SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 46


__ADS_3

"Anda bilang jijik bukan? Mungkin jika bukan karena darah saya, Anda sudah berbeda alam dengan kita semua." Ucap Sara setelah sampai di sebelah Ella. Ella yang melihat tangan Sara masih diinfus pun bertanya.


"Ini kenapa masih diinfus sayang? Masih sakit kah?" Ucap Ella sambil memegang tangan milik Sara. Sara hanya menganggukkan kepalanya.


"Ini karena tangan Sara belum bisa ditekuk, Bi. Dan seharusnya Sara pulang besok pagi, tapi karena Sara mau belajar buat ujian besok jadi pulang duluan." Jawab Sara sambil menerima pelukan dari Ella.


"Udahlah, drama kalian nggak usah dipamerin gitu. Oh iya, untuk terakhir kalinya. Serahin surat perusahaan itu, lalu kita semua nggak akan ada urusan lagi." Ucap Amora dengan nada sinis.


"Wait, wait. Anda minta surat perusahaan Ayah buat apa? Buat tanggung jawab lagi? Tanggung jawab ke siapa? Ke mantan calon bayi yang sedang Anda kandung?" Tanya Sara beruntun sambil melepas pelukan dari Ella.


Amora pun menyerit heran karena Sara mengucapkan 'mantan calon bayi'. Beberapa detik setelah itu, Amora langsung berteriak histeris.


"Ahh...nggak mungkin. Jangan bilang kalau aku keguguran! Anakku!" Teriak Amora bingung.


"Ini semua gara-gara kau anak sial**! Andai saja kau tak membawanya ke Mas Bram, maka aku akan hidup bahagia bersama calon anakku!" Maki Amora sambil menunjuk Sara.


"Oh, hidup bahagia sama calon anak Anda? Ya, bahagia! Bahagia gara-gara ada uang kan? Coba aja uang dari perusahaan udah habis dan nggak tersisa, dibuang tu anak. Jangan sok berlagak pengen besarin anak nggak berdosa itu, kalau akhirnya akan Anda buang." Jawab Sara menimpali perkataan sang ibu.


Amora yang sudah menyerah pun hanya berteriak dan menangis. Asha yang melihat sang ibu berteriak pun mendekatinya. Asha memeluk sang ibu, dan anehnya tak terdapat penolakan dari Amora.


"Ibu yang sabar ya. Ini sudah menjadi kehendak Allah. InsyaAllah calon bayi ibu sudah tenang di surga." Ucap Asha sambil mengelus punggung Amora. Amora hanya menangis dipelukan Asha tanpa menjawab apa pun. Sesaat setelah itu, Amora terkejut dan menatap mata anak sulungnya itu.


"Allah? InsyaAllah?" Ucap Amora sambil menatap Asha yang sedang menunduk menghadapnya. Asha pun mengangguk dengan antusias disertai senyuman dibibir nya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Asha sudah mualaf." Ucap Asha yang sukses membuat Amora terkaget.


"Kamu mualaf, Sha? Itu memang jalan yang memang asli kamu pilih, atau ada hasutan dari dua wanita gila itu?" Tanya Amora sambil menatap Ella dan Sara secara bergantian. Asha yang mendengar pertanyaan dari ibunya pun refleks menggeleng.


"Ini murni pilihan Asha, Bu. Nggak ada sangkut pautnya sama Bibi Ella ataupun Sara. Asha dengan senang hati mualaf, Bu. Percaya sama Asha." Jawab Asha sambil kembali memeluk sang Ibu.


"Baiklah jika itu memang pilihan yang terbaik buat Asha. Dalami lagi agama mu, Sha. Percayalah agama yang kau anut. Jadikan sebagai agama sampai kau menutup mata. Ibu seneng dengernya." Ucap Amora sambil mengelus punggung Asha.


Sara yang melihat hal itu pun mendekat kearah ibunya dan kakaknya.


"Teh Asha mau nikah. Terserah Anda mau datang atau tidak. Tah Asha anter Sara pulang dulu ya. Sara capek berdiri terus." Ucap Sara datar sambil menarik tangan Asha. Asha pun mengangguk dan berjalan mendekati Sara.


