
Semua orang pun panik karena melihat muka Amora yang pucat serta darah yang masih keluar dari selangk****n milik Amora. Ketika semua orang panik, Sara hanya tersenyum miring dan berjalan keluar apartemen.
Sara berjalan santai keluar apartemen melalui tangga. Ketika sampai dilantai bawah, Sara berpapasan dengan keluarganya. Sara menatap tajam Amora yang digendong oleh Revan. Sara berjalan santai melewati mereka semua. Sara membelokkan badannya kekiri, berbeda dengan keluarganya.
"Sara! Cepat ikut Teh Asha. Kita kerumah sakit dulu!" Ucap Asha yeng membuat Sara menghentikan langkahnya. Sara pun memutar badannya setengah menatap kakaknya.
"Sara nggak mau, Teh. Ngapain ngurus tu perempuan gila?! Biarin aja Teh! Biar kalo perlu, mati sekalian!" Ucap Sara kembali berjalan kedepan. Baru tiga langkah Sara beranjak dari tempatnya, ucapan Asha menghentikan langkah dari Sara.
"Sara masih mau dengerin Teh Asha kan? Atau mau lepas dari Teh Asha?" Ucap Asha lembut yang membuat Sara menghembuskan nafasnya kasar. Sara pun membalikkan badannya dan berjalan menuju keluarganya. Sara menghentakkan langkahnya seperti anak kecil lengkap dengan bibir cemberutnya.
Mereka semua pun membawa Amora ke rumah sakit dengan mobil Ella. Khansa dan sara pun memisahkan dirinya dengan pergi menggunakan taksi.
Sesampainya mereka semua di rumah sakit, Asha dan yang lain mencoba bergerak cepat untuk menyelamatkan Amora. Sedangkan itu, Amora hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakitnya. Air matanya pun masih setia membasahi pipinya.
Saat Amora dimasukkan ke dalam UGD, semua orang masih setia berjalan kesana kemari sambil berdo'a. Sara hanya tersenyum miring dan terlihat sangat santai, tak seperti yang lainnya. Sara pun berdiri dariduduknya dan berjalan hendak keluar rumah sakit.
Bebarengan dengan hal itu, seorang perawat keluar ruang UGD.
"Permisi semuanya, ibu tadi kehilangan banyak darah dan membutuhkan transfusi darah yang sedikit banyak. Saya sudah menghubungi pihak rumah sakit dan bank darah, namun darah ibu didalam sangat langka. Apakah pihak keluarga ada yang memiliki golongan darah O nagatif?" Ucap sang perawat yang sukses membuat Sara tersenyum menang.
Sara melangkahkan kakinya dengan gontai hendak meninggalkan ruang UGD. Namun lagi-lagi sang kakak menghentikannya.
"Sara! Ya, Sara dan Reza yang memiliki golongan sama seperti Ibu! Dimana Sara?! Sara!" Ucap Asha yang terlihat raut wajahnya sedikit lega. Sara yang dipanggil tak kunjung berhenti dan tetap berjalan. Asha yang melihat sang adik berjalan pergi pun berlari menuju Sara dan mencekal tangan adiknya.
__ADS_1
"Sara apa yang kamu lakukan? Ayo kembali dan berikan darahmu kepada Ibu dan calon adik kita!" Ucap Asha dengan nada khawatir dan mencoba menarik Sara kembali.
"Enggak Teh, biarkan Ibu merasakan bagaimana susahnya ketika dia membutuhkan anaknya, tapi anaknya pergi. Sama seperti kita, dulu kita membutuhkan Ibu tapi Ibu pergi meninggalkan kita semua." Ucap Sara tegas sambil melepaskan tangan sang kakak dari pergelangan tangannya.
Sara pun hendak melangkahkan kakinya maju, tapi Asha masih mencegahnya.
"Kalau Sara melangkahkan kaki walau hanya satu langkah saja, itu berarti Sara juga ninggalin Teh Asha. Terserah Sara mau ikut siapa, tapi Teh Asha nggak akan peduli lagi sama Sara." Ucap Asha dengan penekanan disetiap katanya dan perlahan membalikkan tubuhnya.
Sara yang mendengar perkataan sang kakak pun memelototkan matanya dan berbalik mengejar kakaknya.
