
Sara memutuskan untuk kembali ke rumah bersama Khansa karena waktu sudah menjelang magrib. Jadi Sara dan Khansa pun berjalan menuju tempat motornya diparkirkan.
Sementara di tempat Alden, dia berjalan mendekati orang tersebut dan menyapanya.
"Ngapain bang nggak manggil? Udah lama nunggu nya?" Ucap Alden sambil menyalami laki-laki tersebut.
Laki-laki yang mengenakkan masker itu pun membuka maskernya dan tersenyum hangat.
"Nggak lama kok gue nunggu nya. Oh iya Den, tadi Lo bicara sama siapa yang jatuh dari tangga itu? Pacar Lo?" Tanya laki-laki tersebut.
Alden yang Mendengar hal itu pun sontak melotot. Apa? pacarnya Sara? Dalam hati, Alden mengucapkan amit-amit berkali-kali. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika dia memiliki pacar seperti Sara.
"Dih ogah, amit-amit punya pacar kayak gitu bentukannya. Kagak, itu kakak kelas gue." Ucap Alden mantap. Laki-laki tersebut pun hanya mengangguk tanda bahwa dia mengerti.
Lantas mereka berdua pun berjalan menuju parkiran dan bergegas untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, laki-laki tadi mengatakan bahwa dia ada acara balapan liar. Dan dia mengajak Alden untuk ikut serta.
Alden pun mengiyakan ajakan dari laki-laki tersebut dan tanpa pikir panjang mereka berdua pun melajukan motornya, menuju tempat balapan yang akan diadakan setelah magrib.
Sementara Sara yang sedang mengendarai motornya pun pembelokan arah sepeda motornya ke sebuah supermarket. Sara berniat untuk membeli kain kasa dan dan hansaplast untuk mengobati lukanya.
Sara juga membeli beberapa bahan makanan yang akan dia gunakan untuk memasak. Karena ayahnya akan pulang hari ini, Sara berpikir akan memasakkan masakan spesial untuk ayahnya.
Dan karena hal itulah, Sara yang tadinya mengalokasikan waktunya akan pulang setelah magrib pun keteteran. Dan alhasil, selesai berbelanja saat azan isya berkumandang.
Setelah membayar sejumlah belanjaannya, Sara pun keluar bersama Khansa membawa beberapa kantung plastik. Khansa dan Sara pun duduk di depan supermarket untuk mengobati luka Sara.
Setelah selesai menutup luka nya, mereka berdua pun bergegas pulang. Karena Sara telah menghabiskan banyak waktu, Sara pun memutuskan untuk melalui jalan pintas menuju rumahnya. Sara pikir, dia akan cepat sampai rumah jika melalui jalan tersebut.
Namun dugaan Sara salah. Karena di jalan tersebut, Sara melihat banyak sekali anak-anak bermotor yang memenuhi jalanan tersebut sehingga Sara tidak bisa lewat.
Dan lebih parahnya lagi, Sara mendengar suara mobil polisi yang mendekati ke arah mereka. Lalu, datanglah mobil polisi tersebut dari arah belakang Sara. Banyak polisi yang keluar dari mobil tersebut dan mengepung anak-anak tersebut, termasuk Sara dan Khansa.
Mereka semua diarahkan menuju ke kantor polisi termasuk Sara dan Khansa. Sara yang merasa tidak bersalah pun masih berdebat dengan para polisi bahwa dia tidak mengikuti balapan liar seperti anak-anak yang lain.
Namun yang dikatakan oleh polisi tersebut membuat Sara menjadi menyerah. Polisi tersebut mengatakan bahwa dia masih bisa menghubungi orang tuanya untuk menjemputnya di kantor polisi.
Dan mau tidak mau Sara pun mengendarai motornya menuju ke kantor polisi. Sesampainya di kantor polisi, Sara dan Khansa pun ikut masuk ke dalam ruangan yang Sara pikir itu adalah ruang tunggu.
Sara pun menelan ludahnya karena hampir semua yang ada di ruangan tersebut adalah laki-laki. Hanya dia dan Khansa yang perempuan. Sara pun berbalik dan menghadap ke polisi yang tadi dia ajak berdebat.
"Maaf Pak, bisa tempat Saya dan adik saya dipisah dari mereka semua? Karena kita berdua kan perempuan, nggak enak kalau dijadiin satu." Pinta Sara.
Polisi tersebut pun mengangguk dan mengajak Sara menuju ruang yang ada di ujung koridor. Namun, masih dibatasi oleh sebuah papan. Dan mau tidak mau Sara dan Khansa melewati tempat duduk para laki-laki yang yang memanjang.
