
"Sa...Khansa. Kamu dimana Sa?!" Ucap Alden dengan nada yang sedikit tinggi. Khansa yang sedang berada dikamar mandi pun bergegas keluar dan sudah melihat Alden didalam kamar rawat kakaknya.
"Kenapa kak? Kenapa teriak-teriak gitu?" Ucap Khansa sambil berusaha menyembunyikan matanya yang sedikit bengkak. Alden yang tahu tentang hal itu pun tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya.
Khansa pun menekan tombol yang berada di atas brankar Sara. Khansa memeluk Sara untuk menenagkannya dan mencoba menghibur Sara. Alden yang melihat perlakuan Khansa pun hanya tersenyum manis sambil melipat kedua tangannya ke depan dada.
"Mbak Sara tenang dulu ya. Bentar lagi dokternya dateng." Ucap Khansa sambil mengelus punggung milik Sara. Alden menatap kagum kepada Khansa. Entah mengapa setelah mengungkapkan perasaannya kepada Khansa tadi, Alden merasa bebas untuk memperlihatkan rasa cintanya kepada Khansa.
"Lo ngapain ngeliatin Khansa sampek kagak kedip gitu, Den?" Ucap Sara masih dengan tangisnya yang berada dipelukan Khansa. Alden pun terkaget dan menatap Sara.
"Ya karena Gue suka sama Khansa lah. Gue lagi ngeliatin bidadari tercantik Gue. Cantik kan Sar?"Ucap Alden bertanya sambil menatap Sara dan Khansa secara bergantian. Sara yang masih menangis pun seketika langsung diam. Badannya langsung tegak.
"Hah?! Nggak salah denger nih, Gue? Lo suka sama adek Gue Den? Yang bener ihh." Ucap Sara sambil menghapus air matanya dengan tangan kirinya. Alden yang masih menatap Khansa pun tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.
"Lo nggak salah denger. Gue bener-bener suka sama Khansa, udah cinta malah. Makasih do'a Lo waktu itu. Karena tanpa do'a Lo waktu itu, Geue nggak akan pernah tau kalo ternyata Gue suka sama Gadis sebaik Khansa." Jawab Alden dengan mata yang masih menatap Khansa.
Sara yang mendengar hal itu pun tertawa cekikikan. Khansa juga malah membaringkan tubuhnya di brankar milik sang kakak, lalu menenggelamkan kepalanya diperut sang kakak.
"Ciee adek Mbak Sara udah ada yang suka. Aduh gembul ku...Beruntung banget Lo bisa suka sama Khansa. Tapi inget janji Gue Den, Gue dah bilang kalo nggak bakal restuin kalian berdua kan? Masih inget kan?" Ucap Sara sambil mengelus kepala Khansa dan menahan tawanya.
"Gue masih inget, dan waktu itu Gue bilang nggak mungkin. Sekarang Gue tau. Jangan membenci seseorang karena bisa jadi, orang yang Lo benci akan jadi seseorang yang sangat Lo takutin bakal pergi dari hidup Lo. Intinya Gue akan terus berusaha buat dapetin Khansa." Ucap Alden serius sambil menatap Sara.
"Gue salut banget sama mindset Lo, Den. Karena kebanyakan cowok akan bilang cuma sama ceweknya aja, nggak ke keluarganya. Tapi Lo, Lo udah gentleman banget buat Gue. Keep Fighting, Den. InsyaAllah bakal cepet luluh Gue nya." Ucap Sara bijak sambil tersenyum menatap Alden.
__ADS_1
"Awalnya Gue pikir kalau Khansa itu gadis yang sombong, karena nggak mau jawab pertanyaan Gue. Karena kebanyakan cewek di SMA bakal langsung gatel kalo bicara sama Gue. Tapi Khansa beda, gadis yang paling lain dari gadis-gadis yang lain." Ucap Alden lagi sambil duduk dipinggir brankar Sara.
"Andai Khansa bukan muslimah yang tertutup, udah Gue tembak dia Sar. Gue nggak mau kalo ada laki-laki lain yang bisa milikin dia selain Gue. Tapi Gue lebih bahagia lagi karena Khansa bisa menjaga dirinya buat calon imamnya kelak." Timbal Alden lagi sambil mengelus kepala Khansa yang tertutup selimut Sara.
Khansa yang dielus kepalanya oleh Alden pun seketika terkejut dan badannya menegang. Khansa mencengkeram baju bagian belakang milik Sara dan berteriak tanpa suara diperut Sara. Sara uang mendapat sedikit tekanan dari Khansa karena Khansa berteriak tanpa suara pun terkekeh geli.
"Ih Lo mah gitu, Den. Nanti kalo Khansa baper gimana ini. Lo juga masih deket juga kan sama Bella? Mau digimanain adek Gue hah?!" Ucap Sara sambil menepuk pelan punggung Khansa. Khansa yang mendengar perkataan kakaknya barusan pun seketika langsung lemas badannya.
