SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 78


__ADS_3

Tanpa aba-aba, Revan pun mengangkat tubuh mungil sang istri. Asha yang terkejut pun seketika melotot dan meminta agar sang suami menurunkannya. Asha memukul berulang kali dada bidang milik Revan, meminta untuk diturunkan oleh suaminya itu.


"Abang! Nanti kalo Asha jatuh gimana?! Turunin ih!" Ucap Asha sambil menggerakkan tubuhnya, berharap agar Revan menurunkannya. Namun Revan tak mendengarkannya. Revan semakin menguatkan gedongannya dan segera membawa Asha menuju kamar mereka.


Setelah berhasil membuka pintu kamarnya dengan tangan kanannya, Revan pun mulai melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Asha yang sudah mencium bau-bau tentang hal yang tak mengenakkan pun jantungnya berdetak dengan cepat.


"Abang mau ngapain?" Ucap Asha lirih sambil meremas baju milik Revan. Revan hanya tersenyum lebar dan mulai merebahkan Asha di atas ranjang. Dengan perlahan, Revan pun menaiki ranjang dan membuat Asha berada dibawah kungkungannya.


"Kalau Abang mau minta hak Abang sebagai suami dan kewajiban kamu sebagai istri, sekarang boleh kan Sha?" Ucap Revan memelas sambil menatap sang istri. Asha yang sudah tahu maksud sang suami pun hanya menghela nafasnya perlahan dan mengangguk.


Mau bagaimanapun, ini adalah hak dari Bang Revan. Dan saat inilah kau harus memberikan apa yang selama ini kau jaga dengan baik, Sha. Batin Asha dalam hatinya serta memantapkan pilihannya. Revan yang melihat jawaban Asha pun tersenyum lebar.


"Tapi ada syaratnya!" Ucap Asha yang langsung membuat senyuman lebar dibibir Revan menghilang. Revan pun menaikkan kedua alisnya bertanya kepada sang istri.


"Kunci dulu pintunya, Bang. Nggak lucu kan kalo tiba-tiba ada yang masuk." Sambung Asha sambil tertawa renyah yang membuat Revan gemas melihat sang istri.


Cupp...


Revan mencium dagu mungil milik Asha yang membuat sang empu seketika berhenti tertawa. Tak mau melihat sang istri memarahinya, Revan pun bergegas turun dari ranjang dan berjalan mengunci pintu utama rumahnya dan pintu belakang rumahnya.


Setelah selesai, Revan berjalan kembali ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Revan pun berjalan mendekati ranjang tidurnya dan mulai menindih tubuh kecil milik sang istri.


"Asha sayang sama Abang?" Ucap Revan menatap lekat netra sang istri. Asha pun hanya tersenyum dan menatap penuh cinta ke netra sang suami. Asha pun mengangguk penuh keyakinan sambil mengelus rahang tegas milik Revan.


"Abang sayang banget sama Asha, Abang cinta sama Asha. Asha ikhlas serahin apa yang selama ini Asha jaga buat Abang?" Ucap Revan dengan nada yang sedikit berat. Asha pun menghembuskan nafanya perlahan dan menyugar rambut milik Revan.

__ADS_1


"InsyaAllah Asha siap. Tapi nanti Abang tel-" Ucapan Asha terpotong karena Revan yang sudah lebih dahulu mencium bibirnya. Dalam sekejap, bibir keduanya saling menempel. Tangan kekar Revan menekan tengkuk milik Asha untuk memperdalam ciuman keduanya. Tangan kiri Revan bergerak melingkari pinggang sang istri sehingga membuat tubuh keduanya semakin menempel sempurna.


Dengan pasti, Revan ******* lembut bibir manis sang istri. Ciuman pria tersebut tidak menuntut, namun penuh dengan kasih sayang. Revan semakin memperdalam aksinya kala mendapatkan akses dari sang Asha. Dengan tak sadar, Asha pun mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami dengan mata tertutup.


Skippp!!!


Kayen masih kecil🙈. Terimakasih Suhu Karita atas bimbingannya😅.


Ethan yang sudah sampai di rumah sakit pun bergegas masuk ke dalam. Dirinya langsung berjalan cepat menuju ruang rawat milik Sara. Setibanya dia di depan pintu ruang rawat milik Sara, Ethan pun langsung membuka pintu nya dengan perlahan. Ethan pun melongokkan kepalanya, melihat apakah sang Mama dan Sara berada di ruangan atau tidak.


Dan benar, seperti tebakannya semalam. Ethan sudah mengira bahwa sang Mama sedang menghindarinya. Ethan pun memastikan sekali lagi, apakah sang Mama dan Sara berada di ruang rawat tersebut atau tidak. Dia berjalan mendekati kamar mandi dan membukanya, namun nihil. Ethan tak menemukan siapa pun berada di dalam kamar mandi.


Ethan berjalan mendekati jendela besar yang berada di ruangan tersebut. Ethan melihat dengan jelas sang Mama dan Sara yang berada di taman belakang. Ethan tak salah melihat, dengan jelas Ethan melihat bahwa sang Mama sedang menatapnya. Namun detik kemudian, Ella mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tak melihat sang anak.


Dengan semangat, Ethan pun berlari keluar ruang rawat milik Sara dan hendak ke taman belakang rumah sakit. Namun di saat yang bersamaan, seseorang menelepon dirinya sehingga ponsel yang berada di saku jaketnya berdering.


