SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 38


__ADS_3

⚠️HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!⚠️


Asha masih menangis sambil memeluk Revan erat, dengan mata yang tertutup. Semua orang yang melihat Asha menangis pun bertanya mengapa dia menangis.


"Kamu kenapa, Nak? Apakah kamu mimpi buruk?" Ucap Rendi bertanya kepada Asha. Asha hanya menggelengkan kepalanya. Ya itu bukanlah mimpi buruk, tapi itu sebuah mimpi terbaik yang Asha dapatkan setelah kematian sang Ayah dan Reza.


"Coba ceritain ke kita, Sha. Apa yang buat kamu nangis gini." Ucap Revan sambil terus memeluk Asha dengan erat. Asha hanya mencengkeram kaus milik Revan dan masih menangis dengan mata tertutup.


Dengan masih sesenggukkan, Asha mulai menceritakan mimpi yang dia alami baru saja. Walaupun dengan suara yang terbata-bata, semua orang berusaha untuk memahami apa yang dikatakan oleh Asha.


Mulai dari ketika dia bertemu dengan Reza, dirinya yang memakai pakaian panjang serta jilbab, bertemu dengan sang Ayah, pertama kali menyebut nama Allah, membaca Al-Qur'an bersama dengan ayahnya, hingga amanat ayahnya untuk belajar membaca arab bersama dengan Revan.


Revan yang mendengar perkataan Asha pun menjadi bingung. Mengapa ada dirinya dimimpi Asha? Batin Revan dalam hati. Sementara itu, Rendi nampak tersenyum mendengar perkataan dari Asha.


"Asha bilang, didalam mimpi itu Asha memakai jilbab bukan? Dan Asha membaca surat Yasin bersama dengan Ayah? Dan yang lebih anehnya lagi, Asha bisa membacanya tanpa ada salah bukan?" Tanya Rendi dengan nada penuh semangat.


Asha hanya menganggukkan kepalanya didekapan Revan. Entah karena tidak sadar atau bagaimana, Asha mau berdekatan dengan Revan. Bahkan sekarang dia memeluk Revan tanpa mau melepaskannya.


"Apakah sebelum kau tidur, kau berdo'a agar kau diberi petunjuk atas pilihanmu tadi siang?" Tanya Rendi lagi memastikan kepada Asha. Dan lagi-lagi Asha hanya menganggukkan kepalanya di pelukan Revan.


Ella dan Rendi yang mendengar jawaban dari Asha pun tersenyum lega. Revan yang mendengarnya pun bingung mengapa orang tuanya tersenyum senang ketika mendengar jawaban dari Asha. Ella dan Rendy yang tahu Revan bingung pun sengaja tidak memberitahu alasan mereka.


Mereka semua pun meninggalkan Asha dan Revan di kamarnya dengan pintu yang terbuka. Asha masih belum sadar ketika dirinya memeluk Revan. Perlahan Revan menepuk pelan punggung Asha dan memanggilnya.


"Asha? Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Revan dengan perlahan. Asha yang baru sadar bahwa dirinya memeluk seseorang pun mendongakkan kepalanya. Betapa terkejutnya ia ketika dirinya memeluk Revan.

__ADS_1


Saat Asha akan melepaskan pelukannya dari Revan, Revan malah mengeratkan pelukannya dan tak membiarkan Asha lepas darinya.


"Asha kenapa?" Tanya Revan lembut pada Asha, sambil menatap netra coklat milik Asha. Asha hanya menggelengkan kepalanya dengan pandangan tertunduk, yang masih berada dalam pelukan Revan.


Sementara di luar, Rendi dan Ella sudah membuat rencana untuk keesokan harinya. Sara, Alden, Khansa, dan Aurora yang tidak tahu akar permasalahannya pun bertanya.


"Mengapa saat Teh Asha menangis seperti itu, Paman dan Bibi malah bahagia setelah mengetahui alasan Teh Asha berteriak?" Tanya Sara mewakili pasukannya.


Akhirnya Ella dan Rendi pun menceritakan bagaimana awal mula cerita tentang Asha. Disaat bercerita, Sara dan pasukannya hanya A O A O saja. Saat akhir cerita, Sara dan pasukannya sangat senang karena Asha akan mualaf dan bisa menikah dengan Revan.


...******************************...


Keesokan harinya, semua orang sudah bersiap didepan halaman rumah Asha. Semua orang berdiri didepan gerbang, menunggu kadatangan Asha dan Sara. Mereka semua sangat menyambut keputusan Asha untuk mualaf.


"Bibi, Paman, Bang Revan!" Ucap Sara excited sambil menggandeng kakaknya yang berada di belakangnya malu-malu. Semua orang yang sedang mengobrol santai pun menoleh ke arah Sara. Mereka semua menyerit heran ketika melihat seorang perempuan berjalan di belakang Sara mengenakan sebuah gamis.


