SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 12


__ADS_3

Khansa pun kaget pasalnya bukan kakaknya yang ada disampingnya namun kakak kelasnya.


“Kak Alden.” Ucap Khansa lirih. Alden yang mendengar perkataan Khansa pun hanya menoleh dan tersenyum manis kepada Khansa. Khansa hanya menanggapinya dengan senyum tipisnya, namun dalam hati dag dig dug serr nggak karuan.


Khansa beralih menatap seberangnya dan mendapati Reza dan polisi yang tadi merazia dirinya dan Sara. Khansa pun berdiri dan berjalan menuju Pak Rendi dan kakaknya berada. Khansa berjongkok dan menyalami Pak Rendi sembari tersenyum padanya.


“Assalamualaikum paman, maaf Khansa baru sempat menemui Paman sekarang. Karena tadi Khansa sedang nanggung baca Yasin nya.” Ucap Khansa sambil berpindah tempat disamping Sara untuk duduk.


“Tidak apa-apa, itu malah bagus daripada Khansa harus menunda membaca Yasin nya dan menyalami Paman.” Ucap Pak Rendi meyakinkan Khansa. Sambil menunggu Reza, Revan, dan Alden selesai membaca Yasin, Pak Rendi pun menceritakan bagaimana masa lalu tentang dirinya dan Pak Malik. Ayah mereka.


Saat akan memulai ceritanya, mereka semua berdiri karena kedatangan tamu. Asha dan adik-adiknya pun bingung karena mereka tidak mengenal tamu-tamu tersebut. Pak Rendi pun berjalan menuju tamu-tamu tersebut dan menyalaminya satu persatu.


Sara yang tidak mengerti pun bertanya kepada Pak Rendi setelah kembali duduk bersama.


"Maaf Paman, mereka siapa? Karena kita tidak mengenal satupun dari mereka." Ucap Sara mewakili Asha dan adik-adiknya yang lain.


"Mereka adalah petugas yang biasa mengurus jenazah mulai dari mengafani sampai selesai dikebumikan. Ya karena Paman tahu bahwa orang tua kalian sudah tidak memiliki saudara dan orang tua lagi. Jadi otomatis jika salah satu dari orang tua akan meninggal tidak ada saudara lagi, mereka sama-sama anak tunggal." Jelas Pak Rendi sambil mendudukan badannya disebelah Aurora.


Sekarang ruang tamu di rumah Asha sudah penuh dengan orang orang suruhan Pak Rendi. Asha pun sedikit tenang karena ia tak sendiri bersama adik-adiknya. Reza, Alden, dan Revan yang sudah selesai pun berjalan menuju kearah mereka.


Mereka semua pun duduk melingkar, Aurora yang sudah sedikit mengantuk pun bersandar di bahu sebelah kanan Sara. Asha yang berada disebelah kiri Sara pun berniat untuk menggantikan Sara. Namun Sara mencegahnya.


Khansa yang sedang asyik melihat kedua kakaknya berdebat tanpa suara untuk meminjamkan bahunya kepada Aurora pun, terkejut tatkala ada seseorang duduk disebelahnya. Khansa pun menengok dan matanya hampir meloncat, pasalnya yang duduk disebelahnya adalah Alden.


Khansa hanya menelan ludahnya susah karena Alden terus menatapnya. Khansa tetap berusaha menatap lurus kedepan, walaupun badannya panas dingin.


Sara yang melihat Alden menatap adiknya pun berdehem sedikit keras, sehingga Alden menatapnya. Sara hanya tersenyum miring dan menaik turunkan alisnya. Alden hanya mengendikkan bahunya dan beralih menatap sang kakak yang sedang memperhatikan Asha.


Sara yang melihat Alden menatap sang kakak pun mengikutinya. Sara menyipitkan matanya ketika melihat Revan yang asyik menatap kakaknya dengan teliti. Sara menahan senyumnya dan mendekatkan dirinya ke kakaknya.


"Teh Asha. Itu dari tadi diliatin Pak pol, emang ya kalau orang cantik mah diliatin mulu. Awas nanti suka sama Pak pol nya." Ucap Sara lirih dan berhasil membuat Asha yang tadinya asyik menatap Aurora lalu menatap Revan.


