SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 16


__ADS_3

Ella dan Rendi pun menghampiri anak-anak yang berada di kamar Asha. Ella berjalan mendekati Sara, lalu duduk disebelah Sara.


"Sara, Bibi mau menyampaikan sesuatu. Ini buat Khansa, Aurora, dan Reza juga. Tapi alangkah lebih baiknya lagi kalau Asha sudah siuman." Ucap Ella sambil mengelus puncak kepala Asha.


Ella juga bertanya kepada ketiga anaknya yang sedang duduk di sebelah ranjang Asha.


"Abang, Mas Ethan, sama Alden mau pulang sekarang atau mau tetap disini? Soalnya Mama sama Papa masih mau disini." Tanya Ella kepada anak-anaknya.


"Abang nunggu disini aja, soalnya Abang belum ada operasi lagi. Abang juga udah izin nghak masuk buat hari ini." Jawab si sulung, Revan.


"Kalau Alden ngikut Mama aja. Khansa sama Sara aja nggak sekolah. Masa Alden sekolah, nggak adil Ma." Jawab Alden disertai alasannya untuk tidak masuk sekolah. Ella dan Rendi pun hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Alden.


Sedangkan Ethan, dia hanya diam. Kakinya yang diangkat sebelah dan tangan yang terlipat rapi di dada pun hanya mencari posisi yang lebih nyaman sebelum menjawab pertanyaan mama nya.


"Ethan disini aja Ma, ngapain pulang. Kuliah juga udah selesai, masuk sekolah penerbangan masih bulan depan juga." Jawabnya santai sambil memebenarkan maskernya.


Alden yang jengah dengan masker kakaknya, tangannya pun bergerak maju untuk melepas masker Ethan. Belum sempat terbuka, Ethan sudah menghempaskan tangan Alden keras.


"Ngapain sih Lo? Jangan usil deh. Gue nghak pernah ganggu Lo ya!" Bentak Ethan pada adiknya. Ella yang mendengar anaknya membentak sang adik pun menegur Ethan.


"Mas Ethan, jangan bentak-bentak gitu ya. Mama nggak suka." Tegur Ella kepada Ethan. Ethan pun hanya melirik kearah Alden, begitupun juga Alden.


Asha yang mendengarkan keributan pun siuman dari pingsannya. Asha mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya. Sara yang melihat kakaknya bangun pun membantu Asha untuk bangun.


Asha yang dibantu bangun pun hanya pasrah. Sara juga menempatkan bantal di belakang punggung Asha, agar Asha merasa nyaman. Asha yang sudah teringat semuanya pun ingin menangis. Namun, dia tunda karena dikamarnya sedang banyak orang.


"Sara..." Panggil Asha lirih. Sara yang dipanggil pun menoleh kearah kakaknya, Sara melihat mata kakaknya yang sudah berair. Sara yang paham pun, mendekat dan memeluk kakaknya.


Asha pun akhirnya menangis dipelukan Sara tanpa suara. Sara membisikan sesuatu kepada sang kakak.

__ADS_1


"Jangan nangis Teh, jangan sampai adik-adik tahu. Nanti mereka banyak pikiran. Tahan Teh, jangan tunjukin air mata Teteh." Ungkap Sara. Asha pun menganggukkan kepalanya di dalam dekapan Sara dan mulai menghapus air matanya.


Sara melepaskan pelukannya dari kakaknya dan tersenyum pada kakaknya. Rendi yang melihat Sara sudah siuman pun berjalan mendekatinya dan mengangkat kursi yang tadi ia tempati menuju samping ranjang Asha.


"Alhamdulillah Asha sudah sadar. Dan karena Asha sudah sadar, maka Paman akan memberikan pengumuman kepada kalian semua." Ucap Pak Rendi sambil menatap sang istri. Ella yang ditatap pun hanya menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa Rendi boleh mengatakannya.


"Paman dan Bibi berniat akan mengasuh kalian berlima. Jadi Paman ingin meminta persetujuan dari kalian berlima." Tanya Pak Rendi sambil mengelus kepala Asha.


Asha yang terkejut pun hanya menggelengkan kepalanya dan bingung akan menjawab apa. Tak lupa juga dengan Sara, Khansa, Aurora dan Reza.


"Maaf Paman, bukannya kami menolak. Tetapi kami hanya merasa tidak enak, karena mau bagaimanapun Paman dan Bibi juga memiliki anak. Kami tidak ingin merepotkan Paman dan Bibi lagi." Ucap Asha sopan.


Ella yang mendengar jawaban dari Asha pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Asha.


