Asha mengernyit heran melihat Ella dan anak-anaknya.
"Sa, Mbak Sara dan Reza kemana? Ayah juga mana?" Ucap Asha dengan suara bingungnya yang membuat semua orang terkaget. Khansa yang terkejut pun menatap sang dokter meminta penjelasan.
"Karena tingginya dosis racun yang diberikan kepada Nona Asha, hal itu membuat ingatan Nona Asha sedikit terganggu. Kemungkinan, Nona Asha mengalami amnesia sementara, atau bahkan amnesia berat yang bisa saja tidak akan pernah mengingat kejadian yang akhir-akhir ini terjadi."
Degg...
Ucapan dokter tersebut langsung membuat semua orang terkejut bukan main. Revan yang mengetahui hal itu pun nafasnya tak beraturan. Dirinya mendekatkan dirinya ke Asha dan menggenggam tangan Asha.
"Asha inget sama Abang kan?" Tanya Revan dengan nada yang bergetar. Asha berpikir sedikit keras atas ucapan Revan, terlihat dari alisnya yang bertaut.
"Maaf, Anda siapa?" Ucap Asha sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Revan darinya. Revan yang mendengar hal tersebut pun seketika badannya lemas. Untuk pertama kalinya Revan menitikkan air mata setelah pernikahannya dengan Asha kemarin.
__ADS_1