Ya setelah perkiraan yang dia pikirkan semalam, Ethan pun dengan sengaja menuliskan surat untuk Mamanya. Berjaga-jaga ketika hal seperti ini terjadi.


Dan benar saja, takdir baik tersebut berpihak padanya. Tanpa membuang waktu, Ethan pun mengeluarkan suratnya yang berada di dalam tas dan meletakannya di brankar milik Sara. Dengan segera, Ethan pun meninggalkan ruang rawat milik Sara dan berjalan cepat keluar dari rumah sakit.


Sementara Sara yang sedari tadi melihat sang Mama menatap ruang rawat miliknya dari bawah pun bertanya kepada Ella yang duduk di depannya.


"Mama kenapa sih? Coba cerita sama Sara, apa masalah Mama." Ucap Sara sambil memegang tangan milik Ella. Ella pun sadar dari lamunan nya yang masih menatap jendela ruangan di lantai 3 tersebut. Dia pun mengalihkan pandangan nya dan menatap Sara yang duduk di depannya.


Awalnya Ella ragu untuk menceritakan hal tersebut. Namun dia tak ingin membuat sang anak kecewa. Ella pun menceritakan masalah yang kemarin terjadi antar dirinya dan Ethan. Ella juga menceritakan bahwa Bella adalah kekasih dari sang anak.

__ADS_1


Sara yang baru mengetahui tentang hal tersebut pun terkejut bukan main. Ella pun menceritakan semuanya tanpa dikurangi atau dilebihkan sedikitpun. Ella pun mengakhiri ceritanya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


Sara pun berpindah duduknya dengan perlahan, bagaimana tidak? Kakinya masih sedikit mati rasa sebab koma selama sebulan serta tragedi badan oleng yang membuatnya jatuh. Sara duduk disamping Ella dan memeluk sang Mama erat.


Setelah cukup lama menenagkan sang Mama, Sara pun melepaskan pelukannya dari sang Mama dan menghapus air mata yang turun dari mata Ella.


"Mama jangan nangis lagi. Sara nggak mau liat Mama nangis. Mama harus janji sama Sara, ini terakhir kalinya Mama menangis. Okey, Ma?" Ucap Sara sambil tersenyum untuk menghibur sang Mama. Ella pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengelus kepala Sara yang tertutup dengan jilbab berwarna biru langit tersebut.


"Oh ya, Ma. Sara punya satu permintaan kecil buat Mama. Sara berharap agar Mama menyetujui permintaan dari Sara ini. Mama mau denger?" Ucap Sara kepada Ella. Ella pun mengeryit bingung dan sedikit berpikir. Akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya karena sangat merasa penasaran.


Sara pun tersenyum dan menegakkan tubuhnya.


"Sara mau kuliah di Jogja ya, Ma? Di Universitas Gajah Mada, Ma. Itu mimpi Sara dari kecil. Sara mau tinggal di Jogja dan bisa mandiri di sana. Boleh kan, Ma?" Ucap Sara antusias sambil menggenggam tangan sang Mama. Seketika raut wajah Ella berubah drastis.


"Mama nggak suka kalau Sara jauh dari keluarga. Cukup Nathan dan Mas Ethan aja yang sekolah jauh dari rumah. Mama nggak mau kalau anak perempuan Mama pergi jauh, apalagi tinggal sendirian. Kan masih banyak Universitas terbaik yang ada di Jakarta, Sar. Kamu bisa dengan mudahnya masuk UI atau BINUS juga. Intinya masih ada di Jakarta lah." Ucap Ella dengan nada tak sukanya.


"Sara mohon Ma. Sara udah mimpiin ini dari Sara masih kelas 1 SD. Ayah juga dukung semua yang Sara ucapin ke Ayah. Dulu Ayah pun dengan semangat bilang kalau Sara bisa kuliah di Jogja dan raih impian Sara." Ucap Sara sambil menundukkan kepalanya di kalimat terakhirnya.


Ella yang mendengar perkataan dari Sara pun merasa bersalah. Seolah-olah dirinyalah penyebab semua impian Sara gagal terwujud. Ella memeluk Sara dengan erat, mengisyaratkan bahwa dirinya tak ingin kehilangan anak perempuannya itu.


"Mama nggak ada niatan buat menghalangi impian Sara. Mama nggak mau Sara terluka karena Sara disana sendirian. Banyak orang diluar sana yang memiliki niat jahat sama kamu, Nak. Mama nggak tau lagi apa yang akan terjadi jika kamu sampai terluka lagi." Ucap Ella dengan suara lirih dan bergetarnya.


"Enggak, Ma! Sara yakin kalo Sara bisa jaga diri Sara dengan baik. Nggak akan ada yang berani nyakitin Sara atau apapun itu. Sara kan anak Mama yang paling kuat." Banyol Sara sambil melepaskan pelukan keduanya dengan mengangkat kedua lengannya, seolah-olah memamerkan otot kuatnya.


"Mama masih nggak mau, Sar. Mama takut kam-" Ucapan Ella terhenti karena suara seseorang.

__ADS_1


"Pergilah, Nak! Kamu berhak menggapai impianmu." Ucap orang tersebut yang membuat dua wanita tersebut membalikkan tubuhnya dan terkejut.


__ADS_2