
Semua orang yang berada di ruangan tersebut pun seketika pikirannya nya kosong. Tak kalah terkejutnya, Ella pun terjatuh di lantai dan air matanya mengalir. Baru kemarin anaknya menikah dan sekarang menantunya lupa akan segalanya. Lupa jika Revan adalah suaminya, dan lupa dengan dirinya yang juga mertuanya.
Khansa memegang tahu kakaknya dan menggucangkan nya sedikit.
"Teh Asha nggak lupa kan sama Bang Revan? Bang Revan itu suami Teh Asha. Bibi yang duduk di lantai itu juga mertua kakak. Mereka semua keluarga Teh Asha. Teteh baru nikah kemarin. Coba Teh Asha ingat-ingat lagi." Ucap Khansa dengan suara panik nya sambil terus mengguncangkan bahu Asha.
Namun Asha hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih tak ingat dengan siapa Revan dan Ella. Revan hanya menatap Asha dengan pandangan kosong, pikirannya berputar ke waktu-waktu sebelum dia menjadikan Asha sebagai istrinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Revan membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar. Revan melangkahkan kakinya ke bangku tunggu yang berada di depan ruangan Asha. Sementara didalam kamar rawat Asha, semua orang hanya diam menundukkan pandangan sampai salah seorang dari mereka berbicara.
Berbeda dengan suasana di ruang operasi. Seorang dokter melepaskan sarung tangannya dan menekan tombol selesai operasi. Sang dokter meminta kepada para perawat untuk membawa ke ruang rawat setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarga. Para perawat pun hanya menganggukkan kepalanya.
Sang dokter pun keluar dari ruang operasi dan disambut oleh tatapan tajam dari Rendi.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Rendi diikuti dengan anggukkan Zevan. Sang dokter pun hanya menghembuskan nafasnya perlahan dan menundukkan kepalanya.
"Dengan berat hati kami menyatakan bahwa keadaan Nona Sara sekarang tidak baik-baik saja. Karena kehilangan banyak darah dan terlambat menerima transfusi darah, Nona Sara sekarang ini dalam keadaan koma. Kami belum bisa memastikan kapan Nona Sara akan sadar dari koma nya. Harap bersabar ya Pak. Berdo'a lah kepada Tuhan agar Nona Sara segera sadar." Ucap sang dokter yang langsung membuat Rendi terkejut.
"Lalu bagaimana selanjutnya dok? Apakah hal itu tak berbahaya bagi anak saya?" Tanya Rendi dengan nada paniknya. Sang dokter pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Sekali lagi saya belum bisa memastikan keadaan dari Nona Sara. Dan ya, dimana Nona Sara akan memperoleh perawatan. Kelas biasa atau vip?" Tanya sang dokter memastikan ruang rawat Sara.
__ADS_1
"Berikan perawatan yang terbaik untuk anak perempuan saya dok. Jika memang dibutuhkan untuk ke vip, maka bawalah dia kesana. Saya mohon agar pihak rumah sakit menjaga nya dengan insetif." Ucap Rendi dengan nada mantap nya.
Yanga berada difikirannya sekarang adalah bagaimana cara agar Sara bisa kembali sehat dan memenuhi janji-janji nya kepada sang sahabat.
Maafkan aku yang ceroboh ini Malik. Aku berjanji bahwa hal seperti ini tak akan lagi terjadi kepada putri-putri ku. Batin Rendi dengan maksud meminta maaf kepada almarhum sahabat nya itu.
Zevan dan Rendi pun mengikuti para perawat membawa Sara ke ruang rawat nya. Walaupun mereka belum bisa masuk dengan alasan mereka sedang menyiapkan peralatan untuk Sara.
Saat mereka berdua sedang duduk di bangku tunggu nya, Terlihat Ella dan Khansa berjalan mendekati mereka. Ella mengelus bahu sang suami dan bertanya mengenai keadaan Sara.
