SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 13


__ADS_3

Revan terkejut karena adiknya tiba-tiba masuk ke kamar Asha. Revan hanya mengelus dadanya sembari mengatur nafasnya yang memburu.


"Astagfirullah dek, kalau masuk ruangan itu ketuk pintu atau salam dulu gitu kek. Main masuk aja, kaget kan Abang jadinya." Ucap Revan sambil berbalik menghadap adiknya.


"Iya maaf, Bang itu tadi Papa manggil kita buat salat subuh berjamaah sama yang lainnya juga. Abang udah selesai kan?" Tanya Alden menatap sang kakak. Revan hanya mengangguk dan berjalan mendekati Alden.


"Kakak udah selesai. Ya udah kita ke musala sekarang ya." Ucap Revan sambil menggiring Alden keluar dari kamar Asha.


"Loh kok Mbak Asha sama Aurora ditinggal. Nggak dibangunin dulu buat salat subuh? Nanti tidur lagi nggak papa kan." Ucap Alden bingung.


"Mereka non muslim. Mereka berbeda agama dengan Sara, Reza, dan Khansa. Jadi, ayo kita ke musala sekarang." Jawab Revan sambil menutup pintu kamar Asha perlahan.


Alden pun hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Abangnya ke musala tempat dia berwudhu tadi. Saat melewati depan kamar Sara, Alden bertanya kepada Sara. Karena melihat Sara memasuki kamar, bukan ke mushola.


"Nggak salat Sar?" ucap Alden sembari tetap berjalan mengikuti langkah Abangnya. Sara yang mendengar perkataan Alden pun menoleh kearah Alden dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak, lagi batal. Kalian duluan aja,


udah rame di sana." Ucap Sara sambil membuka pintu kamarnya. Alden pun hanya menganggukkan kepalanya dan terus berjalan. Sampai ia pun berhenti di depan musala karena Abangnya pun berhenti.


Ternyata musala di rumah Sara sudah dipenuhi dengan orang-orang yang menjaga jenazah Pak Malik. Jadi terpaksa, mau tidak mau Alden pun mengantri untuk salat subuh.


Memang musala dirumah Sara hanya muat untuk 11 orang. 1 untuk imam, barisan pertama untuk 5 orang, dan 5 orang lagi untuk makmum.


Alden pun duduk di kursi yang berada di depan pintu musala.


Sementara Khansa yang baru saja akan berjalan ke musala pun tiba-tiba berhenti karena melihat Alden suduk didepan musala. Khansa pun menutup sebagian mukanya dan berbalik menuju kamarnya.


Dia berpikir, sebaiknya dia sholat di kamar saja. Namun nahas, belum sempat melangkahkan kakinya tiba-tiba Alden berbicara.


"Nggak usah balik, Lo kira Gue nggak lihat Lo gitu? Lebih utama kalo sholat berjamaah. Udah sini tunggu bentar lagi juga selesai." Ucap Alden sambil memperhatikan Khansa.


Dengan berat hati Khansa memutar tubuhnya menghadap ke Alden. Malu lah ya, mau kabur tapi malah ketangkap basah. Khansa mengambil nafasnya dalam-dalam dan membenarkan posisi mukena nya yang sedikit bergeser.


Khansa berjalan maju dan duduk diseberang Alden. Alden yang melihat hal itu pun hanya menyerit heran, lalu ia pun bertanya.


"Ngapain duduk situ Sa? Kan disebelah Gue juga masih ada tempat duduk. Cukup buat 3 orang malah." Tanya Alden pada Khansa. Khansa yang sedang melipat sajadahnya pun berhenti dan menatap Alden.


"Nggak usah kak, Khansa disini aja. Lagian juga udah wudhu." Ucap Khansa sambil meneruskan acara melipat sajadahnya. Alden pun hanya manggut-manggut tak jelas.


Tak berselang lama, para bapak-bapak dan ibu-ibu pun keluar dari musala. Revan yang melihat adiknya masih diluar pun bingung.


"Lho Den, kok belum sholat?" Tanya Revan pada Alden. Alden mengatakan bahwa dia tadi buang air kecil dulu, sehingga sedikit lama.


Revan pun beralih menatap Khansa. Khansa yang ditatap pun hanya menundukkan kepalanya.


"Yaudah, coba panggil siapa lagi yang belum sholat. Jangan cuma berdua aja, kalian belum muhrim." Ucap Revan sambil melenggang pergi. Khansa pun hanya menatap Alden. Alden pun mengangguk dan berjalan menuju ruang tamu.

__ADS_1


"Maaf, bapak-bapak atau ibu-ibu. Ada yang belum sholat subuh?" Tanya Alden sopan. Semua orang yang ada di sana pun mengatakan bahwa mereka sudah selesai sholat subu barusan.