Alden bisa melihat pergerakan tubuh Khansa yang terlihat seperti mengembuskan nafasnya kasar. Alden pun menyeritkan alisnya dan memelototkan matanya menatap Sara. Sara pun seketika langsung sadar dan melipat bibirnya kedalam, dia keceplosan.
"Gue nggak mau bahas wanita murahan kayak dia ya, Sar. Gue cuma mau fokus sama Khansa aja. Gue pastiin kalo Mama bakal dapet mantu lagi dari Paman Malik." Ucap Alden sambil membenarkan jilbab Kahnsa yang sedikit tersingkap.
Saat mereka akan melanjutkan pembicaraan, seirang dokter perempuan serta perawat pun masuk ke ruang rawat Sara.
"Maaf Mbak Sara, apakah ini merupakan pertama kali Mbak Sara donor darah?" Tanya sang dokter sambil melipat stetoskop nya. Sara hanya menganggukkan kepalanya. Sang dokter pun tersenyum lega mendengar jawaban dari Sara.
"Ini mungkin reaksi dari tubuh Mbak Sara. Apalagi darah Mbak Sara tergolong langka. Kalau masalah mual, pusing, dan lemas itu adalah hal biasa. Untuk memar dan bengkak di sekitar lengan Mbak Sara akan memulih setelah kurang lebih 1 minggu atau lebih. Dan untuk darah yang masih keluar akan saya kasih obat agar berhenti." Ucap Sang dokter kepada Sara.
"Maaf dok, apakah berarti saya juga tak dapat menekuk tangan saya selama 1 minggu? Apakah ini tidak berbahaya? Karena tempat bekas jarumnya terasa sangat nyeri." Tanya Sara dengan nada khawatir.
"Tenang saja Mbak Sara. Kami memiliki obat untuk hal itu. Dan kemungkinan besok pagi Mbak Sara sudah boleh pulang." Ucap sang dokter yang langsung membuat Sara, Khansa, dan Alden lega.
"Emm, maaf dok. Apakah Sara boleh pulang sore ini juga? Soalnya Sara ada Ujian Nasional besok. Boleh kan dok?" Tanya Sara kepada snag dokter. Sang dokter pun mengatakan bahwa nanti sore sebelum Sara pulang, dia akan kembali dan memeriksa keadaan Sara. Apakah sudah boleh pulang atau belum.
__ADS_1
...****************...
Pukul tiga sore, sang dokter pun kembali keruangan Sara dan memeriksa keadaan Sara. Setelah selesai memeriksa Sara, sang dokter mengatakan bahwa Sara boleh pulang dengan satu syarat. Dia mengatakan bahwa Sara masih harus di infus sampai besok pagi. Dan Sara harus memasang infus jika dia merasakan lemas yang mendadak.
Asha yang mengetahuinya pun menyetujuinya dan langsung pergi ke bagian administrasi serta apotek untuk menebus obat Sara. Sara yang sudah boleh pulang pun senang dan mulai membereskan barang-barangnya.
Setelah semua selesai, Sara berjalan keluar ruang rawatnya dan diajak oleh Asha untuk berpamitan kepada Amora. Walaupun dengan hati yang tak ikhlas, Sara mengikuti permintaan dari Asha.
Sesampainya mereka disana, ternyata Amora sudah bangun dan sedang bertengkar dengan Ella.
"Kau harus sadar diri Amora! Sekarang ditubuhmu terdapat darah milik Sara. Dia yang menyelamatkan hidup mu!" Ucap Ella sambil menatap taham Amora.
"Apa?! Aku nggak sudi darah anak sial** itu barada di tubuh ku! Ini sungguh menjijikkan." Ucap Amora kelimpungan karena mengetahui fakta tadi.
"Kau bilang menjijikkan bukan? Jika bukan karena darah anakku itu, mungkin sekarang kau sudah tiada. Kau tahu? Karena menyelamatkan mu, sekarang tangan anakku tak dapat ditekuk. Bukannya berterimakasih malah mengatakan anakku yang tidak-tidak." Jawab Ella sambil memekan lengan milik Amora.
"Lepaskan tangan menjijikkan mu itu dari lenganku! Kalian sama saja! Sama-sama menjijikkan!" Ucap Amora sambil mendorong tubuh Ella.
"Maka kembalikan darahku yang berada ditubuhmu sekarang!" Ucap Sara yang langsung membuat suasana kamar rawat milik Amira hening. Sara berjalan maju mendekati brankar milik Amora dengan tangan kiri yang menyeret tiang infus miliknya. Sedangkan itu, tangan kanannya masih lurus kebawah yang masih terpasang infus.
Merhaba! Kakak kakak Kayenna tercinta❤. Jangan lupa Like, dan Komen untuk dukung Kayenna yaa. Terimakasih.
Iyi Gecerler! all❤.
__ADS_1