
Tangan Ethan terulur mengusap kepala Sara. Momen langka tersebut tak ada seorang pun yang melihatnya. Dengan segera Ethan pun manrik tangannya dan pergi meninggalkan ruang rawat.
Alden yang sedari tadi menatap tajam sang kakak pun berdiri dari duduknya. Khansa menahan bagian bawah kaus Alden dan menaikkan kedua alisnya sambil mendongak menatap Alden. Alden yang baru pertama kali mendapat perlakuan seperti itu dari Khansa pun tersenyum lebar.
"Mau keluar sebentar." Ucap Alden tanpa bersuara, hanya menggerakkan bibirnya saja. Khansa pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah benar-benar memastikan bahwa Khansa telah melepaskan kaus nya, Alden pun beranjak pergi.
Alden keluar dari ruang rawat Sara dengan langkah yang santai, begitu berada diluar Alden pun menyusul sang kakak dengan langkah cepatnya. Setelah berhasil membalikkan tubuh Ethan, Alden pun menatap tajam mata sang kakak.
"Jangan bilang kalo Abang mau pergi jenguk Bella? Gue tau, Bang kalo Lo mau kesana. Abang dah tau apa yang sebenarnya terjadi kan? Atau Abang malah pura-pura nggak tau? Dia yang udah jadi penyebab Sara koma! Sara keluarga kita, Bang! Lo rela kalo adek Lo di tusuk pakai pisau gitu? Enggak kan?!" Ucap Alden dengan menahan emosinya.
"Gue tau! Tapi apa Lo bakal biarin pacar yang Lo sayangi menderita sendiri? Gue bukan pria pecundang yang bakal biarin cewek yang Gue cintai menderita sendiri. Gue pergi sekarang! Bye." Ucap Ethan menjelaskan kepada sang adik dan berjalan meninggalkan rumah sakit.
Alden yang mendengar perkataan dari sang kakak pun hanya meredam emosinya. Dirinya tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh sang kakak.
Sementara di kantor polisi pusat, Amora berjalan masuk sambil menggandeng tangan Bram. Mereka berdua datang menuju kantor polisi pusat dengan tujuan untuk membebaskan Bella dengan jaminan.
Pada awalnya Bram menolak keras permintaan Amora, namun Amora mengancam jika Bram tak menurutinya maka dia akan marah padanya. Karena tak mau Amora marah, mau tak mau dirinya menuruti permintaan Amora. Dalam pikirannya, jika Amora marah padanya maka siapa yang akan membantunya menyalurkan hasratnya. Astagfirullah...
Bella yang sedang duduk di sebuah ruangan kosong sendirian pun bangun dari duduknya karena seorang polisi wanita mendatanginya beserta seorang wanita. Dengan semangat, Bella bangun dari duduknya dan berjalan mendekati pintu besi yang memiliki lubang tersebut.
Bella terkaget karena melihat Amora mendatanginya. Amora pun masuk keruangan tersebut dan meminta sedikit waktu kepada polisi wanita tersebut untuk berbicara kepada Bella. Bella hanya menatap tak suka kepada Amora. Setelah kepergian sang polisi wanita tersebut, Amora berjalan mendekati Bella.
"Apakah kau baik-baik saja sayang? Apakah ada yang terluka?" Ucap Amora dengan nada lembutnya dan dengan suara yang penuh kasih sayang. Bella masih menatap tak suka kepada Amora. Dirinya tak menggubris sedikitpun perkataan dari Amora.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini hah?! Apakah kau akan mengejekku karena Mama ku telah tiada? Apakah kau juga akan memenjarakan aku karena Mamaku menusuk anakmu? Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan! Kalau perlu minta pada polisi itu untuk menghukum mati aku!" Ucap Bella sambil berteriak dan menjauhkan dirinya dari Amora.
Amora hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati Bella lagi.
"Mama tak ingin memenjarakanmu sayang. Mama akan membawamu keluar dari sini. Dengan syarat kau harus menerimaku sebagai Mama barumu. Apakah kau mau?" Ucap Amora setelah berhasil memeluk Bella.
"Mama? Apakah kau sengaja membawaku keluar dari sini dan hendak mejadikanku sebegai budak? Kau ingin menjebakku kan?" Ucap Bella sambil mendongak menatap Amora. Amora pun tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Mama serius soal ini. Bella mau kan?" Ucap Amora meyakinkan Bella lagi. Bella terlihat sedikit berpikir atas tawaran Amora.
"Apakah kau tak marah karena Mamaku menusuk Sara dan meminumkan racun kepada Asha?" Tanya Bella memastikan apakah Amora memang benar-benar ingin membantunya atau tidak.
