SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 96


__ADS_3

Khansa hanya diam mematung mendengarkan pernyataan dari Alden. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menetralkan detak jantungnya.


"Will you be mine ya, Kak? Emm, enggak deh. Khansa nggak mau." Ujar Khansa sambil menatap netra Alden. Sontak Alden pun langsung berdiri dan menatap Khansa tak percaya.


"Kenapa, Sa? Aku ada salah sama kamu? Atau kamu udah ada pacar sendiri? Bilang, Sa! Kenapa kamu nolak aku?!" Ujar Alden dengan sedikit tak terima.


Khansa tersenyum tipis sambil menatap Alden. Tangannya terangkat untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi sedikit wajah tampan Alden. Alden melengkungkan bibirnya kebawah sambil menatap Khansa intens.


"Kamu yakin, Sa? Nggak nerima aku?" Tanya Alden sekali lagi. Lagi dan lagi, Khansa hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi pacar Kak Alden, kan? Khansa nggak mau." Ujar Khansa yang langsung membuat Alden menatapnya datar. Alden membalikkan badannya dan hendak berjalan menjauhi Khansa.


Namun, sebuah tangan kecil memegang erat tangan kekarnya.


"Cuma ada kalimat Will You Be Mine, ya? Nggak ada Will You Marry Me gitu?" Tanya Khansa lirih yang membuat Alden membalikkan badannya. Netranya menatap kaget kepada Khansa.


"Are you seriously?!" Ujar Alden dengan nada tertahan yang yang langsung diangguki oleh Khansa. Tanpa aba-aba, Alden pun menarik Khansa kedalam dekapannya. Dia memeluk erat wanita yang sangat dia cintai itu.


"So. Will You Marry Me, Khansa Aurora?" Ujar Alden yang membuat Khansa mendongakkan kepalanya. Khansa hanya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.


"Yes, i will." Lirih Khansa yang langsung disambut oleh kecupan hangat dari Alden tepat dibibir ranumnya. Khansa membelalakkan matanya dan mengatakan bahwa Alden tak boleh melakukan hal tersebut melalui sorot matanya.


Alden hanya menutup matanya perlahan mengatakan bahwa all it's gonna be okay. Alden memperdalam ciuman mereka sambil menekan tengkuk milik Khansa. Alden melepaskan ciumannya dari Khansa, karrna dia tahu bahwa Khansa sudah kehabisan nafas.


"Kenapa diambil sekarang? Kak Alden mah gitu!" Rajuk Khansa sambil memukul dada Alden perlahan. Alden pun terkekeh geli melihat reaksi dari Khansa. Dia kembali membawa Khansa menuju dekapannya.


"Nggak apa-apa sayangku. Bukankah pada akhirnya aku juga yang akan mengambilnya?" Tutur Alden yang kembali membuat Khansa menangis.

__ADS_1


"Jangan nangis, sayangku. Apakah kau menyesal karena aku mengambilnya?" Tanya Alden sambil mendongakkan kepala Khansa. Khansa hanya menggelengkan kepalanya , lalu tak lama dari itu dia pun menganggukkan kepalanya.


"Lah kok ambigu banget sih? Iya atau enggak jawabannya?" Desak Alden sambil mengeratkan pelukannya di pinggang ramping milik Khansa.


"Nyeselnya karena udah diambil dulu sebelum sah, terus nggak nyeselnya karena Kak Alden yang ambil." Jawab Khansa yang membuat Alden kembali memeluk erat Khansa.


"I love you, Sa." Lirih Alden dambil mengelus punggung Khansa. Khansa tak menjawab pernyataan dari Alden, dia hanya menganggukkan kepalanya dipelukan Alden.


"Kenapa nggak jawab? Kamu nggak suka sama Kak Alden?" Tanya Alden pelan yang langsung disuguhi wajah cantik Khansa yang sedang menatapnya.


"Love you to." Jawab Khansa sambil berbisik yang membuat Alden langsung mencium bibir Khansa kembali. Sontak Khansa pun tak terima dengan perlakuan Alden.


"Kenapa dicium lagi? Jangan gitu, ih. Kak Alden mah, hiks... hiks..." Protes Khansa dengan nada bergetar yang langsung membuat Alden kaget.


"Eh, jangan nangis calon istriku. Yaudah yuk balik ke kamar." Ujar Alden yang langsung menggendong Khansa ala bridal style. Sontak Khansa yang terkejut pun hendak turun dari gendongan Alden.


"Jangan gerak-gerak, Sayang. Bagaimana jika kau jatuh, hmm?" Ucap Alden lirih sambil mendekatkan tubuh Khansa kepada tubuhnya. Khansa menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang calon suami. Entahlah, sudah bisakah Khansa memanggil Alden dengan sebutan 'calon suami'.