"Bagaimana keadaan Sara, Pa?" Tanya Ella kepada sang suami. Namun Rendi hanya menghembuskan nafasnya dan menenggelamkan kepalanya di kedua telapak tangannya.
Ella membelalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Papa bercanda kan? Bilang kalau Sara baik-baik aja Pa. Nggak mungkin Sara koma." Ucap Ella dengan tangisannya. Rendi pun merengkuh tubuh istrinya itu dan menyalurkan kekuatan untuk menerima kenyataan ini.
"Kenapa semua seperti ini Pa. Ini semua salah Mama. Jika Mama ngelarang Abang dan Asha tinggal sendiri, mungkin Asha nggak akan diculik dan Sara baik-baik aja." Ucap Ella lirih sambil menggigit kuku jari jempol kanannya.
"Enggak Ma, semua ini sudah menjadi kehendak Allah. Kita harus ikhlas." Ucap Rendi menyangkal apa yang dikatakan oleh sang istri. Tak berapa lama setelah itu, seorang dokter dan dua perawat keluar dari ruanga vip itu.
"Kami sudah mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. Jika ada keadaan darurat, maka tekan saja tombol yang berada di atas brankar Nona Sara, dan dimohon untuk melakukan interaksi dengan Nona Sara. Buatlah seolah-olah Nona Sara mendengar apa yang kalian katakan. Kami permisi dahulu." Ucap sang dokter sambil menganggukan kepalanya dan berjalan meninggalkan Rendi, Ella, Zevan, dan Khansa.
__ADS_1
Rendi dan Ella pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pintu kamar rawat Sara. Mereka hendak memutar knop pintu tersebut, namun tertahan karena suara dari Zevan.
"Maaf Tante, dan Om. Zevan pamit pulang terlebih dahulu ya. Ini Mama kasih kabar, disuruh pulang katanya. Mungkin karena Mama dah tahu soal masalah kecil tadi. Zevan minta maaf ya, Te. Zevan permisi dulu, Assalamu'alaikum." Pamit Zevan smabil mencium kedua tangan Rendi dan Ella. Tak lupa dia juga tersenyum kepada Khansa.
Setelah kepergian Zevan, mereka bertiga
Ella berjalan mendekati Sara dengan badan yang gemetar. Dirinya sangat takut ketika melihat tubuh Sara yang dipenuhi dengan berbagai macam peralatan medis. Air matanya menetes ketika melihat muka pucat milik Sara ditutup dengan ventilator yang bertengger manis di hidung mancung miliknya.
Badan Sara yang di tidurkan dengen posisi miring pun membuat Ella bertambah sedih.
"Apakah kau masih mengantuk, Nak? Mengapa kau tak mau membuka matamu, hmm?" Tanya Ella sambil membenarkan jilbab instan berwarna biru langit milik Sara. Rendi hanya memeluk Khansa dari samping sambil mengelus puncak kepala dari Khansa.
"Cepat bangun ya, Sayang. Mama kangen sama Sara." Ucap Ella sambil mencium puncak kepala milik Sara. Sementara ditempat lain, Asha yang tahu kondisi Sara dari Revan pun terkaget dan meminta Aurora untuk mengantarkan dirinya ke ruangan Sara.
Ya, memang sebelum pulang Zevan menghampiri Revan yang sedang tertunduk. Revan yang tahu tentang kondisi Sara pun bergegas masuk ke ruangan Asha.
"Sayang! Eh maksudku Asha, keadaan Sara semakin memburuk. Sara mengalami koma." Ucap Revan memberi tahu sang istri yang sedang amnesia. Sontak Asha yang sedang makan pun tersedak dan langsung bertanya kepada Revan.
"Sara dimana Bang? Anterin Asha kesana ya?" Ucap Asha yang membuat Revan sedikit mengernyit. 'Abang?' Batin Revan dengan perasaan yang sedikit senang.
Dengan antusias, Asha menumpu badannya sambil berusaha turun dari brankar nya. Namun belum sempat kakinya berdiri dengan sempurna, badannya pun jatuh kelantai.
__ADS_1