SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 40


__ADS_3

Semua orang pun duduk di ruang tamu menunggu Revan kembali dari kamarnya. Tak lama setelah itu Revan berjalan kembali ke ruang keluarga menemui semua keluarganya.


"Ya ampun Bang, mbok ya pakai bedak atau apa to. Mau lamaran lha kok pucet gitu." Ucap Ella sambil berdiri dari duduknya.


"Nggak usah nggak papa, Bang. Bang Revan nya Asha udah ganteng gini kok, Bi." Ucap Asha sambil membenarkan rambut Revan, yang sedari tadi sudah berdiri disampingnya.


Revan yang diperlakukan seperti itu hanya menerbitkan senyum manis dibibirnya. Revan memajukkan badannya mendekat kearah Asha dan mencium pipi kiri milik Asha.


Sedangkan itu, semua orang yang melihat hal itu pun hanya menggelengkan kepalanya. Tapi tidak dengan Alden. Dia menatap tak suka pada sang kakak.


"Orang banyak anak dibawah umur gini, juga." Ucap Alden sambil memasukkan kepalanya ke lekukan sofa. Sara yang melihat kelakuan absurd Alden pun menarik kerah milik Alden dengan sedikit kuat.


"Nggak usah sok suci gitu matanya. Gue yakin kalo Lo udah pernah lihat yang lebih dari itu." Ucap Sara setelah berhasil menegakkan badan Alden. Sedangkan itu, Alden hanya manatap tajam Sara tak suka.


"Sini Sa, duduk di sebelah Gue sama Aurora. Jangan deket-deket sama si bokong panci. Nanti ketularan galaknya. Gue nggak mau ya kalo calon istri Gue ikut-ikutan galak kayak tu bokong panci." Ucap Alden sambil berusaha meraih tangan Khansa namun ditahan oleh Sara.


"Hooh, Den. Muka Lo emang kayak bokong bayi. Mulus kek jalan tol. Lo tau nggak? Jerawat petakilan ini bisa disini gegara apa? Ya gara-gara gue stress. Stress tiap hari liat Lo!" Ucap Sara sambil menunjuk jerawat yang berada didagu sebelah kanannya.


"Halah bilangnya stress, padahal gegara mikir cowok kan? Ngaku Lo!" Ucap Alden menangkal perkataan dari Sara. Sebelum semakin berlanjut, Ella menengahi keduanya dengan alasan kakak mereka.


Mereka berdua pun hanya bersitatap sambil mengumpat dalam hati. Semua orang pun duduk di sofa masing-masing serta Ella yang berpindah di sebelah Asha. Ella mengatakan bahwa dia berada dipihak perempuan.


Acara lamaran antara Ella dan Revan pun berjalan lancar. Saat ditanya kapan mereka akan melangsungkan pernikahan, Revan mengatakan bahwa dia akan melaksanakannya dalam waktu dekat ini.


"Bang Revan mau diadakan kapan acara pernikahannya?" Ucap Rendi setelah mendaratkan dirinya di sofa.


"1 minggu lagi, Pa." Jawab Revan setelah duduk disamping ayahnya. Semua orang yang mendengar perkataan dari Revan pun memelototkan matanya. Asha hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah.

__ADS_1


"Yang bener, Bang? Persiapannya itu nggak se simpel yang kamu bayangkan loh? Ada pesen catering, ukur baju, cari gedung, cetak undangan, dan yang lainnya. Kamu pikir cuma cukup sehari?" Ucap Ella dengan nada bingungnya atas jawaban dari Revan.


"Tenang aja, Ma. Kan Sara punya pasukan. Nanti bagian catering Khansa, bagian gedung Alden, bagian undangan Aurora, bagian bajunya Mama. Kalau Sara nggak bisa ikut bantuin karena ada Ujian kan? Sara fokus belajar aja ya. Biar lulus dengan nilai paling bagus." Ucap Tevan enteng tanpa melihat ekspresi adik-adiknya.


"Terus Lo ngapain Bang? Ngga ada bagian Lo deh tadi. Dan ya, itu si Mas Ethan juga disuruh ngapain? Kalau bagi-bagi tugas itu harus yang adil, Bang." Ucap Alden protes dengan pernyataan Revan.


"Ya Bang Revan ngurus rumah buat Abang sama Teh Asha dong. Kalau Mas Ethan itu dia udah persiapan masuk ke sekolah penerbangan. Alden mau kan?" Terang Revan kepada Alden. Alden yang diberi jawaban pun hanya mengiyakan perkataan dari kakaknya.


Sementara itu, Asha yang mendengar perkataan Revan pun menyeritkan dahinya bingung.