"Teh Asha jangan gitu. Sara nggak mau kalau Teh Asha mulai bodo amat sama Sara. Sara sayang sama Teteh. Sara cuma punya Teteh sama adek-adek. Jangan diemin Sara ya Teh." Ucap Sara dengan nada yang bergetar dan memeluk sang kakak.
Asha pun memeluk erat sang adik dan mengelus punggung serta kepala Sara.
Sara dibawa oleh seorang perawat ke ruang yang berbeda. Sara dipakaikan pakaian yang berbeda, seperti pakaian khusus untuk pasien. Sara dibawa masuk keruang UGD beserta sang perawat tadi. Sara tersenyum manis menghadap sang kakak dan memasuki ruang UGD.
Sara yang melihat sang Ibu sudah tak sadarkan diri di brankar UGD pun memutar bola matanya malas. Coba kalau nggak ada Teh Asha, udah mati tu perempuan gak guna!" Batin Sara sambil melirik kearah Amora.
Sara diminta untuk berbaring di brankar sebelah brankar Ibunya. Sara pun naik keatas brankar dan mulai merebahkan dirinya. Tirai berwarna putih pun menyekat antara brankar ibunya dan dirinya. Seorang perawat perempuan pun mulai membuka baju dibagian lengan Sara.
Perawat tersebut mulai memasukkan jarum ke bagian lengan kanan milik Sara dan meminta agar Sara mengepalkan tangannya beberapa kali agar darah yang keluar lebih banyak. Sara hanya terud berdo'a dalam hati sambil menatap darahnya yang mengalir keatas.
Satu setengah jam berlalu, Sara masih setia berbaring bosan di brankarnya. Badannya terasa sangat lemas dan dia merasakan nyeri yang sangat dibagian lengannya. Hingga tak sadar, muka Sara sangat pucat. Sara juga merasakan sakit kepala yang lebih menjurus ke pusing.
__ADS_1
Saat selesai mendonorkan darahnay untuk Amora, Sara ditanya oleh sang perawat.
"Apakah Nona Sara masih kuat berjalan?" Tanya sang perawat ramah sambil melepas selang darahnya. Sara yang sedikit samar-samar mendengar seseorang berbicara pun mencoba menahan kesadarannya.
"Nggak sus, tolong bawa saya ke ruang rawat sebentar. Kepala saya sakit sekali. Saya rasa, saya tak mampu berjalan. Apakah bisa?" Ucap Sara sambil memijit kepalanya dengan lengan kirinya. Sang perawat pun menganggukkan kepalanya dan memanggil teman sesama perawatnya.
Sang perawat pun mengatakan kepada dokter dan teman perawatnya, maksud dari Sara. Sang dokter yang tahu bahwa Sara sedikit pusing dan merasa lemas pun menyarankan agar Sara dipindah ke ruang rawat. Akhirnya para perawat pun mengangguk dan berjalan mendekati brankar Sara.
Sara yang sudah tak sadarkan diri pun dibawa oleh kedua perawat tersebut ke ruang rawat. Tak lupa lampu yang sedari tadi berwarna merah pun berganti menjadi hijau. Semua orang yang melihatnya pun merasa sangat lega.
Asha yang melihat pintu UGD terbuka pun berdiri dari duduknya. Maksud hati ingin bertanya kepada dokter atau suster yang keluar, malah dikejutkan dengan sang adik yang sudah tak sadarkan diri.
Asha pun seketika panik dan bertanya kepada sang perawat.
"Maaf sus, adik saya kenapa?" Ucap Asha khawatir sambil menghentikan kegiatan sang perawat yang sedang mendorong brankar Sara.
"Ini bukanlah apa-apa Mbak. Karena biasanya orang yang baru saja donor darah akan merasakan pusing, mual, nyeri di sekitar lengan, memar disekitar bekas suntikan, serta bisa saja pingsan. Mbak nya tenang saja, ini hanya akan berlangsung sebentar. Kami permisi dahulu, mari." Ucap sang perawat sambil berlalu meninggalkan Asha dan yang lain.
Saat sang dokter keluar, Asha pun bertanya mengenai keadaan sang ibu.
"Maaf dok, bagaimana kondisi Ibu saya dan calon Adik saya?" Ucap Asha dengan binar yang bahagia. Sang dokter pun hanya menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
__ADS_1
Iyi Gecerler! all❤.