
"Apakah kau sudah gila hah?! Dia juga seorang manusia! Kau pikir dia hewan yang bisa kau beri racun untuk melenyapkan nya?! Sungguh apa yang kalian lakukan ini lebih kejam dari perbuatan iblis!" Maki Sara sambil memojokkan Silla menjadi duduk disebelah Bella.
"Sekarang apa yang ingin kalian lakukan?! Apakah masih ingin membunuh kakak ku? Atau malah ingin membunuh ku?! Benar bukan, bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Lihatlah, Ibu nya seorang pembunuh dan anaknya calon pembunuh!" Ucap Sara sambil menjambak rambut kedua orang menjijikkan didepannya.
"Tindakan keji seperti itu hanya dilakukan oleh orang yang memiliki sifat seperti iblis! Apakah kalian sudah memikirkan apa yang kalian lakukan ini? Selain kalian bisa dipenjara, tapi perbuatan kalian juga dibenci oleh Allah!" Ucap Sara tegas sambil menatap tajam mata Silla dan Bella.
"Sara! Buat Teh Asha tetap bangun!" Ucap Revan sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuh mungil milik Asha. Sara yang kaget pun berjalan cepat menuju sang kakak.
"Teh, Teh Asha! Teteh harus kuat, Teteh nggak boleh nutup matanya ya?! Bentar lagi, Abang akan bawa Teteh ke rumah sakit!" Ucap Sara sambil berkali-kali menepuk pipi milik Asha.
Asha yang samar-samar mendengar suara Sara pun mencoba membuka matanya. Namun mau dipaksa bagaimana pun, mata tersebut tak bisa diajak kompromi. Mulutnya yang sudah mengeluarkan busa pun membuat Revan langsung mengangkat tubuh istrinya itu.
Disaat Sara masih bingung dengan keadaan dari Asha, semua orang tak sadar jika Silla berjalan menuju pojok ruangan. Silla mengambil pisau yang memang sengaja dia siapkan jika terjadi sesuatu diluar dugaan nya, seperti saat ini.
Sara yang melihat sang kakak ipar telah membawa kakaknya pergi pun, membalikkan badannya menuju ke Bella dan berjalan cepat dengan raut wajah marahnya. Dengan kasar, Sara mencengkeram kerah baju milik Bella.
"Dasar biad*b! Jika sampai terjadi sesuatu kepada kakak ku, aku bersumpah akan membunuh mu! Ingat ini, aku tak akan pernah memaafkan mu sam-" Ucapan Sara terputus karena dia merasakan benda tajam menusuk punggungnya.
Seketika cengkeraman tangannya di kerah baju Bella melemah dan Sara jatuh bersujud dengan air mata yang sudah turun.
"Ya Allah!" Ucap Sara dengan nada yang tercekat karena sakit yang begitu luar biasa di punggungnya. Sara tak dapat menggerakan tubuhnya sedikit pun karena hal tersebut dapat membuat badannya bertambah sakit.
__ADS_1
Bella yang melihat hal itu pun menutup mulutnya tak percaya.
"Mama! Apa yang kau lakukan?! Bagaimana jika dia mati?!" Teriak Bella sambil bergerak menjauhi Sara. Silla yang melihat hal itu pun tertawa bahagia.
"Biarkan saja! Bukankah ini yang kau mau? Aku puas bisa melihatnya mati ditangan ku!" Ucap Silla yang langsung di ikuti dengan tawa nya. Di pertengahan tawa nya Zevan keluar dari persembunyiannya dan menodongkan pistol ke arah Silla bergantian dengan Bella.
"Angkat tangan kalian!" Perintah Zevan dengan suara tegas nya yang mengagetkan Bella. Bella yang ketakutan hanya mengangkat tangannya dan bergerak mundur. Sedangkan Silla, dia hanya bersikap biasa saja dan mengeluarkan sebuah pistol dari saku belakangnya.
Bella yang melihat aksi sang Mama pun hanya memelototkan matanya. Badan Bella yang sudah bergetar hebat pun seketika menegang ketika tubuhnya menubruk dada seseorang. Dengan hati-hati Bella pun menolehkan kepalanya dan kaget karena ada polisi lain dibelakangnya.
