SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 80


__ADS_3

Sebelumnya....


Alden masih mengikuti ojek online yang membawa Khansa menuju sekolah. Setelah Khansa turun, Alden pun mengatakan pada Khansa untuk menunggunya.


"Sa, tunggu Gue bentar ya? Gue mau parkir motor dulu. Jangan pergi kemana-mana dulu!" Ucap Alden dengan nada yang sedikit tinggi karena terhalang oleh helm full facenya. Khansa pun hanya mengangguk patuh sambil mengangkat jempol kanannya.


Alden hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil melajukan motornya memasuki tempat parkir sekolah. Setelah selesai melepas helm dan mengunci motornya, Alden pun menoleh dan terkaget karena melihat Khansa di seret oleh seseorang dengan paksa.


"Anji*g! Awas Lo sampai berani macem-macem sama Khansa!" Teriak Alden lalu memakai kembali helm nya dan langsung memundurkan motornya. Alden melihat mobil yang membawa Khansa mulai pergi dari halaman sekolah.


Alden menaikkan kecepetan motornya dan masih terus mengikuti mobil tersebut. Alden mengernyit bingung ketika mobil tersebut berhenti ditempat yang manurut Alden sangat menjijikan. Dia melihat orang tadi membawa paksa Khansa untuk memasuki tempat tersebut.


Darah Alden seketika mendidih ketika melihat Khansa yang terus mengeluarkan air mata sambil menggelengkan kepalanya. Alden bertambah kaget karena melihat orang tadi mengajak teman yang menurut Alden sesama iblis itu.


"Dan Gue pastiin untuk kali ini, kalian akan habis ditangan orang yang sangat-sangat tepat. Lo lupa siapa kakak Khansa!" Ucap Alden sambil mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat.


Dengan perasaan marahnya, Alden memasuki tempat terkutuk itu dan mengikuti kemana mereka berdua membawa Khansa. Namun dia sempat terhalang karena kedua penjaga ditempat tersebut meminta kartu akses kepadanya.


Dengan sedikit pertikaian, akhirnya Alden dapat memasuki tempat tersebut dan berjalan mencari kemana mereka mereka pergi. Alden pun melihat salah seorang diantara mereka berdua memasuki sebuah kamar. Alden pun berjalan mendekati kamar tersebut dan membuka pintunya secara perlahan.


Betapa terkejutnya Alden ketika melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang tersebut kepada Khansa.


Alden yang mendengar teriakan dari Khansa pun segera berlari dan memasuki kamar tersebut. Alden terkejut bukan main ketika melihat Khansa yang sudah terbaring lemas di lantai dengan hidung yang mengeluarkan darah dengan pakaian minimnya.


Alden berjalan cepat mendekati kedua orang tersebut dan langsung menampar pipi keduanya dengan sangat keras yang langsung membuat sudut bibir keduanya mengalirkan darah segar.


"Dasar wanita biad*b! Kalian wanita yang tak tahu malu!" Ucap Alden lalu menatap tajam kedua mata orang tersebut. Alden pun mengikat kedua orang tersebut di sofa yang berada di sudut ruangan dengan kasar dan mencengkeram rahang keduanya keras-keras.

__ADS_1


"Kalian salah pilih orang!" Ucap Alden penuh penekanan dengan mata yang sudah berembun.


Alden pun mengambil selimut dan segera membungkus tubuh Khansa yang sudah penuh dengan memar.


Alden mengambil ponselnya dan menghubungi Sara. Dia sengaja memberi kabar ke Sara melalui video call agar Sara melihat secara langsung. Dan benar tebakan Alden, Sara langsung berniat untuk datang ke tempat tersebut.


Setelah mematikan panggilannya, Alden mengusap darah yang keluar dari hidung milik Khansa dan mendekapnya erat. Alden mengeluarkan air matanya untuk pertama kali karena seorang wanita. Dia tak tega menatap Khansa yang sudah tak sanggup bergerak.


"Sakit kak..." Ucap Khansa lirih sambil mengedipkan matanya perlahan.


Sementara Sara...


Dia berdiri dari duduknya dan langsung membuka pesan lokasi yang dikirimkan oleh Alden. Sara membelalakkan matanya tak percaya dengan lokasi keberadaan sang adik.


"Kau bermain-main dengan orang yang salah! Kau lupa siapa aku?!" Ucap Sara sambil meremas tangannya kuat-kuat. Dia berjalan hendak keluar bandara namun teringat dengan barang barangnya.