Tatapan mereka pun bertemu, Revan yang kaget pun mengalihkan pandangannya kelabakan. Asha hanya tersenyum tipis melihat hal itu. Pak Rendi yang melihat hal tadi pun hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Yaudah, ini Paman mulai ceritanya kapan?" Ucap Pak Rendi mengakhiri drama kecil-kecilan dari mereka semua. Mereka semua pun menghadap ke arah Pak Rendi dan bersiap mendengarkan ceritanya.


"Jadi Paman, istri Paman, dan Ayah kalian itu sahabatan dari SMA. Paman dan istri Paman memutuskan untuk menikah muda pada masa itu. Dan Ayah kalian masih sendiri, sampai 4 tahun setelah itu dia memutuskan untuk menikahi Amora. Waktu itu umur Amora baru 18 tahun." Ucap Pak Rendi dengan ekspresi sedikit tenang.


"Tak lama setelah itu, Amora dinyatakan hamil. Kita semua pun menyambut dengan suka cita atas kehamilan Amora yang pertama kali. Saat itu, Paman yang sudah memiliki Revan kecil pun berkunjung ke rumah kalian. Tapi perlakuan dari Amora membuat kita tidak bertahan lama dirumah kalian." Ucap Pak Rendi dengan nada sedikit berubah.


"Dia memperlakukan istri dan anakku dengan kurang sopan. Ya memang, dulu Paman belum mapan seperti sekarang. Dia mengatakan, bahwa dia takut kita membawa virus kerumahnya. Secara mau bagaimana pun dia merupakan istri dari pengusaha sukses, mungkin dia merasa jijik dengan kita yang hanya orang sederhana." Terang Pak Rendi.


Sara yang mendengar hal itu pun hanya memutar bola matanya jengah. Apakah hal itu wajar saat akan memiliki anak untuk pertama kalinya? Pikir Sara


"Beneran Paman? Sampai segitunya? Ih parah juga ya, cuma ada tamu aja sampai-sampai dikira bawa virus. Terus apa yang Paman dan Bibi waktu itu?" Ucap Sara sambil memindahkan kepala Aurora ke pangkuannya.


Pak Rendi pun mengelus lengan Aurora.


"Ya Paman sama Bibi langsung pulang aja. Kita juga menghargai apa yang dilakukan oleh Amora. Mungkin dia merasa sangat takut karena itu merupakan kehamilan pertamanya. Jadi kita memutuskan untuk pulang ke rumah." Ucapan Rendy mantap.


Revan yang sedari tadi diam pun ikut berbicara menimpali perkataan sang ayah.


"Oh Revan udah ada Pa? Waktu itu Revan umur berapa tahun?" Ucap Revan sembari mengganti posisi kakinya.


"Namun, Abang bisa selesai nangisnya itu karena Ayah kalian membawa kita semua ke mall. Paman dulu sangat bersyukur, meskipun Ayah kalian lebih sukses dari Paman. Tapi dia tidak pernah sedikitpun lupa pada dua temannya. Paman bangga banget bisa punya sahabat seperti Ayah kalian." Ucap Pak Rendi tulus sambil melihat jenazah Pak Malik.


Sara yang mendengar hal itu pun tersenyum menatap jenazah Ayahnya.


"Setelah 9 bulan, lahirlah Asha kedunia ini. Paman yang diberi kabar oleh Ayah kalian pun langsung datang ke kota. Kami kemari pun dengan jemputan dari Ayah kalian, karena pada saat itu istri paman sedang mengandung. Setibanya kami disana, Abang senang sekali ketika melihat Asha kecil." Ucapan Pak Rendi barusan membuat Revan menyeritkan alisnya.


"Revan mengatakan bahwa dia juga ingin memiliki adik perempuan. Revan yang hendak menyentuh Asha pun seketika menangis karena dibentak oleh Amora. Malik yang saat itu sedang berada diruangan itu pun membentak Amora." Netra Pak Rendi beralih menatap Asha.


"Sampai setelah beberapa minggu, kami mendapat kabar bahwa Amora tidak mau mengurus Asha. Dia selalu memverikan alasan bahwa dia terkena baby blues. Malik yang saat itu sedang sibuk sibuknya dengan perusahaannya pun bingung." Ucapnya.


