
Ethan hanya tertawa kecil melihat muka sang manager. Sara yang mendengar Ethan tertawa pun menepuk pundak Ethan pelan. Ethan yang ditepuk pundaknya pun menghadap kearah Sara. Ethan hanya mengangkat kedua alisnya, tanda bertanya pada Sara.
Sara hanya melambaikan tangannya agar Ethan sedikit menunduk. Ethan pun hanya patuh, dia menundukkan kepalanya tepat disamping kepala Sara.
"Kenapa kak Ethan ketawa, terus kenapa muka Bapaknya langsung pucat gitu?" Ucap Sara bisik-bisik. Bukannya menjawab pertanyaan Sara, Ethan malah menjauh dari Sara.
"Anak kecil nggak usah kepo." Ucap Ethan sambil menegakkan kepalanya kembali. Sara hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Sementara Ella, dia masih berdebat kecil dengan sang manager.
Setelah beberapa saat, tibalah Revan dan Asha dengan berjalan berdampingan. Asha pun berjalan mendekati adiknya dan memeluknya. Sementara Revan, dia langsung berjalan mendekati sang manager.
"Apakah kau managernya? Siapa yang merekrutmu? Dan apakah kau benar-benar tak mengenal siapa Revan Putra Laran?" Tanya Revan sambil melipat tangannya didepan dadanya. Sang manager pun hanya menunduk, tak berani menatap Revan.
Revan yang tak kunjung mendapat jawaban pun geram.
"JAWAB! Apakah kau tak punya mulut hah?! Diamana keberanianmu saat melawan Ibuku tadi, sebelum ada Aku?!" Bentak Revan yang sukses mengagetkan semuanya kecuali Ethan. Ethan terlihat biasa saja, tak ada raut kaget sedikit pun.
Sang manager pun menjawab dengan susah payah.
"Maaf Pak, saya memang manager baru. Dan saya tidak tahu bahwa Ibu ini, adalah orang tua Bapak." Ujarnya. Revan pun meminta agar sang manager memberikan kartu akses di apartemen Amora dan menurunkan posisi sang manager di apartemen itu.
Sang manager pun hanya bisa pasrah, dari pada dia harus dipecat dan tak punya pekerjaan. Ella yang diberi kartu akses oleh Revan pun berjalan mendekati pintu apartemen nomor 101.
Setelah pintu terbuka, hanya ada keheningan di apartemen tersebut. Semua orang pun berpencar keseluruh ruangan untuk mencari Amora.
Sara yang memiliki insting pun berjalan mendekati sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Sara pun membukanya perlahan tanpa menimbulkan suara. Sara terkejut ketika melihat sang ibu yang tak memakai apapun yang sedang berciuman panas dengan seorang laki-laki.
Badan Sara pun seketika limbung dan menabrak pintu. Nafasnya yang sudah tidak teratur dan pandangannya yang kosong membuat tubuh Sara jatuh kelantai.
Ella yang melihat Sara jatuh pun berlari kecil mendekati Sara. Belum sampat dia berjongkok untuk mengangkat tubuh Sara, Ella menutup mulutnya kaget. Ella berteriak memanggil Revan.
Teriakan Ella pun menyebabkan kedua orang yang sedang bergumul panas diatas ranjang pun terkejut. Amora langsung saja bersembunyi di bawah selimut. Diikuti juga oleh laki-laki tersebut.
Asha yang baru datang bersama Revan dan Ethan pun terkejut dengan pemandangan didepan mereka. Badan Asha menegang, nafasnya sudah tak teratur dan badannya seketika lemas. Asha pun seketika tak sadarkan diri.
Revan yang melihat Asha pingsan pun menagangkatnya. Lalu dipindahkan ke sofa yang berada di depan televisi.
"Apa yang kalian lakukan diapartemenku hah?! Kenapa kalian masuk tanpa izin? Dasar tak punya malu." Bentak sang laki-laki kepada mereka semua. Sara yang hendak menangis pun menggelengkan kepalanya. Sara bangkit dan berdiri tegak.
__ADS_1
"Lebih tak punya malu mana dengan orang yang melakukan hubungan suami istri tanpa status." Ucap Sara tegas dengan sorot mata tajam.