"Siapa yang mengatakan bahwa Paman dan Bibi merasa direpotkan? Bibi tidak merasa repot Sha. Kau tahu, ketika siang Bibi hanya diam saja dirumah. Semua anak Bibi laki-laki, dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing." Jelas Ella.


"Bang Revan, udah kerja. Seharian penuh dia berada diluar rumah. Mas Ethan, dia sudah punya apartemen sendiri. Dia juga akan pergi sekolah penerbangan selama 2 tahun. Lalu Alden, dia hanya diam saja di dalam kamar. Bibi kesepian Sha." Pinta Ella memelas.


Asha pun masih menolak secara halus permintaan dari Ella dan Rendi. Namun, Ella tak kehabisan cara. Dia tetap mencari berbagai alasan untuk bisa mengasuh Asha dan adik-adiknya.


"Maaf Bi, tapi Asha tak mau jika Bibi terlalu fokus kepada kita. Kasihan nanti Bang Revan dan yang lain. Asha akan berusaha semaksimal mungkin untuk merawat adik-adik. Jika Bibi ingin berkunjung maka rumah ini akan selalu terbuka, percayalah Bi." Tolak Asha secara lembut.


Ella yang ditolak pun menatap sang suami. Matanya berkaca-kaca. Ella sangat menginginkan agar dia bisa kembali merawat Asha dan adik-adiknya. Ella memang tulus menyayangi anak dari sahabatnya itu.


"Sudahlah Ma, kita hargai keputusan Asha. Kau masih bisa bertemu dengan mereka. Jika Kau mau, Kau bisa menginap disini. Aku tidak akan melarangmu. Dan bila Kau kesepian, datanglah kemari." Ucap Rendi sambil berjalan mendekati istrinya. Rendi memeluk istrinya yang menangis di dadanya.


Asha meminta maaf kepada Ella. Asha memang tak ingin merepotkan orang lain. Dia ingin merawat adik-adiknya dengan tangannya sendiri.


Akhirnya Ella pun menerima saran dari suaminya. Walaupun harus membuat drama terlebih dahulu. Karena waktu sudah siang, mereka semua pun keluar dari kamar Asha dan berjalan menuju ruang makan.

__ADS_1


Asha membantu Ella menyiapkan makanan untuk semua orang. Sementara itu, Sara mulai membersihkan ruang tamu dari piring kosong, dan beberapa barang lainnya. Dibantu juga oleh adik-adiknya.


Setelah selesai, Sara pun kembali keruang makan. Semua orang pun sudah berkumpul disana. Sara segara duduk dan mengambil makanan untuknya. Saat makan pun semua orang hanya diam, tak ada seorang pun yang berbicara.


Pada saat makan, bel rumah Sara berbunyi. Sara yang bau saja selesai makan pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Pada saat sampai diluar, Sara melihat kurir paket didepan gerbangnya.


Sara menyerit heran, karena dia pikir tidak ada yang memesan barang. Namun, mengapa ada kurir barang. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Sara pun beejalan mendekati sang kurir.


"Selamat Siang, Pak. Maaf mencari siapa?" Tanya Sara sopan.


"Siang, Mbak. Benar dengan kediaman Bapak Malik?" Jawab sang kurir sambil bertanya kepada Sara.


"Benar, Pak. Ada yang bisa dibantu? Sepertinya saya dan adik-adik saya tidak memesan barang." Ungkap Sara.


"Saya mengantar paket dari Pengadilan Agama. Tertuju kepada Bapak Malik. Ini paketnya. Dan bisa anda tanda tangan disebelah sini." Jawab sang kurir sambil memberikan amplop berwarna cokelat serta note bukti.


Sara pun menerima amplop tersebut dan tanda tangan di kertas yang diberikan oleh sang kurir. Setelah mengucapkan terimakasih, Sara pun masuk kedalam rumah.


Pak Rendi yang melihat Sara membawa amplop pun bertanya padanya.


"Amplop apa yang kau bawa itu Sar?" Tanya Pak Rendi sambil berjalan mendekati Sara. Sara pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Entahlah Paman, tapi ini dari Pengandilan Agama. Dan ini untuk Ayah." Jawab Sara sambil memperlihatkan amplop tersebut pada Pak Rendi.


Pak Rendi pun menerima amplop tersebut dan membukanya. Setelah membuka, Pak Rendi pun membacanya sekilas.


"Syukurlah Dia melakukannya." Ucap Pak Rendi yang membuat Sara kebingungan.


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.

__ADS_1


Iyi Gecerler! all❤.


__ADS_2