"Sampai pada akhirnya, dia menitipkan Asha pada istriku. Meskipun dia sedang hamil, tapi dia tetap mau menjaga Asha. Tentu saja dengan bantuan Revan. Asha pun tumbuh dengan sehat dan mukanya yang sangat mirip dengan Malik." Ucap Pak Rendi sambil tersenyum menatap Asha.


Asha pun baru tahu bahwa dirinya tumbuh ditangan orang lain bukan orang tuanya. Pantas saja, dia merasa tidak asing dengan muka Pak Rendi.

__ADS_1


"Sampai setelah beberapa bulan, istri Paman pun melahirkan anak kedua kami. Jadi mau tidak mau, Ayah kalian mengambil Asha dari Paman. Namun karena adanya penolakan dari Revan jadi Ayah kalian memberikan seseorang untuk membantu merawat kalian bertiga." Tutur Pak Rendi.


"Awalnya Paman memang merasa tidak enak dengan perlakuan Ayah kalian. Tapi apa boleh buat, Ayah kalian memaksa Paman dengan alasan bahwa kita bersahabat." Ucap Pak Rendi sambil menerawang pengalamannya di masa lalu.


"Kami semua terlalu fokus merawat kalian bertiga dan Paman yang mulai merintis usaha dengan modal dari ayah kalian. Sehingga bisa kalian lihat kan, jarak antara Asha dan Sara yang cukup jauh." Ucap Pak Rendi yang membuat Sara menghadap kakaknya.


Sara pun manggut-manggut karena memang benar, jarak antara dirinya dan kakaknya ada 4 tahun. Sedangkan dirinya dan adik-adiknya hanya satu tahun.


Waktu malam pun mereka habiskan dengan membicarakan tentang masa lalu antara Pak Rendi dan Pak Malik. Sampai tak terasa adzan subuh pun sudah berkumandang.


Sara yang melihat bahwa Aurora yang tidur semakin pulas dan kakaknya yang sudah menahan kantuk pun menyarankan agar kakaknya berpindah ke kamar. Sara menyarankan agar Asha tidur sebentar sebelum pemakaman ayahnya.


Sara meminta bantuan Revan untuk memindahkan Aurora ke kamarnya.


"Pak Revan, bisa tolong angkatin Aurora ke kamar Teh Asha nggak? Kasihan tidurnya begini, nanti dia malah sakit badannya." Pinta Sara sambil menatap Revan yang hendak berdiri.


Revan pun hanya mengangguk dan mendekati Aurora. Dia berjongkok didepan Sara dan mengangkat tubuh Aurora perlahan. Revan beralih menatap Asha, dan mengisyaratkan kemana dia harus membawa Aurora.


Asha yang paham pun menganggukkan kepalanya dan berjalan mendahului Revan. Dia berjalan menuju kamar yang berada di seberang kamar Sara. Lalu membukakan pintu untuk Revan.


Revan pun memasuki kamar yang bernuansa warna putih. Revan menmbaringkan Aurora di ranjang Asha. Setelah menyelimuti Aurora, dia pun berjalan mendekati Asha.


"Kau bisa tidur terlebih dahulu. Karena kulihat matamu sudah sangat merah karena menahan kantuk. Kami akan membangunkanmu nanti ketika sudah siap menuju ke TPU." Ucap Revan sedikit menundukkan pandangannya karena memang Asha hanya setinggi dadanya.


Asha pun hanya mengangguk dan berjalan menuju sisi lain tempat tidurnya. Asha mulai membaringkan dirinya, dan mencoba menutup matanya.


Revan yang melihat hal itu pun hanya tersenyum dan membenarkan posisi selimut dari Asha dan Aurora. Setelah selesai membenarkan, Revan pun berjalan menuju pintu dan melewati meja belajar berwarna putih bersih.


Revan pun berhenti karena ia melihat sebuah foto kecil. Foto tersebut menunjukkan potret seorang gadis yang sedang tersenyum manis. Revan pun mengambil foto tersebut dan memasukkannya ke saku kanannya.


Saat sedang memasukkannya, Revan terkejut karena ada seseorang yang memanggilnya.


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.

__ADS_1


Iyi Gecerler! all❤.


__ADS_2