
Ethan pun menoleh ke arah brankar Sara. Ethan masih mengernyit bingung karena tak melihat apapun. Aurora yang tak melihat reaksi apapun dari Ethan pun menjadi gemas dan langsung menyeret tangan kanan milik Ethan.
"Jari Mbak Sara gerak!" Ucap Aurora dengan nada girangnya namun masih tertahan karena tak mau suaranya menimbulkan kebisingan. Ethan yang melihat hal tersebut pun langsung menekan tombol bantuan yang berada diatas brankar Sara.
Aurora masih setia menatap jari tangan Sara yang hanya bergerak secara perlahan. Sementara Ethan dan Nathan masih memantau apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Sara.
Tak lama setelah itu, datanglah seorang dokter beserta seorang suster kedalam ruang rawat Sara. Dengan segera sang dokter memakai stetoskopnya dan langsung mengecek detak jantung Sara. Tak ayal sang suster pun mengecek sesuatu di kantung infus dan angka-angka yang terpampang di monitor. Aurora masih asyik menatap sang suster yang terlihat sedang menyuntikan sesuatu ke kantung infus milik sang kakak.
Sang dokter dan suster pun saling berpandangan lalu tersenyum. Aurora yang mengerti maksud dari senyuman sang dokter pun langsung melompat girang.
"Mbak Sara bangun. Ahh aku sangat senang!" Ucap Aurora sambil mengguncangkan tubuh Nathan. Sementara Nathan hanya pasrah tubuhnya diombang-ambingkan oleh Aurora.
"Heh stop! Lo mau otak Gue geser?! Gila kali Lo." Ucap Nathan penuh emosi sambil melepaskan tangan Aurora yang masih setia dibahunya. Aurora yang dibentak tiba-tiba pun hanya diam. Matanya masih menatap tajam Nathan.
"Liat aja Lo. Nanti Mbak Sara bangun bakal Gue laporin. Biar dimarahin sama Mbak Sara." Gedumel Aurora dengan suara kecilnya yang hampir tak terdengar oleh Nathan.
"Alhamdulillah, Nona Sara sudah berhasil melewati masa komanya. Keadaan tubuhnya pun sudah mulai membaik. Tinggal menunggu bangun saja. Baiklah kami izin pamit dulu. Permisi." Ucap sang dokter sambil berpamitan kepada Ethan, Nathan, dan Aurora.
Ethan pun hanya tersenyum dan mengangguk mengiringi kepergian dokter dan suster tersebut.
"Teh A..sha." Ucap Sara dengan terbata-bata dan suara lirihnya namun matanya masih terpejam. Aurora yang mendengar sang kakak berbicara pun mendekat dan menyentuh kepala sang kakak.
"Mbak Sara. Mbak Sara bangun dulu. Mbak Sara butuh apa?" Tanya Aurora lembut sambil terus mengelus kepala sang kakak.
"Mbak Sara mau minum." Ucap Sara dengan lirih sambil tangannya terangkat mencari tangan Aurora. Aurora yang paham pun memberikan tangan kirinya kepada sang kakak.
__ADS_1
Ethan yang tahu maksud Sara pun menyuruh Aurora untuk bergeser.
"Geser Ra, biar Kak Ethan yang bantuin Mbak Saranya minum." Ucap Ethan sambil mengambil alih tangan kiri Sara lalu digenggamnya. Aurora pun bergeser dan membiarkan Ethan membantu Sara bangun dari posisi berbaringnya.
"Sar, Lo bisa angkat badan buat duduk nggak?" Tanya Ethan halus sambil mengelus kepala milik Sara dengan tangan kanannya. Sara hanya menggeleng perlahan namun tak kunjung membuka matanya. Ethan yang tahu bagaimana kondisi Sara pun mengangkat tubuh Sara secara perlahan.
Sara hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ethan sambil melipat bibirnya kedalam.
"Badan Sara sakit." Ucapnya sambil menumpu sebagian berat badannya dengan tangan kananya. Ethan pun tak menegakkan tubuh Sara sepenuhnya, dia hanya menjadikan tubuhnya sebagai sandaran untuk Sara. Setelah badan Sara menempel di dada Ethan, Sara pun mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuka matanya perlahan.
Matanya sedikit menyipit karena cahaya yang menurut matanya terlalu terang. Sara menggerakkan tangannya mencari minum. Ethan pun meminta kepada Aurora untuk membantu Sara minum. Dengan telaten Aurora meminumkan air putih tersebut kepada Sara.
Nathan melongo tak percaya karena Sara menghabiskan satu gelas besar air putih. Dirinya pun menggelengkan kepalanya keras dan kembali fokus menatap Sara. Sara yang merasakan sakit ditubuhnya pun meminta agar Ethan menurunkan kembali tubuhnya.