"Dan kau, wanita macam apa kau? Apakah kau sudah lupa dengan siapa dirimu? Dasar wanita menjijikan." Tutur Sara sambil menunjuk Amora. Amora yang merasa dipermalikan didepan kekasihnya pun yak tinggal diam.
Dia memakai kemeja berukuran sangat besar yang terletak di samping ranjang secara acak. Dia berdiri dan berjalan cepat mendekati Sara.
Dia menjambak jilbab Sara yang membuat kepala Sara mendongak keatas.
"Dasar anak tak tahu diuntung! Kau dan Ayahmu sama saja, tak berguna! Kalian hanya sampah, dan kau mempermalukan aku didepan mereka semua." Sara yang mendengar sang ibu menjelek-jelekkan ayahnya pun menangis.
Dia menahan sakit dan air matanya yang terus mengalir. Sara mencoba menguatkan dirinya, Sara melipat bibirnya kedalam dan mencoba menurunkan kepalanya.
Sara pun melepaskan jambakan tangan dari ibunya dengan sangat kuat. Setelah itu dia menampar pipi ibunya keras.
"Dan beraninya kau menjelek-jelekkan Ayahku yang sudah tenang di surga hah?! Aku bersyukur karena sebelum meninggal, Ayahku sudah menceraikan mu. Aku sungguh malu memiliki kau sebagai Ibuku." Ucap Sara sambil menatap tajam ibunya.
"Kau bilang Aku dan Ayahku tak berguna bukan? Lalu bagaimana denganmu? Bukan aku yang mempermalukanku, tapi kau sendiri yang mempermalukan dirimu sendiri. Bukannya sadar diri, malah menyalahkan orang lain. Mau dibagaimanakan, jika jal*** tetaplah jal***" Bentak Sara sambil mendekat kearah sang Ibu.
Amora pun hanya diam mematung mendengar perkataan Sara. Ada rasa sakit dihatinya ketika anak yang dia kandung dan dilahirkan kedunia menyebutnya jal***.
"Dan untuk kau, ambil lah sampah itu. Aku dan adik-adikku tak membutuhkannya lagi. Karena sebelum atau sesudah kau ambil. Dia memang tak berguna sama sekali. Tapi ingatlah satu hal." Ucap Sara menatap tajam mata selingkuhan ibunya.
"Jangan kaget ketika kau melihat watak aslinya. Dia tak pernah merawatku, adik-adikku, serta Ayahku selama ini. Kau tau, hanya karena kau dia berubah. Lupa akan segala kebahagiaan yang dia miliki bersama keluarganya." Ucap Sara sambil menangis.
"Kau tak tahu kan? Jika suamimu, yang lebih tepatnya mantan suamimu baru saja meninggal? Apa kau merasa kehilangan? Walau hanya sebesar biji sawi? Apa kau lupa dengan hari-hari yang kau lalui bersama Ayahku dulu?" Ucap Sara dengan lertahanan terakhirnya.
Tubuh Sara jatuh kelantai, mau bagaimana pun Sara juga merasa sangat-sangat kecewa dengan ibunya. Apakah jika sang ayah tidak bangkut, maka ibunya akan tetap bersama-sama dengannya? Pikir Sara.
Ell yang sedari tadi menangis dipelukan Ethan pun berjalan maju mendekati Sara. Ella berjongkok dan membawa Sara kepelukannya.
"Sabar sayang, kau pasti bisa melewati ini semua. Kita pulang sekarang ya? Jangan membentak Ibumu lagi." Ajak Ella kepada Sara. Amora pun mulai berbicara lagi ketika melihat Ella.
"Oh, sudah ada pahlawan ternyata. Bukankah kau yang dahulu meminta bantuan Malik bukan? Bagaimana sekarang kehidupanmu? Masih miskin seperti dahulu atau sudah ada kemajuan?" Ucap Amora sombong sambil melipat kedua tangannya kedepan dada.
Ella yang tadi memeluk Sara pun melepaskan pelukannya dan menghadap ke Amora.
"Kau masih ingat denganku? Iya, ini aku. Yang mengemis bantuan pada Suamimu bukan, eh salah. Mantan suamimu bukan? Oh, kau menanyakan keadaanku sekarang bukan? Oke aku jelaskan." Ucap Ella sambil berdiri dan menghadap Amora.
