SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 84


__ADS_3

BAB 84


Dua tahun pun telah berlalu...


Asha masih menangis tanpa suara sambil menatap benda kecil yang berada di genggaman nya. Ingatannya terlempar jauh ke satu tahun yang lalu, dimana dia meminta sesuatu hal yang akan membuat dia sangat menyesal jika hal tersebut sampai terjadi.


Flashback on


Disaat semua orang sedang sibuk sarapan, Asha meletakkan sendoknya di piring dan mulai berdehem. Dia memberanikan diri untuk mengambil atensi semua orang yang sedang asyik sarapan.


"Ma, Pa Asha mau bicara sebentar boleh?" Ucap Asha ragu-ragu sambil mencengkeram bagian bawah gaunnya. Ella dan Rendi pun hanya menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Asha untuk berbicara.


"Emm, gini Ma Pa. Kan Asha sama Bang Revan udah satu tahun menikah bahkan lebih, dan kita belum punya momongan. Gimana kalau Abang menikah lagi dan mencari wanita lain, ya supaya bisa memberi keturunan untuk Abang." Ucap Asha lirih sambil menundukkan kepalanya.


Deg!


Sontak semua orang pun terkejut bukan main dengan apa yang dikatakan oleh Asha. Semua orang yang sedang menelan makanan sambil menatap Asha pun tersedak dan segera meminum air. Alden, Khansa, Aurora, dan Nathan pun hanya saling melempar pandangan dan menautkan alisnya bingung.


"Sayang! Kamu ngomong apa sih?! Jangan aneh-aneh ya, Abang nggak suka!" Ucap Revan sambil memembalikkan badannya kesamping dan menatap sang istri.


Asha yang dibentak untuk pertama kalinya oleh sang suami pun semakin menundukkan kepalanya.


"Kamu jangan pernah bilang gitu, Nak! Mungkin Allah belum mempercayakan hal tersebut kepada kalian. Kamu pasti berpikir jika dimadu itu mudah, kamu akan hidup bahagia bertiga begitu? Nggak semudah itu, Nak!" Ucap Ella menerangkan kepada sang menantu.


Asha pun mengangkat kepalanya dan segera menggelengkan kepalanya cepat. Matanya sedikit memanas ketika mendengar kata dimadu.

__ADS_1


"Maksud Asha bukan gitu, Ma! Abang bisa pilih. Kalau Abang mau nikah lagi dan nggak mau pisah sama Asha, Asha akan pindah rumah supaya nggak akan ada pertengkaran. Atau yang lebih mudah lagi kalau Abang mau pisah sama Asha, itu akan lebih baik lagi." Ucap Asha sambil mengelap air matanya yang mengalir di pipinya.


"Asha! Jangan pernah mengatakan kata terlarang itu, Nak! Nggak ada pasangan yang mempunyai mimpi untuk berpisah dengan pasangannya. Mereka berusaha untuk bertahan satu sama lain dalam apapun keadaannya. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan masalah momongan, Sha. Kamu bisa adopsi anak dulu selagi menunggu anak kalian hadir." Ucap Rendi menasehati sang anak.


"Maafin Asha, Pa. Asha udah nggak tau mau gimana lagi. Kasian Abang, Pa. Seharusnya diusia seperti sekarang ini, Abang bisa gendong bayi. Tapi sampai sekarang Allah belum titipkan malaikat kecil di perut Asha." Ucap Asha semakin lirih sambil menundukkan kepalanya.


Revan hanya menggelengkan kepalanya dengan perkataan sang istri. Bagaimana bisa Asha memiliki pemikiran untuk berpisah dengan dirinya.


"Abang kecewa sama kamu, Sha!" Ucap Revan dengan nada datarnya sambil berjalan menuju lantai atas untuk kembali ke kamarnya. Asha pun mendongakkan kepalanya dan menatap kepergian sang suami.


Ella pun menatap sang menantu dan menganggukkan kepalanya meminta agar Asha menyusul sang suami. Asha pun hanya menganggukkan kepalanya paham dan segera berjalan cepat menyusul sang suami.


Sementara Rendi dan Ella hanya memijat pelipisnya.


