SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 79


__ADS_3

Sara berteriak memanggil sang Papa yang menyetujui permintannya. Sara pun merentangkan tangannya, meminta agar sang Papa mendekat dan memeluknya.


"Papanya Sara!" Teriaknya sambil menggerakkan kedua lengannya yang terentang disamping badannya. Rendi pun tersenyum geli melihat tingkah lucu Sara. Dengan segera, Rendi pun berjalan dengan cepat mendekati sang istri dan sang anak yang sudah menunggunya.


Rendi memeluk erat tubuh putrinya. Dia juga mencium puncak kepala milik Sara dan mengelusnya penuh kasih sayang. Ella yang melihat sang suami hanya memeluk sang anak pun menyebikkan bibirnya. Rendi yang melihat hal tersebut pun tergelak dan merentangkan sebelah lengannya agar sang istri bisa ikut berpelukan.


Akhirnya mereka bertiga pun berpelukan seperti teletubis. Setelah beberapa saat, Rendi pun melepaskan pelukan tersebut dan mencium dahi kedua wanita yang sangat berarti di dalam hidupnya.


"Papa kok ngizinin Sara sih? Mama nggak mau anak-anak jauh dari kita." Ucap Ella sambil menarik-narik jas berwarna navy milik sang suami. Rendi pun hanya menggelengkan kepalanya perlahan dan mengelus pipi sang istri. Sementara Sara, dia sudah duduk kembali karena dirinya tak bisa berlama-lama untuk berdiri.


"Kamu melupakan satu hal, sayang. Apakah kau lupa? Dia Sara. Sara Arraselli. Gadis kecil yang selalu kekeuh akan pendapatnya dan tidak pernah berhenti untuk berusaha sebelum keinginannya dituruti oleh Malik. Dia gadis kecil yang sangat cerdas dan aktif. Dia selalu memiliki berbagai sifat unik yang membuat dia berbeda dengan saudari-saudarinya yang lain." Ucap Rendi sambil membimbing agar sang istri duduk.


"Papa akan siapkan keberangkatanmu. Kau akan berangkat tiga hari lagi bukan? Maka bersiap-siaplah. Cepat pulihkan kesehatanmu. Papa sudah daftarkan kamu ke UGM. Seperti keinginanmu." Ucap Rendi santai yang membuat Sara senang bukan kepalang. Sara berulang kali mengucapkan terimakasih dan mengatakan bahwa dirinya sangat menyayangi Rendi.


...*************************...


Revan yang sudah selesai dengan kegiatan panasnya bersama dengan Asha pun mencium perut putih milik Asha dan berdo'a disana. Selesai dengan do'anya, Revan pun berbicara dengan nada yang sedikit lirih.


"Semoga Revan junior segera hadir diperut kamu, ya Sayang." Ucapnya perlahan sambil mengecup perut sang istri sekali lagi. Asha yang mendengar perkataan sang suami hanya bisa mengaminkan do'a sang suami dengan penuh keyakinan di dalam hatinya. Mata Asha sudah tertutup rapat, namun dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Makasih ya, Sayang. Abang berjanji kepada Allah agar tak pernah menyakiti Asha dan meninggalkan Asha dalam keadaan apapun. Abang sayang sama Asha." Ucap Revan sambil menaikkan selimut untuk menutupi tubuh sang istri yang masih polos, lalu Revan pun mengecup bahu milik Asha yang masih terekspos bebas.


Revan pun memeluk tubuh Asha dari belakang dan tidur nyenyak menyusul Asha yang sudah berangsur pergi ke alam mimpi.


...***********************...


Tiga hari pun telah berlalu. Tepat hari ini, Sara akan berangkat ke Jogja. Dia sudah bangun pagi dan mulai menyiapkan semua barang-barang yang dia packing kemarin. Sara berjalan menunju kamar kedua adiknya dan memgajak mereka untuk sarapan kerumah Ella.


