
Kayenna mau kasih notice yaa🤗...
Di Bab ini, Kayenna sama sekali tidak ada niatan untuk membeda-bedakan Agama. ini hanyalah cerita fiktif buatan Kayenna. Jadi Kayenna mohon untuk kakak-kakak non muslim yang akan membaca Bab ini and Bab selanjutnya jika kurang berkenan, dilewati saja. Tapi jika ingin memberi like silakan... Kayen akan sangat-sangat berterimakasih.
Mohon dipahami yaa... dan jika ingin memberi saran atau kritik boleh di tuliskan dikolom komentar. Tapi Kayen mohon menggunakan bahasa yang baik dan sopan yaa. Teşekkür ederim dil😊.
Asha berlari meninggalkan Revan yang masih berdiri mematung. Apakah sesakit itu Sha? Padahal kau salah sangka. Kau belum tahu bagaimana yang sebenarnya. Batin Revan dalam hatinya.
Asha berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintunya.
Asha menangis dalam kamarnya sampai tak terasa bahwa dia sudah terlelap dalam mimpinya. Semua orang pun bingung dimana Asha berada.
Sara mencoba untuk beejalan ke kamar kakaknya untuk melihat apakah ada kakaknya disana. Saat akan membuka pintu, Sara menyerit heran karena pintunya terkunci dari dalam. Sara sudah tahu bahwa kakaknya berada didalam kamar.
Sara membali ke ruang keluarga dan mengatakan bahwa kakaknya berada di kamarnya. Semua orang yang tahu tentang hal itu pun merasa sedikit lega.
...******************...
"Asha..."
"Asha..."
"Teh Asha..."
"Teh Asha... Reza kangen Teteh..." Ucap seorang laki-laki remaja yang berlari kearahnya.
Asha yang kebingungan pun hanya merentangkan kedua tangannya menyambut laki-laki tersebut. Anak tersebut memwluknya penuh cinta dan menangis dipelukannya. Tangisan ini sungguh sangat berbeda. Tangisan yang merujuk pada raungan seperti orang yang tak rela ditinggal pergi.
"Teh Asha nggak kangen Reza?" Tanya anak tersebut sambil mendingak menatapnya. Asha yang mendengar kata Reza pun menundukkan kepalanya.
Degg...
"Reza...ini kau, Za? Ya Allah Teteh kangen sama Reza." Ucap Asha heboh yang langsung menciumi wajah mungil anak tersebut.
"Teh Asha cantik banget kalau pakai jilbab. Reza suka liat Teh Asha yang seperti ini. Kenapa Teh Asha nggak memakainya ketika Reza masih hidup? Kenapa pakainya setelah Reza pulang ke pelukan Allah? Teteh nggak mau liatin ke Reza?" Ucap Reza sambil menangis lagi.
__ADS_1
Asha baru sadar bahwa dirinya, sekarang tengah mengenakan pakaian putih panjang serta kain yang melekat dikepalanya. Seperti yang biasanya dipakai oleh Sara.
Asha yang melihat adiknya menangis sambil tertidur di tanah pun menangis. Asha berjongkok didepan sang adik dan memeluk kepalanya.
"Reza kenapa tinggalin Teh Asha dan kakak-kakak yang lain? Reza nggak sayang sama kakak-kakak?" Tanya Asha kepada Reza yang Asyik memainkan jarinya di dahinya.
"Enggak Teh, Reza sayang banget sama kakak-kakak yang lain. Tapi Reza udah dipanggil sama Allah. Allah bilang, biar Reza jagain Ayah disini. Ayah kasian tau Teh, Ayah disini sendiri. Makanya Allah panggil Reza buat temenin Ayah." Jawab Reza sambil memukul dahinya pelan dan mengelusnya lagi.
Asha yang mendengar jawaban dari Reza pun hanya menghapus sisa air matanya.
"Teh Asha, ini dikepala Reza udah nggak bolong lagi kan? Kalau masih bolong, kenapa Reza nggak ngerasa sakit ya? Perasaan terakhir kali Reza lihat, Reza bisa lihat kalau ini nya sama disini nya Reza bolong. Tapi kenapa sekarang udah nggak bolong ya Teh?" Ucap Reza dengan polosnya sambil menunjuk bagian dada serta dahinya.
Asha hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Reza. Asha memeluk Reza lagi dan mengelus kepala serta punggung Reza penuh cinta.
"Eh, Reza ikut Teh Asha ketemu sama kakak-kakak yang lain yuk. Reza juga bakal punya temen laki-laki loh. Namanya Bang Revan, Kak Ethan, sama Kak Alden. Mau ikut Teteh kan?" Tanya Asha sambil berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Reza.
Reza hanya menggelengkan kepalanya antusias.
"Reza nggak bisa ikut Teteh. Nanti kasian Ayah disini sendiri. Reza mau main aja sama Ayah. Atau Teh Asha mau ketemu juga sama Ayah? Kalau Ayah lagi sendiri, Ayah nangis Teh. Ayah bilang pengen pulang terus jemput kakak-kakak semua. Ayah bilang mau peluk kakak-kakak semua. Ayah selalu bilang ke Reza kalau pelukan terakhir Ayah itu dari Teh Asha." Ucap Reza dengan mulut mungilnya sambil menyeret Asha menunu sebuah tempat.
