SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 76


__ADS_3

Setelah sampai di parkiran rumah sakit, Ella pun meminta Pak Jajang untuk kembali ke rumah. Tak lupa Ella menghapus sisa air matanya dan berusaha untuk tetap tegar.


Dengan langkah yang sedikit takut, Ella membawa dirinya memasuki rumah sakit. Dirinya berjalan dengan menundukkan kepalanya. Dirinya tak mau malu dengan keadaan mukanya yang basah karena air mata.


Sesampainya dirinya di depan ruang rawat Sara, Ella memastikan lagi bahwa tak ada air matanya yang tertinggal. Dengan senyuman hangat, Ella membuka pintu kamar rawat milik Sara dan disuguhi oleh pemandangan indah dari anak-anaknya.


Asha yang sedang menyuapi Sara dan yang lainnya berdiri di sekeliling brankar Sara. Saat sang suami menoleh kepadanya, Ella hanya meletakkan jari telunjuknya dimulut. Ella juga menggelengkan kepalanya meminta agar sang suami tak memberitahu keberadaan dirinya kepada anak-anak mereka.


Dengan perlahan, Ella berjalan mendekati brankar Sara dan menepuk pundak milik Asha. Sontak Asha yang sedang asyik menyuapi sang adik tanpa gangguan pun terkejut dan membalikkan badannya.


"Astagfirullah! Ya ampun, Ma. Asha kaget." Ucap Asha sambil mengelus dadanya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang mangkok.


Semua orang pun ikut terkaget karena teriakan Asha. Ella yang menjadi biang kerok nya pun hanya cengengesan.


"Maaf maaf Mama cuma iseng." Ucap Ella sambil memeluk menantunya itu. Semua orang hanya menggelengkan kepalanya atas sikap Ella. Setelah selesai memeluk sang menantu, Ella berjalan mendekati Sara. Dapat dilihat olehnya, tubuh Sara sedikit mengecil setelah lama koma.


"Aduh sayangnya Mama kok malah tambah kurus. Makan yang banyak ya, Nak. Biar bisa tembem lagi, seperti Sara yang dulu." Ucap Ella sambil duduk di sebelah Sara dan menoel-noel pipi milik Sara. Sedangkan Sara hanya tersenyum tipis dengan bibir pucatnya.


"Ma, Sara belum tau kalo dia juara umum disekolahnya. Kasih tau dong, Ma. Biar tambah semangat buat sehatnya. Dibawa kan Teh piala sama piagamnya?" Tanya Alden sambil menatap sang kakak ipar.


Asha pun mengangguk dan berjalan menuju sofa dimana sang Papa mertua duduk. Rendi pun mengambilkan piala dan piagam milik Sara dan diberikan oleh Asha. Asha tersenyum manis kepada sang Papa dan mengucapkan terimakasih.


"Makasih Papa nya Asha yang paling guantengg." Ucap Asha dengan nada manja yang membuat Rendi menabok pantat milik Asha. Asha hanya tertawa kecil sambil berjalan menjauhi Rendi.

__ADS_1


"Nih, adeknya Teh Asha yang paling cantik bisa jadi ranking satu juara umum. Nih dipasang dulu biar berasa kalau jadi juara umum." Ucap Asha lalu mengalungkan piagamnya dileher Sara yang masih berbaring.


"Nggak usah diraguin lagi, Teh. Sara mah udah paket komplit. Udah pinter, multifungsi, dan yang paling penting adalah... kagak takut sama siapapun." Ucap Alden membanggakan Sara. Sedangkan Sara, dia sudah mengangkat kepalan tangannya dan diarahkan menuju Alden.


"Jangan macem-macem Lo Den. Gue masih sakit tapi kalo buat nonjok, masih kuat. Mau Lo?!" Ucap Sara dengan suara yang sedikit lemah sambil menatap tajam Alden.


"Ampun Nyai! Nggak lagi-lagi deh. Sorry ya, Sar. Kita damai, peace!" Ucap Alden sambil mengangkat tangannya yang menunjukkan angka dua itu.


"Yaudah, yaudah. Kita foto dulu ya? Biar ada kenang-kenangannya. Nanti Papa cetak yang besar terus Papa pajang di rumah. Yuk semua siap-siap." Ucap Rendi sambil berjalan mendekati brankar Sara dengan mengangkat kameranya.


Semua orang pun sudah bersiap menatap kamera depan di HP Rendi dan akhirnya tercipta satu potret keluarga yang beranggotakan 9 orang tersebut.


Sementara ditempat lain, Ethan sedang menatap tajam Bella yang hanya bisa menunduk.


"Maafin aku, sayang. Aku nggak bermaksud buat Mama marah sama kamu. Aku minta maaf ya, nanti aku bantu buat minta maaf sama Mama." Ucap Bella sambil berusaha menggamit lengan milik Ethan.


