
Sebelum pergi meninggalkan istrinya, tak lupa Akasa pun mencium pipi milik Sara sekali lagi. Sementara Sara yang dicium oleh Akasa pun hanya mematung. Dia masih dengan posisi yang sama bahkan sampai Akasa selesai mengambil baju ganti serta handuknya.
"Bu Akasa, mohon segera sadar. Jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet setan." Ucap Akasa sebelum menutup pintu kamar mandi. Lagi-lagi pipi Sara memanas, entahlah mungkin mulai hari ini dia akan dibuat gila dengan tingkah Akasa.
Dia berjalan menuju kopernya dan mengambil baju ganti yang telah dia siapkan. Dia tak membutuhkan kamar mandi untuk mengganti bajunya. Karena dia telah memakai pakaian tipis untuk melapisi tubuhnya sebelum terbalut gaun.
Dengan perlahan dia mulai membuka jilbabnya sehingga rambut sepunggungnya mulai terlihat. Dia sedikit menyisir rambut kecoklatannya dengan kelima jarinya, tak lupa dia memberikan sedikit pijatan lembut dikulit kepalanya.
Setelah merasa bahwa pusing dikepalanya sedikit menghilang, Sara pun berjalan ke sisi ranjang sebelah kanan lalu mulai merebahkan tubuhnya. Sara menghirup nafasnya panjang-panjang lalu mulai memejamkan matanya.
Setelah beberapa menit berlalu, Akasa pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Akasa yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk pun terkejut ketika melihat Sara. Bagaimana tidak? Baru kali ini Akasa melihat rambut indah milik Sara.
Dengan senyum hangatnya, Akasa pun berjalan mendekati Sara dan duduk di sebelah istrinya yang mulai masuk ke alam mimpi.
"Permisi, Mbak. Numpang tanya. Lihat istri saya nggak? Tadi dia disini, tapi sekarang pergi." Ucap Akasa perlahan sambil menempelkan dagunya ke bahu Sara. Sara yang tidur dengan posisi miring pun dengan segera membelalakkan matanya.
"Istri yang mana lagi? Jangan-jangan Kak Mahen udah nikah nih. Siapa istri pertamanya?!" Ucap Sara protes sambil membalikkan badannya agar menghadap sang suami.
"Enggak sayangku, aku cuma kaget aja ada wanita cantik dikamar ini. Kamu cantik banget, Ra." Ucap Akasa sambil mencium bahu milik Sara.
"Tau nggak sih, Ra? Aku beruntung banget bisa jadi suami kamu. Aku bener-bener bersyukur bisa milikin kamu." Ucap Akasa sambil mengelus surai milik Sara.
Sara hanya menganggukkan kepalanya disertai senyum manisnya. Sara masih menatap sang suami yang mulai beranjak dari duduknya.
"Udah sholat, Mas?" Ucap Sara sambil mendongak menatap sang suami yang masih mengeringkan rambutnya. Seketika Akasa yang masih fokus dengan kegiatannya pun melotot dan segera menundukkan kepalanya menatap sang istri.
"Kamu bilang apa, Ra? Coba bilang sekali lagi." Ucap Akasa sambil menatap Sara yang sedang menatapnya juga.
__ADS_1
"Bilang apa? Orang Sara nggak bilang apa-apa." Ucap Sara karena malu dengan ucapannya sendiri. Akasa pun menjatuhkan dirinya diatas tubuh Sara dan menatap intens wajah mungil milik istrinya.
"Bilang sekali lagi, atau aku lakuin hal itu sekarang." Ucap Akasa dengan mengancam sang istri. Sontak Sara pun membelalakkan matanya mendengar penuturan dari sang suami.
"Eh kok gitu. Jangan gitu to, Sara cuma bilang. Mas Mahen udah sholat?" Ucap Sara sambil membingkai wajah tampan milik suaminya itu. Wajah Akasa pun seketika memerah. Dia membenamkan wajahnya di leher sang istri dan terkekeh pelan.
Dia mejatuhkan tubuhnya kesebelah Sara dan menarik Sara ke dekapannya. Sara yang mendapat perlakuan manis dari sang suami pun mulai memeluk kepala sang suami yang berada di dadanya.
"Mas Mahen mau tidur siang juga?" Ucap Sara sambil mengelus kepala sang suami. Akasa hanya mengenggukkan kepalanya dalam dekapan sang istri. Sara tersenyum tipis lalu mulai mendekatkan tubuhnya kepada sang sang suami.
"Yaudah, selamat tidur suamiku." Ucap Sara lirih lalu mencium puncak kepala milik sang suami. Hati Akasa bergetar ketika mendengar perkataan manis yang keluar dari mulut sang istri.
Dan ya, tak sampai 15 menit pengantin baru tersebut mulai menjelajahi ke alam mimpi.
Berbeda lagi di kamar sebelah, Bella yang sudah tertidur dilengan kiri milik Ethan. Sedari tadi, Ethan selalu menemani istrinya bolak balik ke kamar mandi. Entahlah sudah berapa kali Bella muntah dalam sehari ini.
Lagi lagi dan lagi, Ethan mengelap keringat yang keluar di pelipis calon ibu dari anaknya tersebut. Ada rasa yang sangat berbeda di hatinya ketika dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Bella yang mendengar penuturan dari sang suami pun membuka matanya dengan perlahan. Mata sayu nya kembali mengeluarkan air mata.
