
Revan menggelengkan kepalanya perlahan melihat wanita berambut sebahu tersebut. Dengan badan yang bergetar Revan melangkahkan mendekati wanita tersebut.
Wanita yang sedang sibuk berkutat itu pun menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong sayur dan menolehkan kepalanya. Dengan sekali putaran, dirinya sudah berdiri menghadap Revan.
"Hai, apa kabar? Apakah kau baik-baik saja, Van?" Tanya wanita itu sambil mengelus dada milik Revan. Revan pun mengambil tangan wanita tersebut dari dada nya dan menjauhkannya. Revan menatap datar wanita tersebut dan memundurkan langkahnya.
"Ngapain kamu kesini, Fik? Bukankah kamu sudah pergi meninggalkan aku? Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan dijodohkan?" Tanya Revan sambil berjalan mundur dengan perlahan.
Wanita tersebut pun menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Revan.
"Aku tetap cinta sama kamu, Van. Aku pergi dari rumah dan dateng ke kamu! Aku mau kita seperti dulu lagi. Yang setiap pagi kamu selalu telefon aku, setiap siang aku anter makanan buat kamu, kita dinner setiap kamu libur. Kamu mau kan, Van?" Ucap wanita bernama Fika sambil tetap berjalan mendekati Revan.
Revan hanya menggelengkan kepalanya dan tetap berjalan mundur.
"Cukup Fik! Aku dah anggap kalau hubungan kita selesai 1 tahun yang lalu. Nggak ada kata cinta lagi buat kamu di hatiku. Kita masih bisa berteman, tapi tidak dengan perkataanmu tadi." Ucap Revan sambil mengangkat tangannya memberi jarak antara dirinya dan Fika.
"Kita masih bisa, Van! Jika kita terus bersama, aku yakin kalau kamu masih bisa cinta sama aku. Kita bisa sama-sama berdua, dan membangun masa depan berdua. Tentunya dengan anak-anak kita nantinya." Kukuh Fika sambil tetap mendekati Revan.
"Stop Fik! Kalau aku bilang nggak bisa, berarti nggak bisa! Aku nggak bisa mencintai kamu lagi karena ada seseorang yang telah menempati seluruh hatiku tanpa menyisakan sedikit ruang untuk siapa pun!" Ucap Revan tegas sambil berhenti dengan jalan mundurnya.
__ADS_1
"Kenapa nggak bisa, Van? Aku yakin seratus persen kalau wanita itu adalah aku kan? Fika kekasih mu ini kan?" Tanya Fika sambil berusaha menyentuh tangan Revan, namun selalu ditepis oleh Revan.
"Bukan kamu Fik. Tapi Asha, Asha Arraselli. Dia satu-satunya wanitaku dan tak akan pernah terganti oleh siapa pun. Dia adalah istriku!" Ucap Revan membenarkan apa yang dikatakan oleh Fika.
Fika yang mendengar perkataan dari Revan pun sontak memelototkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Air matanya pun luruh begitu saja ketika mendengar perkataan dari Revan.
"Kamu bercanda kan Van? Kamu nggak mungkin menikah sama orang lain selain aku kan? Aku ini cinta sama kamu loh, aku cinta pertama kamu!" Ucap Fika sambil mengguncangkan bahu milik Revan.
"Kamu salah, Fik! Perempuan yang jadi cinta pertamaku adalah Ibuku dan yang kedua adalah Asha. Ya balita kecil yang selalu aku rawat dan aku sayangi seperti adikku sendiri." Ucap Revan sambil menghempaskan tangan Fika yang berada di bahunya.
"Kenapa kamu tega ninggalin aku sih, Van? Aku berjuang di sana sendiri, berusaha biar nggak dijodohin sama laki-laki pilihan papa. Tapi kamu dengan santainya, menikahi wanita itu dan melupakan aku! Kamu kejam Van!" Ucap Fika sambil meluruhkan badannya ke lantai.
"Aku mohon sama kamu, keluar dari rumah aku sekarang! Aku nggak mau ada orang lain yang salah paham karena kau berada dalam rumahku malam-malam begini! Dan ya, darimana kau bisa masuk ke rumahku ini?" Tanya Revan sambil menatap tajam ke arah Fika.