"Kenapa Asha sampai berpikir seperti itu, Ma. Apakah diantara kita ada yang menyinggungnya tentang masalah momongan?" Tanya Rendi sambil menolehkan kepalanya menghadap sang istri dan anak-anaknya.


"Iya kok Pa, nggak ada sama sekali yang minta biar Abang sama Teteh cepet-cepet punya anak." Ucap Alden mewakili suara hati adik-adiknya yang lain.


Sementara Asha, dia memutar knop pintu milik kamar sang suami dan berjalan maju mendekati Revan yang sedang berbaring membelakangi pintu kamar.


Asha pun naik ke atas kasur dan merangkak mendekati badan kekar sang suami. Setelah berhasil duduk dibelakang tubuh sang suami, Asha pun mengelus rambut milik suami nya.


"Abang jangan marah sama Asha. Asha nggak mau Abang diemin Asha gini." Ucap Asha dengan nada yang gemetar menahan tangis. Sementara Revan yang sedang emosi pun hanya memejamkan matanya dan menahan dirinya agar tak mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti hati sang istri.


"Bener kan, apa yang dulu Asha pernah bilang ke Abang. Entah kenapa Asha udah ada firasat sejak pertama kali Abang nyinggung soal ibu. Asha takut kalau ternyata Asha lah yang jadi penyebab kita belum punya momongan." Ucap Asha sambil mengelus perlahan punggung sang suami.

__ADS_1


Tak terasa, air matanya kembali mengalir membasahi kedua pipi gembul milik Asha.


"Abang ngomong sama Asha. Jawab Asha, Bang. Jangan cuma diem aja, Asha nggak suka." Ucap Asha dengan air mata yang semakin deras mengalir.


"Hiks... hiks... hiks..." Revan pun membuka matanya ketika mendengar suara tangisan sang istri. Dengan perlahan dia membalikkan badannya dan menatap sang istri yang sudah menangis sambil menundukkan kepalanya.


Revan pun memindahkan kepalanya kepangkuan Asha dan memeluk pinggang sang istri erat.


"Asha jangan nangis. Abang nggak mau liat Asha nangis lagi. Abang diemin Asha supaya Asha bisa instrospeksi sama diri Asha sendiri. Apa yang kamu katakan tadi adalah kata yang paling dibenci sama Allah. Asha tau kan?" Ucap Revan dengan nada seraknya sambil menenggelamkan kepalanya di perut rata milik sang istri.


Asha pun henya menganggukkan kepalanya meskipun sang suami tak dapat melihatnya.


"Memang Asha mau kalau sampai Abang menikah lagi dan memiliki anak dari wanita lain?" Ucap Revan sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang istri.


Asha pun menggelengkan kepalanya kuat sambil menghapus air matanya dan merebahkan dirinya disamping sang suami. Asha menatap netra cokelat milik sang suami dan mengelus rahang tegas milik Revan yang mulai ditumbuhi rambut tipis. Dan ya, Asha pun kembali menangis.


"Asha nggak rela kalau Abang nikah sama wanita lain. Asha nggak tau, apakah Asha bisa hidup kalau melihat Abang bahagia sama wanita lain. Asha tau kalau Asha egois, tapi Asha emang bener-bener nggak mau kehilangan Abang." Ucap Asha dengan suara parau disertai tangisan pilunya sambil memeluk erat sang suami.


Revan pun memeluk erat sang istri dan meneteslah air mata yang sedari tadi dia pendam.


"Abang nggak akan pernah melakukan seperti apa yang Asha suruh tadi! Biarin aja, meskipun kita nggak akan pernah bisa punya anak. Toh kita juga masih bisa adopsi bayi seperti yang Mama bilang tadi, bukan? Biarkan orang lain ingin berbicara apa tentang kita." Ucap Revan sambil menenggelamkan kepalanya di bahu sang istri.


Berakhirlah mereka berdua yang masih saja mengobrol santai tentang masa depan mereka dengan posisi yang sama. Syukurlah Revan dapat menghempaskan pikiran tersebut dari otak sang istri.


Flashback off

__ADS_1


Asha yang masih menangis tersebut pun mengucapkan syukur yang sebanyak-banyaknya dalam hati. Asha terkejut bukan main karena seseorang membuka pintu dengan tiba-tiba.


__ADS_2