SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 57


__ADS_3

Ella terkejut karena kaca besar yang langsung menghadap ke kamar itu sudah pecah. Dia juga dapat melihat isi kamar tersebut yang sudah seperti kapal pecah. Dengan perlahan Ella memasuki kamar tersebut. Sara yang melihat Ella berjalan maju pun mengikutinya.


"Mama hati-hati ya. Banyak pecahan kaca juga dibawah kita." Ucap Sara smabil memperhatikan setiap langkahnya menyusul sang Mama. Ella pun hanya menganggukkan kepalanya dan terus berjalan.


Sesampainya mereka didalam, banyak barang-barang yang berada di kamar Asha sudah berantakan. Ella pun menciba memanggil nama menantunya itu berkali-kali.


"Asha! Kamu dimana, Nak?!" Ucap Ella sambil membuka pinta kamar mandi dan membuka pintu kamar milik Asha. Sara pun juga mencari kakaknya disemua ruangan yang ada di rumah kakaknya, namun usahanya sia-sia. Karena tak ada Asha di semua ruangan.


Ella pun sudah tambah khawatir dan bingung ingin mencari menantunya dimana. Ella pun mencoba menelepon anaknya dan bertanya dimana keberadaan Asha. Setelah beberapa menit, terhubung lah penggilan antara keduanya.


"Assalamu'alaikum Ma, ada yang bisa Revan bantu?" Tanya Revan setelah menerima panggilan dari sang Mama.


"Wa'alaikumsalam Bang, mau tanya. Asha ikut Abang ke kantor kah?" Tanya Ella dengan hati-hati. Ella dapat mendengar suara bingung dari sang anak.


"Enggak kok, Ma. Abang tinggal Asha dirumah kok. Memang kenapa Ma?" Tanya Revan lagi.


"Emm, Abang lagi sibuk nggak?" Tanya Ella lagi memastikan keadaan anaknya. Karena Ella mendengar suara gaduh di sekitar anak nya.


"Iya Ma, Revan lagi ada rapat buat pencarian Bu Sila. Memang ada apa Ma?" Tanya Revan lagi dengan nada yang bingung. Ella yang mendengar jawaban sang anak pun semakin bingung.


Ella tak mau membuat pikiran sang anak kacau dengan kabar hilangnya Asha. Ya karena Ella tahu bahwa si posisi kedudukan Revan saat ini, sangat dibutuhkan kehadiran Revan disaat-saat penting seperti ini.


"Enggak Bang, yaudah kamu lanjutin rapatnya. Mama mau bicara dulu sama Asha. Assalamu'alaikum Bang." Ucap Ella yang lalu menutup panggilannya kepada sang anak.

__ADS_1


Ella pun bertambah khawatir karena Asha tak bersama dengan sang anak. Sara yang sudah panik pun hanya bisa menangis, memikirkan dimana kakaknya. Dia juga menelepon nomor kakaknya, namun Hp sang kakak berada di dalam kamar nya.


Sara berjalan mendekat ke Ella dan memeluknya.


"Ma, Teteh dimana?" Ucap Sara dengan nada bergetar menahan tangisnya. Ella pun hanya bisa mengelus kepala milik Sara dan menenangkannya. Saat akan mencari lagi, Ella mendapatkan panggilan dari anaknya.


Dalam pesan tersebut Alden mengatakan bahwa rumahnya dan Sara di lempari batu oleh seseorang. Ella yang membaca pesan dari Alden pun langsung memberitahukan hal tersebut ke Sara.


Sara pun membaca pesan tersebut dan seketika matanya langsung melotot.


"Khansa! Mama kita sekarang pulang ya!" Ucap Sara sambil berlari keluar melalui kaca yang pecah di kamar kakaknya.


Dan nahas, kaki kanan milik Sara mengenai pecahan kaca yang masih menancap di jendela besar tersebut. Seketika badan Sara pun terjatuh dan keluar darah yang begitu banyak di telapak kaki bagian kananya. Ya, Sara dapat merasakan bahwa telapak tangannya tergores kaca tajam itu.


"Ya Allah, sakit Ma! Emmph...Mama tolongin Sara." Rintih Sara dengan melipat bibirnya ke dalam karena menahan sakit di kakinya. Ella yang mendengar rintihan kesakitan Sara pun berjalan dengan hati-hati ke arah Sara. Ella pun terkejut melihat kaki kanan milik Anaknya yang bersimbah darah.