"Abang, kita bakal punya rumah sendiri? Kita nggak tinggal sama semuanya?" Tanya Asha sambil menatap Revan yang berada dihadapannya. Revan hanya menyunggingkan senyumnya.


"Abang pengen kita hidup mandiri, Sha. Abang pengen kamu yang mengelola rumah kita sendiri, terus kamu juga yang mengelola keuangan rumah tangga kita. Tapi kalau main ke sini, boleh lah. Setiap hari juga boleh." Ucap Revan menerangkan kepada Asha.


"Terus nanti Sara dan yang lainnya gimana? Kalau Sara sibuk belajar, yang ngurusin Khansa sama Aurora siapa? Kita tinggal bareng-bareng aja ya, Bang." Ucap Asha sambil menatap Revan.


"Iya, Sha. Kamu tenang aja. Nanti Bibi yang akan mengurus adik-adik kalian. Kalau nanti kamu udah sah jadi anak Bibi, otomatis adik-adikmu juga menjadi anak Bibi. Lagi pula Bibi hanya perlu mengurus si kunyuk saja. Bibi nggak akan repot sama sekali." Ucap Ella memberitahu ke Asha.


Walaupun Asha masih dilanda kebimbangan, tapi dia mencoba untuk percaya kepada Sara dan Ella. Mereka semua pun membicarakan persiapan pernikahan yang akan dimulai dari besok.


Sara yang memang sedang ada Ujian Nasional pun tak dapat membantu persiapan pernikahan kakaknya. Selesai membicarakan tentang persiapan pernikahan, mereka semua pun kembali ke rumah.


...**********************...


Keesokan harinya, Asha yang sedang memasak untuk adik-adiknya pun terganggu karena ada penggilan di teleponnya. Asha mematikan kompornya dan melihat siapa yang meneleponnya. Setelah tahu bahwa yang meneleponnya adalah asisten almarhum ayahnya, Asha pun mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum Paman. Ada yang bisa Asha bantu?" Ucap Asha memulai pembicaraan. Asisten ayahnya pun menjawab salam dari Asha dan menjelaskan keperluannya menelepon Asha.

__ADS_1


"Begini, Bu Asha. Proyek terbaru kita telah berhasil memenangkan tender. Ibu tahu? Pak Bram yang gagal memenangkan tender ini pun marah besar. Dia mengatakan bahwa perusahaan kita melakukan kecurangan. Tapi semua sudah saya atasi." Ucap sang asisiten kepada Asha.


Asha yang baru tahu bahwa selingkuhan sang ibu pun kaget. Dirinya takut bahwa Bram berani menghancurkan perusahaan milik Ayahnya.


"Baiklah Paman. Terimakasih atas informasinya. Asha tutup dulu teleponnya ya. Assalamu'alaikum Paman." Ucap Asha mengakhiri panggilannya. Asha yang mendengar kabar tersebut pun berkali-kali mengucapkan Alhamdulillah.


"InsyAllah nanti Asha akan ke panti asuhan. Asha akan memberi santunan kepada mereka walau hanya sedikit saja. Ini bentuk rasa bersyukur Asha kepada-Mu ya Allah." Ucap Asha sambil tersenyum manis.


Asha pun kembali memasak untuk sarapan adik-adiknya.


Tak lama setelah itu Sara dan yang lain pun berjalan mendekati meja makan dan menyapa kakaknya.


"Selamat pagi, Teh Asha. Calon bhayangkarinya Pak Revan. Udah masak aja nih si Teteh." Ucap Sara sambil duduk di kursi meja makan.


"Iya, Sar. Oh iya, kamu sudah belajar kan? Jangan lupa berdo'a ya Sar. Teh Asha akan bantu do'a dari rumah. Kamu harus bisa dapat nilai terbaik. Buat bangga Teteh sama adik-adik ya Sar." Ucap Asha sambil membawa makanannya ke meja makan.


"Udah dong Teh. Sara udah siap tempur. InsyaAllah Sara bakal dapet nilai terbaik. Seperti Teh Asha dulu." Jawab Sara sambil tersenyum kearah kakaknnya.


Sementara ditempat lain, seorang wanita yang baru saja memuntahkan seluruh isi perutnya mendapat panggilan telepon. Yang tadinya badannya lemas tak dapat bergerak, mendadak langsung sehat dan tersenyum licik.


"Kita mulai beraksi, Nak!" Ucap wanita tersebut sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Kau pikir kalian akan hidup tenang dengan banyak harta hah?! Tak akan kurelakan kalian hidup bahagia. Kita kerja sama-sama ya, Nak." Ucap wanita tersebut dengan lagi-lagi mengelus perut ratanya.


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.

__ADS_1


__ADS_2