__ADS_1
Sara pun berjalan di belakang polisi tersebut dan diikuti oleh Khansa. Sara hanya menundukkan pandangannya dan menggigit bagian bawah bibirnya karena dia merasa gugup.
Matanya yang tak sengaja menangkap sepasang netra berwarna cokelat terang dan mentrigger Sara kepada suatu peristiwa. Seketika badan Sara menegang dan jantungnya berhenti berdetak untuk sementara.
Sara merasakan pasokan udara yang masuk ke dalam dirinya pun sedikit menipis. Sara masih menatap Netra tersebut yang juga sedang menatapnya. Sara mencoba untuk mengedipkan matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan.
Khansa yang sedang berjalan pun mendadak berhenti karena sang kakak juga berhenti. Khansa pun memegang pundak dari kakaknya dan menggoyangkan nya sedikit perlahan.
Sara yang tersadar pun segera melajukan jalannya menuju ujung koridor mengikuti sang polisi. Sesampainya di ruang tersebut Sara dan Khansa pun duduk berhadapan dengan polisi yang salah pikir berusia sekitar 40-an.
Polisi tersebut meminta nomor dari orang tua Sarah dan Khansa. Sara pun memberikan nomor dari kakaknya, karena dia pikir bahwa ibunya mungkin sedang tidak ada di rumah.
Walaupun sang polisi meminta agar Nomor ibunya, tetapi Sara memberi tahu bahwa ibunya memang jarang di rumah karena memiliki banyak urusan. Ya, urusan dengan lelaki hidung belang. Batin Sara dalam hati.
Akhirnya sang polisi pun menyetujuinya dan mencatat nomor Asha. Setelah itu, sang polisi pun meninggalkan Sara dan Khansa di ruangan tersebut.
Tak lama setelah polisi itu pergi, terdengar langkah kaki mendekat ke ruangan tersebut. Sara pun menjadi waspada. Siapa yang datang menuju ruangannya? pikir Sara.
Dan Sara pun kaget, karena itu adalah Alden. Dahi Sara berkerut dan menatap Alden yang berjalan menuju ke arah tempat duduk yang ada di seberangnya.
"Ngapain Sar dateng kesini? Ikutan balapan liar Lo?" ucap Alden santai sambil menatap kearah Khansa yang juga sedang menatapnya.
Sara yang mendengar pertanyaan dari Alden pun hanya memutar bola matanya Jengah dan melipat kedua Tangannya di atas meja.
Khansa dan Alden yang mendengar hal itu pun saling menatap dan menahan tawanya. Muslimah? Iya Muslimah pakaiannya, tetapi tingkahnya? Batin Khansa dan Alden.
Alden pun hanya mengiyakan perkataan dari Sara yang dia pikir sedikit nyeleneh itu. Namun, Sara baru sadar mengapa Alden bisa ditempat itu juga.
"Nah kalau Lo sendiri ngapain di sini? Ikut balapan liar juga? Terus ngapain Lo ke ruangan ini, sana keluar gabung sama temen-temen Lo." Ucap Sara sedikit mengusir.
"Iya, gue diajakin abang gue liat balapan liarnya dia sama temen temennya. Kalau Lo tanya kenapa gue bisa ikut kesini, jawabnya mah dah biasa. Lo tanya sama tukang sapu didepan juga kenal gue." Jawab Alden.
Khansa yang sedari tadi hanya menyimak pun ikut angkat bicara.
"Kenapa sampai bisa hafal gitu kak? Langganan masuk kantor polisi ya?" Tanya Khansa polos. Sara pun mengacungkan kedua jempolnya untuk sang adik, karena menurut Sara alasan itulah yang paling masuk akal.
Secara Alden kan terkenal karena kebandelannya.
"Ya selain sebagai langganan, gue juga sering kesini kalau anter abang gue yang paling besar kerja. Dia polisi di sini." Ucap Alden Santai.
Sara dan Khansa pun hanya ber-oh ria dan menganggukkan kepala tanda dia mengerti. Namun otak Sara kembali berpikir karena dia baru sadar.
"Wait wait, Lo bilang kalau kakak Lo itu polisi kan? Tapi kenapa dia ikut balapan liar? Jangan-jangan dia polisi gadungan? Wah pasti perutnya buncit nih. Selain suka uang sogokan dia juga nggak profesional kerja." Interogasi Sara.
__ADS_1
"Ngawur aja Lo, enggak lah. Yang polisi itu abang gue yang pertama, nah kalau yang balapan liar itu abang gue yang kedua. Nah gue anak yang ketiga. Paham?" Jawab Alden sedikit geli dengan pernyataan Sara.
