SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 52


__ADS_3

"Nggak ada nikah muda-nikah mudaan ya Den. Sekolah dulu yang bener seperti yang Bibi katakan. Bener kan Bi?" Tanya Sara sambil menatap Ella. Namun jawaban Ella malah membuat Sara bingung.


"Enggak!" Jawab Ella dengan nada yang sedikit kesal. Sara pun bertanya mengapa Ella menjadi kesal seperti itu.


"Bi, Bibi kenapa? Apa Sara ada salah ngomong?" Tanya Sara sambil memegang lengan milik Ella. Ella pun sengaja memalingkan mukanya dari Sara.


"Iya, kamu punya salah ngomong sama Bibi. Apakah kau tidak menerimaku sebagai Ibu walau hanya Ibu mertua? Panggil Aku 'MAMA'. Mulai sekarang panggil Paman sama Bibi dengan sebutan yang sama seperti Revan, Ethan, Alden, dan Nathan ya. Jika tidak, maka Bibi akan marah." Ucap Ella panjang lebar sambil menatap Asha dan adik-adiknya.


"Iya Bi, eh Mama maksud nya." Ucap Sara kagok karena terbiasa memanggil Ella dengan sebutan Bibi. Saat mereka sedang menggoda Ella dengan memanggilnya Mama, Bram serta Amora pun datang mendekati mereka.


"Wah wah, ada keluarga bahagia yang sedang berkumpul. Kau lihatlah sayang, muka-muka melas dari mereka. Entahlah pesta ini menggunakan uang mereka atau hasil berhutang." Ucap Bram meremehkan sambil memeluk pinggang Amora mesra.


"Hei tua bangka! Bisa-bisa nya kau mengejek muka kami melas. Ya kita tahu, kalian sedang berbahagia karena uang mahar dari anak sulungku kemarin kan? Kau juga lupa, siapa yang memelas sekarang. Bukankah perusahaanmu kalah tender dari perusahaan anak-anak perempuanku bukan? Haish sungguh memprihatinkan." Ucap Ella sambil memeluk pinggang Asha dan Sara kedua lengannya.


"Dan kudengar, kerugianmu hampir menyentuh angka 3 M bukan? Wah hebat sekali manantuku ini. Bukan begitu Nyonya Amora Wijaya?" Ucap Ella sambil menatap tajam Amora. Amora yang mendengar perkataan dari Ella pun melepas lengan selingkuhannya yang masih bertengger manis dipinggangnya.


"Heh istri pengemis, namaku AMORA ARRASELLI kau dengar sekali lagi! NAMAKU AMORA ARRA-" Ucapan Amora seketika terhenti karena ucapan dari Sara.


"Stop stop! Wait, kau mengatakan apa? Amora Arraselli bukan? Marga itu dipakai oleh anak-anak serta istri dari Ayahku, Malik Arrasello. Lalu kau siapa di keluarga kami? Kami sudah tak memiliki Ibu!" Tentang Sara dengan suara yang tegas.


"Oh seperti itu? Baiklah aku pun tak sudi memakai marga itu di nama indahku. Sayang apakah aku boleh memakai marga mu untuk namaku?" Ucap Amora manja sambil memeluk lengan selingkuhannya itu.


"Pakailah sesuka hatimu sayang. Tak usah mengemis untuk nama yang menjijikan seperti itu." Ucap Bram sambil menatap tajam Sara.

__ADS_1


"Kalian dengar kan, sekarang namaku Amora Wijaya! Aku tak membutuhkan nama menjijikan milik Ayah kalian itu. Apa itu Arras-" Lagi dan lagi perkataan Amora terjeda. Kali ini bukan Sara, namun Asha.


"Berhenti membawa-bawa Ayahku untuk percakapan bodoh kalian itu. Kami tak mengizinkanmu memakai nama Ayah ku karena perlakuanmu yang tak mecerminkan attitude yang baik. Aku sangat bersyukur atas takdi yang Allah berikan padaku dan adik-adikku." Ucap Asha tegas yang membuat Amora terkejut.


"Mungkin jika malam itu kau tak mabuk dan berbicara yang sebenarnya, kita mungkin masih bersama. Dengan segala drama mengesalkan setiap hari dimana kau tak pernah mau merawat aku dan adik-adikku serta ayahku." Ucap Asha sambil tersenyum mengingat masa-masa dimana masih ada ayahnya.


"Ah aku benar-benar bersyukur atas perceraian kalian. Walaupun itu sangat dibenci di agamaku, tapi entah mengapa aku sangat senang. Aku berharap kau tak menggangguku dan adik-adikku lagi. Ma, ayo kita pergi. Aku yakin kita tak dapat berlama-lama dengan dua manusia ini." Ucap Asha yang langsung menarik lembut tangan Mama mertua rasa Mama kandungnya.