Alden pun berjalan kembali lagi ke musala dan mendapati Khansa yang sudah di dalam musala.


"Kita sholat munfarid aja ya Sa? Soalnya mereka semua sudah selesai sholatnya." Ucap Alden sambil berjalan melewati Khansa. Khansa pun hanya bisa mengangguk, lalu menunaikan kewajibannya.


Selesai salam, mereka berdo'a terlebih dahulu. Khansa yang sudah selesai sholat pun beranjak keluar musala, lalu diikuti. Khansa berbelok kearah tangga dan naik keatas kamarnya. Alden pun hanya melongokkan kepalannya ke lantai atas.


"Kamarnya di atas kah?" Tanya Alden pada dirinya sendiri, dan dia pun hanya mengendikkan bahunya. Alden pun berjalan menuju ruang tamu dan berkumpul bersama orang-orang yang lain.


Setelah bagaskara menampilkan cahaya terbaiknya pada bumi, semua orang telah berkumpul di depan rumah Sara. Sebuah mobil dengan merek range rover berhenti didepan halaman rumah Sara.


Keluarlah seorang wanita yang usia nya mungkin hampir menyentuh angka 50 namun masih terlihat muda. Muka nya yang terlihat khawatir pun tidak megurangi kecantikannya.


Dia adalah Ella, istri dari Rendi. Ella berjalan mendekati suaminya dan menyalaminya.


"Assalamualaikum Pa, gimana keadaan anak-anak? Ini mau langsung berangkat ke TPU?" Ucap Ella sambil menengok kekanan kiri.


"Anak-anak ada didalam, kita udah mau berangkat. Tapi nunggu ambulans dulu." Jawab Pak Malik sambil berjalan masuk kedalam bersama istrinya.


Ella yang melihat jenazah Malik pun berjalan mendekatinya. Ia sempat menangis karena ia merasa sangat kehilangan sahabat baiknya.


"Malik, kenapa kau meninggalkan kita semua. Kau lihat kan, anak-anak mu masih sangat membutuhkanmu. Bangun dulu Lik, apa kau tega meninggalkan sahabat baikmu ini?" Ucap Ella disela tangisnya.


Rendi yang melihatvistrinya menangis pun berjongkok dan menenangkan. Asha dan yang lainnya yang baru keluar dari kamar pun bingung, siapa wanita itu.


Revan yang mengetahui maksud dari tatapan mereka pun berjalan mendekati Asha.


"Aduh, Asha apa yang kau lakukan?" Ucap Revan sambil memegang dagunya yang sakit. Revan meringis kesakitan karena bibir bagian bawahnya tergigit olehnya.


Asha pun mengelus dagu Revan sambil meniupnya. Walaupun dahinya juga sakit, tapi melihat Revan yang kesakitan pun membuat dia jadi lupa akan sakitnya.


Sara dan adik-adiknya pun melotot melihat hal itu, tak lupa juga Alden. Sara pun berdehem, diikuti juga yang lainnya. Asha pun seketika menghentikan kegiatannya mengelus dagu Revan.


Ella yang selesai menangis dan menatap Asha pun tersenyum tipis. Dia mengelus lengan Malik yang terbungkus kain kafan.


"Aku akan jaga anak-anakmu dengan sepenuh hati. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti mereka. Pegang janjiku padamu Malik." Akhiri Ella. Ella pun berjalan menuju Asha dan anak-anaknya berdiri.


"Ini kenapa kok pada tegang-tegang gini." Sapa Ella pada mereka semua. Ella pun melangkah mendekati Asha dan memeluknya. Asha yang dipeluk secara mendadak tubuhnya hanya bisa menegang.


Revan pun menganggukan kepalanya perlahan, meyakinkan Asha untuk membalas pelukan Mamanya. Asha pun dengan mantap memeluk wanita didepannya. Ella mengelus kepala Asha sayang.


Setelah beberapa saat memeluk Asha, Ella pun melepaskan pelukannya. Dia beralih menyalami adik-adik Sara. Ella berhenti didepan Aurora dan memperkenalkan dirinya.


"Nama Bibi, Ella. Istrinya Paman Rendi. Kalian memang sangat mirip dengan Ayah kalian. Dan kau Asha, Bibi sangat rindu padamu. Apakah kau benar-benar Asha kecil ku yang dulu?" Ucap Ella tak percaya.


Asha pun hanya mengangguk. Saat sedang asyik menyapa, obrolan mereka terhenti karena suara ambulans datang. Semua orang berjalan mengiringi jenazah Malik sampai kedalam ambulans.

