SEMUA SALAH IBU

SEMUA SALAH IBU
BAB 97


__ADS_3

Kenzo masih berjalan perlahan dengan tangisannya. Selimut yang sedari tadi dia peluk pun mulai menjuntai kebawah. Jadilah selimut kesayangannya sebagai pel sepajang jalan menuju rumah sebelah.


Semua orang telah pergi kealam mimpi. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Revan yang memang belum pulang dari tugas pun membuat Kenzo dan Asha belum menutup mata.


Sesampainya didepan kamar Khansa, Kenzo menangis dengan kencang.


"Te Ancaaa... Kenjo mau bobok sini. Bukain pintunya, hiks..." Teriak Kenzo yang membuat Khansa berjalan cepat menuju pintu kamarnya. Setelah membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya Khansa melihat keponakannya berada di depan kamarnya.


"Loh, sayang. Kamu kenapa di sini? Mama mana?" Tanya Khansa khawatir sambil berjongkok di depan Kenzo. Sontak Kenzo pun langsung memeluk erat tubuh Khansa. Hal tersebut membuat Khansa sedikit terhuyung ke belakang.


Kenzo pun menangis kencang di dada sang tante sambil mencengkeram erat jilbab Khansa.


"Kenjo lagi malah sama Mama. Kenjo bilang sama Mama, jangan ikutin Kenjo, Kenjo mau tidul sama Te Anca! Kenjo kila, Mama akan lali dan tangkap Kenjo telus minta maaf. Tapi telnyata enggak. Abang sedih, hiks..." Penuturan Kenzo barusan membuat Khansa tertawa lepas.


Dia merasa sangat lucu dengan tingkah ponakannya tersebut. Ia pun mengangkat tubuh Kenzo perlahan lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Setibanya mereka di atas kasur, Khansa pun melepas tas kecil yang ada di punggung sang ponakan dan mengeluarkan isinya. Khansa pun duduk membelakangi balkon dengan Kenzo yang berada di pangkuannya. Tak tanggung-tanggung, dirinya masih memangku laptop juga untuk menyelesaikan desain undangan yang dia buat.


Setelah memasangkan empeng berwarna biru di mulut sang keponakan, Khansa pun mulai menyalakan laptopnya untuk menyelesaikan kembali undangan yang dia inginkan dan juga Alden inginkan.


Saking asyiknya dengan pekerjaan yang sangat disukai, Khansa pun tak sadar jika ada seseorang yang membuka pintu balkon nya. Ya, itu adalah Alden.


Alden tersenyum tipis ketika melihat Khansa yang masih menyelesaikan desain undangan mereka, dengan Kenzo dipangkuannya. Dengan perlahan, dia mulai naik ke atas ranjang dan duduk di belakang Khansa.


Alden membuka kakinya lebar-lebar untuk menghimpit tubuh kecil Khansa. Jantung Khansa berdegub dengan kencang ketika melihat dua kaki jenjang yang berada disamping badannya.


Khansa pun mendongakkan kepalanya dan mendapati Alden lah pelakunya.


"Astagfirullah, Kak. Kalo jantungan gimana? Jangan gitu ih duduknya. Gaboleh ya!" Ujar Khansa sambil mengelus dadanya yang sedikit terhalang dengan kepala Kenzo.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, calon istri. Sini senderan ke aku." Jawab Alden sambil memeluk tubuh Khansa dari belakang. Khansa yang memang sudah lelah pun hanya menurut. Tangannya masih sibuk dengan laptopnya.


Alden yang merasa suntuk pun mulai memainkan pantat gembul milik Kenzo. Khansa masih acuh dengan tangal jail Alden yang membuat Kenzo beberapa kali terusik.


Tangan Khansa berhenti mengetik ketika dia merasakan permukaan kulit seseorang menyapu hangat perutnya. Khansa manghela nafasnya panjang lalu melirik ke Alden.


"Calon istri itu dijaga, bukan dirusak!" Sindir Khansa yang membuat Alden tertawa terbahak-bahak.


***********


Beberapa hari setelah itu,


Tepat hari ini adalah hari terpenting untuk Alden. Dimana hari ini dia akan melamar sang pujaan hati yang selalu dia sebut namanya dalam setiap do'a-do'anya.


Jangan tanyakan bagaimana respon kaget semua orang saat mendapat undangan mewah berwarna hitam dan emas yang Khansa berikan. Mereka semua kaget bercampur senang.


Seperti saat ini, mereka semua sedang duduk santai setelah melaksanakan tukar cincin untuk Khansa dan Alden. Khansa dan Alden memang memilih untuk melaksanakannya di ruangan outdor.