"Astagfirullah, Nak! Apa yang terjadi?! Mengapa bisa seperti ini?!" Ucap Ella sambil menumpu badan Sara yang hampir tumbang. Sara pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berusaha menahan kakinya.


"Mama, bawa Sara pulang ya. Sara mau ketemu sama Kahnsa dan Aurora." Ucap Sara lirih lalu menggigit bibir bagian bawah nya untuk menahan rasa sakitnya. Ella pun hanya bisa menangis menatap nasib kedua anaknya.


Ella pun memanggil Pak Jajang untuk membantunya membawa Sara. Sebelum mengangkat Sara, Pak Jajang meminta izin kepada Sara untuk menggendong nya. Sara pun hanya menganggukkan kepalanya setuju.


Jalan yang di lalui Pak Jajang ketika menggendong Sara pun meninggalkan titik-titik darah yang memiliki jarak sedikit berjauhan. Ella dengan panik membuka pintu mobil Alphard nya dan langsung masuk.

__ADS_1


Pak Jajang pun mendudukkan Sara yang kesadarannya hampir step-step. Ella pun mengatakan pada Pak Jajang untuk membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit. Ella juga memberi kabar kepada Alden untuk segera menyusul ke rumah sakit dangan berhati-hati.


"Alden, bisakah kau dan adik-adik mu pergi ke rumah sakit kota? Bawa mereka keluar rumah dengan hati-hati. Pastikan tidak ada orang yang mencurigakan di sekitar rumah. Mama tunggu kalian disana ya. Hati-hati dalam membawa Khansa, Aurora, dan Nathan." Ucap Ella di pesan suara yang dia tinggalkan di nomor anaknya.


Alden yang baru memeriksa semua keadaan rumahnya pun berhenti sejenak karena Hp nya menyuarakan notifikasi pesan. Alden mengambil Hp nya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya. Alden pun mendengarkan apa yang Mama nya katakan di pesan suara tersebut.


Alden yang paham dengan maksud sang Mama pun berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor serta jaket nya. Dia berjalan dengan sedikit berlari menuju rumah Khansa.


"Khansa, Aurora, sama Nathan ikut Kak Alden ke rumah sakit sekarang ya. Cepet ganti baju dan siap-siap. Oh ya, Khansa bisa pake bawa motor nggak?" Tanya Alden sambil menatap Khansa. Khansa pun hanya menggelengkan kepalanya.


Alden pun tersenyum dan meminta Kahnsa segera berganti pakaian. Kahnsa pun hanya mengangguk dan membalikkan badannya. Baru tiga langkah Kahnsa melangkah, Alden memanggilnya lagi dan mengatakan sesuatu yang dia lupakan.


"Oh ya, Sa. Jangan lupa pake celana ya. Nah celananya di pasangin aja sama tunik, jadi masih nutup gitu. Pake celananya yang agak longgar ya. Soalnya kita pake motor, biar cepet." Ucap Alden sambil menatap lembut Khansa. Khansa pun hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menunu ke lantai atas.


"Lah terus kalo Kak Alden sama Kak Khansa, Aurora gimana? Masa sama di Nathan sih?!" Ucap Aurora sambil melirik tajam ke arah Khansa. Nathan yang mendengar ucapan Aurora pun mendadak emosi.


"Lo nggak mau bareng Gue? Yaudah sono jalan kaki! Atau kalo perlu nggak usah ikut sekalian. Lo pikir Gue mau bareng sama Lo? Ogah Gue mah!" Ucap Nathan sambil berjalan menuju rumah nya untuk mengambil kunci motornya.


Setelah 15 menit bersiap-siap, mereka semua pun keluar dari rumah dengan hati-hati. Sebelumnya Alden juga sudah memeriksa apakah ada orang yang masih mengintai rumah nya atau tidak.


Benar saja, sedari tadi ada seorang perempuan yang menatap dengan tatapan benci ke arah Khansa. Wanita tersebut bersembunyi di samping rumah yang berada di depan rumah Alden.


"Gue mau Lo semua ngerasain apa yang Gue Rasain!" Ucap wanita itu sambil mengepalkan tangannya. Wanita itu menerima panggilan telepon yang masuk ke Hp nya. Wanita itu masih mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang peneleponnya sambil masih menatap Khansa dan yang lain.

__ADS_1


"Iya Ma, aku kesana sekarang." Ucap wanita itu sebelum mengakhiri panggilannya.


__ADS_2