"Hiks... maafin aku, Mas. Seandainya aku nggak hamil, mungkin kamu akan mendapatkan istri sebaik dan sesempurna Sara. Atau enggak, setelah anak ini lahir kamu ceraikan aku dan menikahlah dengan Sara." Ucap Bella dengan suara lirihnya. Bella tak lagi memiliki tenaga untuk menjelaskan semuanya dengan panjang lebar.
Ethan menggelengkan kepalanya lalu memeluk istrinya erat.
"Kamu nggak salah, Bel. Akulah yang salah, seandainya malam itu aku nggak mabuk mungkin semua ini nggak akan terjadi sama kamu. Nggak ada yang lebih sempurna dari kamu Bel. Kamu adalah ibu dari calon anakku." Ucap Ethan tulus lalu mengecup dahi milik Bella yang kembali berkeringat.
"Hiks... hiks... maafin aku, Mas. Aku bener-bener nyesel bikin pernikahan kamu kacau. Aku ngerasa bersalah sama Sara. Kamu mau antar aku ketemu sama Sara? Aku akan bilang semuanya. Kamu bisa nikah sama Sara setelah aku lahiran." Ucap Bella sambil terus menangis.
__ADS_1
"Sst, kamu ngomong apa sih Bel? Nggak ada nikah-nikahan lagi. Nggak ada yang akan ninggalin anak kita. Sara udah nikah juga." Ucap Ethan sambil menyeka air mata istrinya. Seketika Bella pun menghentikan tangisannya dan menatap netra Ethan.
"Sara nikah? Kenapa aku nggak tahu, Mas? Terus laki-lakinya siapa?" Tanya Bella dengan mendongakkan kepalanya. Ethan yang melihat sang istri mulai tenang pun mulai tersenyum.
"Kamu tahu pilot senior yang pernah kasih arahan buat kita? Namanya Pak Mahen. Dia satu maskapai sama kita, kamu ingat kan?" Ucap Ethan menjelaskan siapa suami Sara.
"Oh Pak Mahen yang jam terbangnya sama seperti kamu ya? Syukurlah Sara mendapatkan suami yang tepat." Ucap Bella lega karena tahu siapa suami Sara. Ethan hanya menganggukkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya kepada Bella.
Berbeda lagi dengan Aurora dan Nathan. Mereka berdua sedang mengelilingi stan makanan yang berada di sudut aula. Beberapa orang yang berada disekitar mereka berdua sampai menggelengkan kepalanya melihat sikap keduanya.
Bagaimana tidak? Nathan bertugas membawa troli makanan yang dipenuhi oleh makanan pilihan Aurora. Mereka berdua memang sengaja melakukan hal tersebut karena mereka berdua berencana untuk lomba makan.
Nathan yang merasakan hawa mencekam disekelilingnya pun mendongakkan kepala menatap semua orang. Dia menyunggingkan senyum miringnya.
"Kenapa liat-liat?! Bingung nih mesti gegara kita berdua ngambil banyak makanan kan? Kalo pingin yaudah ikutan aja. Nggak bakal kehabisan juga Lo semua!" Ucap Nathan sambil memindahkan makanan yang Aurora berikan.
"Dasar rakus! Nggak ada elit-elitnya sama sekali. Ya kali, ke pernikahan orang lain ngambilnya segitu banyaknya. Nggak punya malu tuh." Ucap wanita yang mungkin seumuran dengan Sara.
"Nyumbang berapa sih, Mbak? Seratus ribu? Dua ratus ribu? Atau berapa, bilang sama saya! Terus Mbak nya bilang ke pernikahan orang lain gitu? Heh, Mbaknya nggak kenal siapa saya? Saya adeknya si pengantin. Dia juga adeknya." Ucap Aurora sewot karena terganggu dengan omongan wanita tersebut sambil menunjuk Nathan.
"Paling mereka berdua cuma bohong." Ucap wanita yang berada disebelah wanita tadi.
"Capek ya ngomong sama Mbak-Mbak yang kalo kondangan cuma ngamplop dua puluh ribuan. Nih Gue, ngamplopnya bukan uang! Amplop Gue isinya mobil. Kalo kalian masih nggak percaya, liat tu dua mobil yang ada di luar gedung. Ada kan tulisannya besar?! SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU BUAT KAKAK KU. Terus di kotakan biru tuh ada tulisannya AURORA ARRASELLI." Ucap Aurora kesal sambil membawa kedua tangannya di pinggang.
Khansa yang mendengar sang adik ribut pun ikut mendekatinya.
"Maaf Kak, adek saya bikin salah apa? Maaf ya dia marah-marah sama Kakak." Ucap Khansa tulus sambil mengelus rambut sebahu milik Aurora.
__ADS_1
"Nggak papa Kak. Dia aja tuh yang ngaku-ngaku kalau adiknya Pak Ethan dan Sara. Dia juga ngaku kalau dia Aurora dan yang memberi hadiah mobil didepan." Ucap wanita pertama yang tadi menjawab Nathan.
Seketika Khansa pun menahan tawanya mendengar pernyataan wanita tersebut. Dengan susah payah Khansa menahan tawanya, namun suara dibelakangnya membuat Khansa tak dapat menahan tawanya lagi.