
Asha menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju bibir kasurnya. Dadanya yang sesak meminta agar Asha melepaskannya dengan dia menangis. Asha pun meluruhkan tubuhnya kelantai dan membenamkan kepalanya di pinggiran kasur.
Asha menangis tanpa suara. Ya, karena dia tahu bahwa semua orang bisa mendengar suaranya jika menangis. Ella pun memasuki kambar Asha dengan perlahan, memastikan bahwa langkahnya tidak mengganggu Asha yang masih menangis.
Ella berjongkok di samping Asha. Dirinya langsung memeluk tubuh Asha dan menenangkannya. Ella tahu bagaimana perasaan dari Asha. Dirinya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kamu harus sabar, Sha. Mungkin Revan bukan jodoh yang terbaik untukmu. Kalian bukan dipisahkan oleh manusia, tapi oleh kayakinan kalian. Anggap saja jika Revan bukan jodohmu, maka anggap lah dia sebagai tokoh yang pernah hadir dalam cerita hidupmu." Ucap Ella sambil mengusap air mata milik Asha.
"Tapi Bang Revan jahat, Bi. Setidaknya jangan pernah mengatakan tidak mungkin. Karena, jika Bibi ingin tahu. Asha mulai menyukai Bang Revan, Bi. Bibi tahu sendiri bagaimana sikap Bang Revan akhir-akhir ini ke Asha. Wanita mana yang tidmzak terbawa perasaannya jika diperlakukan spesial oleh orang lain." Ucap Asha sambil terbata-bata dengan kepala yang masih menunduk.
"Bibi tahu, Sha. Bibi pun merasa kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Revan. Tapi yakinlah, bahwa jodoh tak akan tertukar. Jangan kau bawa perkataan Revan tadi ke hati. Biarkan saja. Oke?" Ucap Ella sambil meyakinkan Asha.
Asha masih setia dengan tangisannya. Asha memeluk Ella lagi dan menangis di dekapannya. Asha yang sudah mengantuk pun menguap di dekapan Ella. Ella yang tahu bahwa Asha sudah kelelahan pun menawarkan agar tidur berdua.
"Asha mau tidur berdua sama Bibi?" Tanya Ella yang langsung dijawab dengan anggukkan Asha. Keduanya pun berjalan keatas ranjang dan mulai merebahkan dirinya. Ella mengambil selimut dan menutupi tubuh keduanya.
Setelah Ella benar-benar merebahkan dirinya, Asha pun memeluk erat Ella danmulai memejamkan matanya. Meskipun masih sesenggukkan, Ella dapat merasakan bahwa Asha sudah mulai terlelap.
Ella pun mencium kening Asha penuh cinta. Tak lupa dia juga mengelus kepala serta punggung Asha, agar Asha bisa tidur dengan nyenyak. Ella sampai tak menyadari bahwa dirinya juga sudah mengantuk.
Tak lama setelah itu, tangannya yang sedari tadi mengelus Asha mulai melemah dan berhenti bergerak. Ya, Ella sudah menyusul Asha yang terbang ke alam mimpi.
Sedangkan itu, di meja makan. Alden masih memarahi tentang perkataannya kepada Asha.
"Udah Gue bilang kan, Bang? Jangan pernah buat cewek merasa terbang jika Abang memang nggak benar-benar serius. Sekarang Abang lihat sendiri kan? Coba bayangkan jika Abang berada di posisi Teh Asha!" Ucap Alden dengan suara tegasnya.
__ADS_1
"Bang Revan kok gitu sih. Kan kasian Teh Asha nya. Kita juga lihat, gimana sikap Bang Revan akhir-akhir ini ke Teh Asha. Memang kita semua tahu, bahwa keyakina kalian menjadi tembok penghalang yang sangat-sangat tinggi. Tapi itu bukan menjadi alasan Bang Revan membuat semua hal menjadi tak mungkin." Ucap Sara bijak disela gelengan kepala dari Revan.
"Memang siapa yang bilang kalau Bang Revan dan Teh Asha nggak bisa bersatu karena beda keyakinan? Siapa coba?" Ucap Revan sambil melipat tangannya ke depan dada.
"Ya, kan tadi Bang Revan bilang. 'Secara kita berdua kan be...' nah itu dia, 'be' nya itu merujuk ke berbeda kan Bang? Memang Aurora tahu, bahwa Teh Asha dan Abang berbeda keyakinan. Tapi apa salahnya sih, Bang? Banyak juga kok diluaran sana yang tetap menikah walaupun berbeda keyakinan." Ucap Aurora sambil melipat kedua tangannya diatas meja.