__ADS_1
"Berkat sahabat terbaikku, sekarang suamiku memegang kendali perusahaan terbaik dinegeri ini, anak pertamaku sudah menjadi polisi, anak kedua ku akan sekolah penerbangan, dan dua lagi anakku sedang sekolah. Dan aku hanya tinggal duduk-duduk dirumah." Ucap Ella dengan nada santai.
"Tidak sepertimu bukan? Harus melakukan hal menjijikkan seperti ini demi kebutuhanmu sendiri." Tambah Ella dengan menekankan kata 'sendiri'.
"Oh begitu ternyata. Ya memang aku melakukan hal ini didasarkan oleh cinta, bukan uang. Aku membiayai kehidupanku sendiri karena aku tidak mau repot-repot mengurus anak-anak itu. Beruntung saja aku tak mengurusnya, lihatlah baru menganjak dewasa saja sudah durhaka pada Ibunya." Ucap Amora sinis sambil menatap tajam Sara yang tertunduk lesu dilantai.
"Wah, hebat sekali kau. Kau juga harus mengingat. Ada kerja kerasku juga dalam membesarkan anak-anakmu. Mereka tidak durhaka, namun Ibunya saja yang tak bermoral. Tidak ada yang salah dengan Sara dan yang lainnya. Kau saja yang tak bersyukur telah memiliki mereka semua." Timpal Ella.
"Apa kau bilang? Tidak ada yang salah? Lihat perlakuannya, Kau belum tahu wataknya. Karena tak tinggal serumah dengannya, dan tak mengurusnya selama remaja ini. Coba saja kau urus mereka, kau akan muak dengan Dia!" Bentak Amora sambil menunjuk Sara dengan jari telunjuknya.
"Apa? Kau menyuruhku mengurus mereka? Baiklah, aku ucapkan terimakasih banyak karena memperbolehkan mengasuh anak-anak sahabatku. Tapi ingat satu hal, jangan pernah datang lagi kepada anak-anakku. Jangan mengaku sebagai Ibu mereka." Jawab Ella, yang membuat Sara mendongak menatap Ella.
"Tidak akan pernah. Kau ingat! Tidak akan pernah aku menganggap mereka, anak sial**." Ucap Amora. Ella pun hanya menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan Amora.
Ella pun mengajak anak-anaknya keluar dari tempat itu. Semua pun menuruti Ella. Revan pun menggendong Asha, karena Asha belum siuman. Sementara Sara, dia berjalan sambil digandeng Ella.
Mereka pun sampai di basement, lalu berpisah menuju mobil masing-masing. Revan mengubah kursi sampingnya, menjadi tempat yang nyaman untuk Asha tidur.
Sara dan Ella pun menunggu Ethan dengan duduk berdua didalam mobil. Karena Ethan sedang membantu Revan menatakan kursi tempat Asha tidur.
Didalam mobil pun Sara menangis dipelukan Ella.
"Bibi, menagapa Ibu tega melakukan hal itu? Apa yang ibu lakukan itu tidaklah benar. Kasihan adik-adik Bi." Ucap Sara sesenggukan lengkap dengan tangisnya yang membasahi khimar Ella. Ella pun hanya mengelus kepala Sara.
Ethan yang baru sampai pun langsung masuk dan menjalankan mobilnya kembali ke rumah Sara. Sementara Amora, dia malah tak ambil pusing dengan kejadian tadi. Dia malah melanjutkan acaranya yang sempat tertunda karena kedatangan tamu tak diundang.
Sesampainya dirumah Sara. Hanya tinggal Pak Rendi dan adik-asik Sara. Pak Rendi pun bingung pasalnya, Revan yang menggendong Asha. Serta Sara dan istrinya yang matanya bengkak.
Setelah sampai didalam, semua orang pun berkumpul di kamar Asha. Ella memberikan minyak kayu putih di bagian bawah hidung Asha.
Setelah selesai, Ella dipanggil oleh Rendi untuk membicarakan sesuatu. Sementara mereka berbicara, Sara pun mendekati adik-adiknya. Sara memeluk mereka erat, sambil menahan tangisnya Sara masih bisa tersenyum.
Hingga pada akhirnya, Ella dan Rendi mengatakan keputusan mereka tadi kepada Sara.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.
__ADS_1