"Apakah mereka mati?" Tanya Amora sambil mengelus kepala Bella. Bella yang terkejut pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Mereka berdua tidak meninggal. Asha beruntung karena dirinya tak meminum racun tersebut, tapi Sara sedang koma. Apakah kau tak khawatir tentang kondisi anakmu?" Ucap Bella sambil menanti jawaban dari Amora.
"Mengapa kau tak membuat mereka mati saja?! Seharusnya mereka menyusul Ayah mereka yang tak berguna itu ke neraka! Aku berharap agar Sara tak bangun dari komanya. Biarkan saja dia mati dan satu persatu dari mereka akan mati juga! Bagaimana jika lain kali kita buat rencana untuk membunuh mereka?" Tawaran yang diberikan oleh Amora baru saja membuat Bella langsung menggelengkan kepalanya.
"Bella nggak mau bunuh orang lagi. Bella nggak mau pisah sama Mama." Ucap Bella yang langsung memeluk Amora erat. Amora yang mendengar perkataan dari Bella pun tersenyum senang.
"Apa yang baru saja kau katakan, Nak? Ah Mama sangat senang. Mama merasa bahwa semua ini adalah mimpi. Sejak dulu Mama ingin memiliki anak perempuan yang berani dan bisa menggunakan kecantikannya seperti dirimu. Tapi entahlah apa kesalahanku dimasa lalu sehingga aku mendapatkan 4 anak perempuan yang kolot dan tertinggal jaman seperti itu." Ucap Amora smabil membangga-banggakan Bella daripada anak yang dia lahirkan sendiri.
"Mengapa Mama sangat membenci Asha dan adik-adiknya?" Tanya Bella lagi mengeluarkan apa yang hendak ia ingin tahu sedari tadi.
__ADS_1
"Bagaimana aku tak membenci mereka? Mereka yang tak bisa apa-apa saja langsung diberi perusahaan besar oleh mantan suami tak bergunaku, bukankah seharusnya perusahaan itu milikku? Apalagi mereka mendapat mertua yang sangat kaya dan sebaik Pak Rendi." Ucap Amora mengeluarkan uneg-unegnya.
Bella dan Amora yang sedang asyik membicarakan Asha dan yang lain pun terhenti karena panggilan seorang polisi wanita tersebut.
...**************************...
Hari hari telah berlalu seperti biasanya. Ya, hari ini adalah tepat sebulan Sara koma. Dan dihari ini pula Sara yang seharusnya naik keatas panggung karena nilai terbaik diraih olehnya pun hanya bisa diwakilkan oleh Ella, Rendi, Asha, dan Revan.
Dengan bangganya Asha naik keatas panggung untuk menerima piagam penghargaan serta medali dan piala milik Sara. Sepatah dua patah kata pun dia katakan sebelum turun dari panggung.
"Terimakasih atas pernghargaan yang sekolah ini berikan untuk adik saya. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada semua orang dan pihak sekolah karena adik saya tidak bisa menghadiri acara yang sangat berarti bagi Sara. Saya sebagai kakak kandung dari Sara Arraselli meminta do'a nya kepada semuanya agar Sara bisa melawan komanya dan segera bangun dari tidurnya selama sebulan ini. Saya meminta keikhlasan Anda semuanya. Sekali lagi saya ucapkan terimaksih. Sekian." Ucap Asha lalu membungkukkan badannya dan turun dari panggung.
Asha disambut oleh Khansa dan Alden yang memang menjadi panitia di acara tersebut.
Sementara itu, di rumah sakit tempat Sara dirawat Aurora berteriak memanggil Ethan yang sedang asyik bermain game online bersama Nathan.
"Mas Ethan! Panggil dokter cepet!" Ucap Aurora sambil berlari mendekati Ethan. Ethan yang mendengar teriakan dari Aurora pun menjauhkan ponselnya dari wajahnya.
"Apaan?" Tanya Ethan sambil menaikkan kedua alisnya menatap Aurora.
"Mbak Sara!" Ucap Aurora dengan antusias sambil menunjuk Sara yang masih berbaring di brankar.
Yazardan Mesaj: Bukankah seburuk-buruknya seorang Ibu tak akan mendo'akan hal buruk kepada anaknya? Lalu bagaimana dengan Ibu yang dengan percaya dirinya mendo'akan agar hal-hal buruk terjadi pada anaknya? Sekali-kali komen buat menyuarakan pendapat yuk kakak-kakak❤. Buat yang mau kasih pendapatnya, tulis di kolom komentar yaa.
__ADS_1
Kayenna ucapkan Teşekkür Ederim,
Iyi Gecerler all❤