"Ini Teh Asha kita!" Ucap Sara dengan nada yang sangat gembira dan disertai senyum manis di bibir nya. Semua orang yang melihat Asha memakai jilbab pun terperangah kaget. Baru kali ini mereka melihat Asha berpenampilan tertutup dan terlihat sangat-sangat cantik.


"MasyaAllah, Sha. Kamu terlihat sangat cantik." Ucap Ella sambil mendekati Asha dan Sara. Sedangkan itu, Asha hanya tersenyum malu mendengar perkataan dari Ella. Tak lupa, semua orang juga memuji penampilan Asha yang terlihat sangat cantik.


Tak ayal Revan pun menatap penampilan Asha dengan tatapan penuh kekaguman. Dan ketika melihat Asha berpenampilan seperti itu, Revan rasa cintanya kepada Asha semakin bertambah.


Mereka semua pun pergi ke masjid yang ada di Kompleks tersebut dengan berjalan kaki. Asha sudah memantapkan hatinya untuk mualaf dan melakukannya karena Allah Ta'ala. Bukan karena paksaan dari orang lain ataupun hanya karena mimpi.


Sampainya mereka di sana, mereka disambut dengan seorang Ustadz yang kemarin pemimpin pengajian di rumahnya. Serta beberapa orang yang Sara pikir pegawai pencatatan sipil yang akan mengurus berkas kepindahan Asha.

__ADS_1


Setelah memasukkan beberapa berkas dan mencatat tentang keperluan Asha. Asha di bawa mendekat ke sang Ustadz dan mulai membacakan Syahadat. Tak lupa Sara beserta pasukannya menyiapkan ponselnya untuk merekam momen bahagia tersebut.


Detik-detik ketika Asha membacakan Syahadat pun dilalui dengan sangat khidmat. Tak ada satu orang pun bersuara kecuali suara Asha yang mengikuti perkataan dari Ustadz tersebut.


Setelah nya membaca Syahadat dan Asha menandatangani sebuah berkas. Sara pun memeluk sang kakak dan menangis bahagia karena kakaknya telah sah beragama Islam. Tak lupa semua orang pun juga mengucapkan Alhamdulillah karena keputusan dari Asha dan memeluknya satu persatu.


Saat sampai giliran di Revan, Asha hanya menatap Revan yang berada di depannya dengan kaku. Bukannya mengucapkan sepatah kata apapun, Revan malah membalikkan badannya dan keluar dari masjid meninggalkan Asha dan keluarganya.


Asha yang ditinggalkan oleh Revan pun hanya berdiri mematung tanpa berniat untuk bergerak sedikit pun. Ella yang tahu perasaan Asha pun berjalan mendekatinya dan memeluknya sebentar. Entah mengapa, Asha ingin menangis saat berada dipelukan Ella. Dia sangat bersyukur bisa ditemukan oleh orang sebaik Rendi dan Ella.


Asha yang akan berjalan kembali masuk ke dalam masjid pun, seketika berhenti karena mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Dada Asha sudah naik turun ketika mendengar orang tersebut mengatakan niatnya.


"Asha Arraselli, Saya Revan Putra Laran. Pada hari ini, berniat melamarmu karena Allah Ta'ala. Di hadapan keluargaku, Ustadz, semua orang, dan Allah swt." Ucap Revan dengan nada baritonnya.


Semua orang yang berada disana pun terkejut dengan kelakuan Revan. Mereka melihat Revan yang dudah menekuk satu lututnya dibelakang Asha lengkap dengan cincin berwarna silver itu.


"Asha Arraselli. Maukah kau menjadi pendamping hidupku yang akan pertama kali ku lihat ketika membuka mata dan menjadi ibu dari anak-anak kita kelak?" Ucap Revan dengan suara mantap tanpa ada sedikit keraguan dihatinya.


Sedangkan itu, Asha belum sama sekali membalikkan badannya menghadap Revan. Air matanya mengalir tanpa perintah dari Asha. Asha berusaha untuk menghapus air matanya. Ella yang melihat hal itu pun berjalan mendekati Asha dan membalikkan Asha menuju ke Revan.


Setelah Asha menatap Revan yang sedang menekuk satu lututnya dihadapannya. Asha pun mengangkat pandangannya menatap netra Revan.


"Asha Arraselli, Will You Marry Me?" Ucap Reban dengan hati-hati katena melihat ekspresi wajah Asha yang datar. Semua orang pun berharap agar Ash dapat menerima pinangan dari Revan. Namun...


Asha hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih menetes. Semua orang yang melihat jawaban Asha pun seketika terkejut. Ella menggelengkan kepalanya, menolak keputusan Asha.

__ADS_1


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.


__ADS_2