Malam harinya, semua orang telah kembali kerumah Ella dan Rendi. Kecuali Sara dan Akasa. Mereka berdua sengaja langsung pulang ke rumah yang Akasa beli, karena keesokan harinya Akasa sudah ada jadwal untuk flight.


Maklum, dia belum mengambil cuti untuk pernikahannya. Bagaimana tidak? Keputusan untuk menikahi Sara saja tiba-tiba lewat dibenaknya. Biasa disebut Pernikahan Dadakan.


Kali ini, kamar Asha sedang memanas. Bukan karena adegan 21+ atau yang lain. Tetapi tatapan tajam dari Kenzo lah yang membuat kamar tersebut sedikit tegang.


Ceritanya, balita tersebut masih marah dengan kedua orang tuanya.


"Maafin Mama ya, Sayang. Mama nggak bolehin kamu ke kamar Te Lola karena pasti mereka sedang istirahat, Zo. Kenzo tahu kan, seharian kemarin Tante Aurora dan Khansa sibuk di acara penikahan Te Ala. Jangan marah lagi ya, Nak." Ucap Asha sambil mengelus punggung kecil anaknya yang sedang tidur membelakanginya.

__ADS_1


Belum sempat tangannya menyentuh punggung sang anak, batita tersebut sudah beranjak dari tidurnya. Dia memincingkan matanya menatap sang Mama.


"Iya, Ma. Kenjo tahu. Mama jangan ngomong lagi ke Kenjo, Mama tahu kan kalau Kenjo lagi malah sama Mama?" Ujar Kenzo sambil bersidekap.


"Loh, nggak baik Zo marah sama Mama. Udah ya, kita damai sekarang." Bujuk Asha sambil bangun dari posisi berbaringnya.


"Kenjo enggak malah sama Mama. Kenjo cuma kesel sama Mama. Olang tadi Te Anca sama Te Lola udah bangun. Telus kenapa Mama nggak antel Kenjo?" Tukas Kenzo sambil berjalan menuju kumpulan tas milik sang Mama serta Papa nya. Tak jarang ada beberapa tas gendong kecil beraneka ragam milik Kenzo.


Dengan lucunya dia mengambil tas kecil berbentuk mickey mouse miliknya dan berjalan menuju nakas disebelah Asha. Tangan kecilnya meraba-raba permukaan nakas sambil berjinjit.


"Kenzo cari apa? Dot atau empeng?" Tanya Asha sambil membantu sang putra untuk mengambil dua barang kesayangan anaknya.


"Abang bisa sendili Ma. Sehalusnya Mama nggak usah bantu Kenjo. Yaudah kalena Mama udah ambilin, sini masukin ke tas." Sinis Kenzo sambil memajukan tas kecilnya.


Asha hanya tersenyum kecil sambil memasukkan dot dan empeng milik Kenzo. Dirinya tak marah sama sekali. Karana apa? Karena dia ingin melihat bagaimana marahnya sang anak dan bagaimana dia memaafkan orang lain serta menyelesaikan masalah.


"Mama jangan ikut Kenjo. Celitanya Kenjo lagi malah sama Mama. Telus Kenjo mau tidul sama Te Anca. Jangan dikejal ya, Ma?" Tutur Kenzo dengan nada yang sedikit sensi sambil mengalungkan tas nya ke bahu mungilnya sambil menarik selimut kesayangannya.


Asha tertawa geli melihat sikap sang anak yang sangat dewasa. Asha langsung bangkit dari duduknya tatkala melihat sang anak yang tak sampai menyentuh gagang pintu.


"Bantuin Kenjo, Ma." Desis Kenzo sambil memeluk erat selimut kesayangannya sejak kecil. Dengan sedikit cepat, Asha berjalan mendekati snag anak dan membukakan pintunya.


Kenzo pun segera keluar dari kamarnya. Tak lupa dia menghadap sang Mama dan membungkukkan badannya.


"Telimakasih, Ma. Kenjo pelgi dulu, jangan dikejal. Langsung tutup pintunya aja." Ucap Kenzo berterima kasih sambil meminta sang Mama untuk tak mengikutinya.


Asha hanya mengangguk dan menuruti permintaan sang anak. Setelah Kenzo berjalan menjauh, Asha pun menutup pintu kamarnya lalu tertawa geli.

__ADS_1


Sementara Kenzo, dia memutar kepalanya kebelakang untuk menatap sang Mama. Namun ternyata pintunya sudah tertutup.


"Huwaaaa... Mama nggak sayang Kenjo!" Tangis Kenzo sambil terus berjalan menuruni tangga.


__ADS_2