"Dengan Bapak Mahen Akasa i, bisa kau membantuku?" Ucap Sara dengan nada terburu-buru sambil membaca name tag orang tersebut. Pria tersebut pun melepas kacamata hitamnya dan sedikit menunduk untuk menatap Sara.


"Kau lihat barang-barang yang berada di kursi itu?" Ucap Sara sambil menunjukkan kursi yang tadi dia duduki. Pria tersebut pun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap Sara.


"Ini ponselku, dan aku mohon sekali untuk menjaga barang-barangku. Tiba-tiba adikku menelepon dan mengatakan ada hal penting yang tak bisa aku tinggalkan. Tolong jagakan barang-barangku ya, Pak?" Ucap Sara sambil memberikan ponselnya kepada pria itu.


"Aku sungguh-sungguh minta tolong padamu, Pak!" Ucap Sara memelas sambil sedikit mendongak untuk menatap pria didepannya.


Sara pun berlari meninggalkan pria itu sambil mengucapkan terimakasih.


"Sebelumnya terimakasih banyak, Pak!" Teriak Sara sambil tersenyum dengan kaki yang masih berlari. Sang pria pun hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Gadis yang sangat unik. Batin sang pria sambil menatap kepergian Sara.

__ADS_1


Akasa, seorang pilot berusia 27 tahun yang sedang terburu-buru karena sekarang adalah jadwal flightnya. Namun bagaimana? Dia mendapatkan jackpot yang tak disangka-sangka untuk menjaga barang-barang milik gadis kecil bergamis tersebut.


"Apakah dia tak tahu jika aku seorang pilot? Tapi dia gadis yang sangat lucu. Baiklah aku akan membantunya." Ucap Akasa sambil mengeluarkan ponselnya dan mengatakan pada bawahannya untuk menggantikan jadwal penerbangan untuknya dan Sara.


Sedangkan Sara, dia berlari keluar dan bandara dan mendekati ojek online yang menurut Sara sedang tak ada orderan. Dia meminta kepada ibu-ibu tukang ojek tersebut untuk mengantarkan nya sesuai dengan arahannya. Dia tahu tempat yang dimaksud oleh Alden.


Setelah menempuh beberapa saat perjalanan, Sara telah tiba ditempat yang Alden maksud. Dia pun memberikan beberapa lembar uang lima puluh ribuan kepada sang ibu-ibu lalu berjalan memasuki club tersebut.


Dua penjaga berbadan besar tersebut tidak menyurutkan nyali Sara untuk tetap berjalan memasuki tempat yang berisik tersebut. Sara berjalan dan membuka satu-persatu ruangan yang berjejer rapi itu.


Ada berbagai macam hal yang dia temui disetiap ruangan tadi. Ada yang terkunci pintunya, ada yang sedang begituan, dan ada yang sedang bernyanyi ria. Dan yang membuat mereka semua kesal adalah karena Sara tak menutup pintunya lagi. Pintu terakhir yang belum Sara buka adalah ruangan dimana Alden dan Khansa berada.


Benar saja, setelah pintu terbuka Alden langsung tersenyum miring. Sara yang melihat adiknya tak berjilbab dan dibungkus oleh selimut pun berjalan mendekatinya dan langsung memeluk sang adik. Khansa hanya bisa tersenyum sambil menangis.


Bahkan untuk tersenyum saja, rahangnya sangat sakit. Matanya masih mengeluarkan air mata. Sara bertanya kepada Alden dan berdiri dari jongkoknya.


"Dimana dua jala*g itu?!" Ucap Sara dengan nada datarnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Alden pun hanya menolehkan kepalanya kepada kedua orang yang sedang berusaha melarikan diri.


"Oh, hai?! Apa kabar untuk kalian? Rasanya aku sudah sangat rindu kepada kalian. Sa, apa saja yang wanita ini lakukan padamu?" Ucap Sara dengan nada gembiranya sambil mengelus rambut berwarna cokelat muda itu.


Khansa hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin sang kakak menyakiti orang lain hanya karena dia.


"Kau lupa dengan siapa kau bermain-main hah?!" Ucap Sara dengan nada rendahnya sambil menarik rambut milik gadis muda tersebut.


"Baiklah, it's time to play!" Ucap Sara lalu berjalan mengunci pintu kamar tersebut dan membuka tali dari kedua orang tersebut.


__ADS_1


Permisi kakak kakak, mampir juga ke ceritanya kak haliza yuk. Ceritanya best banget dah😁.


__ADS_2