Setelah semua bangun, Sara pun mengambil nafasnya dalam-dalam dan berjalan melewati jalan pintas yang dibuat oleh Ella. Dia berjalan ke arah kiri dan membawa tubuhnya mendekati meja makan. Di meja makan, sudah ada Alden, Rendi, Ella, dan Nathan.


"Assalamu'alaikum Pa, Ma. Pagi Nathan." Ucap Sara dengan senyum yang mengembang. Sara masih berdiri di seberang meja dan berhadapan langsung dengan sang Papa, namun terhalang oleh meja makan berbentuk persegi panjang tersebut.


"Teross, nggak usah disapa nggak papa. Lagian kalo disapa sama orang gendeng kek Sara, takut ketularan Gue nya." Ucap Alden emosi sambil menghentakan tempat selai kembali ketempatnya. Ella yang mendengar perkataan Alden pun melotot.

__ADS_1


Sara tak menggubris ucapan Alden, dia hanya memainkan ujung gamisnya dan memutar badannya kekiri dan kekanan seperti anak kecil dengan senyum yang masih tercetak jelas dibibirnya.


"Lo sarap, Sar? Gua jadi takut kalo liat Lo senyum-senyum nggak jelas gitu." Ucap Alden sambil bergidik menatap Sara.


"Udah, Sar cukup! Gue takut beneran!" Sambung Alden sambil menatap Sara bingung.


"Hentikan Delilah, aku sudah muak!" (Hah persis kek Suhu Karita kalo lagi rempong✌) Bentak Alden dengan nada letoynya yang membuat Sara seketika membuka matanya.


"Den! Lo nggak belok kan? Kok bisa gitu sih suaranya. Ih, Ma! Sara takut. Ada bencong..." Ucap Sara dengan nada histerisnya yang membuat Alden berdiri dan mengejar Sara.


Belum sampai menggapai jilbab Sara, Khansa sudah berdiri didepan Alden mendadak dengan mengangkat kedua tangannya dipinggang. Telat perhitungan saja, sudah bisa dipastikan kalau Khansa berada di pelukan Alden.


"Mbak Sara nya udah mau pergi loh, Kak. Jangan ribut gini ah, nggak baik. Udah sekarang balik duduk, terus kita sarapan. Kita hampir telat loh, Kak." Ucap Khansa lembut sambil menggiring Alden kembali ke kursi makan.


Sara dan yang lain pun melongo tak percaya. Alden, anak yang paling bandel hasil produksi Ella dan Rendi dengan gampangnya mengikuti perintah Khansa.


"Ah makin gampang buat ngatur si Alden, Pa. Ada Khansa." Ucap Ella bangga sambil menatap Khansa yang duduk diseberang Alden. Rendi pun hanya menggekengkan kepalanya. Dia bersyukur atas kebetulan yang terjadi antara dirinya dan Malik. Dia memiliki 4 putra, dan Malik memiliki 4 putri.


"Semringah amat. Ini bau-bau dikasih jatah ini mah. Bener kan, Pa? Papa juga gini kalo habis dijatah sama Mama." Ucap Alden santai sambil memasukan nasi goreng buatan sang Mama. Semua orang pun melotot menatap Alden terkejut.


"Rora nggak denger! Rora masih polos!" Ucap Aurora heboh sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat. Rendi dan Revan pun hanya menampakkan muka tegang mereka, takut semua orang tahu.


"Den, jangan malu-maluin Papa sama Abang dong. Lo pasti juga gitu besok kalo dah nikah." Ucap Sara sambil menarik kursi makan dan mengambil buah apel yang ada didepannya.


"Mulut si Abang emang gitu, Mbak. Kak Sa, besok kalo nikah pas lagi haid aja ya? Biar ngerasain puasa. Mati kau, Bang!" Ucap Nathan sambil menggerakkan jempolnya dekat leher dan membuat isyarat mengiris lehernya. Seketika Alden pun melotot.


"Jangan ya, Sa. Kalo bisa kita nikah setelah kamu selesai haid. Biar cepet jadi pesenan cucunya Mama. 6 kan, Ma?" Ucap Alden yang langsung membuat Khansa tersedak nasi. Asha yang melihat sang adik tersedak pun berjalan cepat dan langsung menepuk pelan punggung sang adik.