Mereka semua pun berjalan keluar dari ruang rawat Amora dan berpapasan dengan Bram yang sedang berjalan masuk. Bram pun hanya menatap tajam Sara sambil tetep melangkah masuk.


"Kau tak perlu takut lagi. Aku melakukan hal seperti tadi agar tak ada yang mengganggu kita berdua. Apakah ku mau jika perhatianku padamu berkurang karena adanya bayi itu?" Tanya Bram dengan nada yang sangat lembut. Amora hanya memggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tak mau perhatian Bram terbagi.


Sara yang berjalan disebelah Alden dan Khansa pun henya menggelengkan kepalanya.


"Dih bisa-bisa nya ya. Anak siapa, yang suruh tanggung jawab siapa. Mbak Sara nggak bisa bayangin deh, Sa. Gimana kalau anak itu lahir diluar pernikahan. Pasti kasian banget ya kan? Untung kalo cowok, nah kalo cewek gimana? Tambah kasian." Ucap Sara sambil menoleh ke sebelah kirinya menatap Khansa.


"Ya Lo nggak perlu kasian lah, Sar. Orang tua nya aja nggak mau repot-repot mikir, ngapain Lo bingung buat mikirin coba?" Tanya Alden yang berada di sebelah kanannya dan sedang menyeret tiang infus milik Alden.


"Mau gimana pun, kita tetep lahir dari rahim yang sama Kak. Sejahat-jahatnya seorang kakak, nggak mungkin tega sama adeknya. Bener kan?" Ucap Khansa menimpali peekataan dari Alden.

__ADS_1


"Iya sayangku, cintaku, Khansaku. Omongan kamu bener kok." Ucap Alden sambil tersenyum manis menghadap Khansa. Sedangkan Khansa, mukanya sudah memerah karena malu dan segera membuang pandangannya kesembarang arah.


"Dih, dah manggil sayang-sayangan. Nggak sadar Lo, Den? Ada mbak nya ini." Ucap Sqra sambil melirik kearah Alden.


"Gue mah sekarang udah PD, Sar. Enaknya kalo udah nyatain secara langsung tu gini, Sar. Buat kalian yang baca bab ini, satu pesen dari Gue. Kalo kalian emang suka sama seseorang, jangan dipendam. Langsung ungkapin aja ke orangnya. Terserah dia mau nolak atau nerima Lo. Intinya perasaan Lo dah tenang, dan Lo nggak akan terbebani lagi sama perasaan Lo." Ucap Alden yang membuat Sara tertawa terbahak-bahak.


Alden yang gemas karena Sara tertawa pun memukul pelan lengan kanan milik Sara. Seketika Sara berteriak keras sehingga Revan, Asha, Ella, dan Aurora pun menoleh dan terkejut.


"Alden ninju tangan Sara." Ucap Sara sambil menangis. Ella yang tahu pun berjalan mendekati Alden dan menjewer telinganya.


"Kita pulang pake jemputan Pak Jajang, Alden pulang jalan kaki!" Ucap Ella sambil meninggalkan Alden sendirian diluar lift.


...***************************...


Keesokan paginya, Sara berangkat ke sekolah dan dia sudah mempersiapkan untuk ujian hari keduanya. Walaupun tangannya masih terbalut dengan perban dan ditutupi oleh seragam panjangnya, Sara tetap semangat.


Sara diantar kesekolah oleh Revan dan Asha. Mereka akan mengantar surat persetujuan orang tua, milik orang tua Revan serta akan menemui Amora. Asha akan meminta persetujuan dari Amora untuk menikahi Revan.


"Teh, nanti kalo si ulet keket itu nggak kasih restu bilang sama Sara ya. Biar nanti ku getok kepalanya. Semoga aja Ibu kasih restu ke Teh Asha dan Bang Revan ya. Aamiin." Ucap Sara sambil melongokkan kepalanya kedapan, berada diantara Revan dan Asha.


Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.


Iyi Gecerler! all❤.

__ADS_1


__ADS_2