Perlakuan Alden tak luput dari pandangan semua orang. Memang benar, dia tak lagi duduk di belakang Khansa seperti halnya beberapa malam yang lalu. Tapi kali ini dia duduk disebelah Khansa.


Lengan kekarnya memeluk pinggang Khansa dari samping. Dia menyenderkan kepalanya di dada Khansa. Aurora melotot menatap perilaku Alden. Mulutnya komat kamit tak jelas seperti merapalkan mantra seperti di film-film.


"Dih baru calon pengantin aja peluk-peluk. Apalagi kalo udah sah. Hih jijay Gue!" Ucap Aurora jijik sambil memperlihatkan muka muaknya. Nathan yang mendengar perkataan dari Aurora pun langsung memeluknya dari samping.


"Kalo ngiri bilang aja, Ra. Gue ada buat Lo." Ujar Nathan polos yang langsung mendapat bogeman mentah dari Aurora.


"Tambah jijik Gue!" Sinis Aurora lalu berlalu dari hadapan Nathan.


Hari pun semakin larut, tepat setelah Sholat Maghrib mereka semua pun berjalan keluar dari gedung yang dipilih oleh Khansa dan Alden.

__ADS_1


Kali ini Sara berjalan bersamaan dengan dua adiknya serta kakaknya. Mereka berjalan berdampingan sambil tertawa girang.


Langkah mereka terhenti karena suara yang tak asing ditelinga mereka. Sontak mereka berempat pun menolehkan kepalanya dan berhenti di seorang wanita berpakaian minim dihadapan mereka.


"Aurora, Khansa! Ibu kangen sama kalian." Pekik Amora sambil memeluk Khansa dan Aurora dalam sekali tarikan. Tak ada tatapan senang atau apapun itu diwajah Aurora ataupun Khansa


"Apakah kau tak merindukan Ibu, Nak?" Tanya Amora lirih sambil menatap kedua anaknya yang bermuka datar. Khansa hanya menatap datar sang Ibu lalu menatap sang adik.


"Apakah Ibu rindu kepada kita?" Tanya Khansa yang tak tega menatap wajah melas sang Ibu. Sontak Amora pun menganggukkan kepalanya sambil menatap kedua anaknya.


"Of course, Sayang. Ibu snagat merindukan kalian." Jawab Amora dengan antusias. Namun keantusiasannya hanya ditanggapi dengan kekehen perlahan.


"Kau hanya rindu dengan yang masih memiliki nyawa, Bu. Bagaimana dengan Reza? Apakah Ibu lupa bahwa dirinyalah yang menjadikan kau sebagai cinta pertama untuknya? Percuma saja kau katakan bahwa kau merindukan anak-anakmu ini!" Ucap Khansa lalu pergi dari hadapan Amora.


Tersisalah Asha dan Sara dihadapan Amora. Tanpa aba-aba Asha pun memeluk erat sang Ibu. Air matanya tumpah didada sang Ibu.


Tak kalah eratnya, Amora pun memeluk erat punggung anak sulungnya.


"Ibu minta maaf kalau pernah ada salah kata sama kalian semua. Yakinlah bahwa sekarang Ibu sudah berubah. Terimalah Ibu kembali, Nak. Ibu butuh kasih sayang dari kalian semua." Tutur Amora dengan nada bergetarnya.


Asha pun melepaskan pelukan keduanya lalu menghapus air mata yang masih menetes dipipi sang Ibu.


"Aku sudah memaafkan Ibu. Tapi untuk menerima Ibu kembali ke kehidupan kami, Asha belum bisa Bu. Asha nggak mau buat adik-adik yang lain kecewa." Ucap Asha yang menbuat wajah pucat Amora kembali mengeluarkan air mata.


"Ibu minta sama kamu, Sha. Ibu sayang kalian semua. Jangan tinggalin Ibu sendiri, Nak." Tatapan maora beralih menuju Sara yang masih berdiri mematung. Air mata Sara pun lolos dari matanya.


Setelah beberapa hari menanyakan keadaan sang Ibu kepada Bella, namun wanita tersebut tak menjawab pertanyaannya. Kali ini Sara benar-benar tak ingin melewatkan kesempatan ini.


"Boleh Sara peluk Ibu?" Tutur Sara dengan seuara yang gemetar hebat. Tak ada sahutan dari Amora, dia langsung memeluk erat tubuh Sara. Dia menangis tersedu-sedu dipelukan sang anak.

__ADS_1


Belum sempat Sara mengucapkan sepatah kata apapun, seorang laki-laki bertubuh tegap memanggil Amora dengan suara berat.


__ADS_2