"Aku nggak mau keluar dari rumah ini sebelum kau mau menerimaku kembali dan membuatku menjadi istrimu. Kamu bisa menyembunyikan aku di rumah yang lain, misalkan kamu menjadikanku istri kedua? Kita bisa merahasiakan pernikahan kedua kita ini, walaupun hanya pernikahan siri tapi aku mau. Aku tidak akan pernah memperlihatkan diriku dihadapan istri pertamamu dan kita akan hidup bahagia walaupun hanya kita berdua yang tahu. Bagaimana?" Ucap Fika sambil tersenyum miring lengkap dengan air matanya.
Revan yang mendengar perkataan mereka pun membelalakan matanya dan menggelengkan kepalanya refleks.
"Apa yang kau katakan Fika! Sadarlah apa yang kau katakan tersebut salah besar! Demi Allah, aku tidak akan pernah meninggalkan Asha bagaimanapun itu keadaannya. Karena aku sangat mencintainya dan tidak akan pernah menghianati nya. Kau dengar itu?!" Ucap Revan tegas sambil menatap tajam mata Fika.
__ADS_1
Fika pun hanya menggelengkan kepalanya, menyerah dengan apa yang dikatakan oleh Revan. Fika pun berdiri dari duduknya dan menatap Revan.
"Baiklah! Aku akan pergi dari rumahmu dan kehidupanmu dengan satu syarat." Ucap Fika sambil melipat kedua tangannya ke dada. Revan yang Mendengar hal itu pun sedikit lega namun apa yang diminta oleh Fika? Pikir Revan.
"Apa yang kau mau?" Ucap Revan sambil menaikkan sebelah alisnya dan melipat tangannya ke depan dada, sama seperti Fika. Fika pun tersenyum singkat. Dengan bangganya, Fika melangkahkan kakinya mendekati Revan dan tersenyum menggoda.
"Ciumlah bibirku ini sebagai tanda perpisahan kita berdua! Kau dapat mengetahui perasaan mu yang sebenarnya. Jika kau merasakan sesuatu yang berbeda, maka kau masih mencintaiku. Tapi jika saat mencium bibirku dan engkau merasa biasa saja, maka itu berarti kau tak mencintaiku lagi! Bagaimana, apakah kau setuju?" Ucap Fika sambil melepaskan tautan lengannya.
Revan yang Mendengar hal itu pun membelalakan matanya dan melangkah mundur menjauhi Fika.
"Aku rasa kau sekarang sudah gila! Pergilah dari rumahku sekarang dan terserah apakah kau masih ingin mengganggu rumah tanggaku atau tidak! Aku akan lebih tenang jika kau masih mengganggu rumah tanggaku namun dalam keadaan Asha yang tahu. Daripada aku harus menciummu untuk pergi dari kehidupan kami di belakangnya dan membuat sakit hatinya. Aku tak ingin membuatnya kecewa sedikitpun padaku." Ucap Revan tegas sambil berjalan menjauhi Fika. Revan membayangkan bagaimana reaksi sang istri jika mengetahui hal ini.
Karena muak dengan penolakan dari Revan, Fika pun berjalan cepat menuju Revan dan memeluknya. Karena pelukan tiba-tiba dari Fika membuat Revan kehilangan keseimbangan dan jatuh diatas kursi ruang tamu nya.
Keadaan jatuh yang sangat membagongkan dimana tubuh seksi milik Fika terpampang jelas diatas tubuh Revan. Revan yang dijatuhi oleh Fika pun terkaget bukan main.
Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi ketika mendengar suara pintu terbuka dan...
"A...Abang?" Suara wanita yang sangat dia cintai terdengar lirih dan bergetar.
__ADS_1
Memang ketika Fika mendengar suara langkah kaki menuju pintu utama membuat Fika melakukan hal nekat tersebut. Dan yang lebih bingo lagi karena yang datang adalah Asha dan Ella.
"Ma, kita pulang aja ya?" Ucap Asha lirih lengkap dengan jatuhnya air mata pertamanya setelah menikahi suami tercintanya sambil berjalan menarik tangan Ella lembut keluar dari rumahnya.