"Cih sungguh sangat menjijikan." Ucap Amira sambil menatap sengit Ella dan Asha yang berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Siapa?" Tanya Sara singkat sebelum benar-benar meninggalkan Amora dan Bram. Amora pun menatap Sara dan menjawab pertanyaan dari Sara.


"Ya kakakmu dan ibu barunya itu lah." Ucap Amora sinis sambil mencari atensi Sara.


Sara pun berjalan mendekati keluarganya yang sudah berada dikamar hotel mereka masing-masing. Rendi yang mengatakan bahwa dia ada meeting dadakan pun memberitahukan kepada anak-anaknya. Sara dan yang lain pun memutuskan untuk ikut pulang bersama Ella dan Rendi.


"Kita semua pulang dulu ya Teh, Bang. Selamat malam." Ucap Asha sambil memeluk kakaknya dan menyalami kakak iparnya.


"Hati-hati dijalan ya Sar. Nanti kabari Teh Asha kalau dah sampai rumah." Jawab Asha sambil melepaskan pelukannya kepada Sara dan beralih memeluk Aurora dan Khansa.


Sepeninggalan semua orang, Asha dan Revan pun memasuki kamar hotel nya. Revan pun berdiri di hadapan Asha dan memegang pundak istrinya.


"Abang mau mandi duluan ya Sha. Nanti baru kamu, habis itu kita sholat sunnah dulu. Asha mau kan?" Tanya Revan sambil mengelus surai cikelat milik Asha. Asha pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis menatap suaminya.

__ADS_1


"Iya, Bang. Asha juga mau lepasin gaunnya dulu. Abang mandi dulu, Asha siapin bajunya." Ucap Asha yang langsung dianggukki oleh Revan. Revan pun berjalan menunu kamar mandi namun dipanggil oleh Asha.


"Abang ni memang lupa atau sengaja di lupa-lupain sih? Ini handuknya masa ditinggalin sih. Masih muda loh Bang, jangan dibiasaiin atuh." Ucap Asha sambil membawakan handuknya menuju Revan. Revan hanya tersenyum cengengesan mendengar celotehan istrinya itu.


"Abang mau sengaja lupa aja, biar tiap hari Asha negur Abang dan merhatiin Abang terus. Abang suka kamu yang cerewet gini. Berasa banget kalo udah punya istri." Ucap Revan yang membuat Asha memelototkan matanya.


"Jadi Abang ngerasa kalo Asha cerewet? Abang nyesel ya dapet Asha yang cerewet gini? Abang mau nukerin Asha gitu?" Ucap Asha sambil memanyunkan bibirnya. Revan yang gemas pun mencium puncak kepala istrinya.


"Enggak gitu Sha, Abang seneng banget dapet istri kayak Asha. Mana ada Abang bakal nukerin istri Abang yang paling cantik ini. Yaudah Abang mau mandi dulu. Sebentar ya Sha." Ucap Revan yang diangguki oleh Asha.


Setelah beberapa menit berlalu, Revan pun keluar kamar mandi dan melihat Asha yang sudah siap memakai mukena.


"Loh Sha kamu dah mandi? Bukannya kamar mandinya dipake Abang?" Tanya Revan bingung saat melihat Asha sedang membentangkan sajadah untuk dirinya. Asha pun menoleh dan tersenyum manis menghadap suaminya.


"Tadi Asha pergi kekamar sebelah, kamarnya si Sara. Kebetulan kuncinya masih di Asha. Yaudah Asha pakai aja, biar cepet selesainya." Jawab Asha sambil memberikan pakaian suaminya yang sudah ia tata diatas kasur.


Memang benar Revan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuknya. Revan pun mengambil kaus oblong serta celana rumahan berwarna hutam yang disiapkan oleh istrinya itu.


"Ini Abang ganti bajunya disini atau dimana Sha?" Ucap Revan sengaja menggoda Asha.


"Ih ya dikamar mandi dong Bang. Jangan gitu Bang." Ucap Asha dengan nada yang sedikit kesal.


"Enggak ah Sha. Abang mau ganti disini aja, kan ada Asha." Ucap Revan lagi yang membuat Asha semakin kesal.

__ADS_1


"Asha hitung sampai tiga ya, kalo sampai hitungan ke tiga Abang nggak masuk nanti Asha bakal pulang nyusul Mama. 1...2..." Belum sampai tiga hitungan, Revan sudah melarikan dirinya ke kamar mandi.


__ADS_2