Setelah selesai membaringkan Sara, Ethan pun hendak menarik tangannya namun dicegah oleh Sara.
"Bantuin Sara tidur miring ya Kak? Punggung Sara nyeri." Ucap Sara sambil menahan tubuhnya agar tak memberikan tekanan lebih ke punggungnya. Ethan pun membantu Sara untuk tidur miring kesebelah kanan. Tak lupa dia juga memberikan guling yang Asha bawa dari rumah untuk saat-saat seperti ini selama Sara koma.
"Makasih ya Kak. Maaf Sara ngerepotin." Ucap Sara sambil mulai memejamkan matanya. Entah mengapa, walaupun dia baru bangun dari tidur lamanya tapi dirinya merasakan kantuk yang sangat mendera matanya.
"Sama-sama. Nggak ngerepotin sama sekali." Ucap Ethan sambil menaikkan selimut putih tersebut agar menutupi tubuh Sara. Aurora yang bingung mengapa sang kakak tidur lagi pun memutuskan untuk menyusul sang dokter tadi.
Nathan yang melihat Aurora akan pergi pun menarik kerah belakang dress milik Aurora itu yang membuat Aurora menghentikan langkahnya seketika.
"Mau kemana Lo?" Tanya Nathan kepada Aurora yang mukanya sudah masam. Bagaimana tidak? Telat sedikit saja mungkin lehernya akan tercekik.
__ADS_1
"Gila ya Lo? Mau bunuh Gue? Hih lepas-lepas! Gue mau keluar bentar." Ucap Aurora sambil melepas paksa tangan Nathan darinya. Aurora pun berjalan keluar ruangan rawat Sara dengan langkah cepatnya. Tak lupa dia juga pamit kepada Ethan dengan sedikit berteriak.
"Kak! Rora pergi dulu. Titip Mbak Sara." Ucap Aurora sambil menutup pintunya. Ethan hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju sofa tempat tadi dia duduk.
"Bang Gue ikut sama Aurora. Jagain Mbak Sara bentar ya, Bang. Assalamu'alaikum." Ucap Nathan lalu berlari mengikuti Aurora. Lagi-lagi Ethan hanya menggelengkan kepalanya dan mengambil ponselnya. Ethan mengernyit heran ketika melihat puluhan pesan dari kekasihnya.
Ketika Ethan membaca pesan yang dikirimkan oleh Bella, Ethan pun alngsung berdiri dari duduknya dan bergegas keluar dari ruangan Sara. Pasalnya Bella mengatakan bahwa dirinya akan mendatangi Ethan ke kamar rawat milik Sara jika dirinya tak kunjung turun. Ethan takut bahwa sang kekasih akan melakukan sesuatu kepada Sara jika sampai melihat Sara.
Ethan pun mengatakan kepada Sara karena dia ada urusan mendadak. Namun apakah Ethan lupa? Bahwa Sara masih belum sepenuhnya sadar dan hampir tak mendengar apa yang dikatakan oleh Ethan.
Dengan langkah cepat, Ethan pun keluar dari ruang rawat Sara dan segera menemui Bella di lobby.
Tak lama setelah itu, Sara merasakan bahwa dirinya mendapatkan panggilan alam. Mungkin efek karena terlalu banyak minum, sehingga dirinya langsung terbangun dari tidurnya dan hendak ke kamar mandi.
Sara yang melihat ruangannya sepi tak ada orang pun bingung.
"Aurora? Nathan? Kak Ethan?" Ucap Sara sambil menumpu berat badannya karena sangat ingin ke kamar mandi. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Sara pun mencoba mengangkat tubuhnya agar bisa turun dari brankar tersebut. Dengan menggunakan kedua tangannya, Sara menumpu badannya dan memindahkan kakinya agar bisa mengayun kebawah.
Setelah berhasil menurunkan kedua kakinya, Sara pun mengambil tiang infusnya dan menjadikannya sebagai tumpuan. Namun naas, kakinya masih sangat lemas akibat terlalu lama koma yang membuat tubuhnya seketika terjatuh.
"Astagfirullah." Pekik Sara sambil memegang perutnya yang menghantam lantai. Tiang infusnya pun juga ikut terjatuh sehingga mengakibatkan selang infus tersebut lepas dari tangan Sara. Sara hanya bisa menangis karena hal tersebut. Malang sekali nasibnya karena tak ada seorang pun di ruangannya. Ingin mengangkat tubuhnya pun tak mampu.
Bersamaan dengan hentakan tangan Sara yang mengeluarkan darah untuk mencoba bangun, tiba-tiba pintu kamar rawatnya terbuka.
"Ya Allah! Sara!"
__ADS_1