Dengan cepat, polisi tersebut memasangkan borgol di kedua tangan Bella dan menarik tubuh Bella keluar dari gubuk dengan paksa. Sedangkan Silla, dia mengarahkan pistol nya menghadap ke Zevan. Dengan seringai liciknya, Silla melepaskan dua tembakan tepat di perut sebelah kiri milik Zevan.
"Kau lupa jika aku memakai rompi ini bukan?!" Ucap Zevan. Dan dengan sigapnya, teman satu tim Zevan pun menembakkan pelurunya di dada kiri milik Silla. Seketika tubuh Silla langsung jatuh.
Sementara itu, Zevan langsung bergegas menuju ke Sara yang masih setia meringkuk. Sara masih setia dengan tangisannya. Sampai ingin berbicara pun dia takut, takut lukanya bertambah sakit. Zevan pun berjongkok disebelah Sara.
"Sara, Saya harus segera membawa Anda ke rumah sakit. Karena ini keadaan yang terpaksa. Apakah boleh Saya mengangkat Anda, sekarang?" Tanya Zavan sambil menatap netra Sara yang basah dengan air mata.
Sara hanya menganggukkan kepalanya perlahan, bahkan hampir tidak bergerak. Zevan yang di beri lampu hijau pun menekuk satu lututnya.
"Sekali lagi Saya minta Maaf kepada Anda. Saya terpaksa melakukan ini. Bismillah." Ucap Zevan lalu mengangkat tubuh Sara dengan perlahan. Sara yang diangkat oleh Zevan dan otomatis punggungnya tersentuh pun bertambah deras air matanya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Sara menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bagian bawahnya. Zevan yang melihat reaksi Sara pun mencoba mencari posisi agar Sara tak kesakitan.
Dengan cepat Zevan melangkah menuju mobil yang terdapat salah satu teman satu tim nya. Teman Zevan yang melihat Zevan menggendong gadis berbaju rumah sakit itu pun langsung membukakan pintu belakang mobilnya.
"Segera antar kita ke rumah sakit terdekat." Ucap Zevan khawatir sambil menahan punggung Sara agar tak terlalu menekuk, sehingga mengurangi keluarnya darah terlalu banyak. Temannya pun hanya menganggukkan kepalanya.
Zevan tak membiarkan Sara duduk sendiri, dia masih setia membawa Sara di dekapannya. Zevan memangku Sara dan menaikkan tangannya agar tak menyentuh luka dari Sara.
Sementara itu, Sara hanya menyenderkan badannya di dada milik Zevan. Air matanya masih mengalir, tapi tak ada satu suara pun yang keluar dari mulutnya. Sesekali Zevan mendengar kalimat istighfar dan takbir yang keluar dari bibir Sara.
Zevan pun baru merasakan sakit ketika tak sengaja tangan kanan milik Sara menyentuh perutnya. Zevan baru ingat bawa peluru pertama yang ditembakkan oleh Silla gagal, namun yang kedua mungkin sedikit membuat perutnya terluka.
Saat tiba di jalan yang penuh polisi tidur, Sara hanya meremas seragam bagian belakang milik Zevan. Zevan yang merasakan tangan Sara bergerak dibelakang Sara pun bertanya padanya.
"Apakah semakin sakit?" Tanya Zevan sambil menundukkan kepalanya. Sara hanya menganggukkan kepalanya, namun dengan pandangan yang menunduk. Zevan pun mengeratkan pelukannya pada Sara.
"Bertahan lah, sebentar lagi kita akan sampai." Ucapnya sambil mendekatkan tubuh Sara kepadanya.
Sedangkan ditempat lain, sebelum turun dari mobilnya Revan membersihkan busa yang masih keluar dari bibir istrinya itu.
"Kita sudah sampai, Sayang. Bertahanlah." Ucap Revan sambil mengangkat tubuh istrinya. Revan pun bejalan cepat menuju ruang resepsionis.
__ADS_1
"Cepat tolong istri saya! Dia keracunan!" Ucap Revan panik sambil menatap sang resepsionis wanita di rumah sakit itu. Wanita itu pun menganggukkan kapalanya dan memanggil suster.
"Suster! Ada pasien gawat darurat!" Teriak sang resepsionis dan tak lama setelah itu dua perawat laki-laki membawa brankar mendekat ke Revan. Revan pun membaringkan istrinya diatas brankar tersebut dan mengikuti sang perawat kemana akan membawa istrinya.