__ADS_1


Sara hanya berdiri di barisan paling belakang. Air matanya tak bisa diajak kompromi. Sara hanya menangis tanpa suara melihat Ayahnya yang akan meninggalkan mereka semua. Saat semua orang sudah masuk kedalam mobil masing-masing, Sara hanya diam mematung.


Ella yang melihat hal itu pun berbalik arah menuju Sara.


"Apakah kau tidak akan mengantarkan Ayahmu ke tempat peristirahatan terakhirnya?" Tanya Ella sambil berjongkok dihadapan Sara.


Sara hanya menggelengkan kepalanya. Sara mengatakan bahwa dia sedang haid, jadi tak bisa memasuki TPU. Ella yang paham pun berjalan menuju ke arah mobilnya.


Ella mengatakan pada suaminya agar meninggalkan dirinya bersama Sara. Pak Rendi yang mengerti pun hanya mengangguk dan memulai perjalannya.


Pak Rendi memberi instruksi kepada sopir ambulans untuk segera ke pemakaman. Ella pun kembali kedalam untuk menemani Sara.


Alarm ambulans pun dinyalakan. Iring-iringan jenazah pun mulai berjalan. Sara yang baru sadar dari acara melamun nya pun sontak kaget dan langsung berdiri. Ella pun ikut berdiri karenanya.


"Ayah... ayah jangan tinggalin Sara. Sara nggak mau sendiri tanpa Ayah. Tunggu Sara Yah." Teriak Sara sambil berlari keluar rumah dengan tangisnya.


Ella yang melihat itu pun berlari mengejar Sara. Sara pun berhenti karena Ella mendekapnya dari belakang.


"Sara, jangan seperti ini Nak. Ikhlaskan saja. Ayahmu sudah tenang di alam sana. Jangan buat Dia sedih." Ujar Ella disertai tangisnya. Dia pun tiba-tiba ikut sedih, karena mendengar suara Sara yang sudah serak namun masih menangis.


Ella masih mencoba untuk menenagkan Sara beriringan dengan perginya semua orang. Sara pun hanya bisa menangis sambil memanggil Ayahnya yang sudah pergi.


Ella mencoba untuk membawa Sara kembali masuk ke rumah.


Setelah berhasil, badan Sara pun langsung luruh kelantai. Pandangannya yang kosong serta mulutnya yang masih setia memanggil Ayahnya, walau tanpa suara. Ella pun maju dan berjongkok didepan Sara. Dia pun memeluk Sara erat.


"Kenapa Ayah ninggalin kita Bi? Apa Ayah sudah tidak sayang lagi sama Sara dan adik-adik?" Tanya Sara dengan suara serak kepada Ella.


Ella hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menahan agar air matanya tak tumpah lagi. Dia mencium kening Sara penuh kasih sayang. Perlahan lahan, Sara pun kehilangan kesadarannya.


Ella yang tak lagi mendengar tangisan Sara pun kaget. Dia mencoba untuk memanggil nama Sara berulang kali, namun tidak ada hasilnya. Dia yang ingin mengangkat Sara pindah ke kamarnya pun tak kuat. Ella pun menelepon nomor anak keduanya untuk datang ke rumah Sara.


"Sayang, bisakah kau datang ke rumah Paman Malik? Kau masih di apartemenmu kan?" Tanya Ella dengan nada khawatir kepada anaknya nomor dua.


"Iya Ma, Aku masih ada di apartemen. Baiklah aku akan segera kesana." Ucap sang anak kepada Ella. Ella yang tahu anaknya akan datang pun sedikit tenang.


Ella berusaha membawa Sara untuk bersandar di bagian bawah sofa. Setelah selesai, Ella pun berjalan menuju pintu utama dan menunggu kedatanhan anaknya.


Setelah 15 menit berlalu, datanglah mobil dengan tipe yang sama seperti mobil Ella. Keluarlah pria bertubuh atletis dari mobil tersebut. Pria itu yang melihat sang Mama telah menunggu pun berlari kecil kearahnya.


"Assalamualaikum Ma, kenapa Mama bisa khawatir gitu sih suaranya. Terus kenapa tiba-tiba suruh aku buat kesini." Tanya sang anak sambil mencium tangan Mamanya.


"Wa'alaikumsalam, itu anak nomir duanya Pak Malik pingsan. Tolong kamu angkatin ya, Mama takut terjadi sesuatu kepadanya." Jawab Ella sambil menyeret sang anak masuk kedalam rumah Sara.


Ella pun memperlihatkan seorang gadis berjilbab hitam yang tergeletak tak sadarkan diri. Sang anak pun kaget bukan kepalang. Elah, lebay amat bahasanya.


"Dia kan..." Ujar sang anak yang membuat Ella menoleh.

__ADS_1


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.


__ADS_2