"Gue dah muak sama Lo. Sekarang Lo pergi dari apartemen Gue. Jangan tampakin muka menjijikan Lo lagi di hadapan Gue!" Ucap Ethan lalu berjalan mengeluarkan Bella dari apartemennya.


Bella hanya berusaha agar Ethan tak mengusirnya pergi. Semakin Bella berusaha berontak, semakin Ethan mencengkeram lengannya kuat-kuat.


"Pergi Lo dari sini! Gue benci liat muka Lo!" Ucap Ethan sambil menghempaskan tubuh Bella keluar apartemennya dan langsung menutup pintunya keras-keras.


Bella yang masih terjatuh dilantai pun hanya menahan malunya. Dengan rasa kesalnya, Bella pun bangun dari jatuhnya dan membenarkan penampilannya. Bella yang masih menahan tangisnya pun mencoba menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.

__ADS_1


Bukan tangis kecewa namun tangis karena kesal tak dipedulikan lagi oleh Ethan. Sambil berjalan, Bella mengambil ponselnya dan menelepon sang Mama.


"Mama! Mas Ethan mengusirku dari rumah! Hiks... hiks..." Ucap Bella mengadu pada snag Mama. Amora yang mendengar perkataan sang anak pun mendadak emosi dan langsung berbicara dengan nada tingginya.


"Hah?! Dasar anak kurang ajar! Mengapa dia mengusirmu hah?! Apakah pakaianmu kurang menarik? Atau tubuhmu yang kurang berbentuk? Coba katakan padaku apa alasannya hah?!" Ucap Amora dengan penuh emosi.


Bella yang mendengar kemarahan sang Mama pun mendadak takut dan terkejut. Apakah ini sifat asli Mama? Apakah seperti ini juga sifatnya kepada anak-anaknya? Batin Bella dalam hatinya.


"Emm itu, Ma. Si tua bangka lagi marah sama Mas Ethan. Mas Ethan bilang kalau semua ini ulah Bella. Terus Mas Ethan ngusir Bella dari apartemen dia deh." Ucap Bella menjelaskan kepada Amora sambil mendaratkan pantatnya di jok mobilnya.


"Dasar tua bangka nggak berguna! Tapi kamu jangan khawatir, sayang! Bukankah masih ada Alden? Dia juga anak dari Rendi bukan? Pasti dia juga banyak uang kan?" Ucap Amora mencari jalan lain untuk sang anak.


"Iya juga sih, Ma. Tapi Bella nggak yakin kalo Alden masih mau sama Bella. Karena akhir-akhir ini Bella sering liat kalo Alden lagi deket sama Khansa. Ah udah lah, Ma. Saingan Bella berat-berat. Kenapa juga sih, Mama ngelahirin anak-anak yang nggak bisa dikalahin? Jadi gini kan." Ucap Bella kesal karena dirinya merasa tak pantas jika disandingkan dengan anak-anak Amora eh ralat, anak-anak Malik maksudnya.


"Apa sih yang kamu takutin dari Sara dan adik-adiknya? Mereka nggak lebih dari anak yang menyusahkan. Mereka juga tidak memiliki segi ekonomis untuk dijual ke bos-bos atau tuan yang tajir. Mending kamu kemana-mana lah, sayang." Ucap Amora menyepelekkan anak-anaknya dan masih kekeuh bahwa Bella lebih unggul dari anaknya sendiri.


"Manding Bella kemana-mana? Yang bener aja Ma, ini Mama lagi muji Bella atau lagi nyindir Bella? Nih ya, Ma Bella jelasin. Asha itu salah satu CEO wanita paling sukses diawal kepemimpinannya didunia perusahaan. Sara, jangan ditanya lagi lah. Dia perempuan paling multi tasking di keluarga Pak Rendi." Ucap Bella menjabarkan tentang Asha dan Sara.


"Kalau Khansa, dia bibit-bibit bintang sekolah Ma! Dia bisa ngelakuin apa aja tanpa waktu yang lama. Sedangkan Aurora? Dia perwakilan provinsi kita untuk lomba debat bahasa inggris. Dan dia juga yang akan mewakili negara kita untuk lomba debat bahasa inggris internasional, Ma! Terus Bella apa mereka? Remahan ketombe mereka pun nggak ada!" Ucap Bella merendahkan dirinya karena merasa sangat kalah dengan Asha dan adik-adiknya.


Hah yang bener?! Ternyata anak-anak kolot itu malah semakin sukses setelah aku meninggalkan mereka? Seharusnya aku bisa menjadikan mereka sebagai aset berhargaku! Ah sial! Batin Amora menyalahkan dirinya sendiri.


"Okey, Mama kasih ide yang bener-bener akan manjur. Secara kita nggak bakal bisa melawan Asha dan Sara, maka kita bisa..." Ucap Maora menggantung karena perkataan Bella.

__ADS_1


__ADS_2