Revan pun menegakkan badannya sambil menatap keempat adik-adiknya.
"Emang Bang Revan bilang gitu? Bang Revan bilang kita berbeda gitu?" Tanya Revan kepada keempatnya. Namun bukannya menjawab, Alden, Khansa, Sara, dan Aurora hanya mengendikkan bahunya.
"Bang Revan cuma mau bilang. 'Tapi sepertinya nggak mungkin deh, Ma. Secara kan kita berdua kan belum menegtahui isi hati masing-masing. Sepertinya Revan perlu ngomong dari hati ke hati sama Asha' gitu aslinya." Ucap Revan menjelaskan kepada adik-adiknya.
Mereka berempat pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Namun lima detik berikutnya, mata mereka berempat melotot.
"Jadi Teh Asha salah sangka?" Tanya Khansa sambil mengerjapkan matanya lucu. Revan hanya menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Khansa.
"Ngapain ngintilin aku sih, Sar? Bikin repot aja!" Ucap Alden sambil menghadap ke arah Sara.
"Ngapain repot? Orang Gue mau ketemu Teteh Gue! Sana Lo, ganggu aja." Jawab Sara judes sambil berjalan melewati Alden. Alden pun mengikuti langkah Sara sambil terus mengoceh dengan mulut unlimited nya.
Saat Sara akan berteriak memanggil sang kakak, Sara berhenti mendadak setelah membuka pintunya. Alden yang masih mengomel tak jelas pun langsung memberhentikan langkahnya sebelum menubruk tubuh Sara.
"Ngapain berhenti mendadak sih, Sar? Untung belum Gue peluk, Lo Sar. Coba kalo udah, wihh ada khotbah dadakan." Ucap Alden sambil menatap Sara yang berbalik kearah nya.
"Ssttt...itu Teh Asha sama Bibi udah tidur. Jangan berisik ih." Ucap Sara bisik-bisik sambil berbalik menghadap dalam kamar dan melongokkan kepalanya. Alden pun dengan polosnya mengikuti pergerakan Sara.
__ADS_1
"Yaudah, ngomongnya besok lagi. Kita balik aja yuk." Ajak Sara sambil menutup pintu kamar Asha tanpa melihat kepala Alden yang sudah terbentur.
"Gila ya Lo Sar! Awas aja kalo pala Gue benjol, Gue ganti ya Lo. Gimana lagi kalo gantengya ilang ya?" Ucap Alden sambil berjalan meninggalkan Sara.
Sara pun mengikuti langkah Alden yang meninggalkan kamar sang kakak. Revan yang melihat Alden dan Sara kembali pun bertanya.
"Kenapa balik? Teh Asha nya masih marah?" Tanya Revan sambil beranjak dari duduknya. Sedangkan Khansa dan Aurora, mereka berdua sudah masuk kedalam kamarnya.
"Teh Asha nya udah tidur sama Mama, Bang. Alden pulang dulu ya. Mau ngonpres ni dahi, benjol gegara tu si kunyuk." Ucap Revan sambil menunjuk Sara. Sara yang dipanggil kunyuk oleh Alden pun hanya memelototkan matanya.
"Yaudah, Bang Revan mau liat Teh Asha sama Bibi dulu ya. Sara bisa beresin bekas makan tadi. Nanti kalo Abang mau pulang, Bang Revan panggil." Ucap Revan sambil berjalan ke kamar Asha.
Perlahan-lahan Revan mulai membuka knop pintunya dan melangkah masuk. Revan menutup pintu kamar Asha dan melangkah mendekati ranjang.
Revan berjalan mendekati Asha yang telah tertidur pulas. Tangannya terulur mengusap air mata Asha yang masih tersisa.
"Cantiknya Bang Revan jangan nangis ya. Selamat malam, semoga mimpi indah. I love you, Sha." Ucap Revan yang diikuti kecupan hangat di dahi, kedua kelopak mata, dan kedua pipi Asha.
Revan mengusap bibir Asha lembut dan bibirnya terangkat sedikit membentuk sebuah senyuman. 'Apakah mungkin tadi first kiss milik Asha ya?' Tanya Revan dalam hati.
Revan pun berjalan mendekati sang Mama dengan berjalan memutari ranjang.
"Selamat tidur dua wanita yang paling berharga dihidup Revan." Ucapnya sambil mengecup kening Ella. Setelahnya Revan pun membalikkan badannya hendak keluar kamar.
"Jadi laki-laki itu jangan plin-plan Bang. Tadi bilang gimana, sekarang bilang gimana." Ucap seseorang yang membuat Revan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.