Setelah selesai sarapan, Alden, Khansa, Nathan, dan Aurora pun pamit untuk berangkat sekolah. Sementara Rendi dan Revan masih bersantai karena belum waktunua mereka berangkat.


Sara yang mendengar suara klakson taksi didepan rumahnya pun bergegas mengeluarkan semua barang-barangnya. Rendi, Ella, Asha, dan Revan pun berjalan mendekati Sara yang sedang membantu sopir taksi untuk memasukkan barang-barangnya.


"Papa, Sara pamit dulu ya? Sara minta do'a nya ya, Pa? Sara sayang Papa." Ucap Sara sambil menyalami tangan Rendi dan memeluknya erat. Rendi pun hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sara juga melakukan hal yang sama kepada sang Mama dan kedua kakaknya. Sara memang mengatakan kepada semua orang agar tak mengantarkannya ke bandara. Dia tak mau sedih dan alhasil tak jadi pergi ke Jogja.


Setelah berpamitan, Sara pun memasuki taksinya dan meminta agar sang sopir melajukan taksinya. Sara hanya melambaikan tangannya sambil menatap sang kakak dan Mama yang sedang menangis.


Setelah terbawa cukup jauh, Sara pun menundukkan kepalanya dan luruh sudah air matanya. Sara menangis tanpa suara. Bagaimana tak sedih? 18 tahun dia hidup dengan segala sesuatu yang berbau tangan Asha, lalu kali ini dia harus pergi dan hidup sendiri.


Sang sopir taksi pun bertanya apa masalah Sara. Sara yang diajak mengobrol pun lupa dengan sedihnya. Dia bercerita pajang lebar dengan sang sopir. Sang sopir pun terkagum dengan sikap ramah Sara.


Saking asyiknya bercerita, Sara tak sadar jika mereka sudah sampai di bandara. Mereka berdua pun keluar dari taksi dan menurunkan semua barang-barang milik Sara. Sang sopir pun lagi-lagi terkejut karena Sara juga ikut menurunkan barang-barang miliknya.


Mbaknya baik banget. Jarang banget ada wanita yang mau repot-repot bantu nurunin. Mereka lebih milih buat berdiri anteng, dan endingnya cuma nambah tip. Oh mungkin Mbaknya nggak mau kasih tip kali. Batin sang Bapak salah sasaran.


Bapak tersebut pun terkejut karena Sara memberinya uang tip yang jumlahnya lebih banyak daripada tarif normalnya.


"MasyaAllah makasih banyak Mbak. Lancar terus rezekinya ya." Ucap Sang Bapak sambil menundukkan kepalanya.


Sara pun hanya tersenyum dan membawa semua barangnya memasuki bandara dengan troli dan duduk di area check in. Memang Sara sengaja berangkat lebih awal agar tak terlambat.


Saat sedang duduk dengan santai dan menjelajahi sosial medianya, tiba-tiba Alden memvideo call nya. Sara pun mengernyit heran namun tetap mengangkatnya.


Pemandangan pertama yang Sara lihat di layar ponselnya pun langsung membuatnya emosi seketika.


"Gue nggak mau ngotori tangan Gue buat orang seperti mereka. Gue serahin ini sama Lo. Lo orang yang tepat untuk iblis seperti dia!" Ucap Alden sambil mengarahkan kamera poselnya kearah depan.


"Share loc sekarang, Den!" Ucap Sara penuh emosi dengan mata yang sudah berembun.



Mampir ke cerita baru Kayenna yuk kakak-kakakšŸ¤—. InsyaAllah cerita Kayenna ini akan ongoing bersamaan dengan SSI. Lantas buat yang tanya. Terus cerita ini?



Ini juga akan dilanjutkan setelah mereka menikah di SSI ya. Terimakasih semua, Iyi Gecerler allā¤.

__ADS_1


__ADS_2