"Ayah! Teh Asha udah dateng! Teh Asha mau ketemu sama Ayah!" Ucap Reza sambil berlari ke seorang laki-laki berpakaian putih yang sedang duduk membelakangi mereka.
Malik merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan sang putri. Entah mengapa, Asha telah berlari jauh namun belum juga sampai ke Ayahnya. Padahal sudah beberapa kali dia terjatuh dan badannya yang sudah sakit karena terbentur berbagai benda.
Malik yang melihat anaknya berlarian dan sampai terjatuh pun menangis.
"Teteh jangan lari-lari. Nanti badan Teteh sakit kalau jatuh. Pelan-pelan aja, Nak. Ayah tunggu kamu!" Ucap Malik sambil memberitahu sang anak. Asha hanya menggelengkan kepalanya, karena dia tak ingin tertinggal oleh ayahnya. Asha tetap berlari mengejar sang ayah namun hasilnya tetap nihil.
"Asha, anak Ayah tersayang. Jangan terburu-buru, Nak. Ingatlah Allah, sebut namanya agar kau bisa memeluk Ayah, Nak!" Ucap Malik dengan suara bergetar. Dirinya sangat ingin memeluk anak bungsunya tersebut.
"Ya Tuhan, tolong Asha. Asha ingin memeluk Ayah. Tolong, walaupun hanya sekali saja. Asha mohon." Ucap Asha sambil menangis diatas tanah. Namun setelah beberapa kali memohon, Asha belum juga bisa memeluk sang Ayah.
"Ya Allah, Asha lelah. Asha mau Ayah!" Ucap Asha sambil meraung menatap sang Ayah. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba sang Ayah berdiri dihadapannya. Asha pun mendongakkan kepalanya dan terkaget melihat sang Ayah.
"Ayah! Asha kangen sama Ayah. Kenapa Ayah nggak bawa Asha sekalian. Asha mau sama Ayah! Asha sayang sama Ayah." Ucap Asha dengan suara seraknya sambil memeluk erat sang ayah.
__ADS_1
"Ayah udah tenang disini, Sha. Gimana janjinya Asha ke Ayah? Asha jagain adik-adik kan? Terus gimana surprise nya? Ayah udah berhasil punya perusahaan sendiri, Nak. Urus perusahaan itu dengan baik ya. Ayah titip ke kamu." Ucap Malik sambil memeluk erat sang putri.
Asha hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang Ayah.
"Asha udah jalanin semua amanah Ayah. Asha selalu jagain adik-adik, dan mengurus perusahaan Ayah." Ucap Asha sambil melepaskan pelukannya dari sang Ayah.
Malik yang melihat Asha sudah sedikit tenang pun mangajak Asha untuk memasuki sebuah ruangan yang sangat luas dan bersih. Mereka bertiga pun duduk diatas sebuah alas kain putih.
Asha bingung karena sang Ayah membuka sebuah buku. Ayahnya tiba-tiba membaca surat seperti yang dibaca oleh Ella dan yang lain. Malik juga mengajari Asha cara membacanya. Aneh, Asha dapat membacanya dengan fasih tanpa salah sedikitpun.
"Yang barusan kita baca itu, surat Yasin dan kalau Asha mau belajar lagi sama Mas itu ya." Ucap Malik sambil menunjuk seseorang dibelakangnya. Asha pun menolehkan kapalanya dan menyerit heran karena dia melihat siluet Revan.
"Kok sama Bang revan, Yah? Asha mau sama Ayah aja, sama Reza juga." Ucap Asha kelimpungan karena sang Ayah dan Reza sudah sedikit menjauh.
"Ayah!"
"Ayah!"
"Ayah! Tunggu Asha. Asha mau ikut Ayah!"
"Reza tungguin Teh Asha!"
Sementara diluar sana, semua orang sudah panik karena mendengar teriakan dari Asha. Revan yang baru saja datang dari rumahnya pun kaget karena semua orang berteriak histeris didepan kamar Asha.
"Ini kenapa, Sar? Kenapa semua khawatir gini?" Ucap Revan panik sambil menatap sang Ayah dan Alden yang sedang berusaha medobrak pintu.
"Teh Asha dari siang sampai habis Magrib gini belum keluar kamar, Bang. Dan sekarang dia teriak-teriak manggil nama Bang Revan, Ayah, sama Reza." Jawab Sara dengan nada panik sambil melihat kedepan.
Revan yang mengetahui hal itu pun bergegas mendekati pjntu kamar Asha dan mendobraknya. Hanya dengan satu kali dorongan, pintu kamar Asha sudah terbuka.
Sesegera mungkin, Revan berlari mendekati Asha yang sedang menangis sambil tertidur. Badan Asha dibanjiri oleh peluh yang sudah membuat bajunya basah.
"Asha! Bangun, Sha!" Ucap Revan sambil menepuk-nepuk pipi Asha. Setelah beberapa kali panggilan, akhirnya Asha membuka matanya dan langsung memeluk Revan.
"Bang Revan...Ayah sama Reza tega ninggalin Asha." Ucap Asha terbata-bata karena dia masih menangis sesenggukkan. Revan hanya membersihkan keringat Asha yang ada didahinya dan mencium puncak kepala Asha.
__ADS_1
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.