Lagi-lagi Sara dan Khansa hanya menganggukkan kepalanya. Sara melirik kearah adiknya yang juga sedang menatap kearahnya. Sara tersenyum manis dan mencium pipi gembul milik adiknya.
Khansa pun hanya tersenyum manis dengan sikap kakaknya.
"Nah, ngapain Lo masih di sini? Sana ngumpul sama temen-temen Lo dan abang Lo. Masa Lo malah ngumpul sama cewek?" Usir Sara lagi.
"Orang gue nggak kenal juga sama mereka. Ya kali di sana gue cuma planga plongo kagak jelas. Mending di sini sama Lo sama Khansa juga. Masih nyambung diajak ngobrol." Jawab Alden santai sambil menyenderkan punggungnya dikursi.
Tak lama, datang laki-laki bertubuh tinggi atletis dengan gaya rambut curtain nya. Lengkap dengan masker dan jaket bomber hitamnya.
"Den, dipanggil abang keruangannya." Ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah kakak Alden. Alden pun beranjak bangun dan hendak mengikuti langkah kakaknya.
"Sar, Khansa gue duluan ya." Pamit Alden kepada Sarah dan Khansa. Khansa pun hanya menanggapi dengan anggukan, sedangkan Sara dia masih menatap kakak dari Alden.
Sara berpikir keras, di mana dia melihat kakak Alden tersebut. Namun, dia terhalang oleh masker yang digunakan oleh kakak Alden. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dan memejamkan matanya.
Sementara Asha yang sedang bersih-bersih di rumah pun berlari menuju kamarnya karena dia mendengar teleponnya berdering. Saat membuka hp-nya, dahi Asha berkerut karena tidak mengenali nomor tersebut.
Asha mengangkat nya dan bertanya dengan siapa dia bicara. Asha terkejut bukan main ketika orang yang mengajaknya bicara adalah seorang polisi. Dan dia lebih kaget lagi ketika polisi tersebut memintanya ke kantor polisi untuk menjemput adiknya.
Tanpa pikir panjang, Asha pun mematikan teleponnya dan bergegas berganti baju. Karena dia berpikir telah terjadi di hal yang tidak baik kepada Khansa dan Sara.
Setelah selesai berganti pakaian, Asha pun keluar dari kamarnya dan memanggil kedua adiknya untuk turun ke bawah. Aurora dan Reza yang merasa terpanggil pun segera turun ke bawah dan melihat muka kakaknya yang telah khawatir.
"Reza sama Khansa tolong tetap berada di rumah ya. Jangan bukain pintu ke siapa-siapa kecuali yang datang itu Ayah, Ibu, atau kakak-kakak. Kalian lihat dulu dari balkon atas, siapa yang datang. Jangan langsung buka. Teteh mau pergi sebentar buat jemput Mbak Sara sama Kak Khansa. Kalian tunggu di rumah ya." Ucap Asa kepada kedua adiknya.
Setelah kedua adiknya mengerti, Asha pun berlari menuju keluar rumah dan memesan taksi online untuk ke kantor polisi. Tak lama setelah itu, datang sebuah mobil dengan tipe Avanza.
Asha yang sudah tahu bahwa itu adalah taksi pesanannya pun segera masuk. Lalu dia mengatakan bahwa dia akan ke kantor polisi, dan meminta agar sopirnya mengendarai mobil dengan sedikit cepat.
Dalam perjalanan menuju kantor polisi pun, tak henti dia merapalkan do'a kepada Tuhannya agar tidak terjadi suatu hal kepada Sara dan Khansa. Setelah 30 menit berjalan Asha dapat melihat sebuah gedung dengan tulisan kantor polisi di depannya.
Setelah selesai membayar Asha pun turun dan bergegas masuk ke dalam kantor polisi. Asha yang melihat seorang polisi sedang duduk pun menghampirinya dan menanyakan di mana dia bisa bertemu dengan adiknya.
Sang polisi pun mengarahkan Asha ke suatu ruangan yang di pintunya tertuliskan AKP. Asha berpikir bahwa mungkin itu adalah atasan mereka, sehingga mereka menyuruhnya untuk bertemu dengan atasannya.
Asha yang telah mengetuk beberapa kali dan tidak terdengar jawaban pun membuka pintunya. Dan dia merasa kaget karena sang polisi sedang memarahi 2 orang laki-laki yang usianya lebih muda darinya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan pun menoleh ke arah pintu secara bersamaan, dan Asha hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya karena dia merasa takut.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
__ADS_1
Iyi Gecerler! all❤.